Tampilkan postingan dengan label School Climate Challenge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label School Climate Challenge. Tampilkan semua postingan

21 Juli 2009

Tim Pupuk Organik SMA 3 Annuqayah Masuk 15 Besar Lomba SCC British Council


Anisah, siswi XII IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Riset Tim Pupuk Organik School Climate Challenge Competition British Council

Tidak disangka, tepat pada hari Senin tanggal 13 Juli 2009 salah satu guru pembimbing kami, Tim Pupuk Organik School Climate Challenge (SCC) Competition British Council SMA 3 Annuqayah, yaitu Bapak Mahmudi, S.Sos menerima telepon dari Siswoyo selaku salah seorang tim verifikasi Lomba SCC British Council. Pak Siswoyo memberi kabar bahwa Tim Pupuk Organik SCC SMA 3 Annuqayah masuk 15 besar dari 71 tim proyek SCC yang sudah mengirimkan laporan ke panitia. Kabar tersebut merupakan kabar yang sangat membahagiakan bagi kami, Tim Pupuk Organik, dan juga dua tim SCC SMA 3 lainnya.

Menurut informasi yang kami terima, awalnya peserta lomba SCC ini sebanyak 183 tapi yang mengirimkan laporan hanya sebanyak 71 tim. Dari 71 tim tersebut dipilih 15 besar untuk kemudian akan diseleksi lagi menjadi 3 besar lagi sebagai pemenang.

Pada hari Rabu 15 Juli 2009, kami Tim Pupuk Organik kedatangan tamu dari Yayasan Kaliandra Sejati Pasuruan sebagai tim verifikasi lomba SCC ini. Beliau adalah Bapak Siswoyo dan Bapak Mas’ud selaku tim observer SCC. Maksud kedatangan mereka ingin menilai langsung (verifikasi) kegiatan tim kami selama 3 bulan sebelumnya. Apa sesuai dengan laporan yang kami kirimkan, dan bagaimana tindak lanjutnya.

Tepat pada pukul 08.30 WIB kami memulai acara kami dalam bentuk berdialog, yang tempatnya dilaksanakan di Laboratorium IPA SMA 3 Annuqayah. Acara tersebut dihadiri 2 orang tim obsever SCC dan kepala sekolah dari masing-masing lembaga yang ada di lingkungan Madaris 3 Annunqayah sekaligus juga dihadiri oleh dua tim SCC lainnya, yakni Tim Gula Merah dan Tim Sampah Plastik.

Sebagai pembuka, pertama terlebih dahulu kami saling memperkenalkan diri agar saling mengenal satu sama lain dan juga agar dapat memperkuat tali silaturrohim. Selanjutnya, salah satu di antara Tim Pupuk Organik menjelaskan sedikit tentang kegiatan proyek kami. Di antaranya kami menjelaskan mengapa kami memilih limbah pertanian khususnya jerami untuk dijadikan sebagai pupuk organik. Sesudah kami menjelaskan, kedua tim observer SCC tersebut ingin melihat bukti-bukti kegiatan kami dan ingin melihat lahan kami yang akan dijadikan tempat percobaan dari hasil pembuatan pupuk kami.

Tapi sebelum pergi ke lahan tersebut, terlebih dahulu kami mengantarkannya ke tempat pembuatan pupuk kami dan sekaligus menunjukkan hasil dari pembuatan pupuk kami itu. Kami juga memperlihatkan bukti-bukti kegiatan kami ini dalam bentuk foto. Sesudah itu kami mengantarkannya ke lahan kami di lahan milik K.H. Ahmad Hazim, salah seorang guru SMA 3 Annuqayah. Setelah itu, kami juga mengantarkan tim observer ke Green House yang juga akan dijadikan tempat eksprimen hasil dari pupuk kami. Setelah dari Green House, kami semua langsung menuju ke ruang Laboratorium IPA kembali untuk makan-makan bersama. Kebetulan menunya hasil dari buatan Tim Gula Merah yang terdiri dari tattabun dan jubete, sedangkan minumannya terdiri dari la’ang dan poka’—semuanya berbahan gula merah.

Sekitar pukul 10.00 WIB kami berangkat ke dua daerah untuk melihat langsung hasil tanam para petani yang selama ini memakai pupuk organik. Pertama yang kami kunjungi yaitu ke Desa Bragung dulu. Kebetulan lahan tersebut milik Bapak Mahmudi sendiri selaku pembimbing kami (Tim Pupuk Organik). Selama 2 tahun ini beliau sudah memakai pupuk organik dan ternyata hasilnya lebih bagus dari pada memakai pupuk kimia.

Selanjutnya kami langsung menuju ke Desa Berekas Deje yang bertempat di dhelemnya K.H. Masyhuda, salah seorang guru SMA 3 Annuqayah. Kebetualan di sana yang selama ini memakai pupuk organik adalah Nyi. Zulfa, putri dari beliau sendiri. Setelah sampai di sana, kami masih duduk sebentar untuk menghilangkan rasa lelah kami. Kemudian kami diajak oleh beliau untuk melihat langsung hasil tanam beliau yang selama ini memakai pupuk organik dan setelah dilihat langsung ternyata hasilnya lebih bagus dari pada yang memakai pupuk kimia. Tapi sebelum beliau memakai pupuk organik, beliau memakai pupuk kimia dengan menggunakan lahan yang lain hanya untuk sebagai perbandingan, lebih bagus yang mana antara memakai pupuk kimia dengan memakai pupk organik. Dan setelah dilihat langsung ternyata hasilnya lebih bagus yang memakai pupuk organik dibandingkan dengan memakai pupuk kimia.

Kunjungan kami ke dua tempat itu bersama tim observer SCC berakhir sekitar pukul 14.00 WIB. Kami langsung kembali ke sekolah. Setelah sampai di sekolah, ternyata tim observer SCC langsung minta izin kepada kami untuk pulang, karena mereka masih ada tugas lain yang harus diselesaikan.

08 Juni 2009

The Use of Agricultural Waste as an Organic Fertilizer


Organic Fertilizer Team School Climate Challenge Competition
SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Indonesia


The majority of Madura people are farmer. In recent time, they use to fertilize their land by chemical fertilizer. They threw away agricultural waste that can be used as a basic material for organic fertilizer. In other side, their dependencies to chemical fertilizer gave economical and environmental effects. Few months ago, the price of chemical fertilizer was expensive—apart from a complex problem of distribution among the farmers—and it was hard to be found. In fact, the chemical fertilizer also degrades the quality of soil and could bring a loss for the farmers.

From this background of situation, we set up a series of activities in a climate challenge project—namely “The Use of Agricultural Waste as an Organic Fertilizer”—so that the farmers especially in Madura utilize the agricultural waste as an organic fertilizer to support their work. Actually, traditional farmers in Madura in past time make use of any organic materials as a fertilizer. But the shift of paradigm in the farmers’ mind pulled out their environmental awareness.

For about four months, we had managed some environmental programs and activities to achieve this objective. Those programs include socialization in several school communities and people association around Sumenep district to promote the use of agricultural waste as an organic fertilizer. This program aimed to spread out information and environmental awareness among people.

Our other main activity in this project is production of organic fertilizer with straw as a basic material. In this process of production, students learned and had scientific experiment that could be a valuable experience for them. During this project, our team had done two experiments/productions in our school. The organic fertilizer that we produced had already tested in our laboratory, and the result is positive.

Responses from school communities and people were very good. They not only supported our project, but they also stated that they want to make the same project in their communities. Such statement appeared in the socializations and exhibition that we had held. Based on this fact, we planned to have assistances more intensely to farmers to produce and use organic fertilizer with straw as a basic material.

Another support from our project came from mass media. Radar Madura, popular local newspaper in Madura, wrote about our activities at two editions. Beside that, Madura Channel and TVRI also came into our school and broadcasted our project.

(Summary of Project for School Climate Challenge Competition British Council Indonesia 2009)

07 Juni 2009

TVRI dan Madura Channel Meliput Kegiatan Tim Pupuk Organik SCC SMA 3 Annuqayah

Siti Mailah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Sosialisasi Tim Pupuk Organik School Climate Challenge Competition British Council

Pada hari Sabtu 6 Juni 2009 kemarin, kami Tim Pupuk Organik School Climate Challenge Competition British Council SMA 3 Annuqayah kedatangan tamu dari stasiun TV Madura Channel dan juga TVRI. Mereka hendak meliput kegiatan kami, yakni membuat pupuk organik dari limbah pertanian.

Kami sempat bingung, karena saat tim liputan Madura Channel dan TVRI tiba di SMA 3 Annuqayah, salah satu guru pembimbing kami masih ada kegiatan di rumah dan harus dijemput. Tapi, setelah pembimbing kami datang, kami sangat senang karena peliputan tersebut dapat berlangsung dengan lancar.

Mereka melihat dan meninjau langsung ke tempat pembuatan pupuk organik kami di utara Laboratorium IPA. Mereka meminta kami untuk melakukan praktik langsung bagaimana cara membuat pupuk organik dari jerami. Alhamdulillah segala bahan yang diperlukan tersedia, sisa dari kegiatan pameran kemarin. Setelah praktik tersebut selesai, mereka mewawancarai salah satu guru pembimbing dan anggota tim kami.

Kami tim pupuk organik merasa bangga, dengan kedatangan stasiun TV Madura Channel dan TVRI. Kami merasa semakin optimis dan bersemangat untuk terus mensosialisasikan kegiatan dan produk pupuk kami, karena dengan begitu jaringan kami semakin luas. Tujuan utama kami adalah untuk menyadarkan masyarakat tentang bahaya pupuk kimia dan masyarakat bisa mengurangi pemakaian pupuk kimia seoptimal mungkin. Kita harus mendorong masyarakat untuk mengolah limbah pertanian untuk dijadikan pupuk organik.

06 Juni 2009

Conservation of Javanese Sugar (Siwalan Tree): Local Solution for Climate Challenge


Javanese Sugar Team School Climate Challenge Competition
SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Indonesia


Siwalan tree (Borassus flabellifer) is one of a local species in Madura. Madura people take advantage of it for many functions. The leaves used for making mats, bucket, etc, and the wood used as a building material. Siwalan tree also supplies a kind of sugar namely Javanese sugar (gula merah, gula Jawa). These products become as an income and financial support for some Madura people. Meanwhile, in recent time, Javanese sugar was starting to be isolated. As a result, people’s appreciation to siwalan tree degraded, and the further impact was logging of siwalan tree.

