Tampilkan postingan dengan label Tim Gula Merah SCC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tim Gula Merah SCC. Tampilkan semua postingan

06 Juni 2009

Conservation of Javanese Sugar (Siwalan Tree): Local Solution for Climate Challenge


Javanese Sugar Team School Climate Challenge Competition
SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Indonesia


Siwalan tree (Borassus flabellifer) is one of a local species in Madura. Madura people take advantage of it for many functions. The leaves used for making mats, bucket, etc, and the wood used as a building material. Siwalan tree also supplies a kind of sugar namely Javanese sugar (gula merah, gula Jawa). These products become as an income and financial support for some Madura people. Meanwhile, in recent time, Javanese sugar was starting to be isolated. As a result, people’s appreciation to siwalan tree degraded, and the further impact was logging of siwalan tree.

From this background of situation, we set up a series of activities in a climate challenge project—namely “Conservation of Javanese Sugar (Siwalan Tree): Local Solution for Climate Challenge”—so that Madura people have a positive appreciation to the siwalan tree and Javanese sugar. Conservation of siwalan tree had a broad impact—not only about environmental and economics purpose, but also cultural aspect. Madura people have many traditional food used Javanese sugar as an ingredient.

For about four months, we had managed some environmental programs and activities to achieve this objective. Those programs include socialization in several school communities and people association around Sumenep district to promote the use of Javanese sugar and to stop logging activities. Socialization held not only by sharing and discussing this issue with people and students. As a concrete action, our team used to provide tradisional food used Javanese sugar as an ingredient in our school activities. We also collected many recipes for this kind of food and in the exhibitions we had very good appreciations from people and students. By these activities, we have been spreading out environmental awareness through conservation of siwalan tree issue.

Our other important activity in this project is field research about the problem of this effort of conservation. We had done two field research in two villages, Cecce’ (Aeng Panas) Pragaan and Banuaju Batang-Batang. These two villages are the center of producer of Javanese sugar. Many valuable information and experiences we’ve got in these observations. We also tried to convey environmental messages to the people in these researches.

To assure sustainability of this project, we planned to recruit new cadres in our school, organize capacity building for our team and community, develop educational network on environmental issues in Sumenep, and develop this issue with another important problem concerning local food and plantation.

(Summary of Project for School Climate Challenge Competition British Council Indonesia 2009)

26 Mei 2009

Tim Gula Merah Aksi Sosialisasi ke Desa Berekas Daja

Ummul Karimah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Sosialiasi dan Promosi Tim Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council

Saat itu, tanggal 22 Mei 2009, saya dan teman-teman Tim Gula Merah menyusuri jalan setapak pelosok menuju desa Berekas Daja untuk melakukan sosialisasi ke ibu-ibu Muslimat NU. Saya mengira anggota Muslimat yang hadir hanya sedikit, tapi sekitar pukul 14.00 WIB, saat saya sampai dan menginjakkan kaki saya di depan Masjid Attarbiyah, tempat Muslimat bekumpul, mata saya terbelalak menatap kurang lebih 200 perempuan yang santai menunggu kedatangan kami. Saya pun tetap melangkah mencoba percaya diri dan tetap tegar. Sejujurnya, hati saya dag dig dug.
Tak selang berapa lama, tim kami dipersilakan duduk, dan pengasuh, yaitu Ny. Zulfa, menyerahkan mik pada kami. Ia menyambut kami dengan senyum lebar. “Selamat datang,” ujarnya pada kami. Maka Mus’idah Amin, guru pembimbing Tim Gula Merah yang ikut mendampingi sosialisasi ke tempat itu menjawab, “Senang sekali bisa hadir di tempat ini,” katanya.
Saat sosialisasi berlangsung, seluruh peserta yang hadir mengangguk-angguk. Sepertinya mereka mulai mencerna keterangan yang disampaikan oleh 2 orang anggota tim secara bergantian. Dan ternyata ini terbukti saat diakui oleh Hj. Maimunah, salah satu hadirin, bahwa ia ingin lebih damai dengan alam. Ia juga mengaku takut saat Mus’idah menyampaikan bahwa banyak desa lain yang mengalami banjir akibat penebangan pohon secara liar tanpa reboisasi. “Saya mendukung tim ini, dan ketika saya hendak mengadakan acara, saya akan menggunakan gula merah sebagai menu utama,” ungkapnya dengan mata berbinar-binar.
Sementara itu, ibu-ibu yang lain juga serempak mengatakan “Ya!” saat ditanya tentang kesiapan mereka melestarikan gula merah pohon siwalan. “Akhirnya…” pungkas Mus’idah bernafas lega.

