27 Desember 2008

Tes Evaluasi Klub Penerjemah


An’amah, PPA Al-Furqaan Putri

GULUK-GULUK—Jum’at sore (26/12/08), Klub Penerjemah Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah mengadakan tes evaluasi untuk seluruh anggotanya. Pukul 15.45 WIB tes dimulai. Tes ditempatkan di dua ruang kelas. Kelas pertama untuk anggota Klub dari siswa-siswa SMA 3 yang berjumlah 16 siswa. Empat siswa berhalangan hadir. Sedang kelas kedua adalah kelas untuk anggota Klub dari tingkat STIK Annuqayah yang berjumlah 8 orang.
Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman anggota Klub menerjemah dan memahami teks. Teks tes yang diberikan pada peserta kelompok siswa dan mahasiswa hampir sama. Hanya saja, perbedaannya terletak pada kerumitan struktur kalimat.
“Memang, teks bahasa Inggris yang harus diterjemah hanya sekitar 250 kata. Tapi kami cukup tegang menghadapi tes ini,” demikian komentar salah satu peserta tes evaluasi. Meski begitu, dia menyatakan bahwa tes evaluasi ini sangat bermanfaat dan menumbuhkan motivasi.
Tes berlangsung sekitar 90 menit. Saat waktu tes berakhir, tak semua anggota Klub menyelesaikan terjemahan mereka. Namun demikian, M. Mushthafa, pendamping kegiatan Klub, menyatakan gembira dengan hasil tes. “Hasilnya cukup memuaskan. Targetnya memang bukan menyelesaikan seluruh teks untuk diterjemah, tapi lebih pada pemahaman logika dan struktur kalimat,” tambahnya.
Empat orang anggota Klub dari kelompok siswa yang tidak mengikuti tes kemarin sore akan mengikuti ujian susulan dalam waktu dekat. Setelah tes evaluasi ini, kegiatan rutin Klub libur sejenak karena siswa SMA 3 akan menghadapi ujian. Sedangkan kegiatan rutin kelompok mahasiswa tetap berjalan seperti biasa.

20 Desember 2008

Dua Jempol untuk Andrea Hirata


Khazinah (XII IPS)

GULUK-GULUK—Para siswa dan santri Annuqayah menyambut gembira atas diselenggarakannya Pembacaan Fragmen Maryamah Karpov Karya Andrea Hirata pada Jum'at pagi (19/12) di Perpustakan Madaris 3 Annuqayah Sabajarin. Acara yang dimulai pada pukul 08.15 WIB dan berlangsung sekitar dua jam tersebut dihadiri oleh 52 siswa dan mahasiswa Annuqayah.
Saat mengantarkan acara tersebut, M. Mushthafa, selaku Kepala Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah, menyampaikan bahwa tujuan digelarnya acara Pembacaan Fragmen Maryamah Karpov ini tak lain ialah untuk meningkatkan minat baca siswa dan santri Annuqayah pada umumnya. “Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah memang mempunyai program rutin dua mingguan berupa pembacaan cerpen atau fragmen novel. Nah, acara yang sekarang ini boleh dikatakan acara spesial,” tambahnya.
Adapun yang membacakan fragmen buku terakhir tetralogi Laskar Pelangi yang sangat ditunggu-tunggu itu adalah Ummul Karimah, siswa XI IPA SMA 3 Annuqayah yang populer dengan panggilan Ummul Corn, dan Ana FM, alumni SMA 3 Annuqayah yang telah menerbitkan beberapa novel remaja. Keduanya membacakan beberapa penggalan novel Maryamah Karpov secara bergantian, mulai dari bagian yang lucu hingga cerita yang paling menyedihkan dan mengharukan. Fragmen yang mereka baca adalah mozaik 1, 2, 28, 41, 45, 71, 72, 73. Dengan durasi pembacaan sekitar 70 menit, mereka tidak hanya membacakan kisah-kisah Ikal dan sahabat-sahabatnya, namun juga kadang tampil dengan memerankan tokoh tertentu seperti di jalan cerita. Misalnya saat ibu Ikal menunjuk-nunjuk Ikal dengan centong besar yang terbuat dari kayu. Mereka juga tampil dengan membawa benda-benda yang berhubungan dengan jalan cerita yang dibacakan, seperti centong besar yang terbut dari kayu, radio kuno, hingga lesung kecil.
Setelah acara pembacaan selesai, para hadirin diberi kesempatan untuk memberikan komentar dan apresiasi tentang bagian-bagian yang dibacakan. Titin, mahasiswa STIKA yang merupakan salah satu peserta undangan, sangat berterima kasih pada Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah karena menyelenggarakan acara Pembacaan fragmen Maryamah Karpov ini. Dia memang sangat menunggu-nunggu novel ini, karena sudah membaca dan jatuh cinta dengan ketiga karya Andrea sebelumnya. “Saya mengacungkan dua jempol untuk Andrea Hirata dan Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah yang selalu mengadakan kegiatan yang unik,” ujarnya saat berkomentar.

29 November 2008

Seleksi Baru Anggota Paramarta

Ummul Karimah (XI IPA)

GULUK-GULUK—Jum’at (28/11) kemarin, di Madaris 3 Annuqayah ada acara perekrutan anggota Paramarta (Paduan Suara Madaris 3 Annuqayah). Acara ini tampak menegangkan bagi para peserta, saat mereka menunggu giliran dan mengintip di luar jendela aula utama Madaris 3, tempat kegiatan ini berlangsung. Ketegangan semakin terbukti dengan banyaknya peserta yang masih berlatih solmisasi sebelum gilirannya tiba di ruangan kelas lain atau di halaman.
Peserta seleksi yang seluruhnya berjumlah 35 itu terdiri dari 15 siswa MTs 3 dan 20 siswa SMA 3 Annuqayah. Sesuai dengan kesepakatan OSIS MTs 3 dan SMA 3, penyeleksian akan mengundang pakar paduan suara Annuqayah dari PSM (Paduan Suara Mahasiswa) STIKA, yakni Ny. Khotibah AW, S.E., dan Faiqatul Shalihah.
Pada tahun sebelumnya, proses seleksi anggota Paramarta ini gagal terlaksana, sehingga kordinator Paramarta periode 2007, yaitu Zaitunah, berkomentar, “Kami tidak mau kegagalan itu terulang untuk yang kedua kalinya,” katanya.
Anggota Paramarta periode 2007 yang berjumlah 13 orang adalah anggota yang direkrut tanpa seleksi—langsung masuk sebagai anggota tetap. Maka dari itu, untuk tahun ini, meski telah menjadi anggota tetap, namun mereka harus juga mengikuti penyeleksian. Seandainya salah satu dari ketiga belas anggota tersebut tidak masuk seleksi, maka mau tidak mau mereka harus keluar dari Paramarta.
“Walaupun dulu kami masuk tanpa seleksi, namun kami pernah meraih juara pertama dalam lomba Paduan Suara se-Kabupaten Sumenep yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Mathlabul Ulum Jambu Lenteng Sumenep bulan Mei lalu,” tambah Zaitunah dengan tubuh bangga.
Para peserta harus menunggu sampai hari Senin (30/11) lusa untuk mendapatkan info kelulusan. Ada yang berharap besar dan ada pula yang pasrah menunggu nasib sampai tiba pengumuman ditempel di Mading Raksasa Madaris 3 Annuqayah.

27 November 2008

Kelas SMA 3 Dicat Warna-Warni

Ummul Karimah (XI IPA)

GULUK-GULUK—Ruangan kelas SMA 3 Annuqayah direnovasi dengan dicat berwarna-warni sesuai dengan kesepakatan kelas masing-masing (10/11). Ide pengecatan tersebut tak lain untuk menumbuhkan suasana baru dalam kelas sehingga mampu menumbuhkan minat belajar siswa dan pembelajaran di kelas diharapkan akan semakan efektif. “Ya. Biar siswa semakin rajin sekolah dan tidak bosan dengan warna yang tetap putih saja,” begitulah komentar Bapak H. Moh. Ya’kub, S.E. Kepala SMA 3 Annuqayah.
Yang menarik dari pengecatan ini adalah karena warna yang dipilih sesuai selera siswa. Bapak H. Moh. Ya’kub memang sengaja membiarkan siswa berkreasi secara bebas. Di antaranya dengan memilih warna sendiri. Pemilihan warna sendiri tentunya memiliki arti tersendiri, “Agar siswa tidak merasa didikte oleh guru dan mereka bisa sadar bahwa mereka memiliki kebebasan untuk berekspresi,” tambahnya.
Pengecatan 4 kelas yang mampu diselesaikan oleh 3 tukang dalam jangka 4 hari itu terhitung cukup singkat. Warna yang dipilih hanya dicatkan di tembok sekitar papan, sedangkan tembok yang lain yaitu sama, berwarna kuning gading. Kelas XA berwarna biru, XB berwarna merah genting, XI IPS berwarna oren manis, XII IPS berwarna hijau.
Adapun kelas XI IPA dan XII IPA memang tidak dicat ulang, karena memang berada dalam komplek deretan bangunan yang terpisah. Siswa kelas tersebut cukup memahami keputusan ini, karena memang sudah dikomunikasikan oleh pihak sekolah.

26 November 2008

Nonton Bareng di Perpus Madaris 3 Annuqayah

Khazinah (XII IPS)

Setelah satu minggu para siswa Madaris 3 Annuqayah terbenam dalam kesibukan dunia belajar, yang pasti mereka itu merasa jenuh juga. Perpustakan Madaris 3 Annuqayah mengadakan acara nonton bareng setiap hari jumat pagi (setiap dua pekan). Biasanya, setiap Jum’at pagi, para pengurus perpustakaan berkumpul mengadakan kerja bakti membersihkan Perpustakanan dan menata buku, yang dimulai pada jam 07.30 WIB.
Terkait acara nonton bareng, pengurus perpustakan satu hari sebelumnya memberikan pengumuman tentang film yang akan diputar lewat papan pengumuman yang ditempelkan di jendela kaca perpustakaan, dan mencatumkan harga tiket masuk, yakni Rp 1.000,-. Perpustakaan menyediakan sebanyak 40 buah tiket, dan pemutaran film akan dimulai pada pukul 08.30 WIB.
Seperti pada minggu lalu, perpustakaan mengadakan nonton bareng film Nagabonar 1 dan Nagabonar 2. Film ini dipilih karena dipandang cukup bagus dan memiliki keterkaitan dengan semangat Hari Pahlawan di bulan November ini. Setelah acara nonton selesai, para penonton dimintai pendapat dan komentarnya tentang film yang ditonton. Biasanya sesi ini difasilitasi oleh Nurul Qamariyah selaku koordinator kegiatan. Namun, karena berhalangan hadir, akhirnya digantikan oleh Mamluatul Barirah yang menjabat sebagai sekretaris di Perpustakaan Madaris 3. Para peserta mengapresiasi hal yang menarik, kekurangan, dan kelebihan film tersebut.

Klub Penerjemah Madaris 3 Annuqayah



Khazinah (XII IPS)

GULUK-GULUK—Klub Penerjemah Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah adalah salah satu unit kegiatan di lingkungan Madaris 3 Annuqayah yang dimulai dari awal bulan Februari 2008 yang lalu. Kegiatan rutin mereka adalah menerjemah teks bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Saat mulai beraktivitas, anggota 16 siswa dari MTs 3 dan SMA 3, dan 2 mahasiswa STIKA. 18 anggota klub ini dibagi dalam kelompok; setiap kelompok terdiri dari 2 orang.
Setiap Jum’at sore pukul 15.30 WIB anggota Klub Penerjemah berkumpul untuk mempresentasikan hasil terjemahan kelompok yang mendapat giliran. Hasil terjemahan kelompok itu kemudian dibahas dan disunting bersama. Sedangkan buku yang diterjemah dipilih dari koleksi yang ada di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah, yakni Nasreddin the Clever Man karya Sugeng Hariyanto (Penerbit Kanisius, 2005).
Pada awal Oktober 2008, hasil terjemahan Klub Penerjemah ini didokumentasikan dalam bentuk buku. Dalam buku dokumentasi tersebut, terdapat pula teks bahasa Inggris yang diterjemahkan, dan disajikan sedemikian rupa sehingga pembaca dapat secara langsung membaca karya terjemah tersebut sambil membandingkannya dengan teks asli. Beberapa ilustrasi dalam buku dokumentasi itu dibuat oleh Anisah, siswa SMA 3 yang merupakan salah satu anggota klub. Klub Penerjemah sudah menggandakan buku tersebut sebanyak 40 eksemplar dan dibagikan pada perpustakaan-perpustakaan yang ada di Annuqayah, seperti perpustakaan STIKA dan MA 1 Annuqayah putra dan putri.
Pada tanggal 19-22 Oktober 2008 kemarin Klub Penerjemah membuka pendaftaran bagi anggota baru. Banyak siswa Madaris 3 yang mendaftar untuk ikut dalam kegiatan klub. Semuanya berjumlah sebanyak 28 orang, yang terdiri dari siswa 20 orang, dan 8 merupakan mahasiswa STIKA.
Setelah penerimaan anggota baru, Klub Penerjemah dibagi dua kelompok berdasarkan atas tingkat pendidikan. Pertama adalah kelompok siswa yang terdiri dari MTs dan SMA, sedangkan kelompok kedua adalah kelompok mahasiswa. Bahan yang diterjemah juga berbeda. Kelompok siswa MTs dan SMA menerjemahkan buku Nasreddin the Foolish Man, sedangkan untuk kelompok yang kedua yang terdiri dari mahasiswa menerjemah salah satu bagian dalam buku yang berjudul The Qur‘an Women and Modern Society karya Asghar Ali Engineer.
Berikut adalah beberapa komentar atas karya terjemahan yang sudah didokumentasikan:

”Luar biasa. Terjemahan yang mulus dan enak dibaca. Menunjukkan potensi yang mustinya tak boleh disia-siakan. Salut.”
Rika Iffati Farihah, penerjemah dan penyunting lepas,
tinggal di Yogyakarta

“Hasilnya sangat bagus, tapi saya lebih suka pada prosesnya yang kreatif dan berani keluar dari pengapnya formalitas dan rutinitas belajar di kelas-kelas formal yang sering menjemukan dan tidak memotivasi. Inilah salah satu proses belajar yang perlu ditiru dan dikembangkan dalam semua disiplin di sekolah yang berorientasi kualitas, bukan sekadar menjadi ‘kios’ ijazah.”
Ach. Maimun Syamsuddin, penulis dan penerjemah, dosen STIK Annuqayah, kandidat doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

“Karya ini menceritakan kesemrawutan dunia dan jalan keluarnya dengan cerita sederhana. Bahasa yang digunakan sebagaimana percakapan sehari-hari, namun kaya makna. Keberhasilan
para siswa sekolah tingkat menengah ini patut mendapatkan apresiasi karena mereka telah menyelami kedalaman pesan moral dari sang tokoh termasyhur, Nasruddin Hoja, melalui pengalihbahasaan yang cemerlang.”
Ahmad Sahidah, penulis dan penerjemah, alumnus Annuqayah, kandidat doktor pada Departemen Filsafat dan Peradaban Universitas Sains Malaysia

