Tampilkan postingan dengan label Tim SCC Kolaborasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tim SCC Kolaborasi. Tampilkan semua postingan

06 Juli 2009

Tim SCC dan Klub Astronomi Hadir di Stan Madaris 3 Annuqayah dalam Haflatul Imtihan Madrasah Annuqayah 1-4 Juli 2009

Pengunjung stan Madaris 3 Annuqayah di HIMA 2009 sedang melihat-lihat foto dan arsip-arsip berbagai unit kegiatan. Tampak pengunjung sedang berbincang dengan Ekatur Rahmah dan Sulhatus Sayyidah (siswi SMA 3 Annuqayah).

Para santri/siswi pengunjung stan sedang antre beramai-ramai untuk menyaksikan bulan dan bintang dengan teropong Klub Astronomi Madaris 3 Annuqayah.


Siti Nujaimatur Ruqayyah presentasi tentang bahaya sampah plastik. Di bagian latar, diputar video kegiatan Tim Sampah Plastik SCC SMA 3 Annuqayah.


Salah seorang pengunjung stan tampak sedang antusias mengamati contoh hasil pupuk organik hasil produksi Tim Pupuk Organik proyek SCC SMA 3 Annuqayah.


Tim Gula Merah presentasi tentang konservasi gula merah dan gula siwalan serta produk makanan tradisional berbahan gula merah. Pada sesi ini Tim Gula Merah juga berbagi resep membuat "tattabun" dengan para pengunjung stan. Tattabun yang dibuat ludes terjual tak lebih dari 30 menit!

02 Juni 2009

Pameran Kreativitas untuk Masa Depan Bumi yang Hijau

M Mushthafa, guru SMA 3 Annuqayah, fasilitator/pendamping Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council SMA 3 Annuqayah

