Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Kreatif. Tampilkan semua postingan

27 April 2013

Belajar dengan Musik Itu Menyenangkan!!!


Lu’luil Maknun, XI IPS 1 SMA 3 Annuqayah

Hari ini hari Sabtu, dan jam pertama saya pelajaran Bahasa Indonesia. Gurunya Bu Juwairiyah. Tentu saya sangat senang sekali, karena materi Bahasa Indonesia merupakan salah satu materi favorit saya. Materi ini menurut saya sangat menarik, karena saya harus mengolah kata-kata untuk menjadi kalimat yang padu, dan dari kalimat tersebut lahirlah opini, artikel, tajuk rencana, naskah drama, dan sebagainya.

Materi kali ini membahas mengenai kalimat serapan. Setelah menerangkan materi tersebut, Bu Juwairiyah memberi tugas untuk dikerjakan kepada para siswa. Tugasnya berupa kata yang ada di Uji Kompetensi 4. Kata tersebut merupakan kata serapan yang masih belum diperbaiki dalam kaidah penulisan yang berlaku dalam Bahasa Indonesia.

Ketika mengerjakan 14 butir soal tersebut, banyak teman-teman yang kesulitan—tak terkecuali saya—dan banyak teman-teman yang bertanya kepada Bu Juwairiyah. Ketika membantu menjawab pertanyaan teman-teman yang sedang kesulitan, selain memberi penjelasan ulang, Bu Juwairiyah juga mengatakan bahwa untuk membiasakan diri dengan kalimat-kalimat tersebut, kita harus banyak membaca. Dengan membaca, kita akan terbiasa dengan kata-kata baru yang awalnya tidak diketahui maksud ataupun artinya.

Hah, lagi-lagi membaca. Membaca memang penting, dan saya sangat menyadari hal itu. Saya sangat bersyukur karena saya termasuk orang yang suka membaca buku—juga karena saya bersekolah di sekolah yang sangat menganjurkan budaya membaca.

Di sela-sela mengerjakan tugas yang menurut kami cukup njelimet itu, Bu Juwairiyah menawari kami memutar musik. Tentu saja kami senang, karena dengan sambil mendengarkan musik kami jadi santai dan tidak merasa tertekan.

Tiba-tiba saya jadi teringat dengan buku karya M. Mushthafa yang berjudul Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel. Di sebuah bagian di sana dijelaskan bahwa salah satu cara yang beliau lakukan untuk menyelamatkan otak kanan ialah dengan mengiringi musik setiap kali beliau mengajar.

Beberapa pekan terakhir ini, mulai bermunculan guru-guru SMA 3 Annuqayah yang memutar musik ketika mengajar. Saya tidak tahu pasti dari mana datangnya kesadaran itu. Dan, sungguh, itu membuat teman-teman sekelas menikmati dengan leluasa materi tersebut.

Memang, belajar dengan musik itu menyenangkan.

31 Maret 2013

Menyemarakkan Semangat Membaca dan Menulis di Sekolah



M. Mushthafa, Kepala SMA 3 Annuqayah

Perhatian lembaga pendidikan pada kemampuan membaca dan menulis tampak masih kurang. Tidak banyak kebijakan yang dibuat untuk mendukung pada penguatan kedua hal tersebut. Membaca dan menulis tidak dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting. Di antara fakta yang dapat membuktikan hal ini adalah lemahnya dukungan sekolah pada perpustakaan dan penerbitan. Guru-gurunya pun tidak didorong untuk rajin membaca dan atau menulis.

Dengan keadaan seperti ini, saya bersama beberapa rekan guru yang menaruh perhatian pada membaca dan menulis merancang kegiatan yang dimaksudkan untuk menyemarakkan semangat membaca dan menulis di sekolah. Kami menamakannya Gerakan Literasi.

Gerakan Literasi ini sudah dimulai pada 14 Maret lalu. Bersama K. A. Dardiri Zubairi dan Asy’ari Khatib, saya berbincang di hadapan guru-guru belasan sekolah di wilayah timur Sumenep. Acara yang diberi judul Temu Guru Penulis ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Nasy’atul Muta’allimin Gapura yang dikepalai oleh Kiai Dardiri. Diskusi yang berlangsung hampir 3 jam ini berlangsung penuh semangat.

Momentum Gerakan Literasi ini secara kebetulan juga bersamaan dengan baru saja diterbitkannya buku yang ditulis oleh kami bertiga yang menjadi narasumber di Gapura. Kiai Dardiri baru saja menerbitkan buku Rahasia Perempuan Madura: Esai-Esai Remeh Seputar Kebudayaan Madura (Pena Pesantren, 2013), Pak Asy’ari belum lama menerbitkan Tobat Itu Nikmat (Zaman, 2013), dan saya sendiri baru saja menerbitkan buku di LKiS, berjudul Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel.