25 November 2008

Musim Hujan yang Mengancam

Ummul Karimah (XI IPA)

Saya adalah salah satu siswa SMA 3 Annuqayah yang sangat prihatin terhadap keadaan di musim penghujan saat ini. Lalat-lalat datang siap untuk menyerang. Ditambah lagi dengan sampah yang malah semakin bertambah—bukan berkurang. Barang kali sekaranglah kesempatan yang baik bagi penyakit untuk beraksi menggerogoti manusia.
Saya semakin yakin dengan musim yang mengancam ini, karena Wakil Kepala SMA 3 Annuqayah, yaitu Bapak Nasiruddin, S.E., sebagai pembina dalam upacara bendera Madaris III Annuqayah Senin (16/11) menyampaikan petuah bijak kepada seluruh siswa Madaris III Annuqayah. “Sehubungan dengan musim mangga, maka hati-hati! Jaga kesehatan. Jangan terlalu banyak mengkonsumsinya. Apalagi cabe. Takut-takut menimbulkan penyakit diare dan yang lebih parah lagi muntaber (muntah yang disertai berak),” demikianlah ceramahnya yang begitu menyentuh membuat saya dan teman-teman yang lain tertunduk. “Ingat. Ini semua demi kebaikan kita semua,” tambahnya.
Setelah saya ingat-ingat lagi, apa yang dikatakan Pak Nasir dalam upacara bendera memang terbukti benar. Komplek-komplek di Sabajarin penuh dengan lalat. Lalat-lalat itu hinggap di atas makanan-makanan basah seperti: pisang goreng, nangka goreng, dan tahu isi yang dijual di komplek Karang Jati. Juga sancin dan onde-onde yang dijual di komplek al-Furqaan, hingga kaldu dan rujak yang dijual di kantin SMA 3 Annuqayah. Ditambah dengan musim mangga yang benar-benar membuat lidah bergoyang saat santri melihatnya. Mangga-mangga itu telah siap dengan bumbu yang dipenuhi cabe.
Kita tahu, lambung merupakan alat pertama dalam perut yang mengolah makanan yang kita cerna. Bila lambung kita terlalu banyak mengkonsumsi mangga yang mengandung banyak zat asam, maka itu akan menyebabkan diare. Lebih parah bila terlalu banyak mengkonsumsi biji cabe, maka lambung akan menjadi luka dan itu sangat berbahaya bagi kesehatan kita.
Tak salah bila saya katakan bahwa para santri Sabajarin mayoritas doyan rujak, karena setelah saya melakukan pengamatan di Karang jati (24/11) kemarin subuh petang di waktu shalat jamaah berlangsung, ternyata dari 125 santri Karang Jati banyak yang tidak berjamaah disebabkan antre WC. Belum lagi yang menstruasi dan yang malas. Saya terkejut, namun diam.
Karena pengantri di depan WC banyak, maka saya menjadi tertarik untuk menghitungnya. Ada 20 orang yang berdiri, duduk dan jongkok di sekitar WC. Ada yang menggedor-gedor pintu, ada yang teriak, dan ada pula yang merintih kesakitan perut. Dan saya juga merupakan peserta ke-21 yang juga ikut antri—setia menunggu giliran terakhir.
Hanya ada 3 WC di situ. Saya melihat wajah lega keluar dari WC 1. Lalu saya bertanya: “Apa yang terjadi?” Ia menjawab, “Saya diare sudah 3 hari yang lalu.” Kemudian saya pandangi wajah-wajah yang lain: dahi yang berkerut, muka yang kusut, tangan yang memegangi perut, dan bibir yang cemberut. Sepertinya mereka was-was, cemas memikirkan bila tak cepat tiba pada giliran, sang berak sudah ikut-ikutan menggedor-gedor tanda tak sabar ingin keluar.
Lain dulu lain sekarang. Jika di Karang Jati antri WC berlangsung pagi hari, maka lain lagi dengan keadaan di Al-Furqaan. Kejadiannya tak jauh berbeda namun waktunya saja saja yang berbeda. Antrian WC berlangsung saat jamaah maghrib berlangsung. Kemarin, dari 50 santri, ada 8 santri yang juga setia antri di depan WC.
Jika selalu berharap untuk hidup sehat, mengapa masih suka buang sampah sembarangan di musim hujan yang walaupun tak kejam tapi dipaksa untuk mengancam? Ternyata harapan saja tak cukup. Masih ada kata-kata bijak yang bila ditanamkan lekat-lekat dalam hati akan mampu mendobrak kekhilafan dan mengubah kesadaran yang mungkin pula akan diimplementasikan. Kata itu adalah: kejahatan individu mengancam kesehatan bersama. Resapilah.

13 November 2008

SMA 3 Kembali Aktif

Fatimatus Zahrah (XI IPS)

Berbagai kegiatan di SMA 3 Annuqayah yang berada di komplek Sabajarin putri kembali diaktifkan. Para guru dan pengurus OSIS kini disibukkan oleh berbagai aktivitas. Demikian juga dengan para siswi.
Semua pengurus OSIS bekerja dengan penuh semangat, ditambah dukungan dari semua guru yang memberi bimbingan dan dorongan untuk memajukan SMA 3 Annuqayah. Demikian pula, pembina OSIS ikut meluangkan ide dan tenaganya untuk membantu pengurus OSIS.
Ketua OSIS mengaktifkan semua kegiatan yang dibantu oleh semua pengurus OSIS lainnya agar kegiatan sekolah berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan. Menurut ketentuan OSIS, para siswi di SMA 3 harus mengikuti program kegiatan ekstra di sekolah minimal dua kegiatan dan maksimal tidak terbatas. Sebagaimana penuturan Ketua OSIS, Ummul Karimah, saat ditemui di kelas XI IPA, “Jadi, tidak boleh tidak mereka harus mengikuti kegiatan sekolah minimal dua kegiatan, dan bagi yang melanggar akan ada sanksi di akhir tahun. Tapi rata-rata para siswi mengikuti program OSIS bukan karena terpaksa. Alhamdulillah semua program OSIS saat ini sudah berjalan,” tuturnya dengan penuh semangat.
Pengurus OSIS bagian keamanan menjalankan tugasnya dengan membantu menjaga ketertiban sekolah agar para siswi disiplin waktu. Jam 07.00 WIB, saat bel berbunyi, para siswi harus berada dalam kelas untuk membaca doa bersama. Jika masuk terlambat atau seragam sekolah tidak lengkap, maka harus memberi tahu dan minta izin terlebih dahulu pada posko karena di sekolah sudah disediakan posko. Jika ada siswi yang terlambat atau tidak masuk kelas, maka akan dicatat oleh posko dan bagian keamanan akan mengontrol di tiap-tiap kelas.
Pengurus OSIS bagian pendidikan mengaktifkan semua program kegiatan ekstra kurikuler seperti khitobah yang diadakan setiap setengah bulan sekali, FODIS (forum diskusi) yang diadakan setiap pekan, pengajian kitab klasik, kursus bahasa arab, PMR, kursus keputrian, dan sebagainya.
Peserta kegiatan keputrian saat ini sudah berjumlah tujuh puluh lima orang, sehingga kegiatannya harus bertempat di aula. Ketua OSIS menuturkan bahwa baik peserta kegiatan maupun pembina OSIS sama-sama aktif. Kegiatan keputrian dilaksanakan setiap hari selasa dan berisi tiga materi, minggu pertama tentang kesehatan reproduksi perempuan, minggu kedua keterampilan tangan, seperti payet pita, menyulam dan memanik. Minggu ketiga tata boga, yang berisi pengetahuan tentang bahan-bahan masakan dapur dan kesehatan pada umumnya.
Pengurus OSIS bagian pubdekdok mengkoordinasikan kegiatan seperti mading kelas yang diperbaharui tiap minggu sekali, mengurus dekorasi, dan lain sebagainya.
Pengurus OSIS bagian kebersihan dan kesehatan mendorong terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat di sekolah. Mereka berpikir bagaimana agar para siswi menjaga lingkungan sekolah dengan cara membersihkan kelas masing-masing dan tiap-tiap kelas harus mempunyai jadwal piket; setiap hari masing-masing kelas dibersihkan dan akan dikontrol oleh kebersihan, dan akan dilombakan tiap setengah bulan sekali dan akan diumumkan pada acara khitobah; dan tiap satu bulan sekali akan ada kerja bakti massal. Karena sekarang sedang musim penyakit, pengurus OSIS bagian kebersihan dan kesehatan harus bekerja ekstra dalam mengingatkan semua siswa untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Berbagai aktivitas di SMA 3 ini pada umumnya bertujuan untuk mengasah kemampuan siswi agar bisa berkreasi dan berkarya, mengembangkan kemampuan dan potensi, serta membentuk pribadi siswi yang disiplin, tangguh, dan bertanggung jawab.

28 September 2008

Matangkan Lewat Pondok Ramadan



SUMENEP—Sejumlah sekolah terus memantapkan pemahaman keagamaan anak didiknya. Salah satunya dengan melaksanakan Pondok Ramadan. Seperti yang dilaksanakan jajaran Direktorat Madaris III Annuqayah (MTs III-SMA III) Guluk-Guluk, Sumenep.
Telusuran koran ini, kegiatan tersebut diikuti sekitar 61 orang. Terdiri dari kelas IX MTs dan XII SMA 3 Annuqayah. Dalam pelaksanaannya, sejumlah peserta diklasifikasikan menjadi 10 kelompok (5 kelompok untuk MTs dan 5 kelompok untuk SMA). Acara ini digelar di Laboratorium IPA SMA 3 Annuqayah dengan tempat asrama dikelas IX MTs 3 Annuqayah.
Penanggungjawab kegiatan, KH Moh. Hazim, menegaskan, tujuan dari pelaksanaan Pondok Ramadan tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan para siswi dengan menyajikan paket kegiatan secara kondusif.
Di antara serangkaian kegiatan yang disajikan dalam kegiatan tersebut adalah memerkenalkan para siswi tentang dasar-dasar keagamaan dan sistem nilai kepesantrenan. Dia berharap, dengan sajian tersebut bisa memberikan nilai tambah atas pemahaman keagamaan yang didapat anak didik selama ini. “Pemahaman agama akan menjadi fondasi untuk mengarahkan mereka memeroleh cahaya-Nya,” ujarnya.
Sebab, tuturnya, sejauh ini dia melihat generasi muda mulai terjebak dengan hiruk pikuk kemajuan zaman. Bahkan, mereka mulai menganggap semua yang diciptakan oleh kemajuan adalah baik. Padahal, dalam kehidupan dibentuk oleh dua variable yang selalu bersamaan. Yaitu baik dan buruk, demikian seterusnya.
“Kemajuan juga demikian. Ada yang positif dan negatif,” imbuhnya. Sehingga, tantangan itulah yang harus selalu menjadi bahan kajian generasi muda. Supaya, mereka benar-benar mampu menjadi penyelamat bagi kehancuran umat.
Dia juga menegaskan, target dari keaitan yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut adalah tertanamnya nilai-nilai agama dengan kuat. Khususnya pemahaman yang terkait dengan kandungan isi ajaran Alquran. Meski, akunya, dalam kegiatan tersebut pengetahuan tentang bidang/materi sekolah tak dilupakan.
Pelaksanaan kegiatan tersebut rencananya berlangsung secara intensif dalam jangka 15 hari, dimulai 5 September dan berakhir 19 September lalu. (tur/ed/*)

Berita ini dikutip dari Harian Radar Madura, Senin, 22 September 2008, hlm. 40.

10 September 2008

Berpuasa Ramadan di SMA 3 Annuqayah


Mulai tanggal 5 September bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 5 Ramadan 1429 H, semua siswa kelas akhir SMA 3 Annuqayah mengikuti program RvM, singkatan dari Ramadan vil Madaris. Program ini yang kedua kalinya dilaksanakan di sekolah ini, karena pertama kali diadakan tahun lalu.
Pertama kali aku tiba di kegiatan RvM ini, aku merasa ga nyaman dan ga kerasan. Yang pertama karena ga berpuasa bersama orang tua, juga sempat kekurangan air, tapi alhamdulillah sekarang air di sini sudah mengalir sebagaimana biasa.
Ternyata berpuasa di sini menyenangkan banget karena bisa buka bersama teman-teman dan juga para guru. Pokoknya enak banget!
Yang membuat aku kerasan di sini adalah karena banyaknya bermacam kegiatan yang dilaksanakan setiap hari, seperti siraman rohani setiap bakda subuh. Pagi hari ada kursus bahasa Arab dengan penekanan pada muhadatsah, yang didampingi oleh Ibu Mus’iedah. Pada hari pertama masuk, aku sempat ditanya dengan bahasa Arab dan alhamdulillah aku bisa menjawabnya dengan baik walau ada rasa gugup sedikit. Ada juga kursus bahasa Inggris yang dibina oleh Ibu Fajariyah. Pelajaran bahasa Inggris ini adalah pelajaran favoritku. Lagian Bu Fajar enak banget di kelas. Katanya dulu memang kuliah jurusan bahasa Inggris. Aku ingin seperti beliau. Ya, kalau ga seperti beliau, yang penting bermanfaat deh buat orang lain dan buat nusa dan bangsa kita di Indonesia ini. Amien. Juga ada kajian kitab yang dibacakan oleh Bapak Syaiful Bahri. Yang dibaca kitab Qami’uttughyan, yang isinya tentang bagaimana cara meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt.
Setelah itu, pas setelah duhur adalah jam istirahat. Jam 14.30, aku ikut kajian kitab fikih yang juga disajikan oleh Bapak Syaiful Bahri. Di antaranya menerangkan cara bersuci (thoharoh), dan lain-lain. Sambil menunggu azan berkumandang, aku mengaji al-Qur’an. Setelah itu salat maghrib dan isya’, dan langsung dilanjutkan dengan tarawih bersama Nyai Fairuzah, dan setelah selesai tadarus al-Qur’an bersama teman-teman. Setengah jam kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan kajian tematik. Setiap kelompok kebagian waktu untuk presentasi dari tema dan bahan yang telah ditentukan. Jam 22.00 semua kegiatan berakhir, dan peserta kegiatan ini bisa beristirahat. Menjelang sahur, kami salat malam dulu.
19 September besok adalah hari terakhir RvM. Rasanya aku sudah tak sabar untuk malam terakhir yang akan ada acara khusus ini. Setelah itu aku pulang ke rumah. Semoga dengan adanya program ini wawasanku dapat bertambah lebih banyak dan lebih baik daripada sebelumnya. Juga bertambah iman dan ketakwaan kepada Allah swt.
Udah dulu ya ceritaku. Semoga setelah bulan suci ini kita bisa kembali suci (bahasa Arabnya: ‘iedul-fithri). Setelah lebaran nanti, kami akan kembali ke sekolah.

Fatimah, siswi XII IPS SMA 3 Annuqayah.