Ahad (31/5) kemarin, tiga proyek kegiatan School Climate Challenge (SCC) Competition British Council SMA 3 Annuqayah mengadakan perhelatan penutupan dan pameran kegiatan. Acara intinya adalah presentasi perjalanan dan pencapaian masing-masing proyek kegiatan yang telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan, tepatnya dimulai dari sekitar pertengahan Februari hingga akhir Mei kemarin.
Masing-masing tim yang mengikuti kompetisi tingkat nasional ini terdiri dari lima orang guru dan siswa. Ketiga tim itu adalah Tim Sampah Plastik (satu guru empat siswa), Tim Gula Merah (dua guru tiga siswa), dan Tim Pupuk Organik (dua guru tiga siswa). Mereka bekerja dengan didukung oleh siswa-siswa yang lain di luar anggota tim inti. Demikian pula, kegiatan penutupan kemarin melibatkan panitia teknis di luar anggota tim inti.
Anak-anak berupaya untuk menyajikan dan mengemas acara ini dengan unik dan menarik. Dengan kata lain, momentum acara ini dijadikan sebagai ajang penumpahan kreativitas berbagai potensi yang dimiliki siswa di SMA 3 Annuqayah. Karena itu, mulai dari desain undangan, anak-anak sudah mulai menampilkan satu terobosan kreasi yang cukup menendang. Undangan untuk acara ini dibuat dari bahan kardus bekas dan dihias secara manual dengan krayon dan pernak-pernik lainnya. Teks undangannya pun tak biasa. Selain dilipat sedemikian rupa sehingga menjadi unik, teks undangan terkesan ditempel di atas koran yang memuat berita tentang isu-isu lingkungan. Panitia mengerjakan undangan yang dibuat sebanyak lebih dari 150 eksemplar ini selama dua hari dengan mengerahkan tak kurang dari 10 siswa yang dipandang memiliki cita rasa seni yang baik.
Demikian pula, Paduan Suara Madaris 3 Annuqayah (Paramarta) dalam kegiatan ini tampil dengan lagu himne dan mars Madaris 3 Annuqayah, ditambah dengan satu lagu spesial bertema lingkungan yang dicipta oleh Muhammad Affan, guru Pendidikan Seni di SMA 3 Annuqayah. Paramarta berlatih dan mempersiapkan untuk acara ini selama kurang lebih tiga hari.
Selain itu, tata panggung dan setting tempat pameran dirancang oleh tim yang bertugas dengan cukup unik pula. Ketiga tim secara simbolis hadir dalam ornamen dan dekorasi yang dibuat anak-anak. Panggung, misalnya, dihias dengan daun dan buah siwalan, dan di bagian dasarnya diberi tumpukan jerami. Sementara itu, huruf yang dibuat dekorasi di panggung dibuat dari sampah plastik, dan di bagian bawah dihias dengan jerami sehingga dari kejauhan mengesankan seperti rumput yang membentang.
Tak hanya panggung, ketiga stan pameran masing-masing tim juga memperkuat simbol-simbol proyek yang dikerjakannya. Foto-foto dan berita kegiatan yang ditempel di masing-masing stan dipasang sedemikian rupa dengan menggunakan atau berhiaskan unsur sampah plastik, siwalan, dan jerami.
Khusus untuk kreasi penataan panggung, tempat, dan kelengkapan acara, saya terasa kurang jika hanya memberi panitia dua jempol!
Alur acara kemarin sebenarnya cukup sederhana. Seremoni acara dimulai tepat pukul 09.15 WIB, sebagaimana telah dirancang sebelumnya oleh panitia. Sebelum itu, para tamu undangan yang tiba di tempat dipersilakan untuk berkunjung ke tiga stan tim proyek untuk melihat dokumentasi dan hasil kegiatan mereka. Di stan mereka dilayani oleh masing-masing anggota tim yang siap memberi penjelasan terperinci tentang segala sesuatu berkaitan dengan perjalanan proyek tim.
Kabid Dikmen Diknas Sumenep, M. Sudirman, yang datang cukup awal, bersama beberapa pejabat lain, seperti Camat Guluk-Guluk dan perwakilan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumenep, tampak antusias menyaksikan kreativitas anak-anak. Pak Ya’kub dan Pak Nasir, pimpinan SMA 3 Annuqayah, menemani mereka berkeliling stan. Sebagai bekal awal, panitia memberikan laporan singkat ketiga tim yang sudah ditulis dan digandakan kepada mereka.
Perwakilan dari BLH bahkan tampak tertarik dengan tulisan-tulisan anak-anak tim yang cukup banyak menceritakan berbagai aktivitas mereka selama tiga bulan. Dia menyatakan minatnya untuk meminta kopi tulisan anak-anak.
Acara seremoni sebelum presentasi berlangsung sekitar 45 menit, sehingga presentasi dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Saya sebagai koordinator guru pendamping SCC memandu sesi ini. Sebelum mempersilakan semua anggota tim untuk naik ke panggung dan presentasi, saya memberi pengantar singkat tentang masalah tantangan perubahan iklim dan bagaimana ketiga tim ini berupaya memberi solusi. Tentang konteks lomba, saya sudah menyampaikannya saat memberi kata sambutan.
Saya sempat khawatir dengan sesi presentasi ini, karena anak-anak tidak punya waktu yang cukup untuk membuat persiapan khusus dan berlatih presentasi. Mereka juga sibuk menyiapkan stan dan persiapan teknis lainnya sehingga mereka hanya sempat menyiapkan laporan singkat tertulis 2-3 lembar saja. Memang, mereka telah cukup terbiasa presentasi dalam kegiatan sosialisasi di masing-masing proyek di berbagai tempat. Tapi di acara ini hadir para pejabat dan pimpinan-pimpinan lembaga, dan acaranya cukup besar.
Presentasi dimulai dari Tim Sampah Plastik. Saat mulai presentasi, saya dapat menangkap sedikit perasaan tegang dan kurang lepas dalam diri mereka, sehingga mereka kurang bisa berimprovisasi dan agak mengandalkan catatan yang mereka buat. Anak-anak, terutama dari kedua tim lain, tampak dapat menangkap kegelisahan saya. Dan untung, dua tim yang lain dapat lebih lepas mempresentasikan kegiatan proyek mereka. Bahkan, Tim Gula Merah ada yang presentasi dengan bahasa Inggris sekitar tiga menit.
Alhamdulillah, Tim Pupuk Organik dapat menampilkan presentasi yang sangat lepas dan cukup mengalir. Mereka tampak nothing to lose. Sesekali dicampur dengan bahasa Madura dan bumbu guyon, sehingga para hadirin senyum-senyum dan tertawa kecil.
Presentasi masing-masing tim diiringi dengan slide gambar-gambar kegiatan yang sudah disiapkan sebelumnya dan dikendalikan dari laptop di depan saya. Meski tidak tampak sangat jelas karena terik matahari yang cukup menyengat, gambar-gambar itu juga membantu melengkapi presentasi anak-anak.
Presentasi berlangsung sekitar hampir satu jam. Begitu selesai, saya mengambil alih kendali acara dan mencoba memancing hadirin untuk menanggapi perjalanan kegiatan semua proyek, dan terutama mengenai rencana tindak lanjut yang dirancang.
Empat penanggap pertama adalah “para pembesar”. Dimulai dari Pak Rahem (Camat Guluk-Guluk), Pak Dirman (Diknas Sumenep), Pak Ya’kub (Kepala SMA 3 Annuqayah), dan terakhir H.A. Pandji Taufiq, tokoh lingkungan dan aktivitas sosial yang kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Annuqayah.
