Tampilkan postingan dengan label Kutipan Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kutipan Berita. Tampilkan semua postingan
27 April 2014
DPRD Baru Diharap Peduli Literasi di Sekolah
Koran Madura, 25 April 2014
Sumenep—Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Satria Dharma berharap, anggota DPRD periode 2014-2019 mendukung pengembangan budaya literasi dengan menyediakan anggaran yang cukup untuk pengadaan buku dan pengembangan literasi. Selama ini, buku-buku bacaan yang digelontorkan ke sekolah-sekolah dinilai masih jauh dari harapan.
"Anggota dewan terpilih yang nanti segera dilantik, saya harap bisa ikut andil mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung berkembangnya budaya literasi atau baca-tulis di sekolah-sekolah," harapnya saat menjadi pembicara dalam seminar tentang penguatan jejaring literasi di sekolah yang diselenggarakan SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk, Kamis (24/4).
Menurutnya, indeks budaya literasi di Indonesia masih sangat rendah. Bahkan lebih rendah dibanding Malaysia yang dulu pernah banyak mendatangkan guru dari Indonesia. "Masyarakat kita sekarang terutama anak-anak sekolah sudah lebih banyak nonton televisi daripada membaca atau menulis. Jadi benar bila ada seorang pemerhati pendidikan mengatakan bahwa kita ini hidup di zaman dengan alat-alat yang canggih namun dengan peradaban primitif," terangnya berapi-api.
Satria juga berharap kepada sekolah dan orangtua untuk mendorong anak didiknya akrab dengan bahan bacaan. Di sekolah, para guru secara khusus harus membuat program-program yang bisa merangsang siswa gemar membaca dan menulis. "Misalnya dengan cara mewajibkan siswa membaca satu judul buku setiap minggu, atau arisan buku, atau lomba menulis," jelasnya.
Ditanya cara menyiasati minimnya anggaran di sekolah untuk pengadaan buku bacaan, Satria menyarankan beberapa hal untuk mendapatkan buku gratis. "Bisa dengan arisan buku, bisa dengan menjalin hubungan kerja sama dengan penerbit, bisa dengan program tukar baca, atau apa sajalah yang penting siswa bisa membaca dan terus terangsang untuk menulis," paparnya.
Di kabupaten Sumenep, beberapa sekolah sudah memulai program penguatan literasi. Bahkan beberapa di antaranya dilakukan dengan cara berjejaring dengan sekolah-sekolah lain. Salah satunya dilakukan oleh SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk dan MA Nasyatul Muta'allimin Gapura.
"Kita harus memulainya dari sekolah, sebab memang dari sinilah penanaman budaya literasi bangsa ini paling mungkin dilakukan. Bila di sekolah saja tidak ada budaya literasi yang kuat, bagaimana kita bisa berharap pada lingkungan di luar saja?" ujar M. Mushthafa, Kepala SMA 3 Annuqayah.
Di SMA 3 Annuqayah hsudah beberapa tahun terakhir memiliki program perpustakaan masuk kelas. Caranya, sekolah membuat literatur-literatur singkat yang disarikan atau disalin dari buku, koran dan jurnal. Selanjutnya literatur yang panjangnya hanya sekitar 3000 hingga 5000 karakter itu diserahkan kepada siswa untuk dibaca setiap hari selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
Sementara di kecamatan Gapura, MA Nasyatul Muta'allimin menggagas sebuah perkumpulan dengan sekolah-sekolah di sekitarnya. Anggotanya berjumlah 13 madrasah aliyah. "Ini semacam forum sharing yang kita isi dengan kegiatan dan diskusi yang lebih menitikberatkan pada upaya nyata meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah," terang A. Dardiri Zubairi, Kepala MA Nasyatul Muta'allimin Gapura.
Pria yang juga Sekretaris Tanfidziah PCNU Sumenep ini berharap upaya penanaman budaya literasi ini mendapat dukungan dari pada pengambil kebijakan. Sehingga apa yang dilakukan sekolah sebagai ujung tombak semakin terasa manfaatnya untuk pendidikan secara umum di Sumenep (Beth).
09 Maret 2014
Giliran Santri Penghijauan di Gunung Lemongan
Radar Jember, 2 Maret 2014
Lumajang--Santri Annuqoyah, Madura melakukan penghijauan di Gunung Lemongan. Sekitar 60 santri dari salah satu pondok pesantren di Pulau Garam tersebut naik Gunung Lemongan untuk melakukan penanaman pohon di kawasan tersebut.
