15 Januari 2013

Pengalaman Mengikuti SJYC di Yogyakarta




Halimatus Zahroh, XB SMA 3 Annuqayah





Kamis, 27 Desember 2012



Perjalanan menuju Yogyakarta untuk mengikuti Social Justice Youth Camp (SJYC) yang diselenggarakan oleh Indonesia Social Justice Network (ISJN) banyak hambatan yang harus saya lewati. Di antaranya di Terminal Bus Surabaya, di sana banyak penumpang yang akan menuju Yogyakarta. Mungkin karena hari libur dan hampir tahun baru. Tiga bus yang sudah dipersiapkan tidak cukup memuat penumpang yang ada. Termasuk saya dan Bu Mus’idah, guru SMA 3 Annuqayah yang ikut mendampingi. Namun, akhirnya saya bisa melewati rintangan tersebut dengan ikut ojek langsung menuju ke garasi bus.



Jum’at, 28 Desember 2012



Jum’at pagi pukul 06.30 WIB saya sampai ke tempat tujuan. Beberapa menit kemudian saya berangkat lagi menuju homestay. Letaknya di Desa Penting Sari, Sleman. Di sana saya memunim air ramuan khas Yogyakarta. Setelah itu saya istirahat dan beberapa lama kemudian semua peserta SJYC berkumpul untuk membuka acara dan membahas apa yang ingin dipelajari terkait masalah lingkungan. Tapi, acara dimulai dengan perkenalan dan membentuk kelompok belajar dengan cara partisipatoris. Di sana saya perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan suasana yang baru. Kami belajar membentuk kelompok belajar yang aktif sebagai pertanda bahwa kami turut bertanggung jawab dalam proses pelajaran tersebut.



Acara hari pertama sudah selesai. Saya dan peserta yang lain kembali ke homestay untuk istirahat, shalat dan mandi. Di homestay saya dan peserta yang lain terkejut dan tidak berani untuk mandi karena airnya sangat dingin. Namun, mau tidak mau kami harus mandi. Setelah kami mandi saya dan peserta yang lain mewawancarai pemilik rumah yang dekatnya 12 km dari Gunung Merapi. Sungguh tempat dan suasana di luar homestay cukup dingin, apalagi cuaca hujan.



Sabtu, 29 Desember 2012



Sabtu pukul 07.00 WIB suasana pagi yang indah dipenuhi dengan embun yang menembus jiwaku. Pagi ini saya dan peserta yang lain memulai lagi pembahasan tentang mengenali lingkungan alam. Nah, di sana kami menuju beberapa tempat di tempat wisata di Desa Penting Sari.



Tujuan pertama yaitu ke rumah salah satu warga, tempat mengkonsumsi kopi dengan alat tradisional. Saya lihat alatnya cukup praktis, tanpa mesin. Langkah pertama proses pembuatan kopi adalah pengeringan buah kopi. Tapi buahnya harus yang merah agar mudah dalam pengolahan dan agar rasanya lebih nikmat. Yang kedua, penyemaian biji kopi yang sudah kering dan dibersihkan kulitnya. Ketiga, proses penggorengan biji kopi tanpa minyak goreng dan memakan waktu sekitar 30 menit. Setelah masak, biji kopi tersebut ditumbuk pakai lesung sampai benar-benar halus. Setelah selesai proses penyaringan agar biji kopi yang masih belum halus dihaluskan lagi. Jadi, kopi siap disaji. Nah, di sana saya dapat merasakan air kopi hangat tanpa bahan campuran lain, hanya dicampur gula pasir saja. Rasanya sangat nikmat dan rasanya beda dengan kopi pabrik. Dengan itu saya dapat pengetahuan baru dan dapat mengenal lingkungan alam kita.



Perjalanan kedua kami menuju ke tempat pembuatan jamur yang terbuat dari pohon Sengon. Setelah kami mewawancarai pemilik pohon Sengon dan pengkonsumsi jamur, kami jadi tahu bahwa jamur itu banyak manfaatnya. Salah satunya dapat menyembuhkan penyakit kanker, hepatitis, dan lainnya.



Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ketiga yaitu menuju ke pembuatan pupuk. Nah, ternyata pembuatan pupuk sangat sederhana, hanya mengumpulkan sampah-sampah organik, seperti daun-daun kering dan sayuran busuk. Plastik tidak ikut dikumpulkan. Terus sampah-sampah organik itu dicincang sampai halus dan ditempatkan ke suatu wadah, diberi air sekitar 50 ml, dan kemudian ditutup dengan plastik agar sampah tersebut cepat membusuk. Setelah beberapa hari kemudian sampah organik pun sudah menjadi pupuk.



Perjalanan ketiga selesai, kami kembali ke tempat peristirahatan dan istirahat beberapa menit. Perjalanan selanjutnya menuju ke sungai lahar dingin Gunung Merapi. Dulu tempat tersebut bukan sungai tetapi tempat persawahan warga. Tapi karena lahar dingin dan batu-batu yang besar dan kecil dari Gunung Merapi mengalir ke tempat persawahan tersebut, akhirnya jadilah sungai lahar yang kemudian dibangun oleh Belanda. Namun, sekarang tidak ada, karena sudah runtuh.