Kegiatan di Gapura menyepakati beberapa tindak lanjut, seperti pelatihan menulis untuk guru, pembuatan media komunikasi di internet, dan sebagainya. Yang tak kalah penting, forum menyadari akan pentingnya berjejaring.

Dalam kerangka membangun langkah bersama, kegiatan serupa kemudian juga dilaksanakan di SMA 3 Annuqayah sepekan kemudian, yakni pada hari Kamis (21/3) yang lalu. Dalam acara ini, hadir pula K. M. Faizi, pengasuh muda Annuqayah yang sudah menerbitkan banyak buku. Jika kegiatan di Gapura menghadirkan guru-guru dari wilayah timur Sumenep, dalam acara ini guru-guru yang diundang berasal dari sekolah-sekolah di wilayah barat Sumenep, yakni meliputi Kecamatan Guluk-Guluk, Ganding, dan Pragaan. Hadir pula beberapa guru dari Kecamatan Bluto dan Rubaru. Semuanya berjumlah sekitar 100 orang.

Sebelum diskusi dimulai, sambil menunggu peserta, mulai pukul 8.30 WIB diputar film Science and Islam, sebuah film dokumenter produksi BBC (2009) yang memaparkan cikal bakal kemajuan peradaban Islam abad pertengahan.

Pukul 9.40 WIB, diskusi dimulai. Setelah saya memberi pengantar yang menjelaskan tentang latar belakang dan tujuan kegiatan ini, Asy’ari Khatib memaparkan pengalamannya bergelut dengan dunia buku dan kepenulisan. Selain sering menulis puisi, dia telah banyak menerjemahkan buku-buku dari bahasa Arab.

Pak Asy’ari menuturkan bahwa dalam pandangan masyarakat awam, membaca dan menulis itu dianggap bukan pekerjaan—dipandang tidak bernilai. Guru yang kini tinggal di Pekamban, Pragaan, itu menceritakan pengalamannya di lingkungan keluarganya dalam menilai kegiatan membaca dan menulis. Meski semula dipandang dengan kurang simpatik, namun kini dia berhasil menunjukkan bahwa menulis dapat menghasilkan uang. Lebih dari itu, dia menyampaikan pengalamannya dalam menerjemahkan sejumlah buku yang mengangkat tema kehidupan Nabi Muhammad saw. yang memberinya banyak hikmah terutama yang bersifat spiritual.

Setelah Pak Asy’ari, giliran Kiai Faizi yang menyampaikan pemaparan. Kiai muda yang pada tahun 2011 diundang ke Berlin untuk membacakan puisi ini berkisah tentang beberapa eksprimen kepenulisan di sekolah. Sekitar delapan tahun yang lalu, dia pernah mendorong dua siswa Madrasah Tsanawiyah 3 Annuqayah untuk menulis sampai akhirnya diterbitkan oleh sebuah penerbit di Yogyakarta. Untuk mendorong semangat membaca dan menulis, dia pernah mengadakan lomba meresensi buku di perpustakan sekolah. Pemenangnya diberi hadiah buku yang dibelinya dari buku-buku obral di Yogyakarta.

Selain itu, Kiai Faizi juga bercerita tentang proses kreatif menulis. Dia menyampaikan bahwa penting sekali untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang tak biasa. Maksudnya, dengan membebaskan imajinasi sehingga ide yang muncul menjadi menarik. Dia memberi contoh kreativitas pembuat film Tom & Jerry yang ide-idenya kaya dan melabrak logika.

Kiai Faizi juga memaparkan pengalamannya dalam menerjemah buku dan menulis buku anak. Dalam kesempatan ini, dia juga membawa contoh buku-buku yang diterbitkannya serta buku karya murid-murid yang lahir dari proses pendampingan yang dilakukannya.

Sesudah Kiai Faizi, Kiai Dardiri mengisahkan pengalaman menulisnya, khususnya di media blog. Dia mulai membuat blog sejak tahun 2009. Sejak itu, dia berusaha menulis dua tema utama, yakni kebudayaan Madura serta keluarga dan pendidikan. Khusus tentang kebudayaan Madura, dia melihat bahwa banyak hal menarik di Madura yang belum diangkat ke permukaan, seperti tentang memelihara ayam, kebiasaan merokok dan minum kopi, naik haji, dan sebagainya. Hal-hal tersebut dia pikir akan dapat memperkenalkan kebudayaan Madura yang penuh nilai-nilai menarik kepada khalayak lebih luas. Beberapa tulisan tentang kebudayaan Madura di blognya itulah yang kemudian baru saja diterbitkan menjadi buku.