Lumajang--Santri Annuqoyah, Madura melakukan penghijauan di Gunung Lemongan. Sekitar 60 santri dari salah satu pondok pesantren di Pulau Garam tersebut naik Gunung Lemongan untuk melakukan penanaman pohon di kawasan tersebut.
Rombongan yang menamakan diri Pemulung Sampah Gaul ini adalah semacam kelompok pecinta alam di lingkungan SMA 3 Annuqayah yang berpusat di Guluk-Guluk, Sumenep. Kelompok yang terbentuk sejak tahun 2008 ini terkenal getol melakukan kampanye dan kegiatan pelestarian lingkungan di Kabupaten Sumenep dan sekitarnya.
"Kedatangan mereka kali ini adalah untuk belajar tentang konservasi lingkungan berbasis komunitas yang dilakukan Laskar Hijau di Gunung Lemongan," kata koordinator Laskar Hijau, A'ak Abdullah Al Kudus, kemarin.
A'ak mengatakan, rombongan ini tiba di Lumajang pada pagi hari, dan pada siang harinya melakukan diskusi bersama Laskar Hijau. Mereka juga berdialog langsung dengan para relawan Laskar Hijau untuk menggali lebih jauh tentang motivasi dan harapan dari para relawan tersebut sehingga mereka mampu bertahan untuk terus menjaga Gunung Lemongan dari kerusakan.
Mereka terlihat sangat antusias menggali sejarah gerakan konservasi di Gunung Lemongan yang dilakukan oleh Laskar Hijau. Gerakan konservasi berbasis komunitas tersebut disebutnya sangat menginspirasi. Mereka sangat tertarik dengan cara Laskar Hijau dalam melakukan penghijauan melalui pengumpulan biji-bijian di tong sampah yang selama ini diremehkan oleh banyak orang. "Tapi di tangan Laskar Hijau bibji-bijian tersebut menjadi sangat berharga dan mampu diwujudkan menjadi tanaman yang sangat berguna untuk pelestarian hutan lindung di Gunung Lemongan," kata salah satu peserta.
22 Maret 2012
SMA 3 Annuqayah Resmikan “Mengantar Perpustakaan ke Ruang Kelas”
M. Kamil Akhyari, kontributor NU Sumenep Online
Guluk-Guluk - Perpustakaan menjadi ujung
tombak sebuah lembaga pendidikan. Kemajuan institusi pendidikan salah
satunya bisa dilihat dari fasilitas perpustakaan yang dimiliki.
Banyaknya koleksi buku yang dimiliki menandakan sejauh mana sekolah bisa
dikatakan maju.
Namun, sekalipun perpustakaan yang dimiliki megah dengan ribuan bahan
bacaan yang dimiliki terkadang pengunjungnya bisa diitung dengan jari.
Menurut Kepala SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk M. Mushthafa, untuk
menumbuhkan minat baca siswa butuh cara kreatif untuk memikat siswa
rajin mengunjungi perpustakaan tanpa harus ada unsur paksaan.
Dalam rangka menumbuhkan minat baca siswa, Sabtu (25/2), bersamaan
dengan pemberlakuan tata tertib baru sekolah, SMA 3 Annuqayah meresmikan
program “Mengantarkan Perpustakaan ke Ruang Kelas” di Madaris 3
Annuqayah, Guluk-Guluk untuk mendukung visi-misi Perpustakaan Madaris 3
Annuqayah.
Menurut Mushthafa, program tersebut untuk menjawab dua persoalan.
“Dalam rangka membangkitkan minat baca siswa di sekolah dan sekaligus
sambil menunggu guru yang belum masuk kelas, maka saya pikir akan
menarik kiranya jika kita mencoba mengantarkan perpustakaan ke ruang
kelas,” katanya.
Bahan bacaan 600 hingga 700 kata yang diberikan kepada siswa diambil
dari buku, majalah, koran, dan internet. Sekolah tidak membatasi buku
tertentu, “Yang pada dasarnya dibuat dengan asumsi bahwa kriteria ini
akan menjaga mutu tulisan sekaligus akan cocok untuk mereka yang belum
terbiasa membaca, dengan kata lain, bisa membangkitkan semangat
membaca,” jelasnya.
Program tersebut ditargetkan, dalam satu tahun pelajaran siswa dapat
membaca paling sedikitnya 100 tulisan. “Jika dalam satu tahun pelajaran
siswa membaca paling sedikit 100 tulisan bermutu, maka dalam tiga tahun
mereka akan telah membaca 300 tulisan! Saya pikir target ini masih
sangat mungkin berlipat ganda,” targetnya.
Saat ini setiap hari siswa membaca satu sampai dua tulisan yang telah
diketik ulang dengan desain menarik dan disertai kamus kecil terhadap
bahasa ilmiah atau asing.
Sampai Minggu (18/3), tulisan yang telah siap diberikan kepada siswa 34 tulisan dan sekitar 25 tulisan masih dalam proses.
Berita ini dikutip dari Website NU Sumenep, 19 Maret 2012.
01 Maret 2012
PPL 2 Instika di SMA 3 Annuqayah Selenggarakan Lepas Pisah
Setelah purna melaksanakan tugas Praktik Pengalaman Lapangan
(PPL) 2 di SMA 3 Annuqayah, mahasiswa Instika yang
terdiri dari Mega Eka Suciyanti,
Nur Faizah, Siti Khairiyah, Fauziyah, Siti Amaniyah, Zahrotul Jannah, Munawwarah,
Mairani, Habibah, dan Hannani menyelenggarakan lepas
pisah dengan siswa SMA 3 Annuqayah pada hari Jumat, 24 Februari 2012.
Acara yang dilaksanakan di laboratorium IPA SMA 3 Annuqayah ini dimulai pada pukul
09.20 WIB dan usai pada pukul 11.05 WIB. Acara ini melibatkan seluruh siswa SMA
3 Annuqayah walaupun yang hadir hanya 30 orang dari 216 siswa. Selain itu, Kepala
SMA 3 Annuqayah, M.
Mushthafa, dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Moh. Afifi, juga turut hadir.
Menurut Mega Eka
Sucianti, ketua kelompok sekaligus ketua panitia pada acara lepas pisah, acara
ini sengaja tidak mengundang guru pamong karena pada awalnya peserta PPL tidak
akan mengadakan acara apa pun. Namun karena permintaan dari sebagian
siswa, akhirnya acara ini
dilaksanakan. Selain itu keterbatasan dana juga menjadi pertimbangan sehingga tidak mengundang seluruh
guru pamong.
Acara ini juga merupakan penarikan peserta PPL 2 Instika dari
SMA 3 Annuqayah. Hal ini disampaikan oleh Moh. Afifi dalam sambutannya. Ia juga menambahkan bahwa selama tiga kali
menjadi DPL PPL, baru kali
ini ada acara lepas pisah
yang melibatkan siswa dan ini merupakan hal yang membahagiakan.
“Hal ini
menunjukkan adanya kerja sama dan komunikasi yang baik antara siswa dengan peserta
PPL,” ungkapnya. Ia juga mengharapkan agar
peserta PPL tetap menjaga hubungan yang baik dengan pihak sekolah sekalipun
tugas PPL telah berakhir.
Pada kesempatan
yang sama, M. Mushthafa selaku kepala sekolah mengungkapkan rasa senangnya
ketika dia baru mendengar bahwa tahun ini akan ada peserta PPL 2 Instika yang
bertugas di SMA 3 Annuqayah. Menurutnya, ini merupakan kesempatan bagi para
mahasiswa untuk menerapkan teori-teori mengajar yang didapatkan di bangku
kuliah selain juga mengetahui secara langsung kondisi lembaga pendidikan di
lapangan. Di samping itu, dia berharap ada evaluasi dari siswa kepada mahasiswa
peserta PPL.
Lepas pisah ini juga dimeriahkan oleh Paduan Suara SMA 3
Annuqayah. Mereka menyanyikan
Mars Madaris 3 dan Hymne Annuqayah. Tidak hanya itu, pengurus OSIS SMA 3 Annuqayah juga menunjukkan
kebolehannya dalam olah suara. Terbukti ketika mereka melantunkan shalawat di
penghujung acara lepas pisah ini.
Berita ini dikutip dari Blog Annuqayah, 27 Februari 2012.
Label:
Kutipan Berita,
SMA 3 Annuqayah
10 Januari 2009
SAI Support Sekolah Berbasis Lingkungan
Radar Madura, Sabtu, 10 Januari 2009
SUMENEP-Said Abdullah Institute (SAI) memberi dukungan moral terhadap SBL (sekolah berbasis lingkungan). Salah satunya ke SMA 3 Madaris Annuqayah, Guluk-Guluk, yang dianggap peduli lingkungan dan limbah.
Berdasarkan data, SMA 3 Annuqayah ini memberi kompetensi pembelajaran tambahan terhadap peserta didiknya. Yakni, sekolah mewajibkan siswa memiliki tanaman asuh di sekolahnya. Setiap siswa bertanggung jawab atas hidup matinya pohon yang ditanam.
Selain itu, siswa menjadi "pemulung" sampah nonorganik. Sampah itu kemudian diolah menjadi souvenir. Seperti, tas, vas bunga, miniatur meja-kursi makan, hiasan dinding, dan lainnya.
Pembina SAI MH Said Abdullah menilai, SMA 3 Annuqayah enak ditiru dan perlu. Sekolah ini memiliki nilai plus. Yakni, sekolah ikut menyelamatkan bumi dengan cara menanam tanaman di lingkungan sekolahnya yang memberikan hawa sejuk di sekolah.
Selain itu, sekolah mendidik siswanya untuk bertanggung jawab. Minimal, mereka memulai yang bermanfaat bagi ekosistem dan lingkungan sekitarnya.
Manfaat lainnya, kata Said, sekolah mendidik siswanya kreatif. Buktinya, siswa tidak malu menjadi "pemulung" dan mengolahnya kembali menjadi benda yang bermanfaat. Karena itu, anggota DPR RI ini memberikan apresiasi. Sebab, di zaman ini banyak orang enggan berbuat hal-hal kecil yang manfaatnya besar.
Apalagi, jika sekolah membangun jaringan untuk pemasaran karya siswanya. "Saya respek dengan sekolah yang inovatif dan kreatif," kata Said usai tukar cinderamata dari sekolah ke SAI dan sebaliknya.
Sebelumnya, penanggung jawab SMA 3 Annuqayah, Musthafa, mengaku mengikutkan siswanya ke berbagai pelatihan. Baik di tingkat regional maupun nasional.
Buah dari keseriusan ini, SBL di SMA 3 Annuqayah mengikuti berbagai kegiatan. Bahkan, dalam bulan ini ikut dalam lomba sekolah berwawasan lingkungan yang digelar British Council. "Jika menang, mungkin kami menjadi duta SBL yang harus terbang ke luar negeri," kata lulusan filsafat UGM ini optimistis.
Usai tukar cinderamata, rombongan SAI yang terdiri atas MH Said Abdullah (pembina), Yanuar Herwanto, Habib Amak, Habib Bidin, KH Muhadjir (fungsionaris), Didik Prasetiono (mantan KPU Jatim), Bambang Prayogi, dan Hunain Santoso (pendukung SAI) membezuk pengasuh Ponpes Annuqayah, KH Mahfud Husaini dan KH Hamidi Hasan yang sedang sakit. Acara diakhiri dengan salat Jumat di masjid ponpes. (abe/advertorial)
URL: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=56569
SUMENEP-Said Abdullah Institute (SAI) memberi dukungan moral terhadap SBL (sekolah berbasis lingkungan). Salah satunya ke SMA 3 Madaris Annuqayah, Guluk-Guluk, yang dianggap peduli lingkungan dan limbah.
Berdasarkan data, SMA 3 Annuqayah ini memberi kompetensi pembelajaran tambahan terhadap peserta didiknya. Yakni, sekolah mewajibkan siswa memiliki tanaman asuh di sekolahnya. Setiap siswa bertanggung jawab atas hidup matinya pohon yang ditanam.
Selain itu, siswa menjadi "pemulung" sampah nonorganik. Sampah itu kemudian diolah menjadi souvenir. Seperti, tas, vas bunga, miniatur meja-kursi makan, hiasan dinding, dan lainnya.
Pembina SAI MH Said Abdullah menilai, SMA 3 Annuqayah enak ditiru dan perlu. Sekolah ini memiliki nilai plus. Yakni, sekolah ikut menyelamatkan bumi dengan cara menanam tanaman di lingkungan sekolahnya yang memberikan hawa sejuk di sekolah.
Selain itu, sekolah mendidik siswanya untuk bertanggung jawab. Minimal, mereka memulai yang bermanfaat bagi ekosistem dan lingkungan sekitarnya.
Manfaat lainnya, kata Said, sekolah mendidik siswanya kreatif. Buktinya, siswa tidak malu menjadi "pemulung" dan mengolahnya kembali menjadi benda yang bermanfaat. Karena itu, anggota DPR RI ini memberikan apresiasi. Sebab, di zaman ini banyak orang enggan berbuat hal-hal kecil yang manfaatnya besar.
Apalagi, jika sekolah membangun jaringan untuk pemasaran karya siswanya. "Saya respek dengan sekolah yang inovatif dan kreatif," kata Said usai tukar cinderamata dari sekolah ke SAI dan sebaliknya.
Sebelumnya, penanggung jawab SMA 3 Annuqayah, Musthafa, mengaku mengikutkan siswanya ke berbagai pelatihan. Baik di tingkat regional maupun nasional.
Buah dari keseriusan ini, SBL di SMA 3 Annuqayah mengikuti berbagai kegiatan. Bahkan, dalam bulan ini ikut dalam lomba sekolah berwawasan lingkungan yang digelar British Council. "Jika menang, mungkin kami menjadi duta SBL yang harus terbang ke luar negeri," kata lulusan filsafat UGM ini optimistis.
Usai tukar cinderamata, rombongan SAI yang terdiri atas MH Said Abdullah (pembina), Yanuar Herwanto, Habib Amak, Habib Bidin, KH Muhadjir (fungsionaris), Didik Prasetiono (mantan KPU Jatim), Bambang Prayogi, dan Hunain Santoso (pendukung SAI) membezuk pengasuh Ponpes Annuqayah, KH Mahfud Husaini dan KH Hamidi Hasan yang sedang sakit. Acara diakhiri dengan salat Jumat di masjid ponpes. (abe/advertorial)
URL: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=56569
28 September 2008
Matangkan Lewat Pondok Ramadan

SUMENEP—Sejumlah sekolah terus memantapkan pemahaman keagamaan anak didiknya. Salah satunya dengan melaksanakan Pondok Ramadan. Seperti yang dilaksanakan jajaran Direktorat Madaris III Annuqayah (MTs III-SMA III) Guluk-Guluk, Sumenep.
Telusuran koran ini, kegiatan tersebut diikuti sekitar 61 orang. Terdiri dari kelas IX MTs dan XII SMA 3 Annuqayah. Dalam pelaksanaannya, sejumlah peserta diklasifikasikan menjadi 10 kelompok (5 kelompok untuk MTs dan 5 kelompok untuk SMA). Acara ini digelar di Laboratorium IPA SMA 3 Annuqayah dengan tempat asrama dikelas IX MTs 3 Annuqayah.
Penanggungjawab kegiatan, KH Moh. Hazim, menegaskan, tujuan dari pelaksanaan Pondok Ramadan tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan para siswi dengan menyajikan paket kegiatan secara kondusif.
Di antara serangkaian kegiatan yang disajikan dalam kegiatan tersebut adalah memerkenalkan para siswi tentang dasar-dasar keagamaan dan sistem nilai kepesantrenan. Dia berharap, dengan sajian tersebut bisa memberikan nilai tambah atas pemahaman keagamaan yang didapat anak didik selama ini. “Pemahaman agama akan menjadi fondasi untuk mengarahkan mereka memeroleh cahaya-Nya,” ujarnya.
Sebab, tuturnya, sejauh ini dia melihat generasi muda mulai terjebak dengan hiruk pikuk kemajuan zaman. Bahkan, mereka mulai menganggap semua yang diciptakan oleh kemajuan adalah baik. Padahal, dalam kehidupan dibentuk oleh dua variable yang selalu bersamaan. Yaitu baik dan buruk, demikian seterusnya.
“Kemajuan juga demikian. Ada yang positif dan negatif,” imbuhnya. Sehingga, tantangan itulah yang harus selalu menjadi bahan kajian generasi muda. Supaya, mereka benar-benar mampu menjadi penyelamat bagi kehancuran umat.
Dia juga menegaskan, target dari keaitan yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut adalah tertanamnya nilai-nilai agama dengan kuat. Khususnya pemahaman yang terkait dengan kandungan isi ajaran Alquran. Meski, akunya, dalam kegiatan tersebut pengetahuan tentang bidang/materi sekolah tak dilupakan.
Pelaksanaan kegiatan tersebut rencananya berlangsung secara intensif dalam jangka 15 hari, dimulai 5 September dan berakhir 19 September lalu. (tur/ed/*)
Berita ini dikutip dari Harian Radar Madura, Senin, 22 September 2008, hlm. 40.
14 Juni 2008
Ketika Siswi SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Jadi Pemulung: Selamatkan Lingkungan, Olah Sampah Jadi Souvener

ZAITURRAHIEM, Sumenep
Sampah tak selamanya jorok. Di tangan kreatif siswa, sampah berubah jadi tas, vas bunga, dan kotak surat. Karenanya, siswi SMA 3 Annuqayah tak malu menjadi pemulung. Mengapa?
Lima puluh dua siswi yang tergabung dalam Pemulung Sampah Gaul (PSG) bertekad selamatkan bumi. Mereka merasa sesak dengan tempat pembuangan akhir (TPA) di sekitar sekolah. Berkubik sampah menumpuk di TPA. Apalagi, timbunan sampah itu sebagian besar terdiri atas sampah nonorganik. Sampah jenis ini sulit musnah dengan sendirinya.
Para gadis belasan tahun itu langsung terjun ke TPA. Mereka memunguti sampah. Di antaranya, siswi itu membawa pulang gelas plastik bekas kemasan air mineral atau minuman suplemen. Aksi siswi ini pun menyita perhatian warga di sekitar sekolah. Sebab, mereka masih mengenakan pakaian seragam sekolah. Pemandangan ini berbeda dengan pemulung sebenarnya saat turun ke TPA.
Ketua PSG, Mu’awwanah mengakui ide tersebut muncul setelah mendengar cerita dari gurunya yang mengajar Bahasa Indonesia, M. Musthafa. Perempuan asal desa Daleman kecamatan Ganding mendengar ada seorang perempuan di Jakarta bernama Regina. Regina, katanya, mengolah sampah plastik menjadi barang kerajinan yang layak dijual. Misalnya, dia contohkan sampah plastik menjadi vas bunga, tas, dan souvener lainnya.
Dia menyadari Regina yang diceritakan Musthafa mengilhami dirinya dan rekan-rekannya. “Mulanya kami malu, gengsi, mau jadi pemulung.” Perempuan yang gemar baca buku itu menegaskan kegiatan tersebut dimaksudkan untuk selamatkan bumi dari kehancuran. Selama ini mayoritas warga banyak konsumsi barang-barang yang terbungkus plastik. Padahal, plastik sulit lebur dalam tanah karena berbahan nonorganik.
Untuk proses desain dan pembuatan, perempuan berjilbab itu akui tak punya pembimbing. Karenanya, dia dan teman-temannya berkreasi sendiri. Siswi berkarya dan mengolah limbah tidak untuk mengejar pasar. Tetapi, siswi hanya ingin memanfaatkan barang-barang yang dianggap tak berharga. "Kami melakukan ini (memulung sampah dan mengolah menjadi souvener) tanpa beban, santai," katanya.
Hal yang sama diakui guru Bahasa Indonesia SMA 3 Annuqayah, Musthafa. Menurutnya, siswi ingin sosialisasi dan penyadaran tentang efek sampah nonorganik. Lulusan UGM itu katakan warga tak sadar sampah nonorganik sulit hancur secara alami. Sejauh ini, katanya, siswa baru melangkah terkait pemanfaatan plastik di TPA sekitar sekolah. Menurutnya, kreativitas siswa hanya satu hal. Sebab, siswa membidik masyarakat agar mengurangi konsumsi barang yang terbungkus bahan kimia. "Termasuk plastik itu," terangnya.
Pria yang pernah bermukim di Jakarta itu katakan ada pemesan dari sekitar sekolah. Dia contohkan, jajaran muslimat, madrasah aliyah, dan lembaga lainnya di sekitar sekolah memesan souvener dari sampah. Musthafa akui cara mengolah sampah ini dibuat sederhana. Siswi memungut dan mencuci sampah sampai benar-benar bersih. Selanjutnya, sampah-sampah dikeringkan. Terakhir, siswa mendesain dan mengubah sampah menjadi tas, vas bunga, maupun tempat lampu dan souvener lainnya. (*)
Dikutip dari Radar Madura, Sabtu, 14 Juni 2008.
Langganan:
Postingan (Atom)