From this background of situation, we set up a series of activities in a climate challenge project—namely “Conservation of Javanese Sugar (Siwalan Tree): Local Solution for Climate Challenge”—so that Madura people have a positive appreciation to the siwalan tree and Javanese sugar. Conservation of siwalan tree had a broad impact—not only about environmental and economics purpose, but also cultural aspect. Madura people have many traditional food used Javanese sugar as an ingredient.

For about four months, we had managed some environmental programs and activities to achieve this objective. Those programs include socialization in several school communities and people association around Sumenep district to promote the use of Javanese sugar and to stop logging activities. Socialization held not only by sharing and discussing this issue with people and students. As a concrete action, our team used to provide tradisional food used Javanese sugar as an ingredient in our school activities. We also collected many recipes for this kind of food and in the exhibitions we had very good appreciations from people and students. By these activities, we have been spreading out environmental awareness through conservation of siwalan tree issue.

Our other important activity in this project is field research about the problem of this effort of conservation. We had done two field research in two villages, Cecce’ (Aeng Panas) Pragaan and Banuaju Batang-Batang. These two villages are the center of producer of Javanese sugar. Many valuable information and experiences we’ve got in these observations. We also tried to convey environmental messages to the people in these researches.

To assure sustainability of this project, we planned to recruit new cadres in our school, organize capacity building for our team and community, develop educational network on environmental issues in Sumenep, and develop this issue with another important problem concerning local food and plantation.

(Summary of Project for School Climate Challenge Competition British Council Indonesia 2009)

05 Juni 2009

Uji Laboratorium Pupuk Organik dari Jerami

Anisah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Riset Tim Pupuk Organik School Climate Challenge Competition British Council

Kepedulian kami terhadap lingkungan apalagi terhadap limbah pertanian tidak berhenti setelah lomba School Climate Challenge British Council selesai. Meskipun lomba tersebut sudah berakhir, tapi di hari Rabu (3/6) kemarin, kami Tim Pupuk Organik masih sempat untuk melakukan penelitian meskipun di waktu itu kami sibuk dengan mengerjakan laporan akhir lomba tersebut.

Kami meneliti pupuk organik yang kami buat karena kami ingin mengetahui, apakah pupuk organik buatan kami itu sudah berhasil apa tidak? Kami mengujinya dengan memakai termometer untuk mengukur suhunya dan memakai alat seperti kertas untuk mengukur berapa pHnya. Jika hasilnya positif, berarti pupuk buatan kami sudah berhasil.

Kami melakukan pengujian itu di Laboratorium IPA SMA 3 Annuqayah. Kami meneliti pupuk buatan kami tersebut bersama tiga siswa dan guru pembimbing kami, Bekti Utami. Ternyata, pH dari pupuk yang kami teliti 8, sedangkan suhunya 45 derajat celcius, dan itu menunjukkan bahwa pupuk kami berhasil.

Hari itu merupakan hari bahagia bagi kami. Selain percobaan kami berhasil, ternyata kegiatan kami juga dimuat di media cetak, Radar Madura.

Sesudah penelitian, kami langsung rujak bersama dengan tim SCC yang lainnya. Dan hal itu merupakan sesuatu yang tidak pernah kami lupakan.

03 Juni 2009

Dengan Kreativitas, Sampah-Sampah Plastik itu Tak Terbuang Begitu Saja


Sulhatus Sayyidah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Desain Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council

Sampah-sampah plastik yang terkumpul di Markas Tim Proyek SCC berasal dari berbagai tempat di sekitar kami, seperti dari pengelola warung/kantin/pusat belanja, dari kelas-kelas di lingkungan Madaris 3 Annuqayah, hasil memulung dari TPA (20 Maret lalu), pondok sekitar sekolah, dari guru, dan sebagainya.

Ketika kami mengunjungi salah satu toko di lingkungan Annuqayah, Raihan, salah satu penjaga Toko Mubarok Annuqayah, menawarkan sampah plastiknya yang sengaja dikumpulkan untuk kami buat kerajinan. Mereka semangat untuk mengumpulkan sampah plastiknya. Akan tetapi kami tidak bisa mengambilnya secara rutin. Karena untuk menuju toko Mubarok, kami harus mendapatkan izin dari pengasuh. Selain dari Toko Mubarok, kami juga mendapatkan sampah plastik dari Toko Yayasan Annuqayah.

Rumah tangga sekitar sekolah juga ikut berperan dalam penyediaan sampah plastik di tim kami. Bungkus minyak goreng dan deterjen merupakan salah satu dari sampah rumah tangga yang mereka sumbangkan. Kami tidak secara langsung mendatangi mereka. Tapi mereka sendiri yang berinisiatif, menawarkan, dan mengantarkan langsung pada kami karena bagi mereka daripada dibuang dan menjadi sampah yang mengotori lingkungan lebih baik dimanfaatkan ulang menjadi benda unik dan gaul.

Jam istirahat di sekolah biasa digunakan guru-guru di sekolah kami untuk berkunjung ke markas (bengkel kerja) kami. Karena pada jam-jam istirahat, kami selalu meluangkan waktu untuk sekadar menyapu, menggunting plastik, ataupun menjahit. Kedatangan mereka ke markas kami tak hanya berkunjung saja, tapi juga kadang sambil membawa sampah plastik dari rumahnya. Mayoritas sampah yang mereka bawa adalah bungkus sabun cuci dan makanan ringan.

Pondok di sekitar sekolah juga menjadi target kami. Siti Mailah, koordinator Seksi Kebersihan PP Annuqayah Karang Jati Putri, ikut membantu kami dalam mengumpulkan sampah plastik. Kebetulan dia juga terlibat di proyek SCC, yakni di Tim Pupuk Organik. Sebelum mengantarkan ke Markas, biasanya ia terlebih dahulu memilah sampah-sampah yang sekiranya masih bisa dimafaatkan ulang. Terdapat aneka ragam plastik yang ia kumpulkan. Mulai dari bungkus permen, sabun cuci, pasta gigi, bahkan bungkus pembalut pun ia kumpulkan.

Dari berbagai sumber itulah, sampah-sampah plastik tersebut kami olah menjadi kriya kerajinan, seperti tas, dan sebagainya. Produksi pertama dimulai sejak 7 April 2009. Target produksi dalam program kami ini mengalami keterlambatan, karena markas (bengkel kerja) yang semula diprioritaskan akan rampung pada pertengahan Maret, ternyata tidak selesai.

Sambil menunggu renovasi usai, kami hanya bisa mempersiapkan alat dan bahan produksi. Setelah sekian hari menunggu rampungnya markas, pada 29 Maret 2009 kami bahu-membahu membersihkan maskas yang berukuran 3,5 m persegi tersebut. Dua buah Mesin, 5 kardus sampah plastik yang telah dicuci, dan alat-alat menjahit lainnya yang semula disimpan di rumah salah satu guru SMA 3 Annuqayah kami pindah ke markas. Tuhan kembali menguji kesabaran kami. Belum sempat memproduksi sebuah tas pun, ternyata salah satu mesin yang akan langsung kami gunakan rusak dan 1 mesin jahit lainnya butuh perbaikan ulang.

Tas pertama produksi kami adalah tas yang dibuat dari bungkus permes KIS, dengan desain yang sangat sederhana. Terus semangat dan berusaha merupakan salah satu usaha kami untuk memproduksi tas yang lebih indah dan baik agar dapat mengurangi angka pertambahan sampah yang terus melonjak. Walaupun hanya dengan 1 buah mesin jahit yang tak sempurna itu kami bisa memproduksi tas kedua, yang dibuat dari bungkus makanan ringan Serena Snack. Hasilnya bisa dibilang lebih baik dari sebelumnya.

Akhirnya, pada hari Ahad, 12 April 2009, kedua mesin bermasalah tersebut diperbaiki pada salah seorang tetangga di sekolah kami yang ahli, yakni Bapak Ismail. Berkat bantuannya, akhirnya kami bisa berkreasi kembali.

Jam istirahat sekolah merupakan waktu yang sangat berguna untuk kami. Selain bisa memproduksi tas, kami juga bisa membimbing siswa yang berminat untuk belajar menjahit. Tidak hanya siswa SMA, siswa MTs pun tak segan untuk belajar menjahit di markas kami.

Selain itu kami mendapat pinjaman sebuah mesin jahit dari salah satu rumah tangga di sekitar sekolah yang kebetulan tidak termanfaatkan. Hal ini sangat membantu proses berjalannya kegiatan produksi.

Dalam perjalanan produksi, sempat ada seorang guru dari sekolah lain di lingkungan Annuqayah, yakni dari Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putra, yang ikut menyumbangkan sampah plastik untuk diolah menjadi tas. Bahkan dia menyatakan keinginannya untuk menjalin kerja sama: dia memasok sampah plastik, kami membuat tas, dan kemudian dijual dengan harga tertentu.

Dalam jangka waktu 52 hari, yakni hingga akhir Mei, kami berhasil membuat 18 tas, 4 tempat pencil, 2 tempat laptop, dan 1 dompet. Tentu saja, tas-tas dan hasil karya yang lain bukan tujuan utama kami. Ini hanya alat saja, untuk mengingatkan bahwa sampah plastik bisa dimanfaatkan, karena jika tidak, ia bisa membahayakan lingkungan kita.