Selanjutnya, saya berusaha merangkum pemaparan ketiga narasumber dengan memberikan gambaran betapa nilai membaca dan menulis ini sangat penting dalam mendukung proses pendidikan. Membaca dan menulis bisa menjadi penyelamat dalam keterbatasan sistem dan fasilitas pendidikan yang ada. Saya menggambarkan betapa potensi membaca dan menulis bisa memberi nilai lebih bagi proses pendidikan. Saya juga mencoba menampilkan beberapa upaya yang telah dilakukan SMA 3 Annuqayah untuk menyemarakkan semangat membaca dan menulis di sekolah, seperti program Perpustakaan Masuk Kelas, dan sebagainya.


Dalam sesi tanya-jawab, banyak sekali guru yang mengajukan pertanyaan. Namun, karena keterbatasan waktu, pertanyaan dan tanggapan hanya diberikan kepada empat penanya. Setelah ditanggapi, sesi dilanjutkan dengan rencana tindak lanjut. Peserta dari Rubaru, Raudlatun Odax, meminta narasumber untuk bersedia menghadiri kegiatan serupa di sekolah di Rubaru. Peserta juga menyarankan untuk mengadakan pertemuan rutin di antara guru-guru untuk berbagi pengalaman membaca sambil belajar menulis. Forum juga merekomendasikan agar sekolah-sekolah yang ada berjejaring, termasuk dengan jaringan guru di wilayah timur Sumenep.

Kegiatan ini diakhiri pada pukul 13.00 WIB. Sebelum ditutup, beberapa peserta mendapatkan buku gratis dari narasumber. Selain itu, 30 perwakilan lembaga yang hadir masing-masing mendapatkan 10 eksemplar buku saya yang berjudul 10 Bulan Pengalaman Eropa untuk koleksi perpustakaannya masing-masing. Ada 383 judul yang dibagikan dalam acara ini. (Di Gapura, saya membagikan 296 buku yang sama kepada peserta dan perwakilan sekolah).

Pembagian buku gratis ini terlaksana atas dukungan Satria Dharma, ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), yang mengganti biaya cetak buku yang dibagikan tersebut. Selain itu, Pak Satria, yang punya semangat luar biasa untuk mendorong literasi di sekolah, juga membantu pendanaan kegiatan ini, baik kegiatan di MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura maupun di SMA 3 Annuqayah. Terima kasih, Pak Satria. Jazakumullah khayral jaza’. Semoga langkah ini akan dapat memberikan hasil bagi peningkatan mutu pendidikan kita semua.


Tulisan ini dikutip dari sini.

16 April 2012

Ingin Tahu tentang Tahu

Masluhatun, XI IPS 1 SMA 3 Annuqayah

Guluk-Guluk—Jum'at (13/04) pagi kemarin, siswa kelas IX IPA-IPS SMA 3 Annuqayah melakukan kunjungan belajar dan riset ke pabrik tahu UD “Fajar Menyingsing” di Desa Pore, Lenteng. Riset ini dilakukan untuk menambah pengetahuan siswa tentang proses pembuatan tahu. Juga sebagai pengayaan pembelajaran untuk pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes).

Rombongan siswa kelas XI yang berjumlah 50 orang dengan 3 pendamping disambut hangat oleh keluarga KH Wasik Syaikhol Umam, pemilik pabrik tahu, pada saat tiba di lokasi sekitar jam 8 pagi. Sedangkan Mus'idah Amien, S.Pd.I., guru pelajaran Penjaskes, tidak bisa menemani siswa karena harus menghadiri acara di Sumenep.

Sebagai formalitas, ada susunan acara yang dibawakan seorang MC dadakan dan spontan oleh Anisah, siswa kelas XI IPA karena sebelumnya dari siswa tidak ada yang ditunjuk sebagai MC.

K. Wasik yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pengasuh PP Annuqayah daerah Sabajarin pernah menjadi santri di PPA daerah Sabajarin, yaitu di daerah Al-Furqaan. Beliau menceritakan sedikit tentang masa kecilnya, bagaimana beliau bisa mondok di Al-Furqaan dan sampai mendirikan pabrik tahunya sekarang. Semuanya berlandaskan prinsip beliau: “minta restu/ridho orang tua”.

Pada sesi presentasi, K. Wasik menjelaskan bagaimana proses pembuatan tahu saja. Sedangkan penjelasan-penjelasan lainnya menyusul pada sesi tanya-jawab.