Setelah itu kami menuju ke persawahan salah satu petani desa wisata Penting Sari. Di sana kami belajar bagaimana cara membajak sawah dengan memakai hewan yaitu sapi atau kerbau tanpa mesin yang disebut traktor. Petani di sana masih menggunakan hewan untuk membajak sawah. Di sana kami juga belajar cara menanam padi dan belajar untuk berani kotor.



Setelah kami menuju pulang ke homestay, kami menemukan watu dakon di dalam hutan wisata Penting Sari. Mengapa dinamakan watu dakon? Karena dulu menurut orang Jawa watu itu adalah batu dan dakon adalah salah satu permainan yang mempunyai 14 lubang. Permainan tersebut disukai anak-anak. Menurut salah satu warga di situ, dulu watu dakon itu adalah tempat Sunan Kalijaga bertapa. Batunya sangat besar. Namun, batu tersebut terbelah menjadi dua bagian. Tapi salah satu belahannya hilang entah ke mana.



Terbelahnya batu tersebut karena dulu tempat batu tersebut adalah tempat persawahan. Jadi, warga pun terpaksa membelahnya. Sampai sekarang pun salah satu belahan batu tersebut tidak ditemukan. Nah, saya juga mendapatkan pelajaran sejarah. Kami pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke homestay, karena sudah hampir malam dan waktunya untuk istirahat.



30 Desember 2012



Ahad pukul 07.30 WIB suasana pagi sama seperti hari kemarin, dipenuhi dengan embun. Pagi itu kami bersiap menuju pantai Samas. Semua barang dikemas untuk meninggalkan homestay. Kami pun makan bersama dengan kakak panitia dan semua pendamping.



Perjalanan menuju ke pantai Samas memerlukan waktu berjam-jam. Sampai ke pantai Samas kami dapat pengetahuan baru lagi yaitu tentang “hormat dan tanggung jawab terhadap alam” dan “pengurangan risiko bencana”. Ternyata pantai Samas adalah pantai yang terkotor di Yogyakarta. Di sana kami pun membersihkan sampah-sampah yang berserakan. Sampah-sampah tersebut berasal dari rumah warga di sekitar sungai-sungai yang mengalir ke pantai Samas.



Udara di pantai Samas sangat panas sekali. Di sana banyak warga sekitar tidak peduli dengan lingkungannya sendiri. Mereka tidak berpikir betapa bahayanya apabila terjadi bencana akibat perbuatan sendiri. Betapa besarnya kerugian yang dialami seperti tempat tinggal, harta benda, keluarga dan lain-lain. Namun, mereka juga tidak sadar bahwa betapa untungnya jika pantai Samas tersebut menjadi pantai favorit karena keindahan dan kebersihannya. Tapi tingkat kesadaran masyarakat sekitar kurang.



Setelah ke pantai Samas kami semua berkumpul menuju tempat peristirahatan dan mendaur ulang sampah pantai tersebut dengan mengolahnya menjadi hiasan yang lucu dan indah. Sebenarnya jika sampah-sampah pantai tersebut didaur ulang lagi maka akan mendapatkan hasil yang lumayan banyak. Namun, masyarakat sekitar tampak kurang kreatif. Akibat sampah-sampah warga, laut pun menjadi tercemar. Jadi, kebiasaan seperti itu tidak bisa dibiarkan, karena akan berdampak buruk terhadp lingkungan kita.



Di sana kami tidak hanya ke pantai Samas dan belajar mendaur ulang sampah, tetapi juga belajar mengamati dampak sampah terhadap penyu. Ternyata sampah yang terdapat di pantai dapat mengganggu kehidupan penyu sehingga penyu di sana tidak muncul di pesisir pantai akibat sampah yang menumpuk.



Perjalanan kami pun selesai dan waktunya seluruh peserta untuk bertukaran kado. Setelah pertukaran kado kami semua menulis apa yang ingin dilakukan setelah mendapatkan pelatihan tersebut selama 2,5 hari.



Pelajaran yang saya dapat di acara SJYC ini saya bisa melakukan perubahan terhadap lingkungan terutama saya harus mengubah keadaan lingkungan sekitar. Saya akan mengembangkan ide sebuah rencana aksi untuk menciptakan lingkungan yang penuh dengan kebersihan dan keindahan. Jadi, saya akan bekerja sama agar lebih dalam perkembangan masalah lingkungan.



Puisi tentang keindahan alam



Ku bangga menjadi anak Indonesia



“Hutan, gunung dan lautan,

Itulah alam Indonesia,

Di tanah khatulistiwa,

Dan banyak tangan yang jahil,

Dan merusak keindahan alam Indonesia,

Hutan, gunung dan lautan,

Kita harus menjaga keindahan alam

dan menjaga Indonesia.”




Guluk-Guluk, 14 Januari 2013




2 komentar:

M. Faizi mengatakan...

catatan perjalanan yang menyenangkan. lain kali, catatan perjalanan ke tempat tujuan dipisah dengan catatan dengan kegiatan, ya! biar semakin seru.

Siti Nujaimatur mengatakan...

Benar.
Seru!