02 Juni 2009

Pameran Kreativitas untuk Masa Depan Bumi yang Hijau

M Mushthafa, guru SMA 3 Annuqayah, fasilitator/pendamping Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council SMA 3 Annuqayah

Ahad (31/5) kemarin, tiga proyek kegiatan School Climate Challenge (SCC) Competition British Council SMA 3 Annuqayah mengadakan perhelatan penutupan dan pameran kegiatan. Acara intinya adalah presentasi perjalanan dan pencapaian masing-masing proyek kegiatan yang telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan, tepatnya dimulai dari sekitar pertengahan Februari hingga akhir Mei kemarin.
Masing-masing tim yang mengikuti kompetisi tingkat nasional ini terdiri dari lima orang guru dan siswa. Ketiga tim itu adalah Tim Sampah Plastik (satu guru empat siswa), Tim Gula Merah (dua guru tiga siswa), dan Tim Pupuk Organik (dua guru tiga siswa). Mereka bekerja dengan didukung oleh siswa-siswa yang lain di luar anggota tim inti. Demikian pula, kegiatan penutupan kemarin melibatkan panitia teknis di luar anggota tim inti.
Anak-anak berupaya untuk menyajikan dan mengemas acara ini dengan unik dan menarik. Dengan kata lain, momentum acara ini dijadikan sebagai ajang penumpahan kreativitas berbagai potensi yang dimiliki siswa di SMA 3 Annuqayah. Karena itu, mulai dari desain undangan, anak-anak sudah mulai menampilkan satu terobosan kreasi yang cukup menendang. Undangan untuk acara ini dibuat dari bahan kardus bekas dan dihias secara manual dengan krayon dan pernak-pernik lainnya. Teks undangannya pun tak biasa. Selain dilipat sedemikian rupa sehingga menjadi unik, teks undangan terkesan ditempel di atas koran yang memuat berita tentang isu-isu lingkungan. Panitia mengerjakan undangan yang dibuat sebanyak lebih dari 150 eksemplar ini selama dua hari dengan mengerahkan tak kurang dari 10 siswa yang dipandang memiliki cita rasa seni yang baik.
Demikian pula, Paduan Suara Madaris 3 Annuqayah (Paramarta) dalam kegiatan ini tampil dengan lagu himne dan mars Madaris 3 Annuqayah, ditambah dengan satu lagu spesial bertema lingkungan yang dicipta oleh Muhammad Affan, guru Pendidikan Seni di SMA 3 Annuqayah. Paramarta berlatih dan mempersiapkan untuk acara ini selama kurang lebih tiga hari.
Selain itu, tata panggung dan setting tempat pameran dirancang oleh tim yang bertugas dengan cukup unik pula. Ketiga tim secara simbolis hadir dalam ornamen dan dekorasi yang dibuat anak-anak. Panggung, misalnya, dihias dengan daun dan buah siwalan, dan di bagian dasarnya diberi tumpukan jerami. Sementara itu, huruf yang dibuat dekorasi di panggung dibuat dari sampah plastik, dan di bagian bawah dihias dengan jerami sehingga dari kejauhan mengesankan seperti rumput yang membentang.
Tak hanya panggung, ketiga stan pameran masing-masing tim juga memperkuat simbol-simbol proyek yang dikerjakannya. Foto-foto dan berita kegiatan yang ditempel di masing-masing stan dipasang sedemikian rupa dengan menggunakan atau berhiaskan unsur sampah plastik, siwalan, dan jerami.
Khusus untuk kreasi penataan panggung, tempat, dan kelengkapan acara, saya terasa kurang jika hanya memberi panitia dua jempol!
Alur acara kemarin sebenarnya cukup sederhana. Seremoni acara dimulai tepat pukul 09.15 WIB, sebagaimana telah dirancang sebelumnya oleh panitia. Sebelum itu, para tamu undangan yang tiba di tempat dipersilakan untuk berkunjung ke tiga stan tim proyek untuk melihat dokumentasi dan hasil kegiatan mereka. Di stan mereka dilayani oleh masing-masing anggota tim yang siap memberi penjelasan terperinci tentang segala sesuatu berkaitan dengan perjalanan proyek tim.
Kabid Dikmen Diknas Sumenep, M. Sudirman, yang datang cukup awal, bersama beberapa pejabat lain, seperti Camat Guluk-Guluk dan perwakilan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumenep, tampak antusias menyaksikan kreativitas anak-anak. Pak Ya’kub dan Pak Nasir, pimpinan SMA 3 Annuqayah, menemani mereka berkeliling stan. Sebagai bekal awal, panitia memberikan laporan singkat ketiga tim yang sudah ditulis dan digandakan kepada mereka.
Perwakilan dari BLH bahkan tampak tertarik dengan tulisan-tulisan anak-anak tim yang cukup banyak menceritakan berbagai aktivitas mereka selama tiga bulan. Dia menyatakan minatnya untuk meminta kopi tulisan anak-anak.
Acara seremoni sebelum presentasi berlangsung sekitar 45 menit, sehingga presentasi dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Saya sebagai koordinator guru pendamping SCC memandu sesi ini. Sebelum mempersilakan semua anggota tim untuk naik ke panggung dan presentasi, saya memberi pengantar singkat tentang masalah tantangan perubahan iklim dan bagaimana ketiga tim ini berupaya memberi solusi. Tentang konteks lomba, saya sudah menyampaikannya saat memberi kata sambutan.
Saya sempat khawatir dengan sesi presentasi ini, karena anak-anak tidak punya waktu yang cukup untuk membuat persiapan khusus dan berlatih presentasi. Mereka juga sibuk menyiapkan stan dan persiapan teknis lainnya sehingga mereka hanya sempat menyiapkan laporan singkat tertulis 2-3 lembar saja. Memang, mereka telah cukup terbiasa presentasi dalam kegiatan sosialisasi di masing-masing proyek di berbagai tempat. Tapi di acara ini hadir para pejabat dan pimpinan-pimpinan lembaga, dan acaranya cukup besar.
Presentasi dimulai dari Tim Sampah Plastik. Saat mulai presentasi, saya dapat menangkap sedikit perasaan tegang dan kurang lepas dalam diri mereka, sehingga mereka kurang bisa berimprovisasi dan agak mengandalkan catatan yang mereka buat. Anak-anak, terutama dari kedua tim lain, tampak dapat menangkap kegelisahan saya. Dan untung, dua tim yang lain dapat lebih lepas mempresentasikan kegiatan proyek mereka. Bahkan, Tim Gula Merah ada yang presentasi dengan bahasa Inggris sekitar tiga menit.
Alhamdulillah, Tim Pupuk Organik dapat menampilkan presentasi yang sangat lepas dan cukup mengalir. Mereka tampak nothing to lose. Sesekali dicampur dengan bahasa Madura dan bumbu guyon, sehingga para hadirin senyum-senyum dan tertawa kecil.
Presentasi masing-masing tim diiringi dengan slide gambar-gambar kegiatan yang sudah disiapkan sebelumnya dan dikendalikan dari laptop di depan saya. Meski tidak tampak sangat jelas karena terik matahari yang cukup menyengat, gambar-gambar itu juga membantu melengkapi presentasi anak-anak.
Presentasi berlangsung sekitar hampir satu jam. Begitu selesai, saya mengambil alih kendali acara dan mencoba memancing hadirin untuk menanggapi perjalanan kegiatan semua proyek, dan terutama mengenai rencana tindak lanjut yang dirancang.
Empat penanggap pertama adalah “para pembesar”. Dimulai dari Pak Rahem (Camat Guluk-Guluk), Pak Dirman (Diknas Sumenep), Pak Ya’kub (Kepala SMA 3 Annuqayah), dan terakhir H.A. Pandji Taufiq, tokoh lingkungan dan aktivitas sosial yang kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Annuqayah.
Pak Camat memberi tanggapan yang cukup panjang lebar. Dia menanggapi satu persatu untuk tiga tim. Secara umum, perspektifnya memang tampak kental sebagai birokrat. Dia, misalnya, mengingatkan bahwa ada instansi-instansi pemerintah yang bisa dimintai partisipasi dalam kegiatan masing-masing tim. Kepada masing-masing tim dia memberi masukan khusus. Untuk Tim Sampah Plastik, dia bertanya: yang mana kegiatan daur ulangnya. Untuk Tim Pupuk Organik, dia menanyakan apakah pupuk organiknya sudah diuji coba digunakan untuk tanaman tertentu. Untuk Tim Gula Merah, dia mengkritik mengapa memilih pohon siwalan dan bukan pohon kelapa. Sementara potensi di Kecamatan Guluk-Guluk lebih banyak pohon kelapa. Pak Camat juga mempertanyakan keterlibatan siswa yang lain di luar tim proyek ini.
Pak Dirman dari Diknas Sumenep lebih banyak menekankan pada soal keberlanjutan kegiatan ini ke depan. Sedang Pak Ya’kub, Kepala SMA 3 Annuqayah, secara retoris menambahkan soal kegiatan tiga proyek ini yang tak menggunakan uang dari sekolah. Tampaknya Pak Ya’kub ingin menunjukkan bahwa kegiatan tanpa uang pun bisa terlaksana, dan bahwa anak-anak bisa mandiri menyiasati hal semacam itu.
Pak Panji, yang menjadi penanggap terakhir di sesi pertama, menggarisbawahi komentar retoris Pak Ya’kub: bahwa yang paling penting itu semangat dan kerja keras, bukan uang. Selain itu, Pak Panji juga mengapresiasi kegiatan ketiga tim proyek ini dengan sangat positif, terutama dalam menginspirasi kita semua, baik sebagai individu, kepala keluarga, pimpinan lembaga pendidikan, instansi pemerintah, dan sebagainya, untuk peduli dan melek dengan masalah-masalah lingkungan di sekitar kita. “Jika anak-anak SMA 3 Annuqayah ini bisa berbuat sesuatu untuk menyebarkan kepedulian lingkungan dengan terutama hanya bermodal semangat, mestinya lembaga pendidikan yang lain juga bisa melakukan hal serupa,” tegasnya.
Pak Panji memberi penekanan-penekanan substantif atas kegiatan ketiga tim proyek ini, sehingga beberapa tampak dapat menjawab pertanyaan dari penanggap sebelumnya. Selain itu, Pak Panji juga memberikan gambaran tentang tantangan masalah-masalah lingkungan di sekitar kita yang membutuhkan kepedulian. “Di Kabupaten Sumenep saja, urusan sampah masih belum menjadi prioritas, sehingga kota Sumenep saja sampai sekarang belum punya TPA yang resmi. Demikian juga, di Annuqayah, yang dihuni oleh sekitar enam ribu pelajar, yang menurut perhitungan kasar saya setiap hari bisa ‘menghasilkan’ sampah sekitar 2 ton, masalah sampah belum menjadi prioritas,” tegasnya.
Alhamdulillah, anak-anak dapat menanggapi keempat tanggapan ini dengan baik. Soal dukungan dana, anak-anak menceritakan bagaimana mereka di antaranya mendapatkan dukungan dari luar atas dasar capaian kegiatan peduli lingkungan yang sudah dilaksanakan sebelumnya, sehingga untuk kegiatan ini pendanaan proyek sama sekali bukan dari kas sekolah. Untuk dicatat, organ peduli lingkungan di SMA 3 Annuqayah terbentuk pada 2006 lalu, dengan nama Duta Lingkungan, yang kemudian disusul dengan Pemulung Sampah Gaul (PSG) pada April 2008, yang fokus pada penanganan sampah plastik. Selain itu, dalam beberapa kegiatan proyek, tim mendapatkan dukungan finansial dari mitra mereka di lapangan. Saat tampil mengudara di Ganding FM 104.10, misalnya, anak-anak justru mendapat ganti transportasi dan bahkan uang saku. Demikian juga, saat ke Madrasah Aliyah Nasy’atul Muta’allimin Gapura, anak-anak juga mendapat ganti transportasi. Bagi kami, hal ini menunjukkan bahwa dua mitra lembaga tersebut menunjukkan kepedulian, dukungan, dan komitmen yang sama atas kegiatan kami. Ini semakin jelas saat seusai acara penutupan Ahad kemarin, Ganding FM menyiarkan ulang sesi presentasi anak-anak di gelombang radio mereka.
Keterlibatan dan dukungan komunitas lain, termasuk di lingkungan SMA 3 Annuqayah, juga dijelaskan cukup panjang lebar oleh anak-anak. Saat beraktivitas, ketiga tim tak bekerja sendiri, tapi juga didukung oleh siswa yang lain di sekolah. Secara khusus, tim memang berupaya untuk mendorong keterlibatan siswa secara lebih luas. Tim Gula Merah, misalnya, saat bersosialisasi tentang gula merah di sekolah juga meminta partisipasi siswa yang lain untuk menyumbangkan menu makanan tradisional berbahan gula merah untuk didokumentasikan. Demikian juga, Tim Sampah Plastik meminta siswa untuk juga meletakkan sampah plastik di sekolah di tempat khusus untuk diolah menjadi kriya kreatif.
Keberlanjutan masing-masing proyek menjadi tantangan tersendiri yang juga ditanggapi oleh ketiga tim. Pada sesi kedua, salah seorang guru pendamping, Mus’idah Amien (pendamping Tim Gula Merah) mengemukakan komentar menarik. “Kami tidak ingin menjadi lelaki mata keranjang. Kami akan terus konsisten mengerjakan dan mengembangkan proyek kami masing-masing agar dapat lebih baik,” tuturnya, yang disambut dengan tepuk tangan meriah.
Pada sesi kedua, penanggap semua berasal dari sekolah. Tim SCC Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putri juga berbagi pengalaman tentang kegiatan mereka. Beberapa pertanyaan bersifat agak teknis. Dan semuanya ditanggapi dengan baik oleh ketiga tim.
Presentasi diakhiri pada pukul 12.10 WIB. Setelah ditutup dengan doa, para hadirin kembali dipersilakan untuk kembali menyaksikan stan pameran. Kali ini, stan Tim Gula Merah telah dilengkapi dengan dua puluh empat macam makanan tradisional berbahan gula merah yang langsung diserbu oleh pada undangan. Para pengunjung tak hanya datang untuk mencicipi makanan tradisional itu, tapi juga ada yang bertanya resep dan cara pembuatannya.
Stan Tim Pupuk Organik dan Sampah Plastik juga ramai dikunjungi undangan. Ada yang langsung berbincang dengan tim yang bersiap di stan masing-masing, dan ada pula yang melihat-lihat foto dan arsip berita yang ditulis anak-anak. Tim Sampah Plastik kemarin juga menjual produk tas yang berhasil dibuat, dan beberapa produk sempat laku terjual. “Harganya masih agak mahal,” kata salah seorang pengunjung yang tampak ngebet untuk membeli salah satu produk.
Secara spontan, Mus’idah, salah satu guru pendamping proyek SCC, menyiarkan acara ini lewat pengeras suara sambil meminta komentar dan kesan beberapa tamu undangan. Menjelang pukul satu siang, pada undangan meninggalkan tempat acara satu persatu. Sebelum meninggalkan tempat, banyak di antara mereka yang menuliskan kesan-kesannya di lembaran yang disediakan panitia dan diserahkan saat mereka baru tiba.
Setelah acara benar-benar selesai, panitia dan seluruh tim proyek SCC mengadakan rapat evaluasi singkat, dan juga menyinggung persiapan penyusunan laporan lengkap kegiatan SCC untuk dikirimkan ke British Council Jakarta. Tentu saja, anak-anak dari ketiga tim pada khususnya merasa lega karena acara penutupan dan pameran kegiatan SCC ini dapat berlangsung dengan sukses. Kerja keras dan tenaga yang terkuras beberapa hari ini yang sempat membuat kami kadang lupa makan tampak impas terbayar. Alhamdulillah.