***

Bulan Ramadan sekarang berbeda dengan tahun yang sebelumnya, karena sekarang saya berpuasa di sekolah (pondok) sedangkan tahun yang lalu saya berpuasa di rumah. Di sekolah, sudah dua tahun ini menadakan kegiatan pondok Ramadan, yang nama populernya: RvM (Ramadan vil Madaris). RvM ini khusus untuk kelas akhir, yakni kelas tiga SMA dan kelas tiga MTs.
Pada hari pertama RvM, saya tidak kerasan karena biasanya berbuka dan sahur bersama orang tua. Tapi alhamdulillah saya sekarang sudah kerasan karena di RvM ada bermacam-macam kegiatan yang saya belum ketahui sebelumnya. Selain itu, saya bisa berbagi suka dan duka bersama teman-teman. Di RvM ini saya mendapatkan banyak ilmu agama. Di antara yang sudah dibahas adalah tentang tujuan puasa atau hikmah puasa. Selain itu, RvM juga melatih saya untuk disiplin, berbagi, saling menghargai, dan juga lebih akrab dengan teman-teman.

Thoyyibah, siswi XII IPA SMA 3 Annuqayah.

***

Indahnya ikut kegiatan RvM (Ramadan vil Madaris) di SMA 3 dapat saya rasakan karena di situ saya dapat meningkatkan solidaritas sesama teman. Meskipun kegiatannya padat, tapi itu tidak mengalahkan semangat kami para peserta RvM. Kegiatan RvM ini sudah dua kali diadakan di Madaris 3 Annuqayah. Pesertanya adalah siswa kelas akhir di SMA, dan mulai tahun ini juga MTs.
Banyak sekali yang saya dapatkan dari kegiatan ini. Di antaranya, saya dapat lebih memahami tentang puasa, menyangkut hikmah, tujuan, dan sebagainya.
Kegiatan RvM ini dimulai pada 5 September yang lalu, dan akan ditutup pada 19 September nanti. Awalnya saya ga kerasan, karena saya masih belum bisa menyesuaikan diri. Tapi tak lama kemudian saya bisa menyesuaikan diri juga. Selain menambah wawasan, dengan kegiatan ini saya juga bisa punya pengalaman berpuasa di sekolah (pondok). Saya berharap semoga dengan ikut kegiatan ini saya bisa mengetahui lebih mendalam tentang ilmu-ilmu agama, dan semoga saya dan teman-teman yang lain juga mendapatkan barokah dan ilmu yang bermanfaat. Selain itu semoga ilmu yang didapatkan selama ini dapat diamalkan dengan tulus (ikhlas). Saya pernah mendengar dari guru saya bahwa orang yang bodoh akan celaka kecuali orang yang berilmu. Dan orang yang berilmu itu juga akan celaka jika ilmunya tidak diamalkan. Demikian juga, orang yang mengamalkan ilmunya itu akan celaka kecuali orang yang ikhlas.

Syarifatul Laili, siswi XII IPA SMA 3 Annuqayah.

08 September 2008

Kenalkan, Namaku Apa

Cerpen Ummul Corn

Anak yang selalu meneteskan air mata di bawah jembatan ituk, adalah aku. Aku ingin bertemu ayah. Aku ingin mereasakan kasih sayang dari seorang ayah. mungkin aku tidak akan mengalirkan linangan air mata jika aku bersama ayah.
dulu ketika aku berumur empat tahun, ayah dan ibuku bertengkar, kemudian bercerai. itu adalah cerita ibuku yang disampaikan melalui omelannya setiap hari. Ya, walaupun aku mempunyai seorang ibu, tapi rasanya aku yatim piatu.
Ibu kandungku sendiri tidak menyukaiku. Ia selalu mencaci-maki aku. Tapi sahabatku yang selalu mengatakan agar memaklumi ibu, karena dia bilang ibu itu terlalu membenci ayah, sehingga melampiaskan dendamnya padaku. Suatu waktu ibu mengomeliku ketika tepat sahabatku datang ke rumahku.
Hatiku beku, tanpa berkata lagi aku menghampiri Sisi sahabatku yang sedari tadi hanya menyaksikan drama penghinaan yang aku terima. Air mata itu mengalir dari lubuk hatiku yang kemudian tumpah membanjuri halaman rumahku.
Sisi, sahabatku itu memelukku dan ikut menangis. Dalam tangisku aku berkata pelan, pelan sekali sambil tersedu. Aku berani berkata karena ibu telah masuk ke dalam rumah.
Hhh... aku menjadi lega dan bersemangat lagi untuk bersekolah. Memang Sisi adalah sahabat terbaikku. Mulai dari aku kelas TK sampai kelas 3 SMP dia selalu satu kelas denganku. Jika ada tugas kelompok yang kebetulan aku tidak sekelompok dengan Meme, maka kita akan protes pada Bapak guru dan akhirnya Pak guru mengalah. Setiap pagi Sisi selalu menjemputku untuk berangkat sekolah bersama.
Hal itu memang sudah biasa akibat rumah Meme hanya terbatas tiga rumah dan dua ladang dengan rumahku. Sementara aku bersiap-siap Meme menungguku di ruang tamu yang tak begitu mewah itu. Rumah ayah tiriku tidak terlalu miskin dan tidak pula kaya. Sederhana, itulah kata yang pas untuk rumah yang kutumpungi sekarang.
Kami berdua berangkat menggunakan sepeda masing-masing. Tentunya dengan memanggil salah pada kedua orang tuaku. Aku sempat riang, walaupun terbesit luka yang dalam.
Sudah satu minggu aku kabur dari rumah. Tanpa memberi kabar pada Sisi. Aku kabur dari rumah karena aku punya alasan. Ibuu telah benar-benar kelewatan. Ia tidak memberiku makan, menyuruhku mencari ayahku dan perintah terakhirnya adalah makan ke rumah ayah. Aku bingung harus ke mana. Mau mencari ayah aku tidak tahu wajah ayahku seperti apa. Mau menuju rumahnya, apalagi.
Aku mengambil keputusan untuk kembali ke sekolah. Hal yang sangat aku takutkan adalah jika Sisi mencariku ke mana-mana. Aku takut terjadi hal yang tidak-tidak yang mungkin akan menimpa sahabatku itu. Aku melangkah menuju gerbang sekolah. Mataku jelalatan mencari sosok sahabat yang sangat aku rindukan itu. Aku terus mencari dan akhirnya aku melihatnya sedang duduk murung di depan kantor yang menghadap sinar matahari pagi, tepatnya di bawah pohon karet. Cepat-cepat kuhampirinya. Ketika dia sadar kalau aku sudah datang, dia bangkit melemparkan tas dan terisak di pundakku.
Ketika kami saling berpelukan dan saling terisak, aku melihat seorang guru mengintip di balik jendela dan tersenyum ke arah kami. Sepertinya dia meneteskan air mata karena haru.
Sehari setelah keberangkatan Sisi ke pondok, aku sendiri. Seperti orang bingung yang tak menemukan tempat tinggal tetap. Tuhan berilah hamba kekuatan menghadapi cobaan ini.
Perempuan misterius itu memberitahuku bahwa telah lama ayah mencariku ke mana-mana. Dia mengajakku pulang ke rumah ayah, dan bahkan mengajakku tinggal bersamanya.
Kau tahu apa yang terjadi ketika aku mendengar berita ini? Hatiku meledak serasa meletuskan kembang api surga. Entahlah aku masih agak ragu, tentang anak yang dicari perempuan itu.

Madura, 2008

Ummul Corn, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep. Tulisan ini dimuat di Radar Madura, 7 September 2008.

25 Agustus 2008

Hindari Kawin Muda!

Oleh Ummul Corn (XI IPA)

Guluk-Guluk—OSIS SMA 3 Annuqayah mengadakan acara seminar bertema “Kesehatan Reproduksi Remaja dalam Perspektif Sosial Budaya, Agama, dan Medis” kemarin (24/08). Acara ini merupakan salah program OSIS SMA 3 Annuqayah, yang dilaksanakan berbarengan dengan acara Pelantikan OSIS SMA 3 Annuqayah dan bertempat di aula utama Madaris 3 Annuqayah.

Acara seminar tersebut berlangsung sukses sekali. Hal ini disebabkan para peserta sebanyak 50 orang yang terdiri dari : 30 orang siswa SMA 3 Annuqayah, 6 orang undangan dari sekolah lain, dan 14 orang pengurus OSIS SMA 3 sendiri, disiplin waktu dan aktif dalam sesi tanya jawab. Bahkan yang lebih menghebohkan, jawaban untuk pertanyaan 15 siswa dipending keesokan harinya oleh sang narasumber yaitu: dr.Wongso dan Ny. Fairuzah, M.Ag, sebab masing masing di antara mereka sama-sama sibuk dan pulang sebelum acara selesai. Meski demikian, tak sedikit pun hal ini mengurangi semangat peserta.

Sementara itu, saat wartawan Madaris 3 Annuqayah datang mewawancarai pembina OSIS SMA 3 Annuqayah, Ibu Mus’iedah Amien, ia siaga dan menghembuskan nafas siap. “Acara ini cukup beda dan menarik perhatian sisiwa, karena acara ini rangkap dua. Beda dengan Tahun selum-sebelumnya yang jika acara pelantikan ya pelantikan saja,” tuturnya.

“Pelatihan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi seluruh siswa yang sudah menikah, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti: hamil, kemudian putus sekolah. Khususnya bagi yang belum menikah, agar mereka tahu bahwa kawin dini itu banyak dampak negatifnya dan merugikan diri sendiri. Hindari kawin muda!” tambahnya.

17 Agustus 2008

Benarkah Kita Benar-Benar Telah Merdeka?

Oleh Muhammad-Affan

Merdeka artinya terbebasnya seseorang, suatu bangsa atau negara dari ancaman, intimidasi, dan kendali pihak lain. Dalam konteks kebernegaraan kita, kemerdekaan adalah terbebasnya bangsa Indonesia dari kendali pihak asing. Kita telah meraih kemerdekaan itu beberapa puluh tahun yang lalu. 17 Agustus 2008 tidak lain hanyalah momentum saja. Peringatan 17 Agustus berfungsi sebagai reminder semangat juang para pendahulu agar senantiasa mampu kita terjemahkan dalam tindak laku sehari-hari untuk mengisi ruang kemerdekaan ini. Tugas kita selanjutnya adalah bagaimana agar kemerdekaan ini tidak direnggut lagi oleh pihak lain.
Namun sampai detik ini kita ternyata belum mampu menangkap sepenuhnya makna kemerdekaan itu. Menjelang detik-detik kemenangan, seperti biasa, kita masih lebih banyak menonton seremoni perayaan semu dan hiburan daripada kerja keras gambaran sebuah perjuangan. Sederetan lomba dirayakan serentak di tanah air, mulai dari panjat pinang, lari dalam karung, pindah kelereng, gerak jalan hingga konvoi dan semarak panggung hiburan. Semua hanyut dalam seremoni perayaan semu yang kerontang substansi. Kita masih mengidap low contex culture, seakan-akan semua pekerjaan sudah selesai, tinggal menikmati saja. Sekarang, mari sejenak lupakan semua itu...
Setiap tahun bibir pantai laut kita semakin mengerut, dikeruk, dijual ke negeri seberang. Setiap tahun sektor kelautan kita menderita kerugian puluhan trilyun. Nasib rimba nusantara juga tidak lebih baik. Penebangan liar (illegal logging) dari tahun ke tahun makin menggila. Hingga pada tahun 2000, lahan hutan rusak mencapai 101,73 juta ha. Ratusan ribu hektar lahan konservasi diubah menjadi lahan komoditi untuk lapangan golf, apartemen, vila, perkantoran, rumah dan tanaman komoditi untuk memenuhi perut-perut industri. Kemampuan produksi hutan indonesia setiap tahunnya hanya 40%, sementara kebutuhan produksi mencapai angka 60%(Walhi 2006). Ini artinya setiap tahun sekitar 20% hutan lindung yang ditebang untuk memenuhi tuntutan pasar. Untuk lima pulau besar, yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua menunjukkan luas penutupan hutan telah berkurang seluas ± 1,8 juta ha/tahun setara dengan luas Pulau Jawa. Kerugian negara Rp.30 trilyun pertahun (Menteri kehutanan 2006). Akibatnya, puluhan ribu flora dan fauna musnah dan sejak tahun 1995 pulau Jawa telah mengalami defisit air sebanyak 32,3 miliar meter kubik setiap tahunnya (Badan Planologi Dephut, 2003).
Yang lebih mengherankan, Indonesia sebagai negara penghasil minyak dan gas, hingga saat ini, untuk memenuhi kebutuhan migas dalam negeri saja masih mengimpor. Data yang dikeluarkan oleh Jaringan Advokasi Tambang, Indoneisa memiliki 158 Blok migas. Namun sayangnya, hanya 21 blok dikuasai Pertamina (13%), selebihnya, 137 blok telah dikuasai pihak asing sejak beberapa puluh tahun yang lalu (JATAM,2007).
Keikutsertaan Indonesia dalam OPEC tidak lebih dari melacurkan harga diri bangsa ini untuk kesejahteraan negara lain. Indonesia juga tercatat sebagai Republik hutang. Di bawah IMF, WB, dan ADB, hutang Indonesia mencapai 132 USD atau sekitar Rp.1400 trilyun (Revrisond Baswir dalam Republika, 2007). Untuk membayar beban angsuran pokok dan bunga hutang luar negeri saja, negeri ini harus menyisihkan sepertiga dari APBN. Akibatnya, tarif pelayanan kesehatan (Rumah sakit) dan pendidikan (Sekolah dan Perguruan Tinggi) kita mahalnya minta ampun, sementara kualitasnya tetap anjlok.
Kemerdekaan mengandaikan refleksi, kerja keras, dan perjuangan tanpa henti. Merayakan kemerdekaan cukup sekali saja. Selebihnya, tugas kita selajutnya adalah memperjuangkan agar kemerdekaan yang telah dicapai oleh bangsa ini bisa terus dipertahankan dan dikembangkan demi kualitas hidup bersama yang lebih purna. Merayakan sebuah kemenangan dengan pesta berkali-kali, bahkan berpuluh-puluh kali, merupakan seremoni romantisme sejarah yang usang.
Terasa naif sekali rasanya bila setiap tahun, dari dulu hingga sekatang, Indonesia (hanya) merayakan kemerdekaan. Merayakan an sich, tidak lebih dari itu. Kemerdekaan seharusnya cukup dirayakan sekali saja. Selebihnya tugas kita adalah memperjuangkan kemerdekaan itu. Sampai disini, apakah cukup yakin kita untuk mengaku telah merdeka? Dari sisi mana kita melihatnya?

Muhammad-Affan, guru SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.

Mengheningkan Cipta, Mulai!!!