Dalam penjelasannya, beliau juga menuturkan banyaknya pembuat tahu yang berbuat curang agar tahu bisa tahan lama dengan menggunakan pengawet seperti formalin dan borax. K. Wasik adalah termasuk pembuat tahu yang tidak memakai pengawet apa pun. Bahan penbuat tahunya hanya kedelai (bahan baku), cuka, dan air.

Proses pembuatan tahu ada 3 tahap. Pertama, bahan baku kedelai direndam dalam air selama kurang lebih 1-2 jam, kemudian dicuci bersih, lalu digiling halus dengan dicampur air sampai menjadi seperti adonan tepung. Adonan kedelai direbus sampai memdidih 3 kali rebusan (atau sesuai kebutuhan). Kedua, hasil rebusan adonan kedelai disaring sampai ampas dan santannya benar-benar terpisah. Santan kedelai dicampur dengan cuka khas tahu sampai merata. Kemudian diaduk sampai bisa dibedakan antara cuka dan santan kedelai yang sudah mengkristal/mengendap. Ketiga, cuka dipisahkan/disedot dari santan kedelai yang sudah mengkristal, kemudian dimasukkan ke pres tahu. Dan dibiarkan kira-kira 25-40 menit untuk diiris dan diletakkan ke dalam bak penyimpanan tahu. Dan jadilah tahu yang siap dimasak.

Usah pembuatan tahu yang dirintis sejak tahun 1999 ini pernah mengalami kesulitan-kesulitan. Bahkan saat ini pun harga bahan baku pembuatan tahu (kedelai) mengalami kenaikan.

Walaupun demikian usaha K. Wasik ini memiliki banyak pelanggan di berbagai daerah seperti Saronggi, Dadda', Rubaru, Kalianget, Marengan, Toampar, Guluk-Guluk, Ganding, Payudan Nangger, dan di wilayah kota Sumenep.

Limbah tahu dari pabrik K. Wasik pada musim kering dibuang ke bak khusus (penampungan). Sedangkan pada musim hujan limbah dialirkan ke sungai. Selain itu, ada juga petani yang memanfaatkan limbah tahu sebagai pupuk organik cair di sawah. Dan limbah tahu juga bisa digunakan sebagai pakan ternak.

Menjelang Jum’atan, sekitar pukul setengah 12, rombongan meninggalkan tempat untuk pulang ke Guluk-Guluk.

22 Maret 2012

SMA 3 Annuqayah Resmikan “Mengantar Perpustakaan ke Ruang Kelas”

M. Kamil Akhyari, kontributor NU Sumenep Online

Guluk-Guluk - Perpustakaan menjadi ujung tombak sebuah lembaga pendidikan. Kemajuan institusi pendidikan salah satunya bisa dilihat dari fasilitas perpustakaan yang dimiliki. Banyaknya koleksi buku yang dimiliki menandakan sejauh mana sekolah bisa dikatakan maju.

Namun, sekalipun perpustakaan yang dimiliki megah dengan ribuan bahan bacaan yang dimiliki terkadang pengunjungnya bisa diitung dengan jari. Menurut Kepala SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk M. Mushthafa, untuk menumbuhkan minat baca siswa butuh cara kreatif untuk memikat siswa rajin mengunjungi perpustakaan tanpa harus ada unsur paksaan.

Dalam rangka menumbuhkan minat baca siswa, Sabtu (25/2), bersamaan dengan pemberlakuan tata tertib baru sekolah, SMA 3 Annuqayah meresmikan program “Mengantarkan Perpustakaan ke Ruang Kelas” di Madaris 3 Annuqayah, Guluk-Guluk untuk mendukung visi-misi Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah.

Menurut Mushthafa, program tersebut untuk menjawab dua persoalan. “Dalam rangka membangkitkan minat baca siswa di sekolah dan sekaligus sambil menunggu guru yang belum masuk kelas, maka saya pikir akan menarik kiranya jika kita mencoba mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas,” katanya.

Bahan bacaan 600 hingga 700 kata yang diberikan kepada siswa diambil dari buku, majalah, koran, dan internet. Sekolah tidak membatasi buku tertentu, “Yang pada dasarnya dibuat dengan asumsi bahwa kriteria ini akan menjaga mutu tulisan sekaligus akan cocok untuk mereka yang belum terbiasa membaca, dengan kata lain, bisa membangkitkan semangat membaca,” jelasnya.

Program tersebut ditargetkan, dalam satu tahun pelajaran siswa dapat membaca paling sedikitnya 100 tulisan. “Jika dalam satu tahun pelajaran siswa membaca paling sedikit 100 tulisan bermutu, maka dalam tiga tahun mereka akan telah membaca 300 tulisan! Saya pikir target ini masih sangat mungkin berlipat ganda,” targetnya.