13 Mei 2009

Tim Gula Merah Sosialisasi Ke MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura, Peserta Berebut untuk Bertanya


Ummul Karimah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Sosialiasi dan Promosi Tim Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council

Sementara Tim Sampah Plastik melakukan sosialisasi ke MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura Ahad (10/5) kemarin, Tim Gula Merah juga melakukan sosialisasi di tempat yang sama. Dua orang dari satu tim yang terdiri dari 1 guru pendamping dan 1 anggota itu mensosialisasikan tentang gula merah pohon siwalan usai Tim Sampah melakukan sosialisasi bahaya sampah plastik di Aula Nasy’atul Muta’allimin Gapura.
Para peserta tampaknya tak merasa jemu meski dua sesi telah mereka lewati. Bahkan banyak dari peserta yang berebut kesempatan untuk bertanya. Salah satunya peserta yang bernama Kinnanah. Ia menampakkan respons yang sangat baik melalui raut semangat ingin tahunya terhadap masalah gula merah. “Orang tua saya juga petani gula merah, Bu,” terangnya pada Mus’idah, guru pandamping Tim Gula Merah. “Tapi saya tidak tahu bagaimana gula merah bisa maju. Sebab orang tua saya hanya memproduksinya dengan sederhana,” tambahnya dengan nada khas Gapura.
Maka Mus’idah yang saat itu menyimak keluhan dari Kin—sapaan akra Kinnanah itu—menjawab, “Mulailah dari kita. Pelajar cerdas, kaya ide, dan mampu membantu mengembalikan gula merah menjadi semakin berkualitas. Siapa tahu jika nanti gula merahmu cantik, bisa di jual di El-Malik (toko ternama di Sumenep),” paparnya. “Tentu alammu akan semakin damai, karena penebangan berkurang,” tambahnya. Kin pun berjanji diselingi dengan semangat 45 di hadapan teman-temannya untuk mencoba membuat masakan yang berbahan gula merah dan bahan pendukungnya terdapat di sekitar, yakni pangan lokal, serta ia juga mengatakan bahwa ia akan mensosialisasikan kepada masyarakat sekitarnya.
Keterangan yang disampaikan oleh tim di antaranya tentang puncak kapitalisasi di Indonesia. Bahwa sebenarnya rakyat Madura telah terjajah dari segi makanan. Juga tentang anak kecil yang masa sekarang yang sudah tidak tahu pada makanan lokal lagi. “Padahal makanan-makanan lokal tersebut dulu pernah menjadi denyut nadi para petani,” kata Mus’idah menambahkan.
Memang benar, ternyata tak hanya anak kecil saja yang sudah tak tahu pada macam-macam pangan lokal, tetapi saat peserta ditanya tentang klenteng (“anak ubi”) dan jamblem, mereka kebingungan.

06 Mei 2009

Tim Gula Merah Membuat Gettas

Nurul Elmi, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Tim Pendukung Tim Gula Merah School Climate Challenge British Council

GULUK-GULUK—Setelah sebelumnya sempat kurang berhasil dalam percobaan membuat jubedhe, makanan tradisional Madura berbahan gula merah, Tim Gula Merah SCC SMA 3 Annuqayah tidak merasa putus asa.
Senin (4/5) kemarin, mereka kembali melakukan praktik membuat makanan berbahan dasar gula merah. ”Praktik ini dimaksudkan untuk menambah wawasan kita tentang makanan-makanan yang terbuat dari gula merah agar kita semakin mencintai gula merah,” papar Mus’idah Amien, salah satu guru pembimbing Tim Gula Merah.
Praktik yang berlangsung di halaman Markas Tim SCC SMA 3 Annuqayah itu dimulai selepas Zhuhur, setelah anak-anak selesai bersekolah. Anggota tim tetap bersemangat walaupun mereka kekurangan peralatan dan satu anggota tim tidak bisa membantu karena sakit.
Kali ini mereka mencoba satu resep yang telah berhasil dikumpulkan, yaitu kue gettas, yang terbuat dari parutan singkong mentah yang dibulatkan lalu digoreng dan kemudian dilumuri gula merah. Uniknya, kue gettas yang mereka buat berwarna cokelat karena dilumuri dengan gula merah asli. Sementara yang umum di masyarakat berwarna putih. Itu adalah ide gila dari Ibu Mus’idah, di samping karena terbatasnya bahan yang ada. “Ini adalah ide Bu Mus, agar unik,” ungkap Eka, salah satu anggota tim.
Karena singkong yang dikupas masih banyak, Bu Mus menginstruksikan agar kami memasak singkong itu untuk dibuat tattabun—salah satu makanan yang juga berbahan gula merah. Lalu Bu Mus’idah mengajak seluruh Tim Gula Merah untuk membuat tungku agar menghemat minyak tanah dan karena kompornya memang hanya satu. Walaupun untuk menyalakan api sulitnya minta ampun, namun mereka tidak kenal putus asa hingga akhirnya guru pendamping yang lain, M. Mushthafa, membantu mereka. “Kayunya jangan terlalu banyak agar efektif dan apinya besar,” ujarnya.
Setelah diangkat dari perapian, mereka mulai menghancurkan singkong itu satu per satu. Namun karena singkong itu kurang lunak, akhirnya mereka gagal membuat tattabun.
Karena hari sudah mulai petang, mereka mengakhiri kegiatan mereka dengan makan singkong bersama yang gagal dibuat tattabun tadi dengan ditaburi parutan kelapa. Praktik membuat kue gettas itu dapat dibilang sukses dibandingkan dengan praktik pembuatan Jubedhe sebelumnya yang 90 % gagal. Bukannya menjadi Jubedhe sebagaimana yang diharapkan, malah menjadi dodol. Sebelum pulang, Tim Gula Merah berencana untuk mempersembahkan kue gettas itu kepada guru SMA keesokan harinya.