Pak Camat memberi tanggapan yang cukup panjang lebar. Dia menanggapi satu persatu untuk tiga tim. Secara umum, perspektifnya memang tampak kental sebagai birokrat. Dia, misalnya, mengingatkan bahwa ada instansi-instansi pemerintah yang bisa dimintai partisipasi dalam kegiatan masing-masing tim. Kepada masing-masing tim dia memberi masukan khusus. Untuk Tim Sampah Plastik, dia bertanya: yang mana kegiatan daur ulangnya. Untuk Tim Pupuk Organik, dia menanyakan apakah pupuk organiknya sudah diuji coba digunakan untuk tanaman tertentu. Untuk Tim Gula Merah, dia mengkritik mengapa memilih pohon siwalan dan bukan pohon kelapa. Sementara potensi di Kecamatan Guluk-Guluk lebih banyak pohon kelapa. Pak Camat juga mempertanyakan keterlibatan siswa yang lain di luar tim proyek ini.
Pak Dirman dari Diknas Sumenep lebih banyak menekankan pada soal keberlanjutan kegiatan ini ke depan. Sedang Pak Ya’kub, Kepala SMA 3 Annuqayah, secara retoris menambahkan soal kegiatan tiga proyek ini yang tak menggunakan uang dari sekolah. Tampaknya Pak Ya’kub ingin menunjukkan bahwa kegiatan tanpa uang pun bisa terlaksana, dan bahwa anak-anak bisa mandiri menyiasati hal semacam itu.
Pak Panji, yang menjadi penanggap terakhir di sesi pertama, menggarisbawahi komentar retoris Pak Ya’kub: bahwa yang paling penting itu semangat dan kerja keras, bukan uang. Selain itu, Pak Panji juga mengapresiasi kegiatan ketiga tim proyek ini dengan sangat positif, terutama dalam menginspirasi kita semua, baik sebagai individu, kepala keluarga, pimpinan lembaga pendidikan, instansi pemerintah, dan sebagainya, untuk peduli dan melek dengan masalah-masalah lingkungan di sekitar kita. “Jika anak-anak SMA 3 Annuqayah ini bisa berbuat sesuatu untuk menyebarkan kepedulian lingkungan dengan terutama hanya bermodal semangat, mestinya lembaga pendidikan yang lain juga bisa melakukan hal serupa,” tegasnya.
Pak Panji memberi penekanan-penekanan substantif atas kegiatan ketiga tim proyek ini, sehingga beberapa tampak dapat menjawab pertanyaan dari penanggap sebelumnya. Selain itu, Pak Panji juga memberikan gambaran tentang tantangan masalah-masalah lingkungan di sekitar kita yang membutuhkan kepedulian. “Di Kabupaten Sumenep saja, urusan sampah masih belum menjadi prioritas, sehingga kota Sumenep saja sampai sekarang belum punya TPA yang resmi. Demikian juga, di Annuqayah, yang dihuni oleh sekitar enam ribu pelajar, yang menurut perhitungan kasar saya setiap hari bisa ‘menghasilkan’ sampah sekitar 2 ton, masalah sampah belum menjadi prioritas,” tegasnya.
Alhamdulillah, anak-anak dapat menanggapi keempat tanggapan ini dengan baik. Soal dukungan dana, anak-anak menceritakan bagaimana mereka di antaranya mendapatkan dukungan dari luar atas dasar capaian kegiatan peduli lingkungan yang sudah dilaksanakan sebelumnya, sehingga untuk kegiatan ini pendanaan proyek sama sekali bukan dari kas sekolah. Untuk dicatat, organ peduli lingkungan di SMA 3 Annuqayah terbentuk pada 2006 lalu, dengan nama Duta Lingkungan, yang kemudian disusul dengan Pemulung Sampah Gaul (PSG) pada April 2008, yang fokus pada penanganan sampah plastik. Selain itu, dalam beberapa kegiatan proyek, tim mendapatkan dukungan finansial dari mitra mereka di lapangan. Saat tampil mengudara di Ganding FM 104.10, misalnya, anak-anak justru mendapat ganti transportasi dan bahkan uang saku. Demikian juga, saat ke Madrasah Aliyah Nasy’atul Muta’allimin Gapura, anak-anak juga mendapat ganti transportasi. Bagi kami, hal ini menunjukkan bahwa dua mitra lembaga tersebut menunjukkan kepedulian, dukungan, dan komitmen yang sama atas kegiatan kami. Ini semakin jelas saat seusai acara penutupan Ahad kemarin, Ganding FM menyiarkan ulang sesi presentasi anak-anak di gelombang radio mereka.
Keterlibatan dan dukungan komunitas lain, termasuk di lingkungan SMA 3 Annuqayah, juga dijelaskan cukup panjang lebar oleh anak-anak. Saat beraktivitas, ketiga tim tak bekerja sendiri, tapi juga didukung oleh siswa yang lain di sekolah. Secara khusus, tim memang berupaya untuk mendorong keterlibatan siswa secara lebih luas. Tim Gula Merah, misalnya, saat bersosialisasi tentang gula merah di sekolah juga meminta partisipasi siswa yang lain untuk menyumbangkan menu makanan tradisional berbahan gula merah untuk didokumentasikan. Demikian juga, Tim Sampah Plastik meminta siswa untuk juga meletakkan sampah plastik di sekolah di tempat khusus untuk diolah menjadi kriya kreatif.
Keberlanjutan masing-masing proyek menjadi tantangan tersendiri yang juga ditanggapi oleh ketiga tim. Pada sesi kedua, salah seorang guru pendamping, Mus’idah Amien (pendamping Tim Gula Merah) mengemukakan komentar menarik. “Kami tidak ingin menjadi lelaki mata keranjang. Kami akan terus konsisten mengerjakan dan mengembangkan proyek kami masing-masing agar dapat lebih baik,” tuturnya, yang disambut dengan tepuk tangan meriah.
Pada sesi kedua, penanggap semua berasal dari sekolah. Tim SCC Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putri juga berbagi pengalaman tentang kegiatan mereka. Beberapa pertanyaan bersifat agak teknis. Dan semuanya ditanggapi dengan baik oleh ketiga tim.
Presentasi diakhiri pada pukul 12.10 WIB. Setelah ditutup dengan doa, para hadirin kembali dipersilakan untuk kembali menyaksikan stan pameran. Kali ini, stan Tim Gula Merah telah dilengkapi dengan dua puluh empat macam makanan tradisional berbahan gula merah yang langsung diserbu oleh pada undangan. Para pengunjung tak hanya datang untuk mencicipi makanan tradisional itu, tapi juga ada yang bertanya resep dan cara pembuatannya.
Stan Tim Pupuk Organik dan Sampah Plastik juga ramai dikunjungi undangan. Ada yang langsung berbincang dengan tim yang bersiap di stan masing-masing, dan ada pula yang melihat-lihat foto dan arsip berita yang ditulis anak-anak. Tim Sampah Plastik kemarin juga menjual produk tas yang berhasil dibuat, dan beberapa produk sempat laku terjual. “Harganya masih agak mahal,” kata salah seorang pengunjung yang tampak ngebet untuk membeli salah satu produk.
Secara spontan, Mus’idah, salah satu guru pendamping proyek SCC, menyiarkan acara ini lewat pengeras suara sambil meminta komentar dan kesan beberapa tamu undangan. Menjelang pukul satu siang, pada undangan meninggalkan tempat acara satu persatu. Sebelum meninggalkan tempat, banyak di antara mereka yang menuliskan kesan-kesannya di lembaran yang disediakan panitia dan diserahkan saat mereka baru tiba.
Setelah acara benar-benar selesai, panitia dan seluruh tim proyek SCC mengadakan rapat evaluasi singkat, dan juga menyinggung persiapan penyusunan laporan lengkap kegiatan SCC untuk dikirimkan ke British Council Jakarta. Tentu saja, anak-anak dari ketiga tim pada khususnya merasa lega karena acara penutupan dan pameran kegiatan SCC ini dapat berlangsung dengan sukses. Kerja keras dan tenaga yang terkuras beberapa hari ini yang sempat membuat kami kadang lupa makan tampak impas terbayar. Alhamdulillah.