Dikutip dari: http://rindupulang.blogspot.com/2009/06/pameran-kreativitas-untuk-masa-depan.html

01 Juni 2009

Percobaan Pembuatan Pupuk Organik yang Kedua


Khoyyimah, siswi XA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Produksi Tim Pupuk Organik School Climate Challenge Competition British Council

Jum’at (29/5) kemarin, kami, Tim Pupuk Organik SCC, melakukan pemotongan jerami dibuat percobaan pembuatan pupuk yang kedua. Kami didampingi oleh kedua guru pendamping kami, yaitu Ibu Bekti Utami dan Bapak Mahmudi—keduanya selalu setia mendampingi kami.
Kami mendapatkan jerami tersebut dari guru pendamping kami. Beliau membawa dari rumahnya. Akan tetapi, salah satu di antara teman kami yang juga ikut menyumbangkan jerami dari rumahnya. Dia juga terlibat dalam Tim Pupuk SCC.
Pada mulanya, kami agak kesulitan untuk mendapatkan alat-alat pemotongan jerami tersebut, sehingga kami berusaha mencarinya ke pondok-pondok yang ada di sekitar sekolah kami. Akhirnya kami menemukan pinjaman pisau dan gunting rumput.
Setelah pemotongan jerami tersebut hampir selesai, kami mencari pupuk kandang yang akan dicampurkan dengan jerami itu. Kami pun berusaha mencarinya dengan meminta ke tetangga dekat sekolah kami. Orang yang kami mintai pun menanyakan, pupuk kandang tersebut akan dijadikan apa. Dan kami menjelaskan bahwa pupuk kandang tersebut akan kami jadikan bahan pembuatan pupuk organik.
Dia tampak senang dan kagum, bahwa kami di sekolah tidak hanya belajar di dalam kelas saja,tapi mereka bilang bahwa sekolah kami sangat peduli dengan masyarakat yang pada saat ini memang sedang kesulitan pupuk yang semakin mahal. Dan masyarakat sangat berharap agar sekolah kami tidak berhenti setelah lomba saja, akan tetapi mereka mengharap kegiatan kami ini akan terus berlanjut sampai masyarakat menyadari agar tidak tergantung pada pupuk kimia dan dapat memanfaatkan limbah pertanian di sekitar mereka.

26 Mei 2009

Tim Gula Merah Aksi Sosialisasi ke Desa Berekas Daja

Ummul Karimah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Sosialiasi dan Promosi Tim Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council

Saat itu, tanggal 22 Mei 2009, saya dan teman-teman Tim Gula Merah menyusuri jalan setapak pelosok menuju desa Berekas Daja untuk melakukan sosialisasi ke ibu-ibu Muslimat NU. Saya mengira anggota Muslimat yang hadir hanya sedikit, tapi sekitar pukul 14.00 WIB, saat saya sampai dan menginjakkan kaki saya di depan Masjid Attarbiyah, tempat Muslimat bekumpul, mata saya terbelalak menatap kurang lebih 200 perempuan yang santai menunggu kedatangan kami. Saya pun tetap melangkah mencoba percaya diri dan tetap tegar. Sejujurnya, hati saya dag dig dug.
Tak selang berapa lama, tim kami dipersilakan duduk, dan pengasuh, yaitu Ny. Zulfa, menyerahkan mik pada kami. Ia menyambut kami dengan senyum lebar. “Selamat datang,” ujarnya pada kami. Maka Mus’idah Amin, guru pembimbing Tim Gula Merah yang ikut mendampingi sosialisasi ke tempat itu menjawab, “Senang sekali bisa hadir di tempat ini,” katanya.
Saat sosialisasi berlangsung, seluruh peserta yang hadir mengangguk-angguk. Sepertinya mereka mulai mencerna keterangan yang disampaikan oleh 2 orang anggota tim secara bergantian. Dan ternyata ini terbukti saat diakui oleh Hj. Maimunah, salah satu hadirin, bahwa ia ingin lebih damai dengan alam. Ia juga mengaku takut saat Mus’idah menyampaikan bahwa banyak desa lain yang mengalami banjir akibat penebangan pohon secara liar tanpa reboisasi. “Saya mendukung tim ini, dan ketika saya hendak mengadakan acara, saya akan menggunakan gula merah sebagai menu utama,” ungkapnya dengan mata berbinar-binar.
Sementara itu, ibu-ibu yang lain juga serempak mengatakan “Ya!” saat ditanya tentang kesiapan mereka melestarikan gula merah pohon siwalan. “Akhirnya…” pungkas Mus’idah bernafas lega.