Saat ini setiap hari siswa membaca satu sampai dua tulisan yang telah diketik ulang dengan desain menarik dan disertai kamus kecil terhadap bahasa ilmiah atau asing.
 
Sampai Minggu (18/3), tulisan yang telah siap diberikan kepada siswa 34 tulisan dan sekitar 25 tulisan masih dalam proses.

Berita ini dikutip dari Website NU Sumenep, 19 Maret 2012.

12 Januari 2012

Observasi Kelas XI SMA 3 Annuqayah ke Wali Lima



Masluhatun, siswi kelas XI IPS-1 SMA 3 Annuqayah

Guluk-Guluk—Guru mata pelajaran Sejarah kelas XI SMA 3 Annuqayah, Mabrurah, S.Ag., membawa murid-muridnya bersama beberapa guru pendamping observasi ke wali lima di Tuban, Gresik, Lamongan, dan Surabaya. Kegiatan ini sudah disepakati dengan para siswa beberapa minggu sebelum ujian semester ganjil dilaksanakan dan sudah mendapat persetujuan dari kepala SMA 3 Annuqayah.

Dari 62 orang siswa kelas XI (IPA dan IPS), ada 45 siswa yang mendaftarkan diri dalam kegiatan ini beserta 4 guru laki-laki dan 6 guru perempuan sebagai pendamping.

Observasi ini dilaksanakan setelah pelaksanaan ujian semester ganjil di SMA 3 Annuqayah selesai dan saat pelajaran masih belum aktif atau dalam masa remedi (perbaikan nilai).

Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini yaitu untuk berziarah dan untuk menambah pengetahuan siswa tentang kelima sunan di Jawa Timur dengan datang langsung dan bertanya langsung kepada juru kunci di setiap makam sunan tersebut.



Ada lima kelompok yang masing-masing terdiri dari sembilan anggota. Masing-masing diberi tugas tertentu. Setiap kelompok didampingi oleh dua guru pendamping. Kelompok 1 khusus bertugas merangkum kegiatan observasi di Sunan Ampel dengan guru pendamping Syaiful Bahri, S.Ag. dan Mabrurah, S.Ag.; Kelompok 2 di Sunan Giri dengan guru pendamping Mahmudi, S.Sos. dan Bekti Utami, S.T.; kelompok 3 di Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dengan guru pendamping K.H. Ach Hazim, S.Sos., S.Pd. dan Hafiyatul Fajariyah, S.S.; kelompok 4 di Sunan Drajat dengan guru pendamping Rina Husada, S.Pd dan Sumbulatun, S.Pd.I.; dan kelompok 5 di Sunan Bonang dengan guru pendamping K. Marzuki dan Mus’idah Amin, S.Pd.I.

Rombongan observasi berangkat pada Selasa malam (27/12) setelah shalat isya’ tepatnya jam 19.45 WIB. Pada malam keberangkatan ini rombongan singgah di dua tempat, yaitu di makam K.H. Kholil, Bangkalan dan makam K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), untuk membaca doa dan tahlil.

Sedangkan observasi wali lima baru dimulai pada Rabu pagi (28/12), dimulai dari Sunan Bonang (Tuban), Sunan Drajat (Lamongan), Sunan Gresik (Gresik), Sunan Giri (Gresik), dan Sunan Ampel (Surabaya).

Peserta observasi juga mengunjungi museum yang bersebelahan dengan kompleks pemakaman Sunan Drajat. Museum tersebut mengoleksi beberapa benda bersejarah, seperti umpat batu/bencet, batu bulat, batu lumping, mata uang Cina, guci, batu berelief, keramik asing, padupa, kain batik motif drajat, jadhug, alat music, kitab Ambjah, naskah lontar, bayang gambang, dan bedhug yang dibuat oleh Pangeran Wonotirto keturunan Sunan Drajat ke-3 kira-kira abad XVII.

Selain berziarah dan belajar, baik siswa ataupun guru pendamping membeli buah tangan di tempat-tempat perbelanjaan yang bersebelahan dengan kompleks pemakaman sunan-sunan tersebut. Ada juga yang memandang kegiatan ini sebagai refreshing setelah sebelas hari mengikuti ujian semester.



Kunjungan terakhir adalah di Sunan Ampel, Surabaya. Setelah observasi di Masjid Agung Ampel selesai, rombongan banyak yang meminum dan mengambil air di gentong-gentong besar di tempat itu sebagaimana para peziarah lainnya. Air ini berasal dari sebuah sumur yang digali oleh Sunan Ampel dan santrinya. Air sumur ini dipercaya memiliki kelebihan seperti air zamzam di Mekah. Bahkan ada yang mengatakan bahwa air sumur ini bersumber dari air zamzam di Mekah.