Dikutip dari: http://rindupulang.blogspot.com/2009/06/pameran-kreativitas-untuk-masa-depan.html

25 Mei 2009

Jejaring Civitas Kependidikan Peduli Lingkungan

M Mushthafa, fasilitator/pendamping Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council SMA 3 Annuqayah

Hari Kamis (21/5) kemarin, sekolah tempat saya mengajar kedatangan rombongan tamu dari dua sekolah di Pamekasan berlatar pesantren. Rombongan itu terdiri dari sebelas murid dan tiga orang guru.
Kunjungan ini bermula dari sebuah pertemuan tak disengaja di sebuah acara di Bangkalan akhir bulan lalu. Saat itu, saya bersama beberapa rekan sedang menghadiri acara Sosialisasi Program Ekopesantren yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI. Di acara itu saya bertemu dengan seorang teman lama yang sekarang mengajar di sebuah sekolah di Pamekasan. Teman saya tertarik melihat tas yang saya gunakan saat itu: tas yang dibuat dari sampah plastik karya kreatif murid-murid saya di sekolah. Setelah bercerita singkat tentang riwayat dan asal-usul tas itu, teman saya menyatakan ketertarikannya untuk berkunjung ke sekolah saya membawa murid-muridnya untuk berbagi cerita tentang pengalaman bergiat di aktivitas peduli lingkungan.
Acara kunjungan kemarin berlangsung selama sekitar lebih dari tiga jam. Saat rombongan datang, saya masih sedang dalam perjalanan dari Karduluk. Mereka memang tiba lebih awal dari jadwal yang dijanjikan. Sambil menunggu kedatangan saya, rombongan melihat-lihat markas Tim Proyek Lomba School Climate Challenge (SCC) SMA 3 Annuqayah di sekolah. Secara khusus mereka melihat hasil kreasi tas yang dibuat anak-anak dari sampah plastik. Karena salah satu sekolah dari rombongan tersebut adalah SMK yang juga belajar tata busana alias jahit-menjahit, perbincangan tampak begitu nyambung. Saat mereka sedang asyik berbincang dengan Tim Sampah Plastik SCC pada khususnya, saya tiba di sekolah.
Saya langsung menuju ke teman saya yang ternyata menjabat sebagai Waka Kesiswaan di sekolahnya. Saya sempat terkejut karena teman saya yang kenal saat masih kuliah di Jogja itu ternyata membawa rekan guru lainnya yang ternyata adalah kakak angkatan saya saat Aliyah dulu. Dan ternyata teman saya ini menjabat Waka Kurikulum di sekolah yang sama. Jadilah pertemuan itu semakin hangat dengan cerita-cerita lama.
Setelah rombongan melihat-lihat markas sambil mendokumentasikan melalui kamera, mereka kemudian istirahat sejenak untuk shalat Zhuhur. Baru setelah itu acara sharing dilakukan dengan bertempat di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah.
Acara sharing berlangsung tanpa seremoni yang ketat. Setelah saya memberi pengantar singkat, saya langsung mempersilakan ketua rombongan tamu untuk memberikan kata sambutan. Ali Wasik, teman saya yang menjadi ketua rombongan itu secara ringkas memaparkan latar belakang dan tujuan kunjungan tersebut. Setelah itu, saya kemudian memaparkan secara kronologis berbagai kegiatan peduli lingkungan di sekolah saya, SMA 3 Annuqayah, dengan cukup panjang lebar, termasuk tiga Tim Proyek SCC.
Pemaparan saya dilanjutkan dengan dialog di antara semua yang hadir. Rombongan kemudian menanyakan berbagai detail kegiatan peduli lingkungan kami di sekolah. Tentu saja yang menanggapi tak hanya saya. Empat guru pendamping Tim Proyek SCC selain saya juga hadir di situ. Mereka adalah Ustadz Mahmudi, Syaiful Bahri, serta Ustadzah Mus’idah dan Bekti Utami. Hadir pula Waka Kurikulum sekolah saya, Ustadz Nasiruddin. Demikian juga, seluruh murid anggota tim juga hadir dan membagikan cerita mereka setelah sekitar tiga bulan ini bergiat di aktivitas mereka masing-masing.
Dialog berlangsung selama hampir dua jam. Sambil berdialog, kami menikmati sajian masakan tradisional kreasi murid-murid dari Tim Gula Merah SCC. Hari itu mereka memasak tiga jenis makanan berbahan gula merah: jhemblèng, bhug-ghebug, dan klepon. Rombongan pun akhirnya meninggalkan sekolah kami saat waktu Asar mulai masuk.
Selain kesempatan untuk membagikan pengalaman bergerak di kegiatan peduli lingkungan, saya melihat bahwa kegiatan semacam ini dapat menjadi cikal-bakal bagi terbentuknya jaringan civitas kependidikan peduli lingkungan. Dengan berjejaring, guru-guru dan murid-murid dapat saling berbagi pengalaman, saling mendukung, dan bekerja bersama dengan proyek mereka masing-masing.
Pikiran semacam ini memang sering muncul di benak saya terutama saat mendampingi anak-anak bersosialisasi ke sekolah atau komunitas lain di seantero Sumenep. Saya yakin, kebutuhan akan berjejaring suatu saat akan menjadi sangat penting, agar gerakan yang dilakukan dapat lebih kuat dan berdaya.
Tentu saja jejaring ini mensyaratkan adanya penguatan di masing-masing komunitas. Akan tetapi, dengan beberapa titik komunitas yang relatif sudah cukup kuat, jejaring dapat membantu menyemangati satu komunitas yang masih belum stabil kekuatannya. Apalagi, pengalaman di lapangan tentu akan menghadirkan nuansa permasalahan dan lika-liku yang berbeda. Dengan berjejaring, kesinambungan dan keberlanjutan kegiatan peduli lingkungan di satu komunitas akan mungkin untuk terus didukung oleh simpul jaringan yang dibuat. Tentu saja, sebagai sebuah gerakan, syarat utama yang diperlukan adalah konsistensi.
Menguatkan pendidikan lingkungan di sekolah dari perspektif yang lain sebenarnya juga berarti membawa kurikulum sekolah ke arah yang lebih kontekstual , membumi, dan mengakar dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat tempat murid itu berasal. Di tengah iklim pendidikan formal yang terkesan textbook dan kaku, sungguh kegiatan peduli lingkungan dengan impian akan jaringannya yang kuat akan tampak sebagai sesuatu yang sangat menarik untuk terus ditekuni.