25 Mei 2009

Jejaring Civitas Kependidikan Peduli Lingkungan

M Mushthafa, fasilitator/pendamping Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council SMA 3 Annuqayah

Hari Kamis (21/5) kemarin, sekolah tempat saya mengajar kedatangan rombongan tamu dari dua sekolah di Pamekasan berlatar pesantren. Rombongan itu terdiri dari sebelas murid dan tiga orang guru.
Kunjungan ini bermula dari sebuah pertemuan tak disengaja di sebuah acara di Bangkalan akhir bulan lalu. Saat itu, saya bersama beberapa rekan sedang menghadiri acara Sosialisasi Program Ekopesantren yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI. Di acara itu saya bertemu dengan seorang teman lama yang sekarang mengajar di sebuah sekolah di Pamekasan. Teman saya tertarik melihat tas yang saya gunakan saat itu: tas yang dibuat dari sampah plastik karya kreatif murid-murid saya di sekolah. Setelah bercerita singkat tentang riwayat dan asal-usul tas itu, teman saya menyatakan ketertarikannya untuk berkunjung ke sekolah saya membawa murid-muridnya untuk berbagi cerita tentang pengalaman bergiat di aktivitas peduli lingkungan.
Acara kunjungan kemarin berlangsung selama sekitar lebih dari tiga jam. Saat rombongan datang, saya masih sedang dalam perjalanan dari Karduluk. Mereka memang tiba lebih awal dari jadwal yang dijanjikan. Sambil menunggu kedatangan saya, rombongan melihat-lihat markas Tim Proyek Lomba School Climate Challenge (SCC) SMA 3 Annuqayah di sekolah. Secara khusus mereka melihat hasil kreasi tas yang dibuat anak-anak dari sampah plastik. Karena salah satu sekolah dari rombongan tersebut adalah SMK yang juga belajar tata busana alias jahit-menjahit, perbincangan tampak begitu nyambung. Saat mereka sedang asyik berbincang dengan Tim Sampah Plastik SCC pada khususnya, saya tiba di sekolah.
Saya langsung menuju ke teman saya yang ternyata menjabat sebagai Waka Kesiswaan di sekolahnya. Saya sempat terkejut karena teman saya yang kenal saat masih kuliah di Jogja itu ternyata membawa rekan guru lainnya yang ternyata adalah kakak angkatan saya saat Aliyah dulu. Dan ternyata teman saya ini menjabat Waka Kurikulum di sekolah yang sama. Jadilah pertemuan itu semakin hangat dengan cerita-cerita lama.
Setelah rombongan melihat-lihat markas sambil mendokumentasikan melalui kamera, mereka kemudian istirahat sejenak untuk shalat Zhuhur. Baru setelah itu acara sharing dilakukan dengan bertempat di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah.
Acara sharing berlangsung tanpa seremoni yang ketat. Setelah saya memberi pengantar singkat, saya langsung mempersilakan ketua rombongan tamu untuk memberikan kata sambutan. Ali Wasik, teman saya yang menjadi ketua rombongan itu secara ringkas memaparkan latar belakang dan tujuan kunjungan tersebut. Setelah itu, saya kemudian memaparkan secara kronologis berbagai kegiatan peduli lingkungan di sekolah saya, SMA 3 Annuqayah, dengan cukup panjang lebar, termasuk tiga Tim Proyek SCC.
Pemaparan saya dilanjutkan dengan dialog di antara semua yang hadir. Rombongan kemudian menanyakan berbagai detail kegiatan peduli lingkungan kami di sekolah. Tentu saja yang menanggapi tak hanya saya. Empat guru pendamping Tim Proyek SCC selain saya juga hadir di situ. Mereka adalah Ustadz Mahmudi, Syaiful Bahri, serta Ustadzah Mus’idah dan Bekti Utami. Hadir pula Waka Kurikulum sekolah saya, Ustadz Nasiruddin. Demikian juga, seluruh murid anggota tim juga hadir dan membagikan cerita mereka setelah sekitar tiga bulan ini bergiat di aktivitas mereka masing-masing.
Dialog berlangsung selama hampir dua jam. Sambil berdialog, kami menikmati sajian masakan tradisional kreasi murid-murid dari Tim Gula Merah SCC. Hari itu mereka memasak tiga jenis makanan berbahan gula merah: jhemblèng, bhug-ghebug, dan klepon. Rombongan pun akhirnya meninggalkan sekolah kami saat waktu Asar mulai masuk.
Selain kesempatan untuk membagikan pengalaman bergerak di kegiatan peduli lingkungan, saya melihat bahwa kegiatan semacam ini dapat menjadi cikal-bakal bagi terbentuknya jaringan civitas kependidikan peduli lingkungan. Dengan berjejaring, guru-guru dan murid-murid dapat saling berbagi pengalaman, saling mendukung, dan bekerja bersama dengan proyek mereka masing-masing.
Pikiran semacam ini memang sering muncul di benak saya terutama saat mendampingi anak-anak bersosialisasi ke sekolah atau komunitas lain di seantero Sumenep. Saya yakin, kebutuhan akan berjejaring suatu saat akan menjadi sangat penting, agar gerakan yang dilakukan dapat lebih kuat dan berdaya.
Tentu saja jejaring ini mensyaratkan adanya penguatan di masing-masing komunitas. Akan tetapi, dengan beberapa titik komunitas yang relatif sudah cukup kuat, jejaring dapat membantu menyemangati satu komunitas yang masih belum stabil kekuatannya. Apalagi, pengalaman di lapangan tentu akan menghadirkan nuansa permasalahan dan lika-liku yang berbeda. Dengan berjejaring, kesinambungan dan keberlanjutan kegiatan peduli lingkungan di satu komunitas akan mungkin untuk terus didukung oleh simpul jaringan yang dibuat. Tentu saja, sebagai sebuah gerakan, syarat utama yang diperlukan adalah konsistensi.
Menguatkan pendidikan lingkungan di sekolah dari perspektif yang lain sebenarnya juga berarti membawa kurikulum sekolah ke arah yang lebih kontekstual , membumi, dan mengakar dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat tempat murid itu berasal. Di tengah iklim pendidikan formal yang terkesan textbook dan kaku, sungguh kegiatan peduli lingkungan dengan impian akan jaringannya yang kuat akan tampak sebagai sesuatu yang sangat menarik untuk terus ditekuni.

Dikutip dari: http://rindupulang.blogspot.com/2009/05/jejaring-civitas-kependidikan-peduli.html

24 Mei 2009

Sosialisasi Tim Sampah Plastik ke Muslimat NU Barakas Daja Guluk-Guluk Sumenep


Siti Nujaimatur Ruqayyah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Data & Dokumentasi Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council

Jum'at (22/5) kemarin, program sosialisasi proyek Tim Sampah Plastik School Climate Challenge (SCC) SMA 3 Annuqayah kembali terlaksana. Sosialisasi ke Muslimat NU Barakas Daja Guluk-Guluk Sumenep ini kami laksanakan bersama tim proyek yang lain, yakni Tim Gula Merah dan Tim Pupuk Organik yang juga memiliki tujuan serupa.
Sesampainya di sana, kami tidak langsung memulai kegiatan kami. Sambil menunggu pengajian yang biasa mereka laksanakan selesai, kami disilakan duduk untuk menikmati hidangan yang disajikan.
Acara sosialisasi kemarin berlangsung sekitar dua jam. Setelah Ustadzah Mus'idah, pendamping Tim Gula Merah memperkenalkan diri kami dan menjelaskan maksud kedatangan kami, barulah kemudian acara dimulai.
Tim proyek kami mendapat giliran pertama untuk berbicara. Kebetulan saya sendiri yang ditunjuk untuk presentasi. Seperti biasa, saya memberikan informasi tentang bahaya sampah plastik dan dampak yang ditimbulkan kepada para hadirin. Acara ini dimaksudkan agar masyarakat bisa membentuk sikap peduli terhadap bahaya sampah plastik, sehingga dapat menyadari dan mengurangi penambahan sampah plastik. Namun sebelumnya saya diminta untuk menjelaskan isu global warming dan mengaitkan hal tersebut dengan berbagai bencana yang terjadi saat ini. Tampaknya masyarakat sangat antusias dengan solusi yang kami berikan, yakni memanfaatkan sampah plastik menjadi kriya yang bernilai guna.
Karena masyarakat di sana mayoritas ibu-ibu, mereka berniat akan membuat plastik untuk anak-anak mereka yang tahun depan akan masuk sekolah. Tapi sayang sekali saat itu kami tidak membawa bahan produksi yang lengkap sehingga kami tidak dapat mendampingi mereka belajar bersama membuat tas plastik. Setelah tim proyek saya selesai, kemudian dilanjutkan dengan tim proyek selanjutnya.
Acara berjalan dengan lancar. Sebelumnya saya sempat cemas begitu melihat peserta yang kurang lebih 200 orang, karena bukan hanya masyarakat, para santri Pesantren Atarbiyah pun turut hadir dalam acara tersebut. Saya merasa sosialisasi ini sangat memuaskan, entah apa karena ini merupakan sosialisasi terakhir dalam kegiatan SCC. Saya sangat lancar dalam presentasi. Apalagi melihat mimik masyarakat yang begitu serius menyimak sosialisasi ini. Perasaan canggung karena harus turun langsung kepada masyarakat yang sedikit tidaknya harus memakai bahasa Madura yang baik tidak saya rasakan. Semuanya lepas. Rupanya acara ini juga melatih saya untuk bersosialisasi dengan masyarakat secara langsung.