Oleh Juwairiyah Mawardi

Upacara merdeka sejak tahun 1945.
Bulan Ramadan yang gerah oleh kenyataan perjuangan yang belum usai. Jam 10 pagi terik matahari. Bersimbah peluh dan cecer darah. Meneriakkan kemerdekaan yang dicitakan dalam alur panjang penjajahan. Kekuasaan pribumi yang badai kapas di tangan. Diterbangkan penindasan atas kebodohan rakyat. Yang jelata dan kuasa, diperbudak paksa. Menjadi tumbal gerbang sejarah bagi generasi berikutnya.
Merdeka atau mati! Demikian diucapkan para Bung kita. Lalu kita upacarakan dari tahun ke tahun sebagai ceremony kedigdayaan negeri. Berbaris, bernyanyi lantang, tengadah pada bendera dalam hormat selangit. Seperti pasukan jepang yang dilatih perang melawan bangsa sendiri. Seperti barisan tentara Belanda yang dilatih jadi pengkhianat bangsa sendiri. Begitulah kita dari tahun ke tahun. Bubar.... jalan! Lantas bubar pulalah semangat juang kita.
Apakah arti kemerdekaan? Pengkhianatan atas rakyat tak pernah punah. Penindasan atas ketakberdayaan hak asasi tak pernah surut. Selangkahpun tak ada jejak kemerdekaan baru bagi rakyat. Orde Baru bergaung seperti dalam goa-goa pertapaan abadi.
@@@
Reformasi sejak tahun 1998.
Mahasiswa berada di garis depan perjuangan baru menumbangkan tirani yang selama 32 tahun berhuni dalam rongga-rongga sejarah hingga menyesakkan nafas kaum revolusioner. Bersama mahasiswa kita bisa menumpas ketidakadilan kaum tirani yang menyurukkan mahkota kekuasaannya hingga ke kolong-kolong jembatan. Seperti kemerdekaan baru. Bagi kata, bagi rupa, bagi jiwa, bagi apapun. Seperti lepas dari mimpi buruk tanpa ujung. Rayakan kemenangan. Seperti kembali pada fitrah kemanusiaan. Berganti kepemimpinan yang diimpikan. Seperti angin segar, menyeruak.....Sesaat.........

Upacar kemerdekaan tahun 2008.
Libur nasional, mengheningkan cipta dalam ceremony yang begitu rutin. Peluh yang percuma. Teriak merdeka yang tanpa ruh. Merdeka! Siapa yang merdeka kini? Para penguasa telah memerdekakan kesenangan mereka dengan menjajah rakyat dalam kerja paksa yang lain. Para petani yang peluhnya menguning bagai padi. Dipetik dengan murah meriah. Biaya pendidikan yang bersaing laksana pasar bebas. Pendidikan berazas kapitalis. Kaum pemerintah yang menimbun harta karun bagi anak cucu tujuh belas turunan. Korupsi yang menjadi tradisi kultural dari strukural hingga personal. Kaum ulama yang tak lagi mewarisi nafas ke-WALI-an dan ke-NABI-an. Pemerintah tingkat rendahan hingga tingkat tinggi yang menggadaikan rakyat bahkan sebelum mereka memperoleh pangkatnya. Penjajahan baru yang terpola dan mengakar. Inilah warisan yang mendarah daging bagi mental bangsa. Kita tak pernah sembuh dari luka-luka penjajahan belanda, jepang, portugis, inggris. Mereka telah menyematkan azimat keramat tentang bagaimana menindas manusia lain. Meski sebangasa, setanah air, senegara dan seagama. Telah merdekakah kita?
Betapa telah kita buat mubazir darah juang para pahlawan. Yang melepaskan jiwa demi sehembus nafas yang merdeka. Untuk kita yang bersepakat dengan penjajahan berikutnya terhadap sesama.
Lihatlah bumi kita, dengarkan nyanyi pertiwi yang ranggas, dibuat tandus dalam penebangan liar pohon-pohon yang menjadi pacak bumi. Pengurusan atas hak-hak rakyat yang tak terganti bahkan dengan sesuap nasi seteguk kesejukan. Mereka yang berkubang lumpur tanpa ada uluran tangan emas penguasa.
Lihatlah para wakil rakyat yang saling merapatkan barisan dalam rapat-rapat tanpa melaksanakan amanat rakyat. Dari untuk pejabat bagi pejabat. Mereka berkompetisi untuk mendapatkan kursi goyang yang akan menggonjang-ganjingkan nasib rakyat. Mereka membahas tentang nasib rakyat seperti pelajaran yang membosankan dalam ruang-ruang sidang mewah. Di luar sana, rakyat berteriak hingga serak dan terkapar di trotoar. Merdekakah kita? Merdeka atau mati. Kita hampir mati menunggu kemerdekaan yang tak kunjung tiba, yang mungkin hanya mimpi.
Maka, upacarakan saja segala mimpi, bacakan mantra-mantra perjuangan yang lelah kurang darah. Pakailah seragam kebangsaan yang berlambang ketertindasan. Semangatkan cita-cita bagi sejarah berikutnya. Cinta tanah air, baurkan dengan air mata yang haru biru dalam lebam-lebam luka kalbu. Baiklah, mari kita mengheningkan cipta. Mulai!


Juwairiyah Mawardi, guru SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.

31 Juli 2008

PSG Sosialisasi Sampah di Bakeyong


















Pada tanggal 30 Juli 2008 kemarin, Pemulung Sampah Gaul (PSG) Madaris 3 Annuqayah diundang oleh mahasiswa KKN Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman (STIK) Annuqayah untuk melakukan sosialisasi pengelolaan sampah plastik di lokasi mereka di Desa Bakeyong Guluk-Guluk Sumenep. Sosialisasi ini ditempatkan di Madrasah Tsanawiyah Ainul Falah Bakeyong dan diikuti oleh siswa-siswi di sana.

Kegiatan ini adalah kerja sama mahasiswa KKN STIK Annuqayah yang melakukan sosialisasi sampah di lokasi KKN mereka dan Komunitas PSG Madaris 3 Annuqayah. Pada kesempatan ini, Tim Kreatif PSG tampil memaparkan bahaya sampah plastik pada khususnya dan sampah pada umumnya, serta pentingnya penanaman kesadaran lingkungan sejak dini. Selain itu, PSG menceritakan pengalamannya mengelola sampah plastik hingga dijadikan kerajinan tas dan semacamnya. Pada sesi ini, Tim Kreatif PSG tampil secara langsung memberi contoh dan penjelasan detail tentang proses pembuatan tas plastik. Presentasi dilengkapi dengan pemutaran video proses kreatif di lapangan.

Tim Kreatif PSG yang hadir pada kesempatan ini adalah Ummul Karimah, Nujaimah, Ulfatul Lu’luah, Anisah, Irul Nur Jannah, dan Siti Mailah. Mereka didampingi oleh Ibu Mu'iedah Amien, S.Pd.I (Pembina OSIS SMA 3), Muhammad-Affan (Pembina Duta Lingkungan dan Green Students), dan M. Mushthafa.

Presentasi PSG mendapat respons yang begitu meriah dari seluruh hadirin. Ini ditunjukkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan peserta kegiatan ini dan kesabaran mereka untuk tetap mengikuti presentasi PSG hingga acara ini ditutup pada pukul 11.30.

09 Juli 2008

Haflah Akhir Dirosah Madaris 3 Annuqayah


Di akhir tahun pelajaran 2008/2009 ini, Madaris 3 Annuqayah mengadakan Haflah Akhir Dirosah. Pelaksanaannya tepat pada hari Selasa, 8 Juli 2008. Acara ini adalah puncak dari rangkaian kegiatan lain yang sebelumnya diadakan, yakni aneka macam lomba yang dilaksanakan mulai dari 2-6 Juli 2008. Selain itu, ada juga kegiatan Pameran Karya Siswi Madaris 3, yang menampilkan karya-karya kerajinan siswi Madaris 3.
Acara Haflah Akhir Dirosah tahun ini dilaksanakan dengan agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain undangan wali siswi Madaris 3, ada acara khusus pelepasan bagi siswi kelas akhir SMA 3 Annuqayah. Ada juga penampilan dari Paduan Suara Madaris 3 Annuqayah yang menyanyikan Mars dan Himne Madaris 3.
Dalam acara ini, Direktur Madaris 3 Annuqayah, K. M. Faizi, M.Hum, menyampaikan beberapa pesan penting kepada siswi Madaris 3 agar setelah lulus nanti dapat tetap menjaga perilaku dan moral yang terpuji dan agar tetap menjaga nama baik Annuqayah. Sementara itu, mewakili pimpinan unit pendidikan yang lain, H. Moh. Ya’kub, S.E. juga menyampaikan sambutan, dan juga membacakan catatan prestasi yang diraih keluarga besar Madaris 3 Annuqayah, seperti partisipasi 2 orang siswi SMA 3 Annuqayah sebagai anggota tim Olimpiade Sains Kabupaten Sumenep, yakni Restu Putri Wulandari untuk bidang ekonomi dan Anik Rozanah untuk bidang Biologi, prestasi lomba tingkat Sumenep yang dimenangkan oleh siswi MTs 3 dan SMA 3, kegiatan-kegiatan di Madaris 3 Annuqayah seperti Ramadan fil Madaris, Orientasi Pengabdian Terapan Intelektual Madaris 3 (Optima), dan sebagainya.
Acara ini ditutup dengan pengumuman ranking kelas dan juara-juara lomba, dan berakhir pada sekitar bakda duhur awal.

14 Juni 2008

Ketika Siswi SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Jadi Pemulung: Selamatkan Lingkungan, Olah Sampah Jadi Souvener



ZAITURRAHIEM, Sumenep

Sampah tak selamanya jorok. Di tangan kreatif siswa, sampah berubah jadi tas, vas bunga, dan kotak surat. Karenanya, siswi SMA 3 Annuqayah tak malu menjadi pemulung. Mengapa?

Lima puluh dua siswi yang tergabung dalam Pemulung Sampah Gaul (PSG) bertekad selamatkan bumi. Mereka merasa sesak dengan tempat pembuangan akhir (TPA) di sekitar sekolah. Berkubik sampah menumpuk di TPA. Apalagi, timbunan sampah itu sebagian besar terdiri atas sampah nonorganik. Sampah jenis ini sulit musnah dengan sendirinya.
Para gadis belasan tahun itu langsung terjun ke TPA. Mereka memunguti sampah. Di antaranya, siswi itu membawa pulang gelas plastik bekas kemasan air mineral atau minuman suplemen. Aksi siswi ini pun menyita perhatian warga di sekitar sekolah. Sebab, mereka masih mengenakan pakaian seragam sekolah. Pemandangan ini berbeda dengan pemulung sebenarnya saat turun ke TPA.
Ketua PSG, Mu’awwanah mengakui ide tersebut muncul setelah mendengar cerita dari gurunya yang mengajar Bahasa Indonesia, M. Musthafa. Perempuan asal desa Daleman kecamatan Ganding mendengar ada seorang perempuan di Jakarta bernama Regina. Regina, katanya, mengolah sampah plastik menjadi barang kerajinan yang layak dijual. Misalnya, dia contohkan sampah plastik menjadi vas bunga, tas, dan souvener lainnya.
Dia menyadari Regina yang diceritakan Musthafa mengilhami dirinya dan rekan-rekannya. “Mulanya kami malu, gengsi, mau jadi pemulung.” Perempuan yang gemar baca buku itu menegaskan kegiatan tersebut dimaksudkan untuk selamatkan bumi dari kehancuran. Selama ini mayoritas warga banyak konsumsi barang-barang yang terbungkus plastik. Padahal, plastik sulit lebur dalam tanah karena berbahan nonorganik.
Untuk proses desain dan pembuatan, perempuan berjilbab itu akui tak punya pembimbing. Karenanya, dia dan teman-temannya berkreasi sendiri. Siswi berkarya dan mengolah limbah tidak untuk mengejar pasar. Tetapi, siswi hanya ingin memanfaatkan barang-barang yang dianggap tak berharga. "Kami melakukan ini (memulung sampah dan mengolah menjadi souvener) tanpa beban, santai," katanya.
Hal yang sama diakui guru Bahasa Indonesia SMA 3 Annuqayah, Musthafa. Menurutnya, siswi ingin sosialisasi dan penyadaran tentang efek sampah nonorganik. Lulusan UGM itu katakan warga tak sadar sampah nonorganik sulit hancur secara alami. Sejauh ini, katanya, siswa baru melangkah terkait pemanfaatan plastik di TPA sekitar sekolah. Menurutnya, kreativitas siswa hanya satu hal. Sebab, siswa membidik masyarakat agar mengurangi konsumsi barang yang terbungkus bahan kimia. "Termasuk plastik itu," terangnya.
Pria yang pernah bermukim di Jakarta itu katakan ada pemesan dari sekitar sekolah. Dia contohkan, jajaran muslimat, madrasah aliyah, dan lembaga lainnya di sekitar sekolah memesan souvener dari sampah. Musthafa akui cara mengolah sampah ini dibuat sederhana. Siswi memungut dan mencuci sampah sampai benar-benar bersih. Selanjutnya, sampah-sampah dikeringkan. Terakhir, siswa mendesain dan mengubah sampah menjadi tas, vas bunga, maupun tempat lampu dan souvener lainnya. (*)


Dikutip dari Radar Madura, Sabtu, 14 Juni 2008.

11 Juni 2008

Reformasi OSIS SMA 3 Annuqayah

Pada tanggal 7 Juni 2008, OSIS SMA 3 Annuqayah mengadakan reformasi. Adapun kegiatan ini bertujuan untuk membentuk kader-kader baru dan membuat SMA 3 Annuqayah lebih maju.

Acara ini sudah mendapat izin dari pihak sekolah. Dalam pelaksanaan kegiatan reformasi ini pihak sekolah memberikan 2 pilihan yaitu sebelum dan sesudah ujian. Akhirnya panitia reformasi memutuskan untuk melaksanakan sebelum ujian.

Ada tiga orang calon ketua OSIS SMA 3 Annuqayah, yakni Ummul Karimah, Siti Nujaimatur Ruqayyah, dan Zaitunah. Ketiga calon ketua OSIS ini melewati beberapa tahapan proses pemilihan, di antaranya penyampaian visi dan misi pada tanggal 5 Juni 2008 yang ditempatkan di Aula Utama Madaris 3 Annuqayah. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih dua jam dan semua siswi aktif dalam mengikuti penyampaian visi dan misi.

Pada hari pencoblosan, semua warga SMA 3 Annuqayah datang berduyun-duyun ke tempat pemungutan suara, mulai dari siswi, guru, dan TU. Ummul Karimah akhirnya menang mendapatkan 111 suara, disusul oleh Nujaimah 33 suara, dan Zaitunah 12 suara.

Pada saat memberi sambutan setelah Ummul terpilih, H Moh Ya’kub, SE, Kepala SMA 3 Annuqayah mengatakan bahwa reformasi OSIS dan pencoblosan ini adalah pembelajaran berdemokrasi bagi siswi SMA 3 Annuqayah pada khususnya, dan seluruh warga SMA 3 Annuqayah pada umumnya. Beliau berharap agar OSIS dapat terus lebih maju.

Ditulis oleh Ulfatul Lu’luah (XB), Husnul Khotimah (XI IPA), Maltufah (XB).