Dikutip dari: http://rindupulang.blogspot.com/2009/05/jejaring-civitas-kependidikan-peduli.html

09 Mei 2009

Environmental Week Still Continues

M Mushthafa, teacher at SMA 3 Annuqayah, facilitator Plastic Rubbish SCC Team

Environmental week still continues. After celebrating Earth Day 2009 with several environmental activities, that are environmental workshop, live television interview, and my involvement on some activities of School Climate Challenge Competition team, the following week, I had, at least, two valuable environmental activities. On Tuesday, April 28, with SCC full team, I went to Batang-Batang, a sub-district in northeast Sumenep—Banuaju Timur, exactly.
We had two main activities in Banuaju Timur. First, socialization at SMK Bina Mandiri about plastic rubbish. Our team presented their activities on recycling plastic rubbish and discussed about climate change in front of approximately thirty students at that school. Four members of the team confidently gave their presentations. We had a very enthusiastic discussion at that time. They submitted questions, suggestions, and supports to our team. Ninety minutes had gone, and we left the school with joy.
Plastic rubbish team had done a good job. Then, gula merah (Javanese sugar) team took over the SCC team control. At midday, the team started to do a deep research on siwalan (Asian palmyra palm, Borassus flabellifer). Three students and one teacher—the other teacher could not participate this interesting research—digged all informations about gula merah and siwalan. We did the research mainly in one of villager’s house, observing the process of making gula merah closely.
But this field study was not only about gula merah or siwalan. The team tried to focus to the context of conservation of gula merah and siwalan. Of course, they connected this issue with climate change problem, and implicitly conveyed the message of building environmental awareness and promoting ecofriendly values.
Actually, this team had done a similar research at another village about a month ago—at Brungbung, Pragaan. So, the team had a comparison data as a basis of their research. However, they found another important data at this opportunity. The villagers told about widespread logging activities in their rural community. Furthermore, siwalan climbers, the key person to exploit the tree, are rare to be found. The values of siwalan trees degenerated, and this make the conservation of siwalan tree now really in danger.
Sharing and discussing with the villagers at Banuaju Timur was a fascinating chance, not only about environmental issues, but also about cultural heritage of Madura. As considered before, conserving gula merah and siwalan trees actually has a wide-ranging impact, including cultural and economic.
We left Banuaju Timur at 02.00 p.m., and drop in Gapura to visit a friend to make an appointment about socialization in his school. We also went to Pasar Anom Sumenep to buy some traditional kitchenware.
My second activity was talk show at Ganding FM 104.10 at Saturday, May 2. This talk show held to celebrate the National Education Day. I did the talk show with plastic rubbish full team. We discussed about education and our environmental activities in our school. I took that opportunity to underline contextual education on our school curriculum.
At 09.30 a.m., the talk show began. Two hours left with an interesting discussion. We also discussed with audiences from Guluk-Guluk and Ganding by phone. Some of them gave good appreciation, some of them criticized rubbish management on Annuqayah in general, and one of them seemed to underestimate our environmental activities.
We had a really precious experience that day. And we know that our environmental activities still go on.

Source: http://rindupulang.blogspot.com/2009/05/environmental-week-still-continues.html

26 April 2009

Tim Proyek SCC Gelar Tasyakkuran dan Evaluasi

Ummul Karimah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Sosialiasi dan Promosi Tim Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council

GULUK-GULUK—Tim proyek School Climate Challenge Competition British Council SMA 3 Annuqayah gelar tasyakkuran atas mulai dipergunakannya markas tim proyek yang bertempat di halaman sekolah, Jum'at malam (24/4) kemarin. Acara yang berlangsung sederhana tersebut ternyata diakui mengandung banyak hikmah. Salah satunya dirasakan oleh Khazinah. Ia mengaku bahwa acara ini bisa membuatnya lebih semangat, “Pas pra acara, kami nonton bintang di layar tancap. Abis itu kita buka acara dengan ngaji bareng,” tutur Khazinah yang saat ini menjabat sebagai Ketua Pemulung Sampah Gaul (PSG) dan koordinator produksi di Tim Sampah.
Usai pembacaan ayat suci al-Qur’an bersama, mereka melangsungkan acara selanjutnya, yaitu makan bersama. Menu yang disajikan dalam acara tersebut sangat tradisional. Di antaranya berupa nasi jagung, ikan kering, dan kuah sayur daun kelor. “Nikmatnya pesta kebun,” lanjut Khas, sapaan akrab Khazinah.
Pembina OSIS SMA 3 Annuqayah sekaligus pembimbing tim proyek Konservasi Gula Merah Pohon Siwalan yang juga hadir dalam acara tersebut menuturkan bahwa acara ini, selain untuk tasyakkuran atas mulai dipergunakannya markas tim proyek, juga diharapkan dapat semakin memperkokoh kekompakan antar tim.
“Yang terpenting, kita harus meniatkan dalam hati bahwa kita ikut lomba ini bukan karena ingin menang. Tetapi karena ikhlas untuk menolong alam,” ujar Mus’idah serius, yang kemudian disusul oleh suara M. Mushthafa, “Saya juga mengharap, setelah lomba ini selesai seluruh tim dapat terus menekuni proyek masing-masing. Hingga akhirnya kita bisa menjadi pembela lingkungan sejati,” katanya sebelum acara pemutaran film berjudul North Country itu dimulai.
Sebenarnya acara ini direncanakan berlangsung sejak cukup lama, namun tertunda sampai pelaksanaan UN SMA selesai. Selain tasyakkuran, seluruh tim proyek melakukan evaluasi atas aktivitas yang mereka laksanakan selama ini.