23 Mei 2009

Sosialisasi Pupuk Organik di Fatayat NU Ganding

Anisah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Riset Tim Pupuk Organik School Climate Challenge Competition British Council

Pada hari Kamis (21/5) kemarin, kami Tim Pupuk Organik bersosialisasi ke Fatayat NU Ganding, tepatnya di Desa Langgar Asem. Kebetulan ketua Fatayat NU Ganding tersebut juga adalah guru di Madaris 3 Annuqayah, yaitu Ny. Khodijah. Sebenarnya bukan hanya tim kami yang bersosialisasi ke tempat itu, tapi juga dari tim SCC yang lain yaitu dari Tim Sampah Plastik dan Tim Gula Merah. Kami bersosialisasi ke tempat tersebut dengan didampingi 3 guru pendamping, dan siswanya berjumlah 8 orang.
Sore hari sekitar pukul 15.00 WIB kami berangkat dari sekolah. Keberangkatan kami sangat terburu-buru karena kami masih ada tamu dari SMK dan MA Al-Mujtama’ Pamekasan. Rombongan tamu tersebut tidak bisa ditinggal karena tujuan mereka ke sekolah kami ingin belajar juga tentang kegiatan peduli lingkungan yang kami laksanakan. Setelah sampai di Ganding, ternyata acara rutin mereka sudah selesai tapi mereka tetap sabar menunggu kami dan kami disambut dengan sangat hormat dibarengi dengan senyuman yang sangat berharga bagi kami. Kemudian setelah kami dipersilakan duduk, kami langsung memulai acara kami dan yang membuka acara tersebut adalah Ibu Mus’idah selaku Waka Kesiswaan sekaligus pembimbing dari Tim Gula Merah.
Setelah panjang lebar Ibu Mus’idah menjelaskan tujuan kami, beliau sedikit memaparkan tentang pemanasan global dan setelah itu dilanjutkan oleh teman kami dari Tim Sampah Plastik yang kemudian disusul presentasi Tim Gula Merah.
Setelah itu kami mendapat giliran presentasi. Tim kami menjelaskan tentang bahayanya memakai pupuk kimia dan manfaatnya memakai pupuk organik. Sebelum kami selesai menjelaskan, para hadirin langsung tanggap karena yang kami jelaskan itu menerangkan kehidupan petani yang selama ini memakai pupuk kimia.
Kami juga menjelaskan tentang KCl (Kalium Clorida) yang mana dengan memakai KCl yang dari pabrik itu dapat memberi efek negatif pada tanaman. Sebagai ganti KCl, kami mengemukakan resep lain, yakni memakai serabut kelapa. Serabut kelapa tersebut direndam dalam air selama 4 hari 4 malam sampai air tersebut berwarna kecokelatan. Setelah itu air tersebut boleh digunakan.
Sebenarnya kami tidak bermaksud untuk menghentikan masyarakat untuk memakai pupuk kimia tapi bagaimana caranya untuk mengurangi pemakaian pupuk kimia dan memanfaatkan limbah pertanian yang ada di lingkungan desa untuk difungsikan sebagai penggembur tanaman.

Sosialisasi Bahaya Sampah Plastik di Fatayat NU Ganding


Sulhatus Sayyidah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Desain Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council

Saat itu hari Kamis (21/5). Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Ibu-Ibu Fatayat NU Langgar Asem Ganding melaksanakan acara rutin tahlil bersama.
Sore itu, 8 anggota tim lomba SCC SMA 3 Annuqayah (saya, Nujaimah, Ummul, Eka, Anis, Mailah, Khoyyimah, Yuliatin), Ibu Mus’idah (pembimbing tim Gula Merah) dan Ibu Bekti Utami (pembimbing tim Pupuk Jerami) berkunjung ke Langgar Asem Ganding Sumenep. Di teras Masjid Langgar Asem, Ibu Khadijah (ketua perkumpulan ibu-ibu Fatayat NU) beserta anggota lainnya menyambut kedatangan kami dengan senyum.
Begitu acara tahlil bersama usai, sosialisasi bahaya sampah plastik dimulai. Siti Nujaimah (salah satu anggota tim sampah) memulai sosialisasinya dengan mengenalkan apa itu pemanasan global, penyebab, dampak, serta solusi untuk menanggulanginya agar keadaan tak bertambah parah. ”Bumi telah rusak, bahkan bencana alam kerap kali bertamu ke negara kita. Berpuluh-puluh makhluk hidup menjadi korban dalam tragedi itu,” ungkapnya. Ibu-ibu fatayat mendengarkan penuturan Nujaimah dengan seksama.
Setelah berbicara tentang pemanasan global, ia melanjutkan tentang dampak sampah plastik. Setiap hari kita menghasilkan sampah, sebagian dari sampah-sampah itu adalah sampah anorganik, yang untuk memproduksinya membutuhkan bahan-bahan yang harus menguras kekayaan alam. Di antaranya, menebang pohon-pohon yang ada di hutan dan menguras minyak bumi. Tapi setelah kita gunakan, plastik akan menjadi sampah yang proses penguraiannya membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun.
Kemudian Nujaimah mempromosikan langkah-langkah sederhana dalam mengurangi terciptanya sampah plastik yang semakin membludak, serta memperlihatkan tas yang telah berhasil kami buat. Akan tetapi mereka tidak terlalu antusias pada langkah yang kami usulkan karena mayoritas pesertanya adalah petani. Respons mereka tidak seperti yang kami harapkan. Meski demikian, kami berharap tambahan informasi tentang bahaya sampah plastik untuk mereka dapat menggugah kepedulian mereka untuk mengurangi penambahan jumlah sampah plastik pada khususnya.
Setelah Tim Sampah Plastik presentasi, selanjutnya tiba giliran Tim Pupuk Jerami dan Tim Gula Merah. Sebelum Maghrib, presentasi kami selesai dan kami meninggalkan Ganding untuk kembali ke sekolah yang berjarak sekitar empat kilometer.

20 Mei 2009

Anggota Tim Sampah Plastik Mengikuti Kegiatan Pelatihan Menulis


Siti Nujaimatur Ruqayyah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Data & Dokumentasi Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council

Dua anggota Tim Sampah Plastik School Climate Challenge (SCC) SMA 3 Annuqayah (yakni saya dan Sulhatus Sayyidah) mengikuti kegiatan pelatihan menulis yang dilaksanakan oleh BPM-PPA (Biro Pengabdian Masyarakat Pondok Pesantren Annuqayah). Kegiatan ini diikuti oleh 25 orang peserta yang terdiri dari staf BPM-PPA, mitra dampingan, dan undangan khusus. Namun peserta yang hadir saat itu kurang lebih 17 orang.
Acara ini dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Acara pertama berlangsung pada hari Ahad (10/5) bertempat di Aula Madaris 3 Annuqayah. Pada pelatihan yang dimulai pukul 13.30 WIB ini kami dibimbing untuk memiliki kemampuan menulis feature sehingga dapat menuangkan pengalaman kami di kegiatan peduli lingkungan dalam tulisan yang baik.
Saya sangat menyukai acara ini. Abrari Al-Zael dari Radar Madura Biro Sumenep yang menjadi fasilitator acara tersebut sangat telaten membimbing kami. Dengan sabar dan terperinci beliau menjelaskan bagaimana cara menulis feature yang baik.
Kegiatan ini akan sangat membantu saya, karena di proyek saya sebenarnya ada kegiatan menulis berupa catatan tentang kegiatan di proyek kami yang nantinya akan digandakan menjadi buku sederhana. Nantinya buku ini akan membantu tersebarnya pengetahuan, informasi, kesadaran, dan sikap peduli terhadap lingkungan khususnya, berkaitan dengan sampah plastik terhadap masyarakat secara luas.
Kami mendapat kesempatan untuk mempraktikkan apa yang didapat dalam kegiatan ini dengan menuliskan kegiatan di proyek kami masing-masing dalam bentuk feature. Kami diberi waktu selama 1 minggu, dan tulisan kami itu kemudian akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
Ahad berikutnya, yakni tanggal 17 Mei, Abrari membahas tulisan-tulisan kami dan memberi catatan kritis agar bisa menulis lebih baik lagi.

18 Mei 2009

Pendampingan Tim Sampah Plastik SCC di MA Sumber Payung Ganding


Siti Nujaimatur Ruqayyah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Data & Dokumentasi Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council