Madura Channel Meliput Kegiatan PSG


Oleh Zulhatus Sayyidah

Selasa, 10 Juni 2008 kemarin, kami komunitas Pemulung Sampah Gaul (PSG) Madaris III Annuqayah kedatangan tamu dari salah satu stasiun televisi swasta, Madura Channel. Kedatangannya ke sekolah kami bertujuan untuk meliput hasil kerajinan sampah plastik yang kami buat selama ini, yang kira-kira telah mencapai lebih dari 20 buah kerajinan. Wartawan dari Madura Channel itu menanyakan tentang latar belakang serta tujuan dari diadakannya PSG dan tentang aktivitas utama PSG, yakni membuat kerajinan dari sampah plastik. Wartawan Madura Channel itu mewawancarai salah satu anggota PSG yang dilanjutkan dengan pengambilan gambar hasil kerajinan sampah plastik.
Berita yang meliput kegiatan PSG ini kemudian ditayangkan di Madura Channel sore harinya, tepatnya jam empat sore. Anak-anak PSG nonton bareng di kantor MTs 3 Annuqayah Sabajarin. Ternyata setelah berita itu ditayangkan, ada salah satu teman guru kami yang antusias dan ingin belajar bagaimana cara membuat kerajinan dari sampah plastik. Teman guru kami itu mengatakan bahwa Muslimat NU Sumber Payung Ganding tertarik untuk belajar. Sebenarnya kami siap untuk mengajari mereka yang ingin tahu bagaimana cara membuat kerajinan dari plastik. Dengan semakin banyaknya orang yang membuat kerajinan dari sampah plastik, maka tentunya sampah plastik yang ada di lingkungan sekitar akan berkurang, dan itu berarti bisa menyelamatkan bumi dari ancaman bahaya sampah plastik yang kian bertambah.
Akan tertapi, berhubung kami akan menghadapi ujian semester dan harus belajar dengan giat, maka kami harus menunda rencana tersebut. Karena selain harus ikut menyelamatkan bumi, kami sebagai siswa juga harus belajar dengan giat agar nantinya bisa berguna untuk diri sendiri, orang lain, bangsa dan negara. Tapi kami berjanji, setelah ujian selesai, kami siap datang berbagi pengalaman kami membuat kerajinan dari sampah plastik.

Zulhatus Sayyidah, siswi X A SMA 3 Annuqayah, anggota Pemulung Sampah Gaul (PSG).

07 Juni 2008

Perjalanan Sampah Plastik


Oleh Khazinah

Meninjaklanjuti aksi Hari Bumi 22 April 2008 yang lalu, setelah melalui proses pemilahan dan pencucian, kemudian terkumpullah sampah plastik yang sudah bersih. Aksi kami (Pemulung Sampah Gaul, atau PSG) selanjutnya adalah: tiap kelompok bermusyawarah tentang karya apa saja yang akan dibuat. Mulanya kami tidak tahu bagaimana cara mengolah sampah plastik yang begitu banyak itu. Tidak ada pembimbing khusus yang mengajari kami tentang bagaimana cara membuat kerajinan dari plastik. Tapi, meskipun demikian, kami para PSG tetap bersemangat mencari ide untuk membuat sampah plastik menjadi sesuatu yang lebih berharga. Dalam benak kami tertancap kata-kata penyemangat: saya bisa, saya harus bisa, saya pasti bisa.

Pada awalnya kerajinan plastik yang kami rancang itu dibuat secara manual. Meskipun dengan cara manual, ternyata kami bisa menghasilkan beberapa macam bentuk kerajinan dari plastik seperti tas, dompet, tempat alat tulis, dan sebagainya. Hasilnya tidak begitu mengecewakan, meskipun tidak seperti yang diperjualbelikan di toko-toko kerajinan. Tapi itu adalah sebuah kebanggaan bagi kami yang telah ikut berpartisipasi mengurangi polusi sampah yang kian membludak.

Pada proses pembuatan kerajinan plastik, semangat kami sempat surut, karena sulitnya mendapatkan peralatan dan perlengkapan yang kami butuhkan untuk lebih mempercantik hasil kerajian sampah plastik. Bahkan ketika beberapa dari teman kami mencari toko yang menjual peralatan dan perlengkapan tersebut, mereka sempat kelimpungan sebab di daerah kami sangat sulit menemukan toko yang menjual peralatan dan perlengkapan untuk mengolah kerajinan sampah plastik Karena sulitnya mendapatkan peralatan dan perlengkapan tersebut, maka kami terpaksa menggunakan bahan seadanya yang sekiranya dapat mempercantik hasil kerajinan kami. Kami menggunakan pita, selang, benang siyet, plastik mika, risleting, dan alat-alat sederhana lainnya.

Ternyata hasilnya cukup memuaskan. Bahkan, setelah melihat hasil kerajinan sampah plastik yang kami buat, banyak lembaga lain yang ingin belajar dari kami tentang pemanfaatan sampah menjadi sesuatu yang layak pakai.Terkait dengan ini, maka pada tanggal 4-5 Juni 2008 kemarin dua orang anggota PSG diutus untuk menyalurkan sedikit ilmu dan pengalamannya untuk melatih teknik pengolahan sampah plastik menjadi kerajinan. Dua orang anggota PSG itu mengajari siswi-siswi Madrasah Aliyah 1 Annuqayah putri yang juga punya kepedulian lingkungan. Beberapa sekolah lain sudah menghubungi kami dan ingin belajar tentang pengolahan sampah plastik, di antaranya Madrasah Aliyah Annajah I Karduluk.

Dalam satu pekan terakhir, pengerjaan kerajinan sampah plastik ini semakin mendapat angin segar. Selain tersedianya peralatan pendukung yang lebih baik, seperti tali tas 'beneran', anak-anak PSG secara berkala dan intensif saat ini digembleng khusus untuk peningkatan mutu dan desain kerajinan oleh Lora Khathibul Umam yang kebetulan sedang berlibur—beliau kuliah di Jogja.

Dan alhamdulillah saat ini kami bisa menghasilkan karya yang lebih baik dari sebelumnya dan sudah layak untuk dijual. Sampai saat ini hasil karya kami sudah terkumpul sangat banyak dari berbagai model dan bentuk mulai dari tempat pensil yang berbentuk persegi empat hingga segi tiga.

Kabar terakhir, hasil kerajinan kami mendapat perhatian khusus dari pihak sekolah. Insya Allah, di ajang lomba menjelang pembagian rapor bulan depan, di Madaris 3 akan diadakan Pameran Karya Siswa yang di antaranya akan menampilkan hasil kerajinan kami. Bahkan, kemarin kami mendapat kabar bahwa aktivitas kami akan diliput oleh Madura Channel, televisi lokal di Madura.

Teman-teman PSG, jangan berhenti berkarya!

Khazinah, siswi XI IPS SMA 3 Annuqayah, anggota Pemulung Sampah Gaul (PSG).


26 Mei 2008

Sekali Mendayung, 3 Piala Diraih



Oleh: Ummul Corn

Bumi Sabajarin Guluk-Guluk, gempa tepuk tangan. Ahad (25/Mei/2008) senyum bangga dan tepuk tangan para guru menghiasi lingkungan sekolah Madaris III Annuqayah ketika 3 piala itu diangkat setinggi kepala.
Paramarta—sapaan akrab Paduan Suara (PS) SMA 3 Annuqayah—meraih juara pertama dalam lomba memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Matlabul Ulum Jambu Lenteng Sumenep.
Para anggota Paramarta telah berhasil mengalahkan beberapa kelompok paduan suara lainnya yang tentunya lebih siap dan lebih mantap. Namun, anggota Paramarta tak pernah kekeringan semangat untuk maju walau lomba ini merupakan lomba yang pertama mereka ikuti.
"Dengan menjadi juara pertama, menurut saya ini adalah awal yang baik untuk terus memupuk semangat kita," tutur salah satu anggota Paramarta sambil memegang erat piala yang mereka raih.
Hingga berita ini ditulis, para anggota Paramarta selalu mengatakan: "Kami sempat hampir kehilangan percaya diri ketika baru tiba di lokasi lomba, karena kostum yang dikenakan kelompok paduan suara lainnya bagus-bagus dan menarik. Sedangkan kami hanya menggunakan kostum putih polos dengan syal merah polos di leher," tambahnya.
Sebagian guru sempat heran bercampur kagum karena anggota Paramarta adalah anggota baru semua: baru berlatih, dan baru pertama ikut lomba. Ternyata mereka berhasil meraih juara pertama. Tapi, apalah arti penafsiran manusia jika Tuhan sudah berkehendak lain.
Tak hanya dalam lomba paduan suara saja prestasi yang siswi SMA 3 Annuqayah raih. Namun, di waktu dan tempat yang sama pula, salah satu siswi SMA 3 Annuqayah meraih juara pertama lomba baca puisi. Namanya Ummul Karimah, siswi X B SMA 3 Annuqayah. Ia berhasil menyisihkan sejumlah siswa dari sekolah lain untuk tidak menempati juara di posisi pertama.
Ia mengaku bahwa lomba puisi kali ini cukup merepotkan. "Isi pengumumannya, panitia sudah menyiapkan naskah. Setelah ditanya, ternyata tidak ada. Saya masih disuruh menyalin teks puisi di majalah dinding 3 menit sebelum lomba dimulai. Dan saya adalah peserta kedua. Sempat dag-dig-dug sih…" tuturnya.
Namun demikian, keberhasilan masih menyertai mereka.
Lain dulu, lain sekarang. Jika tahun lalu siswa MTs 3 Annuqayah gagal mendapat prestasi lomba qiraat dan saritilawah yang diselenggarakan oleh SMPN Tarate Sumenep, maka sekarang tidak lagi. Dalam lomba ini pula, siswi MTs 3 Annuqayah sukses meraih juara pertama lomba qiraat dan saritilawah. "Bagaimana tidak kami tersenyum, hanya dengan bermodal semangat dan rajin berlatih, ternyata kita bisa," tambahnya saat ditemui tim MaRak (Mading Raksasa) Madaris III Annuqayah.
Sejak keberhasilan ini, banyak yang percaya bahwa dengan semangat kita pasti bisa.
"Madaris III Annuqayah, ayo bangun dan jangan tidur lagi!"

13 Mei 2008

Orientasi Pengabdian Siswi SMA 3 Annuqayah

Pada tanggal 12 Mei 2008 di SMA 3 Annuqayah diadakan pembukaan Optima-3 (Orientasi Pengabdian Terapan Intelektual Madaris 3). Acara ini diikuti oleh siswi kelas akhir SMA 3 annuqayah.
Adapun yang melatarbelakangi diadakannya Optima karena ada beberapa masukan dari beberapa guru bahwa setelah mengikuti ujian akhir siswi kelas akhir SMA 3 Annuqayah tidak mempunyai kegiatan. Tujuan lainnya adalah sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan dalam masyarakat setelah keluar dari SMA 3Annuqayah .
Kegiatan Optima ini berlangsung selama kurang lebih 38 hari. 12-14 Mei 2008 adalah acara pra-orientasi, meliputi PBB, eksplorasi potensi siswi, dan sharing pengalaman. Selanjutnya adalah kegiatan Orientasi, dengan materi analisis diri, kepesantrenan, pengantar manajemen, pengantar ilmu kependidikan, dan ketatausahaan. Kegiatan Orientasi ini akan dilaksanakan pada 15-19 Mei mendatang.
Baik guru maupun siswi memberikan tanggapan positif terhadap diadakannya Optima,
bahkan sebagian guru mengusulkan tahun depan akan diadakan lagi, tapi tidak hanya di SMA 3, MTs 3 juga diharapkan untuk mengadakan kegiatan seperti ini. Diharapkan, setelah mengikuti Optima, siswi lebih akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan setelah lulus SMA.
Setelah kegiatan Orientasi, dilanjutkan dengan magang. Siswi diberi pengalaman untuk ikut membantu bergiat di unit-unit kependidikan di lingkungan Madaris 3 Annuqayah, yakni Madrasah Ibtidaiyah 3 Annuqayah, Madrasah Tsanawiyah 3 Annuqayah, SMA 3 Annuqayah, Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah, Laboratorium IPA, Lab Komputer (EC) dan Aula Utama Madaris 3 Annuqayah.

Ditulis oleh Husnul Khotimah (XI IPA), Ulfatul Lu’luah (XB), Maltufah (XB).