25 April 2009

Environmental Week

M Mushthafa, teacher at SMA 3 Annuqayah, facilitator Plastic Rubbish SCC Team

This week, I had several environmental activities. First, I had an environmental workshop held by Community Development Bureau of Pondok Pesantren Annuqayah. The theme of this workshop is “Global Warming, Local Cooling”, and participants are thirty Annuqayah teachers. This workshop conducted on Tuesday, April 21, at MAK Annuqayah. Facilitator of this workshop is Ridho Saiful Ashadi, former Executive Director of WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia—Indonesian Forum for the Environment) East Java.
The workshop began at 10.00 a.m., two hours late from the schedule. Mas Ipul, the facilitator, delayed his departure from Surabaya because his wife borne approximately at midnight.
Actually, this workshop didn’t really satisfy me because plot of discussion during the workshop didn’t go on as I expected—at least based on the schedule that I received before. The discussion primarily focused on developing social transformation in general. Environmental issues had a minor space to be discussed here. Mas Ipul said that the most important thing to develop local cooling movement is concerning to framework of idea. Mas Ipul introduced new method of thinking called “Asset-Based thinking”. This reminded me to positive psychology developed by Martin EP Seligman, a professor at the University of Pennsylvania, which I knew from his book, Authentic Happiness. Mas Ipul explored this method of thinking extensively.
In fact, I can understand his choice to underline this approach in front of environmental and social problem on the whole. Environmental movement needs new, fresh strategies and power. But, in my opinion, environmental awareness as a basis of environmental education for the teachers should be built up by a sufficient supply of information and knowledge. OK, Mas Ipul said that such information is very easily found on internet webpages. The teachers just need to type the keyword on the search engine webpage and they will have a great deal of information and knowledge to encourage their environmental insight. But the fact is Annuqayah teachers are generally not acquainted with internet and information technology. And I’m almost sure that those who are familiar enough with internet maybe have a little concern to environmental issues.
When the workshop had finished, I thought that this workshop must be followed by another environmental workshop, or even an integrative action managed by Annuqayah teachers or at their respective schools. This subsequent workshop should reach to the core issues of environmental education, that environmental education is about our moral education—our ethical attitudes to the nature.
My second activity is a live interview at local television, Madura Channel, Sumenep. This interview held on Thursday, April 23, one day after the celebration of Earth Day. The theme is about environmental education. More exactly, about my experience accompanying environmental community at SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep. This community concern on specific issue, that is plastic rubbish. The students recycled plastic rubbish in school neighbourhood to be creative accessories, like a school bag, pencil case, etc. Their activities got public attention through publication of mass media.
In that session of live interview, I tried to make the idea of Earth Day become more concrete through the example of my students’ activities. I tried to turn the discussion on the focus of ethical perspective, but the interviewer still focused to my students’ activities and achievements.
During the live interview, there was an interesting comment from Pak Gani, an audience who is a teacher in Sumenep. He said that my students’ activities, that are recycling plastic rubbish to be a handicraft, are not creative achievements. Pak Gani said that other individuals and communities in Indonesia also had done the same creation, including Pak Gani himself. So, Pak Gani challenged me and my students to initiate a truly new creation related to environmental project.
To be honest, I believe that our environmental activities are not a genuine project. But I’m very sure that every project has specific complexities in its local context. Those are the real challenge of every social project. Furthermore, plastic rubbish increases around us, so we cannot underestimate this fact and have to make a concrete response in our community.
My third environmental activity this week is a voluntary work with my students cleaning up our base camp of our environmental project on School Climate Challenge Competition British Council. Our school participated in this prestigious competition by managing three environmental projects, that is recycling plastic rubbish, conservation of the Asian palmyra palm (Borassus flabellifer), and organic fertilizer.
We cleaned up the dirty area at the corner of our school area this morning until midday. We are very contented with the result of our hard work. We think that we will be more enthusiastic to manage our project.
Yes, this environmental week give me valuable supplies to encourage the struggle on environmental issues.