01 Mei 2009

Tim Gula Merah Riset Data ke Batang-Batang


Nurul Elmi, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Tim Pendukung Tim Gula Merah School Climate Challenge British Council

Selasa(28/04) saya bersama Tim Gula Merah kembali melakukan riset data. Kali ini ke Desa Banuaju Timur Kecamatan Batang-Batang, Sumenep. Dalam kegiatan ini, ikut serta empat orang Tim Sampah Plastik dan satu orang dari Tim Pupuk. Tim Sampah Plastik juga melakukan sosialisasi ke SMK Bina Mandiri Banuaju. Kami berangkat pukul 07.40 WIB didampingi oleh dua orang guru, M. Mushthafa dan Mus'idah.
Riset kali ini dimaksudkan untuk lebih memperluas wawasan kami mengenai rahasia pembuatan gula merah yang berkualitas. Dengan bantuan Pak Masdur, salah satu pedagang gula merah di Banuaju, kami melakukan riset data ke rumah Ibu Bari. Saat itu jam menunjukkan pukul 11.30 WIB. Dari wawancara dengan Ibu Bari, kami mendapatkan informasi tentang tips-tips membuat gula merah yang berkualitas. Menurutnya, pekerjaan membuat gula merah tidaklah terlalu sulit asalkan sabar dan terampil. “Mon terro bagussa larona se bagus bakto ekella kapo'na buang,” ujarnya.
Kami juga mendapatkan informasi tentang pengemasan gula merah yang baik. Masyarakat Banuaju banyak yang menggunakan cobbuk (kemasan gula merah yang terbuat dari daun lontar), karena dengan menggunakan cobbuk gula yang dihasilkan lebih kering dan tahan lama daripada menggunakan bungkus plastik. Pak Masdur menambahkan bahwa pengemasan gula merah yang baik bagi pedagang dengan menggunakan keranjang yang baik dan menggunakan plastik dobel.
Setelah riset data selesai, kami shalat Zhuhur di rumah Pak Masdur. Kami meninggalkan Banuaju pukul 14.00 WIB. Kami sampai di SMA 3 Annuqayah sekitar pukul 17.00 WIB, karena masih mampir di Gapura dan pasar Sumenep.

24 April 2009

Tim Proyek Gula Merah Berdiskusi dengan Tokoh Lingkungan


Ummul Karimah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Sosialiasi dan Promosi Tim Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council