10 Mei 2008

Mode & Fashion: Ranjau Industri bagi Perempuan

Oleh Amirul Islamiyah, Mega Eka Suciyanti, Ekaturrahmah, Siti Mailah

Berkembangnya modernisasi yang telah mengglobal berangkat dari latar belakang perkembangan IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi). Semakin hari perkembangan teknologi semakin canggih, di mana-mana alat bantu yang sedang digunakan tidak lagi menggunakan tenaga manusia, akan tetapi menggunakan tenaga mesin. Industri banyak dibangun serta arus informasi dan komunikasi sudah banyak dikenal oleh masyarakat banyak. Jika pada zaman dahulu kebanyakan masyarakat yang masih gaptek (gagap teknologi) dan pola pikirnya masih primitif. Namun tidak demikian yang dialami masyarakat zaman sekarang, di mana-mana arus informasi dan komunikasi sudah dapat dinikmati langsung baik itu di jalan, di luar rumah atau bahkan di dalam kamar.
Perubahan-perubahan semakin pesat. Hal ini berangkat dari berbagai macam tehnologi (handphone, televisi, komputer, internet) dan informatika yang mulai menggejala di berbagai kalangan. Karena kecanggihan tehnologi tersebut kita dapat mengonsumsi bahkan menikmatinya dengan mudah, kita tidak usah repot-repot mengeluarkan tenaga ekstra karena sudah dapat menggunakan alat tersebut kapanpun dan dimanapun kita berada, hal ini tidak hanya berlaku di kota-kota besar saja melainkan dipelosok desapun sudah mulai dipengaruhi.
Pengaruh era globalisasi seperti: alat komunikasi dan teknologi informatika yang semakin meluas juga mempunyai sisi negatif yaitu kelancaran transportasi tersebut sangat mendukung proses distribusi antara produsen dan konsumen sehingga produk-produk luar negeri akan cepat meluas ke berbagai Negara. Sehingga rakyat Indonesia juga banyak yang tergiur mengoleksi barang-barang yang dibawa oleh luar negeri
Pengaruh industri pada masyarakat sudah mulai menjamur baik di kalangan masyarakat umum ataupun di kalangan pesantren. Namun kebanyakan yang menjadi korban industri adalah kaum perempuan, karena didukung oleh banyaknya kebutuhan perempuan daripada laki-laki, bahkan dari kenyataan yang ada dapat dikatakan 80% kaum perempuan yang berhasil dijadikan sebagai korban industri. Selain itu perempuan juga rentan dengan masuknya mode dan fashion.
Perkembangan industri yang semakin maju apalagi didukung oleh ketatnya persaingan dagang bisa memicu sebuah industri untuk memproduksi produk-produk sekunder dan tersier. Survey di lapangan membuktikan bahwa masyarakat lebih banyak mengedepankan kebutuhan sekundernya daripada kebutuhan primer.
Perindustrian pakaian, make-up, aksesoris kini menjadi semakin cerdas, sebagaimana telah diungkapakan oleh salah satu wali santri dari desa Prancak. Di mana produsen tidak lagi mengharap datangnya langsung konsumen ke toko-toko, tetapi mereka mencoba membayar sales untuk menjual kepelosok-pelosok desa. Hal ini mengakibatkan para wali santri menjadi tidak peduli terhadap kebutuhan pokok atau kebutuhan primer bahkan mereka menjadi fokus terhadap mode atau kebutuhan sekunder dan tersier.
Mode dan fashion juga dijadikan sebagai bisnis dalam industri. Sebenarnya mode and fashion yang kita kenakan sekarang bukanlah produk budaya lagi, hal ini terbukti dengan adanya perubahan life style bangsa kita yang dulunya masih merupakan bangsa yang primitive dan selalu memegang nilai-nilai kebudayaan, menjadi bangsa yang latah terhadap hasil produk domestik dan hasil impor negara lain, contoh kecilnya saja dalam masalah costum, akibat kemajuan industri yang didalangi oleh orang-orang barat, kebudayaan bangsa kita sedikit demi sedikit mulai terkikis, dari pakain yang bersifat tradisional menjadi pakaian yang serba terbuka, ini semua terjadi karena saking pandainya seorang produsen mendesain pakaian yang dapat menarik selera konsumen untuk terus mengonsumsi dan menikmati dalam kehidupan sehari-hari, hal ini merupakan pembuktian bahwa mode and fashion lebih dominan pada produk konsumtif dan industri, mode dan fashion dijadikan sebagai tolak ukur kemajuan produk industri. Selain hal tersebut salah satu faktor lainnya adalah untuk memperoleh kemenangan dan kekayaan, dengan adanya persaingan perindustrian antara yang satu dengan yang lain yang semakin menjadi, produsen selalu mencari cara dan ide-ide baru untuk tetap tampil lebih unik dan menarik perhatian masyarakat luas, sering kali kita juga menemukan peran wanita dan pria yang dijadikan objek utama dan korban industri sebagai perangsang konsumen untuk mengonsumsi hasil produknya. Adanya iklan dalam televisi membuktikan bahwa wanita sering dijadikan objek dalam mempromosikan suatu produk.
Kemajuan industri yang hasil produknya lebih menonjolkan unsur keindahan dan kecantikan sudah dapat mengubah paradigma bangsa kita, dampak industri mayoritas lebih mengacu pada hal-hal yang bersifat negatif, salah satu contohnya kehormatan sudah mulai diperdagangkan dan pencemaran terhadap lingkungan. Sudah sangat jelas sekali bahwa industri lebih banyak kemudharotannya dari pada kemaslahatannya, selain menghancurkan kebudayaan bangsa kita yang telah lama kita bangun, industri juga merusak moralitas bangsa pada umumnya dan para santri pada khususnya, walaupun pada hakikatnya industri juga merupakan salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan bangsa kita secara mudah dan praktis. Namun apakah semua sesuatu yang bersifat praktis itu baik? Bukankah sesuatu yang praktis justru malah membuat kita jadi malas untuk bekerja.
Berkembangnya industri juga memicu timbulnya dekadensi moral, hal ini terjadi karena adanya pengaruh mode dan fashion yang sudah mulai banyak berkembang. Selain pengaruh industri hal ini juga dipengaruhi oleh adanya pedagang asongan, yang menjajakan pakaian kerumah-rumah bahkan ke daerah pesantren. Pedagang tersebut sengaja membeli produk-produk tren masa kini untuk dijual kepada masyarakat karena mereka beranggapan produk seperti itulah yang memang dibutuhkan masyarakat sekarang sehingga, produk akan cepat laris di pasaran. Mereka para produsen tidak pernah memikirkan akan dampak negatif dari penjualan produk, yang ada dibenak mereka hanyalah laba dan laba. Tak heran jika banyak para santri yang mengikuti arus mode karena memang pada kenyataannya mereka didatangi informasi seputar mode walaupun kadang kala informasi tersebut lambat.
Selain cerdasnya produsen dalam memperoleh laba dan hal tersebut dapat memiliki dampak negatif terhadap moral masyarakat, hal ini juga disebabkan oleh faktor lingkungan dan keluarga yang kurang peduli terhadap perkembangnan anak. Keluarga merupakan faktor utama yang mempengaruhi kepribadian dan penampilan seorang anak apalagi bagi anak yang melanjutkan pendidikan di pesantren. Karena biaya untuk kebutuhan sehari-hari masih ditanggung oleh orangtua. Kebanyakan keluarga yang tidak peduli terhadap perkembangan anak-anaknya, mereka memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada si anak sehingga lepasnya pengawasan itu dapat memberikan dampak negatif. Salah satunya membelanjakan sesuatu yang tidak begitu penting seperti membeli aksesoris secara berlebihan. Hal ini terbukti adanya salah satu santri dari Karang Jati yang mengaku sering membelanjakan uang kirimannya untuk membeli aksesoris secara berlebihan “kebetulan uang kirimanku banyak dan uang tersebut lebih dari biaya makan dan jajanku, dan kebetulan lagi aku memang suka mengoleksi aksesoris terbaru. Aku memang senang mengoleksi pernak-pernik terutama pin. Setiap minggu aku selalu membeli pin pada bapak-bapak yang menjajakan jualannya ke pondok,” tuturnya.
Warga Indonesia sendiri banyak yang menyalah gunakan produk industri, misalnya thank top yang diluar negeri digunakan pada musim panas, akan tetapi di Indonesia malah digunakan untuk bergaya. Hal ini terjadi karena masyarakat Indonesia latah terhadap perubahan. Mereka menganggap pakaian negara yang mayoritas penduduknya menganut ajaran non islam cocok dengan keadaan negara kita yang mayoritas penduduknya beragama islam.
Sebuah kejadian yang amat lucu adalah ketika kami mewawancarai wali santri dari sumenep. Wali tersebut mengatakan bahwa jika seorang tinggal di daerah perkotaan dan tidak berpenampilan ala artis maka mereka akan dicemooh dan ditertawakan, “hidup di perkotaan haruslah mengikuti arus mode, karena apabila tidak demikian kita akan dikatakan orang yang ketinggalan zaman.” Demikian penuturan salah satu wali murid dari sumenep.
Minimnya pengetahuan agama yang dimiliki orang tua sehingga mudah melepas tanggung jawabnya sebagai orang tua yang seharusnya menjaga dan mendidik anaknya kearah yang positif, namun kita juga sering menemukan kenakalan remaja yang berasal dari keluarga yang berpendidikan, hal ini tak lain terjadi karena faktor lingkungan dan pergaulan yang sangat berpengaruh terhadap sikap, prilaku dan psikologis anak, "orang tua tidak ada apa-apanya dibandingkan pengaruh lingkungan terhadap situasi dan kondisi anak" Salah satu kutipan Kiai Ubaidillah, S.S yang diperoleh ketika kru teratai melakukukan interview, dari pemaparan di atas sudah sangat jelas sekali bahwa lingkungan yang tidak baik sangat mempengaruhi terhadap pola pikir serta prilaku anak begitu juga sebaliknya, lingkungan yang baik juga akan membawa dampak yang baik terhadap prilaku dan pola pikir anak tersebut, oleh karena itu jika kesadaran serta keimanan seseorang tidak dipupuk sejak dini kemungkinan besar perubahan-perubahan yang mengacu pada arah negatif akan terjadi.
Faktor yang sangat dominan adalah pengaruh lingkungan dalam masyarakat itu sendiri. Ketika kita berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan ketika itu pula kita akan menerima efek atau semacam pengaruh timbal balik baik secara lamban maupun cepat, misalnya dalam segi berpenampilan. Masyarakat yang baik juga akan memberikan pengaruh yang baik pula, sebaliknya lingkungan masyarakat yang kurang baik juga akan berdampak kurang baik pula. Masyarakat yang sudah terpengaruh selalu ingin meniru model baju yang sedang in di lingkungannya tanpa melihat keadaan ekonomi dan dampaknya. Hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah dan banyak terjadi di kalangan masyarakat khususnya di kalangan remaja.
Salah satu korban dari pengaruh lingkungan yaitu Ani (nama samaran). Dia memaparkan bahwa teman-teman sepermainannya banyak yang telah terpengaruh oleh arus mode dan fashion yaitu teman-temannya mulai banyak meniru-niru penampiln artis, ketika kami kru teratai menanyakannya, mengapa sampai meniru cara penampilan artis? Katanya biar dikatakan lebih gaul dan mengikuti perkembangan zaman. Selain itu teman Ani itu merasa gengsi apabila tidak mengikuti perkembangan zaman ini. Korban mode dan fashion selain teman Ani yaitu salah satu siswi Madaris III yang ditindik bagian hidung dan lidahnya. Dengan hal ini sudah sangat jelas bahwa arus mode dan fashion sudah mulai masuk pada lingkungan pesantren.
Dekatnya dengan pasar atau pertokoan juga akan membuat kita larut dalam arus mode dan fashion karena ketika kita membutuhkan suatu barang maka tempat pertama yang kita tuju adalah pasar atau pertokoan. Menurut fakta yang ada, jumlah konsumen yang tempat tinggalnya berdekatan dengan pasar, jumlah barang yang dikonsumsi relatif lebih banyak daripada masyarakat yang tempat tinggalnya berjarak jauh dari pasar.
Faktor internal yang dimiliki oleh setiap individu juga sangat berpengaruh pada penampilan, baik itu didorong oleh rasa tidak percaya diri dan adanya sikap selalu ingin tampil menarik di depan publik. Apalagi bagi para remaja yang jiwanya masih labil dan rentan terhadap pengaruh luar, akibatnya mereka akan cepat menerima pengaruh luar tersebut secara cepat tanpa memilah sebelumnya. Mereka khawatir akan dicemooh jika tidak mengikuti tren terbaru sehingga mereka akan terdorong untuk mencari informasi tentang fashion terbaru baik dari majalah maupun dari teman-teman mereka.
Pendidikan yang rendah juga akan menyebabkan merosostnya moral masyarakat, di mana masyarakat akan meniru penampilan masyarakat negara maju yang dianggap modis dan gaul. Padahal pakaian modis untuk masyarakat barat belum tentu cocok terhadap kebudayaan kita. Kira-kira bagaimana masyarakat kita mengartikan modis? Menurut pendapat Kiai Naqib Hasan, S.Sos, modis itu bukanlah pakaian yang kualitas garmentnya mahal serta bukan pula pakaian yang dapat membuat seseorang bisa “membaca” lekuk tubuh kita. “Pakaian yang modis itu adalah pakaian yang apabila dilihat dari segi kualitasnya bukanlah harga yang mahal dan bukan pula pakaian yang menggambarkan lekuk tubuh, akan tetapi pakaian modis itu tergantung kepada siapa yang memakainya dan tergantung pada keilmuannya. Percuma orang itu berpenampilan modis sedangkan otaknya nol. Tapi coba kita lihat seseorang yang berpakain rapi dan sederhana, mereka akan terlihat lebih berwibawa daripada orang yang berpenampilan “sok gaul” sedangkan otaknya nol.” Papar beliau kepada salah satu kru teratai.
Salah seorang wali murid yang berada di daerah Prancak mengatakan bahwa ketika ada acara-acara seperti walimah, mereka para ibu-ibu rumah tangga berhias secara berlebihan, semua perhiasan dan aksesoris yang mereka miliki dipakai, tanpa melihat apakah aksesoris yang berlebihan baik untuk kita kenakan.
Salah satu kelemahan bangsa kita yaitu lebih suka dan bangga menggunakan produk luar negri, seharusnya kita bangga terhadap produk dalam negri dari pada luar negri, karena kita sendiri adalah masyarakat dalam negri (Indonesia), bagaimana mau maju Indonesia kalau penduduknya saja sudah tidak mau mengonsumsi produk dalam negri. Jika kita memang ingin meniru budaya luar dari aspek penampilan atau cara berbusana. Sebaiknya kita tidak perlu mengcopy paste dari luar, lebih baik kita berfikir lebih kreatif bagaimana caranya agar kita bisa menyaingi mereka (hasil budaya barat). Tanpa harus menirunya. Persaingan yang seperti ini lebih baik dari pada harus meniru. Karena kita dituntut untuk lebih kreatif dalam mendesain pakaian, selama desainan kita tidak menyimpang dari ajaran islam.
Sebagai umat islam sudah sepantasnya kita untuk menutupi aurat. Kita semua sudah tahu apa saja batas-batas yang harus kita tutupi. Menutupi aurat bukan berarti hanya menutupi tubuh kita dengan pakaian tanpa harus melihat pakaian yang bagaimana yang memang pantas untuk kita pakai. Apakah pakaian yang ketat juga bisa dikatakan pakaian yang dapat menutupi aurat? akan tetapi menutupi aurat di sini yaitu menutupi seluruh anggota tubuh kita dengan pakaian yang orang lain tidak bisa “membaca” lekuk tubuh kita.
Seorang siswi seharusnya demikian juga, berpakaian yang islami. Biasanya setiap masing-masing sekolah memiliki aturan sendiri dalam menentukan peraturan, misalnya peraturan dilarangnya menggunakan aksesoris yang berlebihan. Salah satu contoh seperti peraturan yang berada di lingkungan SMA 3 Annuqayah, dimana seorang siswi tidak boleh berpakaian junkist dan tidak boleh memakai rok belah.
Pada realita yang ada, walaupun dimana-mana sudah ada yang namanya peraturan, masih tetap saja dilanggar. Entah apa yang menjadi penyebab mereka tidak patuh terhadap peraturan yang sudah ditetapkan.
Salah satu bukti bahwa siswi banyak yang melakukan pelanggaran yaitu mereka para siswi SMA 3 Annuqayah masih tetap menggunakan pakaian junkist dan menggunakan rok belah. Padahal di SMA 3 Annuqayah sendiri sudah ada peraturan bahwa siswi dilarang menggunakan pakaian junkist dan menggunakan rok belah. Selain pelanggaran ini masih banyak lagi pelanggaran yang dilakukan oleh siswi SMA 3 Annuqayah seperti dilarangnya membawa handphone. Beberapa pengurus keamanan OSIS SMA 3 Annuqayah ketika melakukan razia bulanan, selalu menemukan siswi yang membawa handphone.
Selain contoh di atas, ada pula beberapa peristiwa atau contoh yang dialami oleh seorang santri, yaitu ketika seorang santri berada di lingkungan pesantren dia menggunakan pakaian ala pesantren namun ketika dia sedang berada di luar lingkungan pesantren, mereka mulai meninggalkan kebiasaan yang selama ini diimplementasikan di pesantren. Lambat laun kebiasaan itu mulai memudar. Memang benar seseorang yang berada di luar lingkungan pesantren lebih mudah terserang arus westernisasi dan globalisasi.
Dengan berbagai macam problem yang berkaitan dengan masalah mode dan fashion di era globalisasi ini, perlu adanya pemecahan-pemecahan dan cara untuk menopang masuknya arus industrialisasi ke Indonesia. Di antaranya menanamkan kesadaran dalam diri kita sendiri. Namun, adanya kesadaran dari kita masih belum cukup untuk dijadikan sebagai jalan keluar. Mayoritas mereka memiliki kesadaran diri akan tetapi mereka tidak dapat melaksanakannya, hal ini karena adanya berbagai faktor yang menuntut mereka untuk selalu berpenampilan ekstra dan eksotik, bahkan mereka berani berpenampilan ala Britney Spears demi mencapai popularitas, hal inilah yang sering mengakibatkan terjadinya pemerkosaan serta pelecehan seksual yang tak jarang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dikalangan artispun tak jarang terjadi pelecehan seksual, misalnya kejadian yang sangat memprihatinkan, adanya salah satu fans yang menyentuh payudara dengan cara yang tidak terhormat, hal ini terjadi pada Dewi Persik artis sekaligus diva dangdut indonesia yang sangat terkenal dengan gerakan erotis dan costumnya yang selalu memancing nafsu kaum Adam karena Dewi tak tanggung-tanggung dalam memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya yang cukup seksi, oleh karena itu, kita juga perlu mengembangkan dan memperbanyak ilmu pengetahuan agama untuk dapat menghidupkan dan mengokohkan kembali nilai-nilai agama islam yang sudah mulai terkikis, perlu adanya penegasan dan pengontrolan dari keluarga secara baik, karena keluarga juga sangat mempengaruhi terhadap perkembangan anak, lebih berhati-hati dalam bergaul, tidak asal menerima hal-hal baru yang masuk dikalangan kita sebelum diseleksi terlebih dahulu, mempertegas peraturan dalam pesantren sebagai agen islam khususnya bagi kalangan santri, selain itu juga kita usahakan mendesain busana muslim yang lebih menarik dan unik tapi bermotif islam daripada busana non muslim.