Setelah semua peserta lengkap di dalam mobil masing-masing, rombongan observasi dan ziarah SMA 3 Annuqayah pulang ke Guluk-Guluk, meninggalkan Surabaya dan menyeberang di atas Selat Madura dengan melewati jembatan terpanjang se-Asia Tenggara, Suramadu. Rombongan tiba di SMA 3 Annuqayah pada jam 23.05 WIB dengan selamat.

28 Desember 2011

Kelas XII Belajar Adobe Photoshop dan CorelDraw

Ruka'iya, siswa kelas XII IPA SMA 3 Annuqayah

Guluk-Guluk—Untuk pertama kalinya guru pengajar Seni Budaya yang kini sedang mengajar siswi kelas XII baik IPA maupun IPS  di SMA 3 Annuqayah mengadakan suatu proses pembelajaran yang begitu menyenangkan. Dalam metode pembelajarannya kali ini, beliau mengundang seseorang yang cukup berpengalaman dalam bidang seni, khususnya dalam bidang mengolah gambar dengan menggunakan komputer.

Kali ini guru pengajar seni budaya yang bernama M. Mushthafa, S.Fil., M.A membuat sensasi baru dalam metode pembelajaran yang digunakan terhadap murid-muridnya. Seperti yang telah kita ketahui, mayoritas para guru apabila sedang mengajar pasti terpaku pada buku yang akan dipelajari. Namun beliau tidak. Karena selain terpaku pada buku juga berisi wawasan-wawasan umum yang tidak membuat anak-anak itu gaptek.

Kegiatan belajar mengolah gambar dengan komputer (yakni dengan program  Adobe Photoshop dan CorelDraw) ini berlangsung selama dua kali tatap muka dengan penyaji yang berbeda, yakni pada hari Sabtu dan Ahad, 24-25 Desember. Penyaji yang diundang sebagai pemberi materi pada pertemuan pertama yakni, K. Muhammad Affan, S.Ap. Beliau memaparkan tentang Adobe Photoshop. Tempatnya di Laboratorium IPA SMA 3 Annuqayah.

Dalam pemaparannya beliau menjelaskan terlebih dahulu tentang apa itu Photoshop  agar siswa bisa punya gambaran awal. Pada saat dimulai  beliau langsung menjelaskan di hadapan para siswa dengan menggunakan LCD proyektor sehingga dapat memudahkan penjelasannya.

Photoshop adalah program visual (gambar) dan dapat mengasah otak kanan (imajinasi, emosional).  Pada kesempatan kali ini siswa belajar dan praktik langsung dengan tiga pembahasan yaitu memasang efek pada gambar dan teks, menggambar sederhana, dan memoles gambar (edit gambar).

Setelah pembahasan selesai, para siswa dapat menikmati langsung bagaimana caranya menggunakan Photoshop seperti yang telah dipaparkan penyaji. Media pembelajaran yang digunakan untuk praktik ialah komputer. Ada dua komputer dan dua laptop. Sehingga siswa dibagi menjadi empat kelompok. Siswa yang hadir bukan hanya siswa kelas XII saja melainkan dari kelas X dan XI juga ikut hadir sebagai undangan yang memang diminta sendiri oleh guru pengajar Seni Budaya.

“Para siswa begitu senang dengan dilaksanakannya acara ini karena merasa menemukan sesuatu yang baru dan tidak mudah bosan dengan suasana pendidikan yang menggunakan cara seperti itu-itu saja. Seperti halnya duduk di bangku sekolah dan harus mendengarkan penjelasan guru tanpa adanya media lain yang dapat menarik minat siswa agar supaya senang dengan materi yang diterangkan. Tentunya juga bermanfaat bagi siswa,” tutur Wiwin Wahyuni, siswi kelas XII IPA.

Selain itu, dari asyiknya praktik, siswa lupa waktu jam pulang. Kebetulan ketika acara ini berlangsung, hari-hari sekolah tak seperti biasanya dan pelajaran belum aktif dikarenakan SMA 3 Annuqayah baru selesai mengadakan ujian semester ganjil dan saat itu masih diadakan remedi untuk siswa yang nilainya di bawah rata-rata.

Pada hari berikutnya, yakni hari Ahad, materinya tentang CorelDraw yang dipaparkan oleh Badrus Shaleh. Beliau sangat berpengalaman dalam hal itu. Ia banyak berkarya dengan CorelDraw.

Ketika memaparkan beliau mengatakan bahwa hidupnya dibiayai dari CorelDraw. Dia juga termasuk perintis CorelDraw di Annuqayah. Spontan siswa tercengang dan mengucapakan “wow…” serempak. Hal itu tambah membuat siswa bergairah untuk terus menyimak penjelasannya dan tak mau ketinggalan.