GULUK-GULUK—Tim proyek Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council SMA 3 Annuqayah melakukan pendampingan ke MA Sumber Payung Ganding dalam rangka sosialisasi bahaya sampah plastik. Pendampingan ini kami laksanakan selama tiga kali pertemuan. Pertemuan pertama kami laksanakan pada hari Jum’at (17/4) kemarin.
Saya dan tim inti lainnya (Khazinah, Irul Nur Jannah, Sulhatus Sayyidah), tim pendukung (Muflihah, Uswatun Hasanah, Fitriyah) proyek sampah plastik didampingi oleh Ketua OSIS SMA 3 Annuqayah berangkat sekitar jelang pukul setengah delapan pagi. Kami menempuh perjalanan yang berjarak sekitar 3 km itu dengan mengendarai angkutan umum. Begitu pula M. Mushthafa, pendamping tim proyek saya, turut menyertai. Namun sayang dia tidak bisa mengikuti acara tersebut sepenuhnya. Hari itu dia mengisi acara Pelatihan Kepenulisan di MA Sumber Payung Ganding.
Sesampainya di sana OSIS MA Sumber Payung segera menyambut dan mempersilakan kami untuk memasuki ruangan yang telah tertata rapi. Para siswa pun berbondong-bondong berdatangan memasuki ruangan.
Sekitar pukul 08.00 WIB acara pembukaan dimulai dengan dipandu pembawa acara dari MA Sumber Payung setelah kami bersama-sama menyepakati tentang format acara yang akan dilaksanakan. Acara pembukaan itu kami isi dengan sambutan dari Ketua OSIS MA Sumber Payung dan Ketua OSIS dari sekolah kami. Acara itu juga diisi dengan penampilan berupa pembacaan puisi dan penampilan dari sanggar yang ada di sana. Kami sangat tertarik dengan penampilan mereka. Artinya selain sosialisasi kami juga dapat sharing bersama dengan mereka tentang kegiatan di sana.
Sosialisasi bahaya sampah plastik ini mendapatkan sambutan hangat dari siswa MA Sumber Payung Ganding. Titin Naqiyatin, Ketua OSIS MA Sumber Payung, dalam sambutannya mengatakan bahwa mereka sangat bangga dan sangat berterima kasih karena tim kami mau bekerja sama dengan mereka.
Kemudian setelah pembukaan selesai, selanjutnya acara dipasrahkan kepada kami. Dari sosialisasi ini kami berupaya untuk menumbuhkan semangat dan kepedulian mereka pada lingkungan, terutama sampah plastik. Saya juga menuturkan pengalaman kami dalam komunitas PSG (Pemulung Sampah Gaul), mulai dari proses terbentuknya PSG hingga komunitas kami ini mengikuti proyek School Climate Challenge Competition British Council.
“Kami berharap kerja sama ini dapat melahirkan komitmen cinta lingkungan di komunitas siswa Sumber Payung pada umumnya,” ucap Khazinah.
Siswa MA Sumber Payung sudah mengungkapkan keinginannya. Mereka ingin mengubah pola hidup mereka yang suka membuang sampah di sungai. Ini membuat kami merasa senang dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Kami langsung menyatakan bersedia mendampingi kegiatan cinta lingkungan di sana. Dua minggu berikutnya kami akan kembali. Kemudian kami membagi mereka menjadi empat kelompok. Mereka berjanji pada pertemuan selanjutnya akan mengumpulkan sampah plastik dan menyediakan bahan-bahan lainnya sendiri.
Setelah acara selesai, saya dan teman-teman masih menyempatkan diri untuk melihat parit di dekat komplek MA Sumber Payung, tempat yang biasa mereka gunakan sebagai TPA. Saya merasa prihatin melihat pemandangan itu. Parit terlihat jernih, tapi di dalamnya terdapat banyak tumpukan sampah.
Pertemuan kedua kami laksanakan pada hari Jum’at 1 Mei 2009. Ini adalah tindak lanjut dari sosialisasi pada pertemuan sebelumnya (17/4). Kali ini kami mendampingi siswa MA Sumber Payung belajar memanfaatkan sampah plastik. Seperti pertemuan sebelumnya, kami mengisi kegiatan ini tanpa kehadiran guru pendamping. Mungkin kami memang sengaja dilatih untuk belajar mandiri. Kami berangkat hanya berlima yakni empat anggota tim inti (saya, Khazinah, Irul Nur Jannah, Sulhatus Sayyidah) dan satu orang dari tim pendukung (Habibah).
Saat kami datang, tampak siswa MA Sumber Payung sudah menunggu-nunggu kedatangan kami. Ternyata generasi MA Sumber Payung ini benar-benar ingin segera memproduksi tas dari sampah plastik. Berbagai bahan telah mereka persiapkan. senyum saya berkembang saat melihat tumpukan sampah yang telah dikumpulkan. “Ini sampah sudah setengah bulan yang lalu saya kumpulkan,” seloroh Azkiyah, salah satu peserta yang hadir pada acara pendampingan itu. Kemudian acara dimulai tepat pukul 08.30 WIB.
Sesuai dengan arahan guru pendamping kami, bahwa sebelum praktik dimulai, acara harus diisi dengan materi tentang perubahan iklim dan cinta lingkungan pada umumnya. Namun hanya beberapa siswa saja yang tampil bertanya atau sekadar memberi tanggapan, karena mereka sudah tak sabar ingin segera beraksi. Saat acara inti akan dimulai, mereka bersorak-sorai gembira.
Pada acara inti ini kami menuntun mereka, memberikan pengenalan teknis tentang pembuatan tas dari sampah plastik. Sekitar pukul 10.30 WIB, acara itu diakhiri. Tak terasa sudah dua jam kami. Sebelum meninggalkan tempat, kami membuat kesepakatan bersama bahwa pada perjumpaan selanjutnya setiap kelompok harus membuat tas plastik minimal satu buah.
Dua pekan berikutnya, yakni 15 Mei kemarin, adalah pertemuan terakhir. Pada pertemuan ini kami isi dengan mereview dan mempertajam diskusi pada pertemuan sebelumnya. Mulai dari apa itu global warming, penyebab, dampak, dan solusi dan penanganannya agar bumi yang kita huni ini tidak bertambah rusak.
Akan tetapi tampaknya semangat mereka mulai surut. Kami merasakan hal ini sejak memasuki ruangan kelas. Ketika memasuki ruangan, ternyata tak ada seorang siswa pun di sana. Kami harus menunggu lama dalam kelas dan pesertanya pun semakin berkurang. “Awalnya kami semangat untuk mengikuti langkah yang kalian lakukan. Tapi karena kurangnya alat-alat pendukung, semangat kami kembali berkurang,” aku Srihandayani, salah satu peserta dalam sosialisasi tersebut.
Namun kami merasa lega, karena ternyata di tengah kesulitan mencari alat-alat produksi masih ada sebagian peserta yang berhasil membuat tas dan tempat pensil tanpa menggunakan mesin jahit meskipun masih belum sepenuhnya selesai. Tapi saya sempat iri karena hasil pertama mereka ini lebih baik dari hasil pertama kami saat masih menggunakan jahitan manual. Ahh... tidak apa-apa yang penting saya berhasil mengajak mereka untuk mengikuti jejak mereka.
Untuk membangun kembali semangat mereka yang telah berkurang, kami membawa mereka untuk menyelami kisah perjuangan kami. Mulai ketika komunitas kami baru berdiri, kurangnya peralatan untuk menindak lanjuti sampah plastik yang telah dipungut dari tempat sampah, minimnya dana, serta adanya keterbatasan kami dalam mendesain sebuah kerajinan. "Kami percaya bahwa kalian juga bisa terus maju," kata saya sambil menggepalkan tangan dengan mimik yang menggebu-gebu.
Sebelum mengakhiri pertemuan terakhir, kami mempersilakan seluruh peserta mengungkapkan kesan-kesannya selama mengikuti acara tersebut serta pesan untuk kami.
Tak hanya peserta yang mengungkapkan pesan dan kesannya tapi secara bergantian kami juga melakukan hal serupa. Cara ini bisa membantu kami untuk dijadikan bahan evaluasi diri kami pribadi dan sejauh mana tim kami melangkah.
Setelah berlangsung sekitar dua jam, acara ini diakhiri. Sesudah mengambil gambar untuk dokumentasi, kami segera berpamitan untuk kembali ke sekolah.

13 Mei 2009

Tim Gula Merah Sosialisasi Ke MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura, Peserta Berebut untuk Bertanya


Ummul Karimah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Sosialiasi dan Promosi Tim Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council

Sementara Tim Sampah Plastik melakukan sosialisasi ke MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura Ahad (10/5) kemarin, Tim Gula Merah juga melakukan sosialisasi di tempat yang sama. Dua orang dari satu tim yang terdiri dari 1 guru pendamping dan 1 anggota itu mensosialisasikan tentang gula merah pohon siwalan usai Tim Sampah melakukan sosialisasi bahaya sampah plastik di Aula Nasy’atul Muta’allimin Gapura.
Para peserta tampaknya tak merasa jemu meski dua sesi telah mereka lewati. Bahkan banyak dari peserta yang berebut kesempatan untuk bertanya. Salah satunya peserta yang bernama Kinnanah. Ia menampakkan respons yang sangat baik melalui raut semangat ingin tahunya terhadap masalah gula merah. “Orang tua saya juga petani gula merah, Bu,” terangnya pada Mus’idah, guru pandamping Tim Gula Merah. “Tapi saya tidak tahu bagaimana gula merah bisa maju. Sebab orang tua saya hanya memproduksinya dengan sederhana,” tambahnya dengan nada khas Gapura.
Maka Mus’idah yang saat itu menyimak keluhan dari Kin—sapaan akra Kinnanah itu—menjawab, “Mulailah dari kita. Pelajar cerdas, kaya ide, dan mampu membantu mengembalikan gula merah menjadi semakin berkualitas. Siapa tahu jika nanti gula merahmu cantik, bisa di jual di El-Malik (toko ternama di Sumenep),” paparnya. “Tentu alammu akan semakin damai, karena penebangan berkurang,” tambahnya. Kin pun berjanji diselingi dengan semangat 45 di hadapan teman-temannya untuk mencoba membuat masakan yang berbahan gula merah dan bahan pendukungnya terdapat di sekitar, yakni pangan lokal, serta ia juga mengatakan bahwa ia akan mensosialisasikan kepada masyarakat sekitarnya.
Keterangan yang disampaikan oleh tim di antaranya tentang puncak kapitalisasi di Indonesia. Bahwa sebenarnya rakyat Madura telah terjajah dari segi makanan. Juga tentang anak kecil yang masa sekarang yang sudah tidak tahu pada makanan lokal lagi. “Padahal makanan-makanan lokal tersebut dulu pernah menjadi denyut nadi para petani,” kata Mus’idah menambahkan.
Memang benar, ternyata tak hanya anak kecil saja yang sudah tak tahu pada macam-macam pangan lokal, tetapi saat peserta ditanya tentang klenteng (“anak ubi”) dan jamblem, mereka kebingungan.

12 Mei 2009

Tim Sampah Plastik Mengadakan Sosialisasi di MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura

Siti Nujaimatur Ruqayyah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Data & Dokumentasi Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council

Hari Ahad (10/5) kemarin, Tim Sampah Plastik melakukan sosialisasi di MA Nasy’atul Mutaallimin (Nasa) Gapura. Saya bersama anggota tim yang lain (Sulhatus Sayyidah, Uswatun Hasanah, Muflihah, Ummul Karimah) yang didampingi M. Mushthafa, Mus’idah Amien, K.M. Faizi, dan Ny. Makkiyah sampai di tujuan sekitar pukul 09.00 WIB. K. Dardiri, Kepala MA Nasa menyambut kedatangan kami. Seluruh siswa telah berkumpul di ruang aula, siap mengikuti acara kami. Mereka duduk lesehan berkumpul di bagian belakang.
Hingga acara dimulai saya tidak bisa menguasai diri. Dengan sekuat tenaga saya berusaha menghilangkan rasa grogi yang telah membeludak.
Sosialisasi ini diawali dengan pembukaan, yang diisi dengan sambutan oleh Ketua OSIS Nasa, Kepala MA Nasa dan pendamping proyek kami. Dalam sambutannya K. Dardiri mengharap nantinya di lembaganya juga akan muncul para siswa peduli lingkungan.
Setelah pembukaan selesai, kemudian Mus'idah, guru pendamping Tim Gula Merah yang turut menyertai kami angkat tangan, segera mengomando acara seraya langsung mengatur posisi duduk peserta. “Agar lebih kondusif sebaiknya duduknya jangan seperti ini,” ucap Mus’idah setelah acara pembukaan selesai. Dengan sekejap kondisi ruangan itu telah berubah membentuk lingkaran. “Nah kalau seperti ini kan lebih nyaman,” tambahnya dengan tersenyum.
Akhirnya acara dimulai. Rasa takut dan grogi mulai berkurang, karena dari dulu kami memang menginginkan acara yang seperti ini, tidak terlalu formal. Serasa lebih santai sehingga tidak terlalu canggung saat sosialisasi.
Kami menyampaikan materi secara bergiliran. Seperti biasa kami selalu membagi tugas. Berbagai pertanyaan atau tanggapan mereka sampaikan. Acara kali ini benar-benar berjalan aktif, sepertinya kami juga akan ikut cerdas jika selalu bersama mereka. “Semoga nantinya sekolah kami juga dapat merintis komunitas seperti ini,” ungkap Kinniyah, peserta yang sedari tadi tampaknya menggebu-gebu ingin berjuang, menyelamatkan alam dari bahaya sampah plastik. Dengan seksama seluruh peserta mendengarkan penjelasan kami. Mereka sangat tertarik hingga mereka bermaksud meminjam salah satu tas plastik kami untuk dijadikan contoh. Ternyata kami berhasil mendorong, mengajak mereka untuk mengikuti jejak kami.
Akhirnya kami dapat menarik nafas lega setelah acara ini selesai. Semuanya memang melelahkan, tapi kami tak kan pernah berhenti berlomba-lomba membela lingkungan.”Ini memang tugas kita. Sebagai khalifah di bumi kita diperintah untuk menjaga, memanfaatkan, dan bertanggungjawab terhadap titipan Tuhan ini,” pesan Uswatun Hasanah. Pesan yang sangat mulia.