Dikutip dari Majalah Teratai, No 2/Mei 2008, diterbitkan oleh OSIS SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.

Akukah Malin Kundang itu?

Cerpen Ummul Corn (XB SMA 3 Annuqayah)


Sedalam hati menggali kasih, sejauh kaki mengejar sayang, sepekat mata memandang asa, tetapi semua tak pernah kuraih. Hanya sia-sia kudapat. Selalu.
Ketika hujan turun, parit yang keringpun akan mengalirkan air. Begitu pula denganku ketika sadar bahwa aku sudah dewasa, tetapi tak pernah aku mandiri. Hujan yang biasa turun dari langit kini menjadi berubah turun dari sudut mataku.
Perih rasanya hati ini ketika memandangi bapak membawa cangkul bersamaan dengan terbitnya matahari, yang biasanya kalau orang kaya duduk santai dengan meminum secangkir kopi hangat. Hati ini bertambah pilu ketika memandangi ibu membawa rantang yang berisi nasi dan lauk pauk untuk bapak di sawah. Dan lebih parah ketika aku sadar bahwa mereka melakukan semua ini hanyalah untukku.
Aku hanya bisa tertawa riang dengan menghabiskan uang orang tuaku. Bisa melanjutkan sekolah SMA dengan teman tanpa memiliki rasa prihatin sedikitpun. Kenapa aku baru sadar sekarang? Kenapa tidak dari dulu?
Walau aku sadar, tapi apa yang harus aku lakukan. Aku tak lebih dari seorang Malin Kundang yang terdapat dalam legenda. Kejadian ini mengingatkanku pada suatu cerita. Dan dongeng ini memang benar adanya. Beginilah kisahnya :
Dulu aku pernah berbincang-bincang dengan bapak selepas pulang dari sawah. Ketika sinar matahari lurus berada di tengah. Aku memberanikan diri membuka percakapan walau dengan rasa tersipu.
“Kalau aku sukses nanti bapak mau minta apa?” tidak sempat bapak menjawab, ibu sudah datang dengan membawa secangkir teh dan mengeluarkan sifat humorisnya.
“Siapa yang mau sukses ndok?” tanya ibu dengan senyum yang membuatku tambah semangat.
“Ya Luluk, bu. Kalau bapakkan sudah terlambat sekolahnya.” Jawabku dengan polos.
“Ayo Pak dijawab pertanyaan putrinya. Saya ke dalam dulu. Maaf mengganggu.” Sambung ibu yang kemudian ditelan pintu.
“ Kalau bapak pengen dibelikan sarung baru, karena sarung bapak sudah kusam semua.”
“O… tenag saja, Pak! Jangankan sarung baru, sarung yang paling mahalpun akan aku belikan.” Jawabku meniru gaya orang sombong.
Kami berdua tertawa terbahak-bahak. Meski kami miskin ternyata bisa juga kami bahagia. Dan kebahagiaan ini akan terus kukenang. Ketika suasana reda dari gelak tawa. Aku pamit ke dapur pada bapak untuk menanyakan keinginan ibu jika aku sukses nanti. Bapak hanya menggeleng dan tersenyum. Sesampainya di dapur aku langsung ajukan pertanyaan yang persis dengan yang kuajukan pada bapak.
“Kalau aku sukses nanti ibu mau minta apa?” Ibu hanya menebarkan senyumnya. Dan aku tahu senyum itu begitu indah di masa mudanya. Ibuku cantik. Pantas saja bapak mau sama ibu.
“Kalau ibu punya satu keinginan yang harus kamu kabulkan.”
“Apa, bu?” tanyaku makin penasaran.
“Ibu hanya ingin anak Ibu benar-benar rajin belajar agar nanti benar-benar meraih cita-cita yang kamu inginkan.” Begitulah sifat ibu yang tak pernah menjawab dengan jujur ketika kutanya dengan sebenar-benarnya. Ibu dan bapak bagaikan 1 kapur lain warna.
Suatu pagi aku melihat ibu sedang sholat Subuh. Aku sangat terkejut ketika melihat mukenah ibu yang penuh dengan tambalan kain lain. Aku meletakkan tanganku di dada.
Bagai kendaraan tak perlu sopir. Air mataku berlinang. Kenapa ibu tidak jujur kepadaku? Jika memang ini adanya aku harus berhasil meraih cita-citaku. Ibu harus kubelikan mukenah baru.
Begitulah kisahku. Kisah anak kampung miskin, hanya bisa menepuk dada menahan rasa sakit yang selalu datang. Mencabik hatiku.
Sekarang adalah nyata. Aku benar-benar dewasa dan harus menepati janjiku dulu. Janjiku sejak kelas 5 SD. Yang terus-menerus kuingat.
Aku harus sadar bahwa selama ini aku hidup dengan hasil jerih payah orang tuaku. Mereka berdua dengan susah payah menabung hasil panen untuk keperluan pokok dan biaya sekolahku. Sedang aku hanya bisa bahagia dengan penderitaan kedua orangtuaku sendiri. Hari ini juga tepat jam 09.00 aku membeli koran dari uang saku pemberian kedua orang tuaku setiap hari yang kutabung. Kucoba menjadi pedagang kliping koran. Setelah kliping yang kubuat selesai, aku membuat pengumuman :

“Bagi teman-teman yang mau beli kliping cerpen edisi bulan Desember silakan hubungi “Luluk” kelas X SMA”

Kalimat tahmid itu selalu mendampingi gumam hatiku. Kliping yang kubuat laku tanpa sisa. Uang yang kuperoleh Rp. 30.000,-. Lumayan dari mulanya Rp.10.000,- menjadi Rp.30.000,-. Aku akan segera berangkat ke pasar memberi kejutan kepada bapak dan ibu.
Sampai di pasar aku mendatangi pedagang baju di pinggir jalan. Lalu terjadilah tawar menawar antara aku dan si pedagang.
“Sarung yang itu berapa harganya?”
“Kalau yang ini mahal. Karena motifnya tidak norak dan kainnya lembut. Harganya Rp. 50.000.”
“Wah mahal sekali. Uangku tidak cukup membelinya, karena uangku hanya Rp. 30.000,-.”
“Kalau begitu ayo cari yang lain dan tawarlah!” rayu si pembeli.
“Kalau yang ini berapa?” tunjukku sambil meraba.
“O, yang ini agak lebih murah sedikit karena cara pakainya licin dan motifnya bergaris lebar. Jadi harganya Rp. 40.000.” jawab si pedagang sambil menggaruk kepala.
“ Wah masih juga belum cukup.” Gerutuku penuh harap akan diberi kortingan.
“ Kalau begitu bisa ditawar.”
“Maaf, Pak! Aku tidak tahu bagaimana cara menawar, jadi harga pasnya berapa?”
“ Wah adek ini benar-benar lugu. Kalau begitu ambillah sarung ini dengan harga Rp. 25.000.”
“Baiklah. Tolong dibungkus Pak.”
Aku segera menyerahkan uang itu dan si pedagang mengembalikan Rp. 5.000.
“Terima kasih neng. Lain kali ke sini lagi ya.”
“ Sama-sama, Pak. Insya Allah.”
Aku jadi teringat ibu. Dengan uang yang kupegang ini tedak mungkin aku bisa membeli mukenah. Biarlah besok saja, kalau aku sudah bisa mengumpulkan uang lagi. Uang Rp. 5.000 ku, akan ku tabung dulu sebagai tambahan agar besok dapat membeli mukenah yang mahal dan bagus.
Dengan tersenyum aku pulang. Dalam hatiku selalu bergumam pasti bapak senang dengan sarung baru ini. Bagus dan harganya tidak terlalu murah. Semoga bapak benar-benar senang.
Tepat pada jam 15.30 aku sampai di rumah. Aku segera panggil salam dan menghampiri bapak yang duduk muram di kursi teras depan. Sedang di sini banyak orang. Kufikir sekarang ada acara ajian yang aku sendiri tidak diberi tahu oleh ibu karena pulang sore. Ah ibu, aku jadi kangen ibu.
“Pak, ini sarung yang kujanjikan dulu. Aku ke dapur dulu ya, Pak. Soalnya mau bantu-bantu masak untuk acara ajian ini. Kok aku tidak diberi tahu kalau hari ini ada ajian.”
Aku jadi heran ketika bapak memegang tanganku dan menangis seolah-olah bapak tidak bahagia dengan sarung yang kuberikan.
“Kenapa bapak menangis. Apa sarung yang kuberi kurang bagus. Kalau begitu besok akan kubelikan lagi. Sekarang izinkan aku menghampiri ibu di dapur.
Bapak melepaskan tanganku. Ketika itu aku segera masuk. Kenapa hatiku menjadi begitu beku ketika melihat banyak orang mengelilingi mayat dengan ditutupi sarung batik. Mataku terbelalak memancarkan kunang-kunang tangis. Aku melihat semua orang yang ada di ruangan ini. Dan ternyata dugaanku benar. Tak ada ibu di sini. Aku langsung mengeluarkan suara histeris campur tangis dan dengan terpekik.
“Di mana ibu sekarang? Jawab!”
“…”
“Apa perempuan yang tertutup sarung batik itu ibu?” suaraku agak diperhalus karena aku sadar semua orang yang ada di sini juga lara. Apalagi bapak. Aku tidak ingin Bapak semakin duka dengan keadaan ini.
Ternyata benar. Mereka mengangguk kemudian tertunduk. Tanganku dan kakiku menjadi kaku. Bibirku dingin. Sedang parit yang dulu mengalir, kini menjadi semakin banjir.
Sebagai anak yang sudah cukup dewasa, aku merasa malu untuk meratapi nasib ibu di depan banyak orang. Bukan aku tak rela melepas ibu kepangkuan-Nya, tetapi sebuah mukenah saja aku tak dapat membelikan semasa hidupnya. Inilah yang membuatku sakit hati dan merasa akulah generasi Malin Kundang itu.

Dikutip dari Majalah Teratai, No 2/Mei 2008, diterbitkan oleh OSIS SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.

22 April 2008

Menjadi Pemulung di Hari Bumi


Guluk-Guluk—Dalam rangka memperingati hari bumi, 22 April 2008 siswi Madaris III Annuqayah beraksi menjadi pemulung sampah plastik. Aksi ini diorganisasi oleh Green Students (MTs 3 Annuqayah) dan Duta Lingkungan (SMA 3 Annuqayah). Aksi ini diikuti oleh 52 siswi yang terdiri dari 20 anggota Duta Lingkungan, 20 anggota Green Students, dan selebihnya adalah siswi sukarela. Aksi ini memfokuskan pada penanganan sampah plastik karena sampah plastik memang sangat berbahaya.
Sebelum berangkat, para peserta aksi yang dibagi menjadi empat kelompok itu diberi pengarahan oleh ibu Mus’iedah Amin selaku pembina OSIS SMA 3 Annuqayah agar bisa menjaga diri dan nama baik sekolah selama aksi belangsung. “Kalian harus ingat bahwa hari ini kalian akan belajar menjadi pahlawan bumi, jadi jangan sekali-kali melakukan hal yang tidak diinginkan.”
Aksi memulung sampah plastik bertempat di TPA belakang komplek Madaris III sendiri, 2 TPA di 2 komplek Annuqayah Karang Jati dan Latee Utara, dan TPA Annuqayah umum—yang terbesar. Walau terik matahari menyengat, namun semangat para siswa tidak turun 100%. Semangat dan kegembiraan mereka ditampakkan melalui kegesitan mereka memunguti sampah-sampah plastik dengan berkerumunan layaknya pemulung sesungguhnya. Di salah satu TPA, ada yang berteriak karena menemukan bangkai kucing, bangkai tikus dan ulat. “Ini tidak apa-apa, agar kita semua dapat merasakan bagaimana nasib pemulung,” tutur salah satu anggota aksi.
Sampah yang terhimpun lebih dari 50 kantong plastik besar. Setelah ke TPA, para peserta aksi mencuci sampah-sampah plastik yang masih dapat diolah, karena rencananya akan dibuat menjadi barang unik (kerajinan) sesuai dengan rancangan kelompok masing-masing seperti: tas, tempat pensil, jas hujan, rompi, topi, dan lain-lain. Karena itu, seperti dijelaskan oleh Muhammad-Affan, pembimbing Green Students dan Duta Lingkungan, selain memupuk kepedulian siswi untuk memerangi sampah plastik, aksi ini juga bertujuan untuk meningkatkan kreativitas siswi dalam hal desain.
Aksi yang berlangsung di sela-sela pelaksanaan Ujian Nasional SMA ini dimulai dari jam 8 pagi dan berakhir sekitar jam 13.00 WIB. [corn]

18 April 2008

"Orang Kairo" Ngobrol Ayat-Ayat Cinta di Perpus Madaris Sabajarin


Ummul Karimah, siswi kelas XB SMA 3 Annuqayah

Guluk-Guluk—Muhammad Shalahuddin yang akrab dipanggil Ra Mamak putra K.H.A. Warits Ilyas menghadiri perpustakaan Madaris III Annuqayah kemarin (17/04/2008). Dia hadir dalam acara bincang-bincang novel best seller yang berjudul Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman el-Syirazi. Sebelumnya telah dipampang sebuah pengumuman mengenai kedatangan Ra Mamak, tetapi dalam pengumuman itu dirahasiakan siapa bintang tamunya. Apalagi pegumuman itu memercikkan sebuah gosip bahwa bintang tamunya kenal dengan para pemeran dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Pengumuman yang sangat rahasia dan heboh itu menjadikan para siswi Madaris III Annuqayah sangat penasaran dan tidak sabar menanti hari H.

Kehadirannnya pada hari H itu membuat para siswa yang penasaran beramai-ramai untuk menghadiri Perpustakaan Madaris III hingga separuh ruangan perpustakaan terisi penuh oleh para hadirin. Tak hanya siswi Madaris III Annuqayah saja yang hadir melainkan juga siswi dari MTs 1 putri, mahasiswi STIKA dan ibu TU SMA 3 Annuqayah serta pembina OSIS SMA 1 Annuqayah (putra) juga menghadiri acara tersebut.

Dari pertanyaan siswa yang unik-unik dan lugu, Ra Mamak menjawab secara detail dan memuaskan. Sebelum dibuka dialog, ia memberikan pengantar tentang seputar keindahan kota Kairo dan di mana saja letak kelebihan dan kelemahan novel karya kang Abik itu. Sampai-sampai ada siswi yang komentar mengenai pengantar dari Ra Mamak: “Wah hebat! pengantarnya luas, seperti meresensi buku.”