Pembahasan sesi CorelDraw membutuhkan waktu yang lebih banyak dibandingkan materi hari pertama. Pelajaran CorelDraw di hari itu ada lima pembahasan  tapi karena waktunya tidak cukup sehingga berkurang satu menjadi empat yakni, membuat sampul majalah , membuat logo, membuat poster, dan membuat file JPG/BMP.

Dari hari pertama dan hari kedua, pada saat siswa sedang praktik, para penyaji masih membimbing dan mendampingi termasuk juga guru pengajar Seni Budaya, M. Mushthafa. Hal ini bertujuan agar siswa dapat lebih memahami secara langsung materi yang sudah diberikan.

Seusai acara, pengajar Seni Budaya mengharapkan agar ada tindak lanjut dari diadakannya acara ini, yakni dengan membentuk kelompok yang mendalami Photoshop dan CorelDraw, karena di Annuqayah putri belum ada kelompok yang secara mendalam dapat menggunakan Adobe Photoshop dan CorelDraw.

28 Oktober 2011

Energi Listrik dari Kulit Durian


Ruka'iya, siswa kelas XII IPA SMA 3 Annuqayah

Guluk-Guluk—Dalam mengupayakan pencegahan rusaknya lingkungan hidup dan pemanfaatan bahan bakar nonfosil untuk berbagai keperluan seperti untuk pembangkit listrik, siswa kelas XII IPA SMA 3 Annuqayah mengadakan eksperimen bertema "pembangkit listrik ramah lingkungan".

Setelah melalui musyawarah, akhirnya muncul ide pembangkit listrik ramah lingkungan dari tenaga air dan dengan memanfaatkan kulit durian. Ide program ini atas usulan guru Fisika SMA 3 Annuqayah, Syaiful Bahri.

Rencana untuk mengadakan eksperimen ini sebenarnya ditarget sejak minggu kedua pada bulan Oktober dengan memulai persiapan alat dan bahan. Namun karena ada berbagai kendala, program ini baru terlaksana pada hari Ahad, 23 Oktober kemarin, setelah semua peralatan yang dibutuhkan lengkap.

Pada hari Ahad kemarin, siswa hanya melakukan percobaan yang menggunakan manfaat kulit durian. Bahan yang diperlukan terdiri dari baterai bekas, obeng, gunting, pisau, kabel,  multimeter, lampu, ulekan, wadah, dan kertas karton.

Langkah kerja yang pertama, tutup baterai dibuka dengan menggunakan obeng, kemudian cairan karbon yang terdapat di dalamnya dikeluarkan. Langkah kedua, kulit bagian dalam durian diambil, kemudian ditumbuk sampai halus. Ketiga, baterai yang telah kosong tersebut diisi dengan tumbukan kulit durian yang sudah halus. Keempat, baterai yang telah terisi ditutup dengan rapat. Akan tetapi sebelum baterai itu ditutup dengan rapat, harus dilapisi terlebih dahulu dengan kertas karton. Agar ion positif tidak menyentuh ke ion negatif. Karena jika ion positif dan ion negatif saling bersentuhan maka akan menyebabkan baterai tersebut tidak berfungsi.

Hal-hal yang harus diperhatikan, baterai yang telah terisi tidak boleh bocor, harus dalam keadaan rapat dengan menggunakan isolasi. Apabila bocor, partikel yang terdapat di dalamnya akan bergerak bebas. Hal itu menyebabkan kerja baterai tidak maksimal. Sehingga tidak menghasilkan energi pada baterai tersebut.

Kini saatnya siswa menguji baterai tersebut dengan membuat rangkaian listrik. Rangkaian listrik tersebut terdiri atas sumber arus, kawat penghantar, lampu, dan saklar. Uji coba selanjutnya menggunakan multimeter.

Mulitimeter merupakan  gabungan dari amperemeter, voltmeter, dan ohmmeter. Multimeter juga disebut AVO meter (Amper, Volt, dan Ohmmeter). Kegunaannya untuk mengukur besaran-besaran yang berbeda. Uji coba ini hanya mengukur kuat arus dan beda potensial (tegangan listrik).

Namun ketika percobaan dimulai, baterai tidak dapat berfungsi sama sekali, baik saat membuat rangkaian listrik maupun multimeter. Hal ini membuat siswa dan pembimbing tidak percaya.

Selanjutnya kami langsung bertindak dan mencari kesalahan yang menjadi penyebab tidak berfungsinya baterai tersebut. Ternyata setelah diteliti, penyebab utama dari kesalahan tersebut adalah kurang padatnya isi tumbukan kulit bagian dalam durian yang dimasukkan ke dalam baterai dan kurang rapatnya posisi baterai pada saat ditutup, serta kurang halusnya tumbukan kulit bagian dalam durian.