Source: http://rindupulang.blogspot.com/2009/04/environmental-week.html

23 April 2009

Hari Bumi, Tim Proyek SCC Pajang 3 Poster

Ummul Karimah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Sosialiasi dan Promosi Tim Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council

GULUK-GULUK—Salah satu bentuk sosialisasi yang dilakukan oleh seluruh tim proyek SCC di SMA 3 Annuqayah adalah berupa penempelan poster-poster kampanye dan poster ucapan selamat untuk Hari Bumi di Mading Raksasa Rabu (22/4) kemarin. Poster-poster tersebut tidak dipajang secara bersamaan, karena kata Anisah, salah satu anggota tim Pupuk Jerami, mengatakan bahwa poster miliknya dan milik tim Sampah Plastik sudah ditempel lebih awal yaitu (21/4), satu hari sebelum Hari Bumi. "Kalau punya tim Konservasi Gula Merah Pohon Siwalan ditempelnya pas Hari Bumi," imbuh Anisah.
Meski tidak dipajang secara bersamaan, namun masing-masing dari tim mengaku bahwa mereka tetap kompak dan saling membangun semangat. Mereka mengerjakan poster itu bersama-sama di ruang kerja tim yang sederhana.
"Bagaimanapun kita tetap satu jiwa, meski kita berada di lain proyek. Kami berangkat dari isu yang berbeda, tapi semuanya adalah untuk menumbuhkan semangat cinta lingkungan. Jadi, ya harus kerja sama," ujar Siti Mailah, yang juga satu tim dengan Anisah. Setiap salah satu tim mempunyai tugas yang agak berat, maka kedua tim yang lain akan ikut membantu. Hal ini terjadi, misalnya, saat pelatihan penguatan kapasitas yang dilaksanakan dan diikuti oleh semua tim.
Yang pasti, kata Mus'idah Amien, Waka Kesiswaan sekaligus pembina OSIS SMA 3 Annuqayah, setiap kegiatan yang dilakukan mereka selalu membuatnya tersenyum dan lebih memahami arti persahabatan dan kekompakan. "Kerja sama itu penting. Jangan sampai kita tidak kompak, apalagi di organisasi atau tim," pungkas Mus'idah setelah 3 poster tersebut usai dipajang.

15 Siswi SMA 3 Annuqayah Ikuti Pelatihan Lingkungan oleh BPM-PPA

Ummul Karimah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Sosialiasi dan Promosi Tim Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council

GULUK-GULUK—Dalam rangka menyambut Hari Bumi, Biro Pengabdian Masyarakat Pondok Pesantren Annuqayah (BPM-PPA) mengadakan acara yang bertajuk Workshop "Generasi Hijau Annuqayah" Selasa (21/4) kemarin. Acara ini diikuti oleh seluruh peserta tim proyek lomba School Climate Challenge British Council yang ada di Annuqayah.
Peserta acara yang berjumlah 30 orang itu merupakan gabungan dari 2 Madrasah. Yaitu 15 orang dari SMA 3 Annuqayah dan selebihnya dari MA 1 Annuqayah Putri. Fasilitator kegiatan adalah adalah Mbak Yuli, dari Walhi Jawa Timur.
"Seluruh peserta dari SMA 3 Annuqayah yang hadir di acara ini adalah gabungan dari siswa pencinta lingkungan yang sedang mengikuti lomba School Climate Challenge British Council," Kata Zulhatus Sayyidah, salah satu peserta dari SMA 3 Annuqayah.
Dalam pelaksanaannya, sambung Zul, sapaan akrab Zulhatus Sayyidah, seluruh rangkaian acara membuatnya lebih semangat dan percaya diri untuk menjadi Green Generation yang sejati. Namun ia juga mengakui bahwa ada kekecewaan yang ia rasakan, yaitu mengapa acara tersebut tidak juga diikuti oleh siswa yang dirasa masih buta terhadap wawasan lingkungan. "Seandainya acara itu juga diikuti oleh siswa yang bukan tim proyek, tentunya akan semakin banyak pula siswa yang berminat untuk menjadi generasi hijau Annuqayah," papar Zul.
Sementar itu, Nujaimah, juga peserta dari SMA 3 Annuqayah, angkat bicara mengenai poin yang ia berikan terhadap acara tersebut. "Saya memberi poin acara ini 7,5. Ya, karena saya rasa acara itu lebih dominan pada motivasi," kata Nu. Disamping itu, Ia juga menceritakan bahwa ada 1 sesi yang membuat acara tersebut lebih hidup. "Pada sesi nonton film tentang alam saya haru dan saya merasa selama ini saya belum memberikan yang terbaik utuk alam," tambahnya dengan raut sedih.
Usai acara pemutaran film yang mengharukan, ruangan kembali diramaikan oleh teriakan peserta yang disuruh merancang pesawat canggih. Bantaian demi bantaian terlontarkan saat masing-masing kelompok mempresentasikan karya mereka yang kemudian ditutup dengan yel-yel. Hingga Zul mengakui suaranya sampai serak saking kerasnya berteriak-teriak. "Saya tak dapat bicara lagi," paksa Zul mengucap kalimat.

22 April 2009

Earth Day Everyday





By SCC Team SMA 3 Annuqayah: Ummul Corn, Eka, Mailah, Anisah, Zul, Nuno, Iroel.

01 April 2009

Belajar Bersama tentang Persoalan Lingkungan


M Mushthafa, fasilitator/pendamping Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council SMA 3 Annuqayah