Saat acara tersebut berlangsung Ra Mamak dan sang moderator yang sudah tak asing lagi yaitu Ra Mushthafa sempat bergurau mengenai hitungan percetakan di Indonesia. Hal ini disebabkan Ra Mamak yang masih dua pupunya Ra Mushthafa dan sepupunya Ra Faizi sendiri, tahu bahwa Ra Mushthafa pernah bekerja di Penerbit Bentang Pustaka. Acara ini berlangsung cukup meriah karena Ra Mamak dalam menyampaikannya tidak begitu tegang. Beliau menyampaikan seputar Ayat-Ayat Cinta dengan santai namun serius sehingga acara ini begitu mengalir. Dan para peserta cukup menikmati acara ini.

Ketika pertanyaan terakhir dilontarkan, yaitu mengenai nyata tidaknya kisah dalam novel Ayat-Ayat Cinta, Ra Mamak yang pernah tinggal lama di Kairo itu menjawab, “O… kalau mengenai nyata atau tidaknya novel itu sepenuhnya hanya fiksi, tapi sebagian dari nama-nama tokoh dalam novel ini memang mengambil dari nama-nama teman kang Abik. Seperti Aisyah yang diambil dari nama Neng Aisyah Tidjani putri dari almarhum K.H Tidjani Jauhari Al-Amin Prenduan yang kuliah di Kairo,” tuturnya.

Pertanyaan dari peserta sebenarnya masih banyak. Tapi karena sudah hampir magrib, diskusi pun diakhiri.

04 April 2008

Sepekan di Kaliandra

Rombongan kami tiba di Kaliandra sekitar jam 9 malam di penghujung hari Minggu. Suasana cukup gelap. Tak banyak lampu penerangan yang menyala di halaman begitu kami masuk di gerbang yang terbuat dari bambu. Saat itu aku masih tak punya bayangan tentang tempat yang akan kami tinggali selama sepekan. Juga orang-orang yang akan bersama kami. Aku tak terlalu memikirkan itu. Perjalanan dari jelang tengah siang tadi agak melelahkan juga. Ditambah dengan udara dingin dan gerimis yang turun sejak dari Surabaya tadi.Kami diantar ke kamar oleh seorang anak yang kira-kira seusia dengan adik bungsuku. Dia membawa payung. Kami melewati jalan menaik berbatu yang tertata rapi. Kanan-kirinya cukup rimbun. Sekilas dari beberapa bangunan yang kami lewati, aku melihat corak bangunan tradisional Jawa dengan penataan yang asri. Akhirnya kami tiba di bangunan yang disebut-sebut oleh salah seorang yang menyambut kami tadi di halaman sebagai “Rumah Anjasmara”.Rumah Anjasmara dapat dikatakan sebagai sebuah pondokan. Sederhana, tapi bersih dan rapi tertata. Bentuknya kubus dan memiliki loteng. Pintu depan tepat ada di tengah. Begitu masuk, kita akan berada di ruang tengah yang tak begitu luas. Ada seperangkat meja kursi yang ditata di bawah tangga yang menaik ke arah loteng. Lurus dengan pintu masuk, berderet 8 kamar mandi yang memenuhi sepanjang satu sisi rumah. Sisi kanan kiri ruang tengah adalah kamar tidur yang kulihat sudah ditempati beberapa orang.Kami dipersilakan naik ke loteng. Tepat di sisi tangga terbawah, tertempel nama-nama peserta yang akan menempati loteng. Kalau tak salah ingat, ada sekitar 15 nama lengkap dengan alamatnya. Setelah melewati tangga terakhir, kami tiba di atas. Ada sekitar lima orang yang sudah di loteng. Di loteng yang berbentuk huruf “U” itu berderet kasur-kasur yang pas untuk satu orang. Rombongan kami memilih di bagian terdekat dengan tangga untuk turun. Sebelum keluar, si anak yang mengantar kami mempersilakan kami untuk makan malam di tempat yang sudah disediakan di dekat dapur. Tapi kami sudah makan tadi di perjalanan. Kami pun menata barang-barang kami, untuk kemudian rebahan.Pagi pertama di Kaliandra. Aku keluar dari rumah sekitar jam setengah enam. Udara masih terasa dingin sekali. Maklum, Kaliandra berada di ketinggian sekitar hampir 900 meter di atas permukaan laut. Cahaya matahari tak cukup memancarkan kehangatan. Sisa gerimis selama masih cukup terasa di rimbun dedaunan. Di luar, aku melihat-lihat keadaan, mencoba mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang tempat yang ditata menghijau ini. Akhirnya aku tiba di sebuah pendopo yang sepertinya akan menjadi tempat utama kegiatan kami selama hampir sepekan. Sebuah pendopo biasa. Ada spanduk panjang terpasang di dalam. Di depannya, halaman yang cukup luas membentang. Ada pohon beringin berdiri kokoh.Sepertinya, halaman pendopo ini akan difungsikan sebagai tempat pameran. Kami pun menyiapkan poster sederhana dan barang-barang lainnya yang akan diikutsertakan di tempat pameran tersebut. Kesibukan kami di pagi pertama selesai saat sarapan sudah disiapkan di ruang makan terbuka yang sederet dengan rumah penginapan kami.Setelah mandi dan sarapan, semua peserta melihat-lihat poster dan berbagai macam barang yang dipamerkan di halaman pendopo. Hampir semua menampilkan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan lingkungan hidup atau isu pemanasan global. Beberapa poster didesain dengan cukup serius.Pembukaan resmi acara pertemuan guru lingkungan internasional ini dimulai agak siang—sekitar jam sepuluh. Selain sambutan-sambutan, kami juga disuguhi penampilan anak-anak Sekolah Ciputra yang membawakan beberapa lagu dan solo biola. Juga ada tarian tradisional Jawa. Prosesi pembukaan diakhiri dengan penyatuan tanah dan air yang dibawa oleh masing-masing tim peserta dari berbagai daerah dan penjuru dunia.Selepas istirahat siang, acara dilanjutkan dengan pembicara utama. Seorang nenek tua yang tampak masih sangat energik. Profesor dari Universitas Negeri Malang bernama lengkap Radyastuti Suwarno. Dia berbicara dengan cukup mengalir, meyakinkan, dan tak membosankan. Namun begitu, hujan di luar yang cukup deras mengguyur cukup mengganggu konsentrasi kami mengikuti pemaparan pakar pendidikan lingkungan ini.Selepas rehat sore, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk diajak berkeliling di komplek Kaliandra. Selama berkeliling hingga matahari terbenam, kami mendapatkan banyak pemandangan indah di pusat pendidikan alam dan budaya yang luasnya 16 hektar ini. Masing-masing kelompok melewati jalur yang berbeda, sesuai dengan arahan pemandu. Kami naik turun bebukitan, beratus kelokan, menyeberangi semacam parit kecil, dan melewati beberapa bangunan dengan berbagai fungsi—rumah tinggal, kolam renang, pendopo, bengkel kerja, tempat pembibitan, kandang peternakan, pengolahan kompos, lumbung, dan sebagainya. Semuanya dalam lingkungan yang perdu menghijau dan penuh nuansa natural. Yang menarik, semua aktivitas dalam komplek Kaliandra ini seperti satu kesatuan yang saling menyokong, seperti sebuah sistem yang begitu menyatu padu.Perjalanan berkeliling Kaliandra tak terasa cukup melelahkan. Udara dingin yang diselingi kabut menahan keringat di tubuh kami yang mungkin berjalan dalam jarak yang sebenarnya cukup jauh. Rehat malam berlangsung cukup singkat. Lalu dilanjutkan dengan sharing harapan dan kekhawatiran untuk kegiatan yang akan berlangsung hingga akhir pekan.Hari kedua seharian diisi dengan presentasi. Dari pagi hingga siang, ada lanjutan presentasi dari pembicara utama, yakni dari Suko Widodo (Unair Surabaya). Selepas siang hingga malam, presentasi dilanjutkan dengan sesi paralel. Aku mengikuti sesi paralel presentasi dari utusan dari Polandia (Antoni Salamon), dan setelah itu dari Portugal (Fatima Matos Almeida).Tim kami dari Annuqayah tampil sore harinya. Tak mengira presentasi kami cukup mencuri perhatian para peserta yang kebetulan memilih hadir di sesi kami. Seorang peserta dari Malaysia semalam memang sudah menaruh sedikit rasa takjub karena kami dari sebuah pesantren di Madura mau berbicara tentang lingkungan. Katanya, di Malaysia orang Madura memiliki citra yang kurang baik. Lagipula, pesantren di sana tak lebih dari hanya mengajar mengaji saja. Presentasi kami rupanya telah cukup mengubah citra dan kesan negatif tentang Madura—mungkin juga tentang pesantren.Sesi malam diisi dengan pembicara utama yang tak bisa hadir tadi siang, yakni Richard Bachmann, seorang guru Sekolah Ciputra Surabaya. Dia mengantarkan diskusi pada bagaimana metode menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui pendidikan—yang memang merupakan tajuk besar kegiatan ini.Hari ketiga kami diajak jalan-jalan. Ada enam tempat tujuan yang disediakan panitia. Ke pantai (bakau) di Bangil, pusat industri di Pasuruan, hutan dan sawah (padi) di dekat komplek Kaliandra, sungai di Purwodadi, dan ekosistem urban di Malang. Semua peserta diminta untuk memilih tempat tujuan masing-masing. Aku memilih ikut ke sungai.Setengah sembilan keenam rombongan diberangkatkan. Perjalanan ke Sungai Kaliadem Purwodadi di belakang Kebun Raya ditempuh sekitar satu jam. Begitu tiba, kelompok kami yang terdiri dari delapan orang dibagi menjadi tiga kelompok kecil, dan diminta melakukan survei singkat lokasi. Setelah berkeliling setengah jam, kami berkumpul dan berbagi informasi tentang sungai tersebut. Setelah itu, kami pun diajak kembali ke sungai, melakukan beberapa percobaan sederhana, dan mendiskusikan isu-isu lingkungan yang terkait hingga tiba makan siang. Kami kemudian makan siang sambil melanjutkan diskusi. Kami kembali ke Kaliandra sekitar jam dua siang, ketika hujan mulai turun.Tiba di Kaliandra, ternyata rombongan yang lain masih banyak yang pulang datang. Tiba bersama kami, kelompok hutan dan sawah. Ditunggu-tunggu, kelompok yang lain cukup lama tiba, hingga waktu makan malam siap terhidang. Sesi malam yang mestinya sharing tentang pengalaman di lapangan tertunda. Tiap kelompok malam itu menyiapkan bahan presentasi besok.Hari keempat seharian berupa presentasi hasil studi lapangan dari keenam kelompok. Masing-masing diminta berbagi apa yang sudah didapat, dengan penekanan pada metodologi apa yang mungkin dikembangkan untuk dapat dibawa ke sekolah atau komunitas dalam rangka penguatan kesadaran lingkungan. Sharing seharian telah cukup memberi banyak inspirasi, terutama menyangkut apa yang dapat dilakukan di masing-masing komunitas. Apa yang ada di sekitar kita ternyata dapat dijadikan sebagai titik tolak untuk menyemaikan kesadaran lingkungan. Alam adalah laboratorium besar yang dapat dimanfaatkan untuk banyak hal.Malam harinya adalah penampilan bertajuk “Cultural Night”. Masing-masing daerah diminta menampilkan kesenian tradisional. Dari Papua, Pak Faroka, Pak Sipri, dan Pak Frans tampil dengan koteka dan lagu daerah. Demikian pula dari Jawa, Bali, dan yang lain. Kami dari Madura tak punya cukup persiapan, dan tampil seadanya menyanyikan dua lagu Madura.Hari kelima adalah hari terakhir acara resmi. Setelah sesi foto-foto di pagi hari, masing-masing kelompok diminta untuk menyusun rencana aksi. Sore harinya, rencana tindak lanjut dipajang dan disharing tanpa presentasi langsung, tapi dengan cara berkeliling saling melihat-lihat.Malam harinya adalah malam penutupan. Malam itu kami dijamu makan malam di rumah megah Pak Bagoes, pendiri Yayasan Kaliandra. Jamuan makan malam berlangsung dengan protokoler yang cukup ketat dan resmi. Kami tiba di rumah Pak Bagoes sekitar jam tujuh lewat. Begitu tiba, kami menikmati hidangan makanan ringan, lalu tari topeng diiringi suara gamelan. Makan malam berakhir lewat jam sembilan.Setelah makan malam, acara selanjutnya hiburan. Tapi sebelum penampilan hiburan oleh tim panitia, kami melewati acara yang cukup seru. Semua peserta diminta untuk berjalan di atas arang yang membara sepanjang tiga meter tanpa alas kaki. Saat itu waktu sudah menunjuk sekitar jam sepuluh. Sebagai persiapan, kami bermeditasi sebentar dengan dipandu panitia bernama Anam. Setelah bermeditasi, mental kami disiapkan untuk berjalan di atas arang membara. Ya, semacam latihan. Selain tip teknis saat melintas nanti, yang terpenting mental kami diperkuat dengan kata-kata penyemangat yang harus kami teriakkan keras-keras dan sepenuh hati nanti sebelum melintas arang: “Saya bisa! Saya harus bisa! Saya pasti bisa!” Kami berlatih atau bersimulasi dengan kata-kata itu dua kali.Waktunya pun tiba. Satu per satu peserta berjalan di atas arang membara itu. Tak ada urutan yang ditentukan. Yang siap, langsung saja berangkat. Aku pun akhirnya mengambil giliran. Aku teriakkan kata-kata penyemangat itu sepenuh hati, dan aku pun berjalan di atas arang yang membara itu dengan pasti.Malam semakin larut tanpa terasa. Setelah semua peserta melintas, kami disuguhi hiburan bermacam kesenian tradisional, sambil menikmati jajanan tradisional yang disediakan di pinggir halaman. Semua peserta menikmati semua sajian dengan penuh suka cita. Lewat tengah malam suasana masih penuh semangat. Aku dan beberapa kawan baru menuju Rumah Anjasmara setelah waktu menunjukkan jam satu dini hari lewat.Hari keenam adalah hari terakhir di Kaliandra. Acaranya hanya penutupan resmi yang berlangsung singkat di pagi hari. Dalam acara penutupan juga ada pengumuman singkat dari panitia tentang rencana aksi terbaik yang disusun peserta. Ternyata, rencana aksi terbaik adalah milik tim kami dari Annuqayah.Sekitar setengah sepuluh acara penutupan berakhir. Setelah itu kami berkemas untuk pulang. Mobil jemputan sudah menunggu satu jam sebelumnya. Menjelang jam sebelas siang, rombongan kami pun meluncur turun meninggalkan ketinggian Kaliandra bersama banyak hal yang kami dapatkan selama sepekan.

M Mushthafa, guru SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, mengikuti Environmental Teachers’ International Convention (ETIC) 2008 di Pasuruan.

Sumber: http://rindupulang.blogspot.com/2008/04/sepekan-di-kaliandra.html