Namun kegagalan ini tidak menjadi penghalang melainkan dapat dijadikan pelajaran supaya lebih teliti dan tetap berusaha tanpa menyesalinya.

Dengan semangat yang besar, siswa mencobanya kembali dan menghasilkan dua baterai sebagai percobaan selanjutnya. Dari kegagalan itu, kita bisa mengetahui kesalahan yang tanpa sadari kita lakukan.

"Alhamdulillah pada percobaan selanjutnya berhasil, sehingga membuat siswa menjadi semakin antusias dan semangat untuk melakukan percobaan selanjutnya," tutur Ernawati, koordinator tim durian.

Baterai yang telah dibuat memiliki daya tahan selama lima hari. Untuk penggunaan selanjutnya bisa dicas terlebih dahulu, dengan cara menyusun baterai, dengan catatan penempatan arah arus listriknya harus sama. Misalnya positif ketemu positif, begitu sebaliknya. Kemudian dibungkus menggunakan kertas atau koran bekas dan bungkus dengan rapat menggunakan isolasi. Setelah itu, gunakan kabel/kawat sebagai penghantar arus listrik. Sehingga batrei tersebut mempunyai energi listrik kembali.

Kegiatan ini berlangsung pada jam 13.00-15.45 WIB di ruangan laboratorium IPA SMA 3 Annuqayah.

08 Oktober 2011

Siswa SMA 3 Annuqayah Berkunjung ke Radar Madura

Pada hari Rabu, 5 Oktober 2011, siswa kelas XII IPS SMA 3 Annuqayah berkunjung ke kantor Radar Madura di Bangkalan. Kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka praktik pelajaran Ekonomi, yakni dengan mempelajari manajemen Radar Madura. Selain itu, siswa yang kebetulan menjadi pengurus atau kru Teratai, majalah terbitan OSIS SMA 3 Annuqayah, juga belajar tentang proses penerbitan. Di bawah ini kutipan berita singkatnya di Radar Madura edisi 6 Oktober 2011.


10 April 2011

Belajar dengan Praktik itu Menyenangkan

Rukaiyah, XI IPA SMA 3 Annuqayah

Guluk-Guluk—Hari Rabu 6 April yang lalu, siswa kelas XI IPA SMA 3 Annuqayah melakukan praktikum tentang tegangan permukaan air. Percobaan ini bertujuan untuk memudahkan pemahaman siswa mengenai tegangan permukaan suatu zat cair.

“Selain itu percobaan ini juga bertujuan agar pembelajaran tidak membosankan. Jika hanya lewat teori saja, anak-anak bisa bosan. Jadi harus praktik langsung,” papar Syaiful Bahri, guru fisika SMA 3 Annuqayah.

Sebelum kegiatan praktikum dimulai, para siswa harus menyiapkan bahan-bahan terlebih dahulu. Untuk mendapatkan bahan-bahannya tidak terlalu sulit. Bahan yang diperlukan di antaranya: gayung/bekas gelas air mineral, air, silet.

Langkah kerja yang pertama adalah memasukkan air ke dalam gayung/bekas gelas air mineral. Setelah terisi, biarkan sampai air di wadah benar-benar dalam keadaan tenang. Setiap benda yang terletak pada suatu bidang Akan melakukan tekanan pada bidang tersebut, termasuk juga zat cair, dan itu disebut tekanan hidrostatik.

Selanjutnya, apabila air sudah dalam keadaan datar dan tenang, maka langkah selanjutnya tinggal mencelupkan silet yang telah disiapkan. Namun cara meletakkannya tidak sembarang menempatkan begitu saja, kemudian selesai. Tetapi ada tekniknya, yakni cara memegang bahan yang akan diuji harus dalam keadaan lurus, karena besarnya tegangan permukaan suatu zat cair dipengaruhi oleh keadaan permukaan zat cair. Misalnya suhu, semakin tinggi suhu zat cair semakin kecil tegangan permukaannya.

Setelah langkah kerja selesai dikerjakan, dan suatu benda yang berada dalam bejana yang terisi zat cair diam dan benda itu tercakup sebagian maka benda itu akan terapung.

“Dengan adanya praktikum ini, anak-anak dapat memahami teori dan bisa mempraktikkannya. Selain itu, anak-anak dapat turun langsung mencobanya. Akhirnya siswa merasa puas dan senang dalam belajar,” tutur salah satu siswi kelas XI IPA yang juga mangikuti percobaan itu. Suasana pada saat itu, tampak tenang tapi para siswa tetap aktif dan berantusias sekali melakukan percobaan.