GULUK-GULUK—Setelah sempat tertunda dua kali, akhirnya program pelatihan dan penguatan kapasitas untuk seluruh anggota tim proyek School Climate Challenge (SCC) Competition British Council SMA 3 Annuqayah terlaksana. Memang, realisasinya tidak persis sama dengan yang direncanakan. Jika mulanya program pelatihan dan penguatan kapasitas di awal ini dirancang berlangsung tiga hari berturut-turut, namun akhirnya terlaksana tidak demikian.
Pelatihan yang isinya membahas persoalan-persoalan lingkungan hidup yang bersifat mendasar dalam konteks perubahan iklim terlaksana dengan waktu yang terpisah selama empat kali. Putaran yang pertama berlangsung pada hari Rabu, 18 Maret 2009 bertempat di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah.
Sebelumnya, anak-anak sudah disuplai dengan bahan-bahan berupa buku, majalah, dan berbagai kutipan dari internet yang cukup melimpah yang berisi berbagai pembahasan tentang masalah lingkungan hidup dengan berbagai aspeknya. Awal Maret kemarin, ketiga anggota tim juga mencari data dengan mengkliping koran-koran beberapa bulan terakhir. Jadi, fungsi saya hanya lebih sebagai fasilitator saja, atau mencoba mengarahkan pembicaraan berdasar apa yang mereka baca.
Pesertanya bukan hanya anggota tim inti tiga proyek, yakni proyek sampah plastik, proyek konservasi pohon siwalan, dan proyek pupuk. Siswi yang juga menyatakan diri siap sebagai pendamping tim inti juga mengikuti kegiatan pelatihan ini.
Dalam sesi yang berlangsung mulai 13.45 hingga 16.00 WIB ini, saya memfasilitasi anak-anak untuk berdiskusi masalah perubahan iklim atau pemanasan global. Sebelum memulai diskusi, saya memutar video pendek bertajuk “Pemanasan Global dan Dampaknya” yang dikeluarkan oleh Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI. Video berdurasi sekitar 11 menit ini menjadi pengantar yang baik untuk memahami masalah perubahan iklim. Bahan utama sesi ini juga adalah hasil unduhan dari situs Wikipedia dan National Geographic edisi khusus yang membahas tentang Perubahan Iklim.
Putaran kedua diskusi berlangsung pada hari Ahad, 22 Maret 2009. Tempatnya juga masih di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah. Pada kesempatan ini, diskusi diarahkan untuk menggali masalah-masalah lingkungan hidup secara umum. Khusus pada putaran kedua ini, saya mencoba fokus pada masalah penanganan sampah dan energi.
Putaran ketiga diskusi berlangsung pada hari Selasa, 24 Maret 2009. Diskusinya melanjutkan perbincangan pada pertemuan sebelumnya, dengan berpindah pada isu hutan, problem pangan, dan keanekaragaman hayati. Sesi ketiga ini berlangsung agak lama, karena setelah berdiskusi anak-anak saya ajak nonton film The Day After Tomorrow.
Putaran terakhir diskusi dilaksanakan pada hari Selasa, 31 Maret 2009. Kali ini tempatnya di Markas Tim Lomba SCC yang baru saja direhab. Meski tempatnya sangat sederhana, anak-anak tetap antusias. Pada putaran terakhir ini, diskusi diarahkan pada solusi penanganan masalah perubahan iklim. Saya juga mengajak anak-anak untuk mencoba memahami akar masalah perubahan iklim ini, yang sejatinya berakar pada problem akhlak manusia terhadap lingkungan. Sentuhan pendekatan etis saya masukkan di sini.
Dengan modal sentuhan etis itu, saya mencoba menghubungkan kegiatan masing-masing proyek sebagai refleksi dan tindak lanjut yang diperlukan untuk mengatasi salah satu aspek persoalan lingkungan yang sudah dibahas sebelumnya. Jadi, saya mencoba meneguhkan konteks masing-masing proyek.
Empat rangkaian diskusi ini saya harapkan dapat menjadi modal dan penyemangat bagi anak-anak untuk terlibat lebih jauh dalam kegiatan cinta lingkungan pada umumnya. Menurut saya, miskinnya informasi dan wawasan tentang masalah-masalah lingkungan menjadi salah satu penyebab rendahnya kepedulian masyarakat pada umumnya untuk bersikap lebih ramah pada alam. Karena itu, dengan terus memperkaya pengetahuan tentang masalah-masalah lingkungan, diharapkan muncul sikap dan kepedulian yang lebih kuat untuk bersahabat dengan alam.

06 Maret 2009

Mencari Data dan Informasi tentang Lingkungan di Koran dan Internet

Siti Nujaimatur Ruqayyah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Data & Dokumentasi Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council

Selama sekitar tiga hari, yakni 1 hingga 3 Maret kemarin, saya bersama-sama tim proyek School Climate Challenge SMA 3 Annuqayah melakukan pencarian data tentang lingkungan dan hal-hal yang berkaitan dengan proyek masing-masing. Sesuai arahan guru pendamping kami, M. Mushthafa, kami mencari data di koran (Kompas dan Jawa Pos) di sekolah kami.
Riset data ini kami lakukan dengan membagi tugas. Saya sendiri bertugas mencari tulisan yang berkaitan dengan isu lingkungan, sebagian lagi bertugas menggunting. Sengaja kami bekerja pada malam hari, karena pada siang hari kami harus sekolah dan mengerjakan tugas-tugas yang lain. Tentunya timbunan koran yang sangat banyak itu tidak mungkin selesai hanya dalam 1 malam. Akhirnya kami meneruskannya pada malam selanjutnya hingga berlanjut selama tiga hari.
Saya sebagai koordinator data dan dokumentasi Tim Sampah Plastik merasa bertanggungjawab untuk mengurus semua ini. Untung saja para siswa yang juga bergiat dalam peduli lingkungan juga ikut membantu kami. Jadi beban pekerjaan kami bisa berkurang.
Akhirnya setelah semua tulisan selesai digunting, kami tinggal memisah data yang diperoleh sesuai dengan proyek masing-masing. Proyek saya mengumpulkan data tentang sampah plastik.
Banyak sekali informasi dari data yang kami peroleh. Data yang telah terkumpul ini dapat kami gunakan sebagai bahan untuk memperkaya wawasan tentang lingkungan khusunya bahaya sampah plastik.
Selain dari mengkliping, kami juga memperoleh data dari mengakses internet. Data internet yang terkumpul kemudian dicetak dan dibundel sebagai buku panduan. Masing-masing dari kami memperoleh buku tersebut untuk dipelajari sebagai bahan penguat proses sosialisasi dan kampanye yang akan kami laksanakan.