04 Februari 2011

Binhad Nurrohmat Berkisah di Madaris III Annuqayah


Ummul Karimah, alumnus SMA 3 Annuqayah


“Saya menulis karena lapar.”

Demikian kalimat pembuka yang dilontarkan oleh Binhad Nurrohmat dalam acara yang bertajuk “Satu Jam Bersama Binhad Nurrohmat,” Rabu (02/02), di Perpustakaan Madaris III Annuqayah. Acara tersebut diprakarsai oleh OSIS SMA 3 Annuqayah atas usul K. M. Faizi, Direktur Madaris III Annuqayah. Kebetulan Binhad sehari sebelumnya baru saja mengisi bedah buku di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah.

Binhad dalam acara tersebut tidak banyak berbicara mengenai puisi, tetapi ia lebih banyak bercerita mengenai pengalamannya dalam dunia sastra. Ia bercerita tentang betapa sulitnya hidup dan menulis pada masa dulu. “Dulu, saya menulis pakai kertas dalam bungkus rokok karena benar-benar tidak punya buku. Setelah itu saya ke rental,” ungkapnya lirih.

Dalam ceritanya, Binhad menyorot tentang semangat yang dimiliki orang-orang sukses dengan perjuangan yang melarat di masa dulu. Lalu, ia mencoba membandingkan dengan semangat anak zaman sekarang di tengah fasilitas yang serba memadai. Alhasil seluruh anggota yang berjumlah 40 dan terdiri dari 20 siswa SMA 3, 10 siswa MTs 3, dan 10 siswa MA 1 putri Annuqayah itu tampak sedih mendengar cerita yang begitu mengharukan tersebut. Hal itu tergambar dari heningnya suasana dalam ruangan yang dibangun sekitar tahun 1985-an itu.

Tidak hanya sampai di situ, salah satu aktor dalam film Khalifah tersebut terus mencoba memaparkan pengetahuannya lewat dialog atau tanya-jawab. Hal itu dilakukan karena ia mengatakan lebih suka tanya-jawab ketimbang berbicara panjang lebar.

Para peserta berebut untuk bertanya dan berbagi karya dengan membacakannya untuk Binhad sehingga acara tersebut tampak mengalir dan menyenangkan.

Acara berlangsung mulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pada pukul 10.00 WIB. Acara tersebut sengaja dijadwalkan hanya 1 jam mengingat acara Binhad yang begitu padat. Namun, meski hanya satu jam, siswa merasa puas sebab jawaban yang diberikan begitu mengena dan sangat luas. Salah-satunya diungkapkan oleh Watsiqatul Azizah, siswa XII IPS SMA 3 Annuqayah yang bertanya dalam kesempatan tersebut.

“Saya dapat mengerti bahwa puisi bukanlah catatan sederhana, melainkan sesuatu yang dapat menggetarkan hati dan menginspirasi pembacanya. Acaranya asyik. Penuh makna,” pungkas santri yang berdomisili di PPA Latee II itu.

1 komentar:

ahmad saihdah mengatakan...

Semakin banyak mereka bertemu banyak orang, semakin luas mereka melihat dunia.

Saya senang membaca peristiwa ini.