28 April 2010

Ada Apa dengan Pohon Mahoni?

Ruka’iyah, siswa XA SMA 3 Annuqayah

Hari Ahad (11/04) yang lalu ada kejadian yang sangat menggemparkan Madaris 3 Annuqayah. Mu’allimah dan Ulfatur Rosyidah, siswa SMA kelas XA SMA 3 Annuqayah, mengalami kejang-kejang dan menjerit-jerit. Hal seperti itu tidak pernah dialami Mu’allimah sebelumnya ketika di sekolah, namun seringkali terjadi di pondoknya. Lain lagi dengan Ulfa yang memang sering mengalami hal itu.

Keanehan itu terjadi ketika Mu’al dan Ulfa (begitu mereka dipanggil) bersama teman-temannya kelas XA sedang mengamati penelitian tentang keanekaragaman mahluk hidup. Penelitian dilakukan di area Madaris 3 Annuqayah. Siswa dibagi 8 kelompok, yang rata-rata terdiri dari 5 orang. Mu’al dan Ulfa yang waktu itu berada dalam satu kelompok mendapat tugas di area belakang pondok Nurul Hikmah. Di tempat itu terdapat pohon besar yang dikenal dengan sebutan pohon mahoni. Konon pohon itu ada penunggunya. Mulai dari tempat itulah kejadian-kejadian aneh terlihat pada kedua siswa tersebut.

Keanehan itu terus berlanjut hingga mereka sampai di kelasnya. Kala itu, Mu’al yang biasanya santun tiba-tiba duduk dengan posisi kaki di atas bangku. Pandangan matanya kosong dan melotot. Tingkahnya yang seperti itu membuat teman-teman yang berada di dekatnya ketakutan. Begitu juga dengan Ulfa, dia sampai lari ke luar kelas.

Suhalifah, yang selama ini dekat dengan keduanya, mengatakan bahwa Ulfa pergi karena Mu’al yang ingin mengajaknya ke suatu tempat. Kemudian Ulfa berlari-lari keluar kelas seolah-olah dia dikejar oleh orang yang tak dikenalnya. Padahal tak ada seorang pun yang mengejarnya. Teman-temannya yang memperhatikan kebingungan melihat sikap Ulfa yang begitu aneh. Begitu pula dengan Mual yang ada di dalam kelas.

Sejak itulah keduanya tidak sadarkan diri. Mu’al menjerit-jerit dengan histeris sambil menangis, begitu pula dengan Ulfa yang berada di teras Lab IPA.

Keanehan itu merupakan penyebab dari adanya jiwa lain yang melekat pada diri kedua siswa tersebut. Begitu kesimpulan awal teman-temannya yang juga dibenarkan KH Ahmad Hazim, salah satu guru SMA 3 Annuqayah. Kemudian teman-temannya reflek membacakan ayat kursi, tetapi tidak begitu berpengaruh. Keduanya tetap menjerit-jerit, sehingga membuat K Hazim turun langsung menanganinya, tetapi hanya mampu memulihkan sebentar saja. Dan setelah itu mereka kambuh lagi.

Peristiwa itu menjadi pusat perhatian siswa dan guru serta semua yang ada di sekitar lingkungan Madaris 3. Tak lama kemudian orang tua siswa tersebut datang menjemputnya walaupun keadaan siswa tersebut tidak begitu stabil.

Ketika Mu’al sudah siuman tanpa sengaja dia menceritakan asal mula kejadian yang menimpa dirinya. Menurut Mu’al, ketika dia meneliti di sekitar lingkungan Nurul Hikmah, tanpa sadar ada orang yang memanggilnya, tepatnya di bawah pohon mahoni. Kemudian dia pergi ke bawah pohon mahoni itu walaupun belum tahu pasti siapa yang memanggilnya. Begitulah seingat Mu’al yang masih dalam keadaan lemah.

Dua hari berturut-turut Mu’al selalu bersikap aneh. Kadang bicara sendiri. Dan ketika ada temannya yang melihat, spontan Mu’al berkata, “Apa terro ka sengko' be’en?” Mu’al baru sadar sepenuhnya hari Jum’at. Sedangkan Ulfa tidak masuk kelas hingga satu minggu.

1 komentar:

Pemangku Buku mengatakan...

Barang kali, jin-jin pada kagum sama kecantikan mereka.