24 April 2009

Tim Proyek Gula Merah Berdiskusi dengan Tokoh Lingkungan


Ummul Karimah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Sosialiasi dan Promosi Tim Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council

GULUK-GULUK—Upaya yang dilakukan oleh tim proyek Konservasi Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council SMA 3 Annuqayah untuk menuju sukses tak hanya sampai di bumi Cecce’ Pragaan saja, tetapi mereka juga melakukan reset data ke tokoh masyarakat di Annuqayah yaitu ke rumah Panji Taufiq, Kamis (23/4) sore kemarin. Mereka serempak mengaku grogi saat hendak memasuki gerbang rumah Pak Panji di utara komplek Pesantren Annuqayah, namun Ekatur Rahmah, salah satu anggota tim, mengatakan bahwa ia merasa tenang saat salam yang ia lontarkan terjawab oleh suara lembut. “Ternyata santai. Tak segerogi yang kubayangkan,” katanya kemudian.
Informasi luasnya wawasan dan dalamnya pengetahuan Panji Taufiq tentang pohon siwalan pada khususnya dan isu-isu lingkungan pada umumnya diperoleh dari M. Mushthafa, pendamping Tim Sampah Plastik. Namun, saat Panji Taufik dibilang berwawasan luas tentang pohon siwalan dan isu lingkungan, ia mengaku bahwa itu hanya karena faktor usia. “Saya tidak pintar, tapi hanya lebih tua dari adik-adik. Jadi lebih lama hidup dan lebih berpengalaman saja,” paparnya dengan tersenyum-senyum.
Yang mengherankan namun menakjubkan adalah saat tim membuka pembicaraan dengan beberapa alasan keprihatinan mereka terhadap gula merah pohon siwalan yang kian hari hampir punah. Ternyata Pak Panji memberikan tanggapan yang cukup luas. Ia menyatakan bahwa bukan cuma gula merah yang hampir punah, namun makanan lokal lainnya yang dulu menjadi nadi kehidupan orang Madura juga telah banyak yang punah.
“Coba kalian ingat! Jika dulu semasa kalian kecil kalian bermain rebus-rebusan buah klenteng, “anak ubi”, maka sekarang sudah jarang sekali bukan? Bahkan anak-anak kecil sudah tak mengenal klenteng lagi. Gula merah juga hampir senasib dengan klenteng,” paparnya yang membuat Mus’idah, guru pendamping tim, berkata, “Santai tapi begitu kena dan menusuk.” Mus’idah dan Anggota tim lainnya hanya geleng-geleng kepala. “Belum bertanya, keterangan yang diperoleh sudah sangat luas. Apalagi bila kami lontarkan 5-10 pertanyaan, bayangkan?” imbuhnya dengan raut kekaguman.
Seluruh anggota tim tampaknya makin serius menyimak keterangan yang Pak Panji sajikan. Suasana hening hanya tinggal suaranya yang tenang dan santai.
Memang, bila keterangan mudah dan enak dicerna, maka sepertinya waktu hanya sekejap mata. Wawancara dipending sejenak karena telepon rumah Pak Panji berdering. Ia kemudian meminta waktu untuk mengangkat telepon.
Sementara itu, 2 anggota tim Gula Merah, 1 guru pembimbing, dan 1 anggota tim Pupuk Jerami yang juga ikut, baru merasa bahwa mereka sudah cukup lama berada di situ. Sekitar 1 jam lamanya.
Ketika Pak Panji keluar, ia melanjutkan pembicaraan tentang puncak kapitalisasidi Indonesia. Ia juga memberikan pengarahan pada anggota tim tentang ke mana mereka harus melangkah dan agenda apa yang harus dikerjakan.
Baginya, pemerintah di Indonesia harusnya mempunyai kreasi yang inovatif. Seperti melakukan pembibitan pada pohon siwalan yang asalnya hanya berkembang biak dengan mandiri—tanpa ada orang yang peduli. Ia juga sempat menyindir bahwa untuk melestarikan gula merah pohon siwalan sangat susah dilakukan bila tidak dibumbui dengan semangat yang besar. “Kita masih harus berkomunikasi dengan pemerintah dan dinas perkebunan. Jadi tidak gampang.” Namun ia menambahkan bahwa ini bukan alasan untuk tim proyek tersebut mundur, sebab bila mereka melakukan dari yang terkecil, seperti riset data, sosialisasi berupa pemakaian gula merah sebagai menu utama dalam acara-acara, itu sudah bentuk dari penyelamatan. “Kalau saya buta tentu saya tak dapat ke mana-mana. Kalau kalian masih belum banyak tahu tentang gula merah pohon siwalan, lalu kalian mau ke mana? Bukankah begitu?” kata tokoh lingkungan yang juga ikut membidani lahirnya WALHI Jawa Timur ini sambil memperagakan orang buta yang meraba-raba.
Pak Panji berharap seluruh tim benar-benar serius untuk menangani kasus ini, dan ia menyatakan kesiapannya untuk membantu dan mendampingi tim jika memang dibutuhkan. Kunjungan Tim Gula Merah ke alumni Annuqayah yang sekarang diamanahi sebagai Ketua Yayasan Annuqayah ini jelas menambah semangat bagi seluruh anggota tim untuk tugas-tugas besar mereka yang menunggu.

Tidak ada komentar: