Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan

20 Mei 2013

Suka Duka Siswa Colokan


Dua siswa colokan SMA 3 Annuqayah berjalan kaki dari arah
timur perempatan Bherpenang untuk berangkat ke sekolah. Foto ini
diambil pada 23 Januari 2011 pukul 6.30 WIB oleh M. Mushthafa.

Lu’luil Maknun, XI IPS 1 SMA 3 Annuqayah

Sebagai siswa colokan di SMA 3 Annuqayah, saya tahu persis ‘suka duka’ yang dialami ataupun dirasakan oleh siswa/santri colokan. Tidak mondok selama kurang lebih lima tahun selama bersekolah di MTs 3 Annuqayah dan SMA 3 Annuqayah membuat saya sedikit lebih tahu banyak hal apa saja yang harus ditempuh oleh seorang siswa colokan demi sampai ke sekolah.

Dalam hal ini saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman saya—dan saya yakin pengalaman ini cukup mewakili siswa/santri colokan yang lainnya.

Terlambat Sampai di Sekolah, Capek Deh ??!!

Tiba di sekolah tepat waktu bagi santri colokan membutuhkan disiplin diri yang tinggi. Karena jika disiplin diri tersebut tidak dibiasakan maka santri colokan tersebut akan menanggung risiko ketika sampai di sekolah. Misalnya saja dihukum oleh pengurus OSIS karena terlambat dan sebagainya.

Sepertiga siswa SMA 3 Annuqayah adalah santri colokan, dan tidak semua dari santri colokan tersebut yang membawa kendaraan pribadi (sepeda motor), dan sebagian ada yang diantar jemput oleh orang tuanya. Kebanyakan siswa colokan di SMA 3 Annuqayah yang naik kendaraan umum, seperti juga saya. Nah, di sini ini titik kendala bagi siswa colokan.

Ketika akan berangkat sekolah siswa colokan minimal berangkat pukul 06.15 WIB karena jika tidak begitu maka dia akan terlambat datang ke sekolah. Menunggu kendaraan umum itu tidak tentu jam datangnya. Terkadang meskipun sudah menaiki kendaraan tersebut, kendaraan tersebut masih menunggu antrean di suatu tempat untuk mencari penumpang lain, sehingga apa yang terjadi??? Terlambat deh datang ke sekolah!!!

Terlambat datang ke sekolah merupakan hal yang wajar bagi siswa colokan, tak terkecuali saya. Namun meskipun demikian bukan berarti saya tidak berusaha untuk tidak terlambat datang sekolah. Itu juga tergantung nasib saya yang ‘mujur atau tidak’ pagi itu. Karena selain harus menunggu kendaraan umum yang lamanya minta ampun—dan terkadang saya kesal sendiri akan hal ini ketika menunggu kendaraan umum di sebelah barat Gudang Garam Guluk-Guluk—saya juga harus terbekam di dalam kendaraan tersebut karena si kenek ataupun si sopir masih mau mencari penumpang lain !!!

Itu saja membutuhkan kesabaran ekstra, karena saya tentu tak bisa dengan seenaknya saja memaksa si sopir untuk segera berangkat. Emang itu mobil carteran apa ??!!

So, buat kalian yang menjadi siswa colokan biasakan diri kalian untuk disiplin berangkat ke sekolah. Berikut ada tipsnya loh:
  • Persiapkan barang-barang yang akan dibawa keesokan harinya dan masukkan segera ke dalam ransel. Jangan sampai ada yang ketinggalan.
  • Bangun pagi-pagi. Kalau tidak ada yang membangunkan usahakan menghidupkan alarm.
  • Harus membagi waktu setepat mungkin. Misalnya kamu bangun jam 5 pagi dan mau berangkat sekolah pukul 06.15 WIB. Maka perkirakan kira-kira berapa menit waktu yang kamu butuhkan untuk mandi, sarapan, memakai seragam, dan sebagainya, sehingga target waktu yang kamu persiapkan mencukupi.
  • Jangan menunda-nunda untuk mandi ataupun sarapan. Segeralah lakukan.
  • Lets go to school ......... !!!
Sekitar sepertiga siswa SMA 3 Annuqayah adalah colokan.


Pulang Sekolah, melas banget !!!

Menjadi siswa colokan tantangannya bukan hanya ketika berangkat sekolah, tapi juga ketika pulang sekolah. Nah, loh, kok bisa ??!! Kebayang gak sih pulang sekolah panas-panas banget atau malah hujan-hujanan terus kamu berdiri seperti patung di gerbang sekolah untuk menunggu kendaraan ataupun jemputan. Melas banget kan !!?? Itu mendingan sob, tapi ada yang lebih parah lagi, yaitu berdiri sendirian di gerbang !!!???

Pulang sekolah terkadang menjadi hal yang menyebalkan karena harus mematung puluhan menit untuk menunggu kendaraan umum. Dan tak jarang, itu membuat capek dan membosankan.

Terkadang mendapat kendaraan masih ada lagi cobaannya, yaitu di dalam  kendaraan tersebut sesak oleh penumpang yang lain. Kebayang gak kalau salah satu di antara penumpang itu ada yang membawa ayam, barang dagangan, dan lebih parahnya lagi ada yang membawa ikan bahkan kambing. Hah... dalam hal ini bukan hanya kedisiplinan yang perlu dibiasakan tapi juga kesabaran ekstra!!!
                                               

04 Mei 2013

Demi Rupiah!!???


Lu’luil Maknun, XI IPS 1 SMA 3 Annuqayah

Saat ini aku sedang berada di dalam angkutan umum. Angkutan ini biasa aku tumpangi ketika pulang sekolah—hanya saja angkutannya berbeda-beda. Hari ini hari Kamis, ya hari Kamis. Dan sinar matahari benar-benar terik. Meski saat ini aku sedang memakai seragam coklat lengan panjang, rok panjang, dan kerudung, tapi tetap saja sinar matahari dengan nakalnya menyengat kulitku.

Angkutan ini lewat di ‘Pasar Kemis‘, dan ini memang merupakan satu-satunya jalan agar aku bisa pulang ke rumahku–setidaknya dengan jalur angkutan ini. Sesuai namanya, pasar ini hanya ada pada hari Kamis, meski tidak seharian. Jam 12 biasanya sudah banyak pedagang yang membereskan dagangannya untuk segera pulang.

Aku berada di jok tengah. Dekat jendela. Si sopir pasti dengan sengaja memberhentikan mobilnya karena masih mau mencari penumpang—atau dia memang sedang menunggu penumpang. Lalu tiba-tiba dari arah selatan, dari dalam pasar, muncul kuli-kuli tua yang mengangkut barang dagangan dalam ukuran besar. Aku tahu, itu bukan pertama kalinya aku lihat. Tapi ada sesuatu yang janggal yang aku rasakan sehingga aku memutuskan untuk menulis cerita ini.

Ya, benar. Aku akan bercerita tentang kuli-kuli pasar yang tua itu. Tahukah kau berapa umurnya? Aku juga tidak tahu pasti, tapi aku bisa menerka berapa usia mereka. Usianya kurang lebih 60-70 tahun. Tapi kuli-kuli tua itu–lebih tepatnya kakek-kakek–masih tetap saja memikul beban yang jauh lebih berat dan lebih besar dari tubuhnya. Beratnya mungkin 6 atau 7 kali tubuh si kakek itu, dan besarnya–aku sangat yakin–5 atau 6 kali lebih besar dari tubuhnya.

Aku terkadang berpikir, kenapa mereka masih bekerja sekeras itu? Tidakkah mereka mempunyai anak atau cucu yang bisa menafkahi mereka? Setidaknya memberi makanan dan pakaian yang layak untuk mereka. Hah, lagi-lagi keadaan seperti ini menuntutku untuk berpikir keras.

Apa mereka bekerja sekeras itu karena ingin mencari rupiah–aku tahu itu—maksudku, mungkin mereka ingin lebih banyak lagi mendapatkan uang sebelum mereka meninggal? Dan mereka bisa menitipkan–setidaknya sesuatu yang berharga–kepada anak-cucu mereka apa yang telah dihasilkannya dari jerih payahnya itu?

Pertanyaanku memang aneh. Setidaknya aku tahu bahwa di sekitar desa tempat aku tinggal orang-orang tak kenal kata pensiun. Karena pada umumnya mereka bukan pegawai negeri yang setelah ‘tiba waktunya‘ bisa menikmati masa tua mereka dengan kucuran uang hasil pensiunan. Atau mungkin anak-cucu mereka sama kekurangannya, sehingga untuk mencukupi kebutuhannya mereka harus ‘saling membantu’???

Ketika menulis paragraf baru ini aku sudah turun dari angkutan dan sedang berada dalam perjalanan pulang—maksudku jalan kaki. Suasana panas matahari membuatku sedikit jengkel karena aku sedang sakit sekarang. Lalu aku memutuskan untuk menyelesaikan tulisan ini—maksudku satu pragraf–dan aku memutuskan untuk berteduh sebentar di ‘warung kecil’ pinggir sawah.

Warung ini biasanya ditempati untuk menjaga burung-burung ketika padi yang ditanam petani sedang berbuah. Dan sekarang–saat aku duduk di sini–padi-padi itu sudah tidak ada, kini hanya tinggal jerami yang mulai menghitam dan membusuk. Aku mulai menulis pragraf baru lagi sekarang, dan ini adalah kalimat pertamanya.

Jika dilihat dari segi ekonomi, keadaan sekarang memang sedang hebat-hebatnya krisis moneter. Semuanya serba mahal, dan itu tentu sangat menuntut keras orang-orang untuk bekerja keras. Demi Rupiah! Demi mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Kau tahu? Aku masih berbicara soal ‘kebutuhan’, tidak soal pendidikan, kesehatan, atau hal lainnya yang lebih rumit daripada itu. Berbicara soal itu, aku jadi teringat ketika pada suatu ketika aku mengantarkan nenekku ke rumah sakit. Dan lagi-lagi aku duduk di jok tengah.

Ada kakek-kakek di jok belakang yang tiba-tiba berbicara mengenai krisis moneter–dan waktu itu aku berpikir betapa pekanya dia. Dan, satu lagi, dia berbicara mengenai betapa mahalnya biaya bangku kuliah saat ini.

Suatu saat nanti aku pasti akan melihat mereka lagi. Mereka yang memangkul beban berat di punggungnya dan aku akan mengulurkan bantuan kepada mereka, berbagi, dan merasakan kenikmatan lain yang bisa kurasakan di sudut hati ini.

Semoga. Aku yakin saat itu akan tiba.

“Gunakan kepekaan dan insting kita untuk sekadar menoleh pada mereka. Goreskan hati kalian pada kertas-kertas putih, karena dengan cara seperti itu—setidaknya—kita akan mengingatkan kawan-kawan kita yang bernasib lebih baik dari mereka. “
                                                                                                -- Maknun MM.                         


Ketawang Laok, 2 Mei 2013
13.23 WIB

20 April 2013

10 Kata per Hari Agar Mudah Belajar Bahasa Inggris


Lu’luil Maknun, XI IPS 1 SMA 3 Annuqayah

10 kata per hari merupakan program menghafal 10 kosakata Bahasa Inggris setiap hari. Awalnya saya berpikir bahwa 10 kata per hari bisa membuat saya sedikit demi sedikit memahami Bahasa Inggris sekaligus dapat menambah perbendaharaan kosakata Bahasa Inggris yang saya miliki.

Ide ini muncul ketika pada suatu hari saya sedikit kesulitan untuk menyerap penjelasan guru Bahasa Inggris saya. Saya lalu mencari cara bagaimana saya bisa menghafal kosakata yang ada di dalam buku Bahasa Inggris tersebut sehingga muncullah ide 10 kata per hari.

10 kata per hari memiliki jadwal tersendiri dalam rutinitas saya. Saya menjadikannya sebagai pembuka—untuk bacaan wajib saya yang harus saya baca (sesuai jadwal sekolah)— yaitu setelah selesai shalat Isyak, tepatnya pada pukul 19.00 WIB.

Tapi meskipun demikian, jadwal yang saya buat tersebut tidak konsisten,  karena terkadang saya disibukkan dengan aktivitas di luar sekolah—seperti kegiatan ekstrakurikuler, atau karena sedang mempersiapkan sebuah acara yang akan dilaksanakan sekolah maupun OSIS—sehinggga  kegiatan menghafal tersebut tidak terlaksana sesuai waktunya.

Program ini saya mulai pada tanggal 25 Maret 2013 tepatnya hari Senin. Kata yang saya hafalkan saya cari di buku Bahasa Inggris yang tidak saya mengerti  lalu saya mencari artinya di kamus secara manual. Awalnya, saya berpikir bahwa lebih praktis memakai kamus elektronik, karena waktu itu saya mempunyai program Kamus PD English berbasis java di HP saya. Namun saya lalu teringat pada perkataan guru saya, M. Mushthafa, bahwa kamus elektronik itu akan membuat kita manja dan tidak terbiasa dengan kamus. Akhirnya saya memutuskan untuk memakai kamus manual.

Karena beberapa alasan yang membuat saya sulit mengatur waktu, saya mulai menyusun jadwal baru saya. Dalam seminggu, 5 hari saya gunakan untuk menghafalkan kosa kata sedangkan dua harinya, yakni hari Ahad dan Jum’at, saya gunakan untuk latihan menerjemah.

Sempat terpikir oleh saya, berapa banyak kosa kata yang akan saya hafal jika saya melakukannya secara rutin? Dalam waktu satu minggu saya bisa menghafal 50 kosa kata, berarti dalam waktu satu bulan saya akan menghafal kurang lebih 220 kata. Bagaimana jika satu tahun?

Program ini masih terfokus pada kosakata Bahasa Inggris saja. Untuk tahun mendatang, saya mencanangkan program-program kebahasaan lain seperti istilah-istilah Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab yang tidak saya ketahui artinya.

30 April 2010

Sepenggal Kisah Perjalanan Kelulusanku

Ulfatul Lu’luah, XII IPA SMA 3 Annuqayah

Senin (26/04) kemarin, aku menjalani pagi yang begitu resah. Tapi, hal ini aku curahkan dengan hanya berdiam diri dan duduk mematung menunggu kepastian. Lamunanku buyar saat Bu Mus’idah terkejut melihat penampilanku yang masih dalam keadaan tidak rapi. Beliau langsung menyuruhku untuk segera berganti pakaian dan akan pergi keliling Annuqayah dan sekitarnya untuk menyebarkan Majalah Teratai, majalah SMA 3 Annuqayah. Rasa resahku sedikit menghilang dari fikiranku. Tapi rasa penasaran dalam hatiku terus bergejolak.

Setelah kami bertiga kembali ke sekolah, aku dan Ummul Corn berangkat lagi untuk menyebarkan majalah kami itu ke SMK Annuqayah Putra. Tapi, berhubung kami tidak tahu jalannya, akhirnya kami kembali ke sekolah.

Sesampainya di pintu gerbang Madaris 3 Annuqayah, hatiku kembali tak tenang dan semakin waswas. Di aula, semua teman kelasku, juga sebagian guru, sudah banyak yang hadir. Terdengar suara Bu Mus’idah saat memberikan pesan dan kesan kepada kami dengan diiringi linangan air mata. Tanpa terasa, air mataku menetes satu persatu. Aku semakin tak berdaya. Pada satu sisi, aku merasa tidak terima karena harus keluar dan akan meninggalkan bangku SMA. Tapi, di sisi lain aku merasa takut. Takut kalau aku tidak lulus.

Sepuluh menit kemudian, pelulusan diumumkan. Dan kami diberi amplop yang isinya adalah pengumuman kelulusan. Nasiruddin, S.E., guru yang mewakili pihak sekolah, lalu memanggil siswa satu persatu dan menyerahkan amplop.

Dan, sampailah pada panggiln yang ke-21: “Ulfatul Lu’luah”. Itu adalah namaku. Aku semakin tak tahu dengan keadaanku sendiri. Pak Nasir menyerahkan amplop kepadaku. Kini amplop itu sudah ada di tanganku. Aku tak berani membukanya, meski sebenarnya itu sudah menjadi hakku untuk membukanya. Aku memegang amplop itu dengan linangan air mata.

Tangisan antara kebahagiaan dan kesedihan. Langsung aku serahkan amplop itu pada salah satu temanku, Eka. Aku terkejut saat dia bilang bahwa aku tidak lulus. Saat itu, rasanya aku ingin mati saja. Kumerasa, tak ada darah yang mengalir dalam tubuhku. Tapi, dia langsung tersenyum dan mengatakan bawa aku lulus. Meski begitu, aku masih tak percaya dan tak yakin akan hal itu.

Dengan membaca basmalah dan shalawat, kubuka amplop putih itu dengan sangat hati-hati.

Saat itu, aku merasa akulah orang yang paling bahagia di dunia. Saat kubaca, dan kulihat bacaan “tidak lulus” dicoret. Seketika itu juga tangisku semakin menjadi. Tangis bahagia karena aku sudah bisa menempuh jalan ini. Dan tangis sedih karena aku akan berpisah dengan teman-temanku yang selama ini telah menemani hari-hariku dengan suka dan duka. Juga tangis sebagai rasa syukurku kepada Tuhan, orang tuaku, dan tak lupa pula pada guruku yang selama ini tidak pernah ada kata-kata jenuh untuk selalu memberiku ilmu. Juga pada Pak Nasir yang telah berjuang mati-matian demi kesuksesanku dan teman-teman yang lain.

Kini, amplop putih itu kusimpan dengan rapi layaknya emas yang tak ternilai harganya. Besok, atau mungkin lusa, kupersembahkan amplop itu pada orang tuaku tercinta.

10 September 2008

Berpuasa Ramadan di SMA 3 Annuqayah


Mulai tanggal 5 September bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 5 Ramadan 1429 H, semua siswa kelas akhir SMA 3 Annuqayah mengikuti program RvM, singkatan dari Ramadan vil Madaris. Program ini yang kedua kalinya dilaksanakan di sekolah ini, karena pertama kali diadakan tahun lalu.
Pertama kali aku tiba di kegiatan RvM ini, aku merasa ga nyaman dan ga kerasan. Yang pertama karena ga berpuasa bersama orang tua, juga sempat kekurangan air, tapi alhamdulillah sekarang air di sini sudah mengalir sebagaimana biasa.
Ternyata berpuasa di sini menyenangkan banget karena bisa buka bersama teman-teman dan juga para guru. Pokoknya enak banget!
Yang membuat aku kerasan di sini adalah karena banyaknya bermacam kegiatan yang dilaksanakan setiap hari, seperti siraman rohani setiap bakda subuh. Pagi hari ada kursus bahasa Arab dengan penekanan pada muhadatsah, yang didampingi oleh Ibu Mus’iedah. Pada hari pertama masuk, aku sempat ditanya dengan bahasa Arab dan alhamdulillah aku bisa menjawabnya dengan baik walau ada rasa gugup sedikit. Ada juga kursus bahasa Inggris yang dibina oleh Ibu Fajariyah. Pelajaran bahasa Inggris ini adalah pelajaran favoritku. Lagian Bu Fajar enak banget di kelas. Katanya dulu memang kuliah jurusan bahasa Inggris. Aku ingin seperti beliau. Ya, kalau ga seperti beliau, yang penting bermanfaat deh buat orang lain dan buat nusa dan bangsa kita di Indonesia ini. Amien. Juga ada kajian kitab yang dibacakan oleh Bapak Syaiful Bahri. Yang dibaca kitab Qami’uttughyan, yang isinya tentang bagaimana cara meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt.
Setelah itu, pas setelah duhur adalah jam istirahat. Jam 14.30, aku ikut kajian kitab fikih yang juga disajikan oleh Bapak Syaiful Bahri. Di antaranya menerangkan cara bersuci (thoharoh), dan lain-lain. Sambil menunggu azan berkumandang, aku mengaji al-Qur’an. Setelah itu salat maghrib dan isya’, dan langsung dilanjutkan dengan tarawih bersama Nyai Fairuzah, dan setelah selesai tadarus al-Qur’an bersama teman-teman. Setengah jam kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan kajian tematik. Setiap kelompok kebagian waktu untuk presentasi dari tema dan bahan yang telah ditentukan. Jam 22.00 semua kegiatan berakhir, dan peserta kegiatan ini bisa beristirahat. Menjelang sahur, kami salat malam dulu.
19 September besok adalah hari terakhir RvM. Rasanya aku sudah tak sabar untuk malam terakhir yang akan ada acara khusus ini. Setelah itu aku pulang ke rumah. Semoga dengan adanya program ini wawasanku dapat bertambah lebih banyak dan lebih baik daripada sebelumnya. Juga bertambah iman dan ketakwaan kepada Allah swt.
Udah dulu ya ceritaku. Semoga setelah bulan suci ini kita bisa kembali suci (bahasa Arabnya: ‘iedul-fithri). Setelah lebaran nanti, kami akan kembali ke sekolah.

Fatimah, siswi XII IPS SMA 3 Annuqayah.

***

Bulan Ramadan sekarang berbeda dengan tahun yang sebelumnya, karena sekarang saya berpuasa di sekolah (pondok) sedangkan tahun yang lalu saya berpuasa di rumah. Di sekolah, sudah dua tahun ini menadakan kegiatan pondok Ramadan, yang nama populernya: RvM (Ramadan vil Madaris). RvM ini khusus untuk kelas akhir, yakni kelas tiga SMA dan kelas tiga MTs.
Pada hari pertama RvM, saya tidak kerasan karena biasanya berbuka dan sahur bersama orang tua. Tapi alhamdulillah saya sekarang sudah kerasan karena di RvM ada bermacam-macam kegiatan yang saya belum ketahui sebelumnya. Selain itu, saya bisa berbagi suka dan duka bersama teman-teman. Di RvM ini saya mendapatkan banyak ilmu agama. Di antara yang sudah dibahas adalah tentang tujuan puasa atau hikmah puasa. Selain itu, RvM juga melatih saya untuk disiplin, berbagi, saling menghargai, dan juga lebih akrab dengan teman-teman.

Thoyyibah, siswi XII IPA SMA 3 Annuqayah.

***

Indahnya ikut kegiatan RvM (Ramadan vil Madaris) di SMA 3 dapat saya rasakan karena di situ saya dapat meningkatkan solidaritas sesama teman. Meskipun kegiatannya padat, tapi itu tidak mengalahkan semangat kami para peserta RvM. Kegiatan RvM ini sudah dua kali diadakan di Madaris 3 Annuqayah. Pesertanya adalah siswa kelas akhir di SMA, dan mulai tahun ini juga MTs.
Banyak sekali yang saya dapatkan dari kegiatan ini. Di antaranya, saya dapat lebih memahami tentang puasa, menyangkut hikmah, tujuan, dan sebagainya.
Kegiatan RvM ini dimulai pada 5 September yang lalu, dan akan ditutup pada 19 September nanti. Awalnya saya ga kerasan, karena saya masih belum bisa menyesuaikan diri. Tapi tak lama kemudian saya bisa menyesuaikan diri juga. Selain menambah wawasan, dengan kegiatan ini saya juga bisa punya pengalaman berpuasa di sekolah (pondok). Saya berharap semoga dengan ikut kegiatan ini saya bisa mengetahui lebih mendalam tentang ilmu-ilmu agama, dan semoga saya dan teman-teman yang lain juga mendapatkan barokah dan ilmu yang bermanfaat. Selain itu semoga ilmu yang didapatkan selama ini dapat diamalkan dengan tulus (ikhlas). Saya pernah mendengar dari guru saya bahwa orang yang bodoh akan celaka kecuali orang yang berilmu. Dan orang yang berilmu itu juga akan celaka jika ilmunya tidak diamalkan. Demikian juga, orang yang mengamalkan ilmunya itu akan celaka kecuali orang yang ikhlas.

Syarifatul Laili, siswi XII IPA SMA 3 Annuqayah.