10 Mei 2009

Sosialisasi Pupuk di Sentol Daja yang Penuh Tantangan

Anisah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Riset Tim Pupuk Organik School Climate Challenge Competition British Council

Desa Sentol Daja Kecamatan Pragaan Sumenep merupakan salah satu tempat sosialisasi kami yang kedua. Hari Jum’at (8/5) kemarin, dalam perjalanan, kami mengalami banyak rintangan berupa hujan yang mengguyur badan mobil kami, sehingga lorong yang kami lewati menjadi licin karena tidak beraspal. Setelah sampai di tempat tujuan, ternyata hujan masih belum juga reda sehingga kaki kami terasa berat mengangkat sepatu kami.
Kedatangan kami disambut dengan penuh hormat. Setelah kami dipersilakan masuk, ternyata tempat acara sosialisasi kami gentingnya bocor dan hal itu sungguh di luar dugaan kami. Sosialisasi tersebut dihadiri sekitar 40 orang dari Fatayat NU Sentol Daja Pragaan Sumenep dan sebagian yang lain sudah ada yang pulang, karena menurut mereka kami tidak jadi hadir karena hujan. Akan tetapi, yang lain ada yang setia menunggu kami dengan penuh rasa sabar. Meskipun seperti itu, sosialisasi kami tetap berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang kami inginkan meskipun di sana-sini ada kekurangan.
Sosialisasi kami tidak berbentuk dialog, tapi formatnya sharing bersama. Dengan adanya sharing bersama, mereka tidak begitu malu dan terbuka dengan kami. Setelah acaranya selesai, Ibu Mus’idah yang menjadi semacam moderator langsung membuka sesi pertanyaan. Akan tetapi, meskipun dibuka pertanyaan, tidak ada satu orang pun yang bertanya. Akhirnya ada seorang siswi yang merupakan anggota dari Fatayat NU Sentol Daja yang berani bertanya tentang berapa lamanya pupuk jerami yang siap untuk dipakai. Dialog pun menjadi cair dan mengalir. Bahkan ada yang dari mereka yang menyatakan ingin membeli pupuk kami, tapi kami langsung menanggapi bahwa pupuk kami tidak dijual karena kami masih dalam tahap percobaan.
Sesudah acara selesai kami tidak langsung pulang. Kami masih mampir ke rumah teman kami yang kebetulan rumah teman kami tersebut dekat dengan tempat yang kami kunjungi. Dan di sana kami diberi hidangan buah-buahan seperti pisang dan jeruk yang masih segar-segar yang mana buah jeruk tersebut baru dipetik dari pohonnya. Setelah itu tepat pukul 16.00 WIB kami langsung pulang dengan penuh kegembiraan. Padahal saat berangkat kami diliputi dengan penuh kebimbangan dan kekhawatiran. Tapi alhamdulillah pulangnya kami diberi kebahagiaan.

09 Mei 2009

Environmental Week Still Continues

M Mushthafa, teacher at SMA 3 Annuqayah, facilitator Plastic Rubbish SCC Team

Environmental week still continues. After celebrating Earth Day 2009 with several environmental activities, that are environmental workshop, live television interview, and my involvement on some activities of School Climate Challenge Competition team, the following week, I had, at least, two valuable environmental activities. On Tuesday, April 28, with SCC full team, I went to Batang-Batang, a sub-district in northeast Sumenep—Banuaju Timur, exactly.
We had two main activities in Banuaju Timur. First, socialization at SMK Bina Mandiri about plastic rubbish. Our team presented their activities on recycling plastic rubbish and discussed about climate change in front of approximately thirty students at that school. Four members of the team confidently gave their presentations. We had a very enthusiastic discussion at that time. They submitted questions, suggestions, and supports to our team. Ninety minutes had gone, and we left the school with joy.
Plastic rubbish team had done a good job. Then, gula merah (Javanese sugar) team took over the SCC team control. At midday, the team started to do a deep research on siwalan (Asian palmyra palm, Borassus flabellifer). Three students and one teacher—the other teacher could not participate this interesting research—digged all informations about gula merah and siwalan. We did the research mainly in one of villager’s house, observing the process of making gula merah closely.
But this field study was not only about gula merah or siwalan. The team tried to focus to the context of conservation of gula merah and siwalan. Of course, they connected this issue with climate change problem, and implicitly conveyed the message of building environmental awareness and promoting ecofriendly values.
Actually, this team had done a similar research at another village about a month ago—at Brungbung, Pragaan. So, the team had a comparison data as a basis of their research. However, they found another important data at this opportunity. The villagers told about widespread logging activities in their rural community. Furthermore, siwalan climbers, the key person to exploit the tree, are rare to be found. The values of siwalan trees degenerated, and this make the conservation of siwalan tree now really in danger.
Sharing and discussing with the villagers at Banuaju Timur was a fascinating chance, not only about environmental issues, but also about cultural heritage of Madura. As considered before, conserving gula merah and siwalan trees actually has a wide-ranging impact, including cultural and economic.
We left Banuaju Timur at 02.00 p.m., and drop in Gapura to visit a friend to make an appointment about socialization in his school. We also went to Pasar Anom Sumenep to buy some traditional kitchenware.
My second activity was talk show at Ganding FM 104.10 at Saturday, May 2. This talk show held to celebrate the National Education Day. I did the talk show with plastic rubbish full team. We discussed about education and our environmental activities in our school. I took that opportunity to underline contextual education on our school curriculum.
At 09.30 a.m., the talk show began. Two hours left with an interesting discussion. We also discussed with audiences from Guluk-Guluk and Ganding by phone. Some of them gave good appreciation, some of them criticized rubbish management on Annuqayah in general, and one of them seemed to underestimate our environmental activities.
We had a really precious experience that day. And we know that our environmental activities still go on.

Source: http://rindupulang.blogspot.com/2009/05/environmental-week-still-continues.html

06 Mei 2009

Tim Gula Merah Membuat Gettas

Nurul Elmi, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Tim Pendukung Tim Gula Merah School Climate Challenge British Council

GULUK-GULUK—Setelah sebelumnya sempat kurang berhasil dalam percobaan membuat jubedhe, makanan tradisional Madura berbahan gula merah, Tim Gula Merah SCC SMA 3 Annuqayah tidak merasa putus asa.
Senin (4/5) kemarin, mereka kembali melakukan praktik membuat makanan berbahan dasar gula merah. ”Praktik ini dimaksudkan untuk menambah wawasan kita tentang makanan-makanan yang terbuat dari gula merah agar kita semakin mencintai gula merah,” papar Mus’idah Amien, salah satu guru pembimbing Tim Gula Merah.
Praktik yang berlangsung di halaman Markas Tim SCC SMA 3 Annuqayah itu dimulai selepas Zhuhur, setelah anak-anak selesai bersekolah. Anggota tim tetap bersemangat walaupun mereka kekurangan peralatan dan satu anggota tim tidak bisa membantu karena sakit.
Kali ini mereka mencoba satu resep yang telah berhasil dikumpulkan, yaitu kue gettas, yang terbuat dari parutan singkong mentah yang dibulatkan lalu digoreng dan kemudian dilumuri gula merah. Uniknya, kue gettas yang mereka buat berwarna cokelat karena dilumuri dengan gula merah asli. Sementara yang umum di masyarakat berwarna putih. Itu adalah ide gila dari Ibu Mus’idah, di samping karena terbatasnya bahan yang ada. “Ini adalah ide Bu Mus, agar unik,” ungkap Eka, salah satu anggota tim.
Karena singkong yang dikupas masih banyak, Bu Mus menginstruksikan agar kami memasak singkong itu untuk dibuat tattabun—salah satu makanan yang juga berbahan gula merah. Lalu Bu Mus’idah mengajak seluruh Tim Gula Merah untuk membuat tungku agar menghemat minyak tanah dan karena kompornya memang hanya satu. Walaupun untuk menyalakan api sulitnya minta ampun, namun mereka tidak kenal putus asa hingga akhirnya guru pendamping yang lain, M. Mushthafa, membantu mereka. “Kayunya jangan terlalu banyak agar efektif dan apinya besar,” ujarnya.
Setelah diangkat dari perapian, mereka mulai menghancurkan singkong itu satu per satu. Namun karena singkong itu kurang lunak, akhirnya mereka gagal membuat tattabun.
Karena hari sudah mulai petang, mereka mengakhiri kegiatan mereka dengan makan singkong bersama yang gagal dibuat tattabun tadi dengan ditaburi parutan kelapa. Praktik membuat kue gettas itu dapat dibilang sukses dibandingkan dengan praktik pembuatan Jubedhe sebelumnya yang 90 % gagal. Bukannya menjadi Jubedhe sebagaimana yang diharapkan, malah menjadi dodol. Sebelum pulang, Tim Gula Merah berencana untuk mempersembahkan kue gettas itu kepada guru SMA keesokan harinya.