GULUK-GULUK—Upaya yang dilakukan oleh tim proyek Konservasi Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council SMA 3 Annuqayah untuk menuju sukses tak hanya sampai di bumi Cecce’ Pragaan saja, tetapi mereka juga melakukan reset data ke tokoh masyarakat di Annuqayah yaitu ke rumah Panji Taufiq, Kamis (23/4) sore kemarin. Mereka serempak mengaku grogi saat hendak memasuki gerbang rumah Pak Panji di utara komplek Pesantren Annuqayah, namun Ekatur Rahmah, salah satu anggota tim, mengatakan bahwa ia merasa tenang saat salam yang ia lontarkan terjawab oleh suara lembut. “Ternyata santai. Tak segerogi yang kubayangkan,” katanya kemudian.
Informasi luasnya wawasan dan dalamnya pengetahuan Panji Taufiq tentang pohon siwalan pada khususnya dan isu-isu lingkungan pada umumnya diperoleh dari M. Mushthafa, pendamping Tim Sampah Plastik. Namun, saat Panji Taufik dibilang berwawasan luas tentang pohon siwalan dan isu lingkungan, ia mengaku bahwa itu hanya karena faktor usia. “Saya tidak pintar, tapi hanya lebih tua dari adik-adik. Jadi lebih lama hidup dan lebih berpengalaman saja,” paparnya dengan tersenyum-senyum.
Yang mengherankan namun menakjubkan adalah saat tim membuka pembicaraan dengan beberapa alasan keprihatinan mereka terhadap gula merah pohon siwalan yang kian hari hampir punah. Ternyata Pak Panji memberikan tanggapan yang cukup luas. Ia menyatakan bahwa bukan cuma gula merah yang hampir punah, namun makanan lokal lainnya yang dulu menjadi nadi kehidupan orang Madura juga telah banyak yang punah.
“Coba kalian ingat! Jika dulu semasa kalian kecil kalian bermain rebus-rebusan buah klenteng, “anak ubi”, maka sekarang sudah jarang sekali bukan? Bahkan anak-anak kecil sudah tak mengenal klenteng lagi. Gula merah juga hampir senasib dengan klenteng,” paparnya yang membuat Mus’idah, guru pendamping tim, berkata, “Santai tapi begitu kena dan menusuk.” Mus’idah dan Anggota tim lainnya hanya geleng-geleng kepala. “Belum bertanya, keterangan yang diperoleh sudah sangat luas. Apalagi bila kami lontarkan 5-10 pertanyaan, bayangkan?” imbuhnya dengan raut kekaguman.
Seluruh anggota tim tampaknya makin serius menyimak keterangan yang Pak Panji sajikan. Suasana hening hanya tinggal suaranya yang tenang dan santai.
Memang, bila keterangan mudah dan enak dicerna, maka sepertinya waktu hanya sekejap mata. Wawancara dipending sejenak karena telepon rumah Pak Panji berdering. Ia kemudian meminta waktu untuk mengangkat telepon.
Sementara itu, 2 anggota tim Gula Merah, 1 guru pembimbing, dan 1 anggota tim Pupuk Jerami yang juga ikut, baru merasa bahwa mereka sudah cukup lama berada di situ. Sekitar 1 jam lamanya.
Ketika Pak Panji keluar, ia melanjutkan pembicaraan tentang puncak kapitalisasidi Indonesia. Ia juga memberikan pengarahan pada anggota tim tentang ke mana mereka harus melangkah dan agenda apa yang harus dikerjakan.
Baginya, pemerintah di Indonesia harusnya mempunyai kreasi yang inovatif. Seperti melakukan pembibitan pada pohon siwalan yang asalnya hanya berkembang biak dengan mandiri—tanpa ada orang yang peduli. Ia juga sempat menyindir bahwa untuk melestarikan gula merah pohon siwalan sangat susah dilakukan bila tidak dibumbui dengan semangat yang besar. “Kita masih harus berkomunikasi dengan pemerintah dan dinas perkebunan. Jadi tidak gampang.” Namun ia menambahkan bahwa ini bukan alasan untuk tim proyek tersebut mundur, sebab bila mereka melakukan dari yang terkecil, seperti riset data, sosialisasi berupa pemakaian gula merah sebagai menu utama dalam acara-acara, itu sudah bentuk dari penyelamatan. “Kalau saya buta tentu saya tak dapat ke mana-mana. Kalau kalian masih belum banyak tahu tentang gula merah pohon siwalan, lalu kalian mau ke mana? Bukankah begitu?” kata tokoh lingkungan yang juga ikut membidani lahirnya WALHI Jawa Timur ini sambil memperagakan orang buta yang meraba-raba.
Pak Panji berharap seluruh tim benar-benar serius untuk menangani kasus ini, dan ia menyatakan kesiapannya untuk membantu dan mendampingi tim jika memang dibutuhkan. Kunjungan Tim Gula Merah ke alumni Annuqayah yang sekarang diamanahi sebagai Ketua Yayasan Annuqayah ini jelas menambah semangat bagi seluruh anggota tim untuk tugas-tugas besar mereka yang menunggu.

19 April 2009

Tim Konservasi Gula Merah Lakukan Sosialisasi di SMA 3 Annuqayah

Ummul Karimah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Sosialiasi dan Promosi Tim Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council

GULUK-GULUK—Tim Konservasi Gula Merah Pohon Siwalan School Climate Challenge Competition British Council melakukan sosialisasi di SMA 3 Annuqayah Sabtu (18/4) kemarin. Sebenarnya seluruh siswa SMA 3 Annuqayah sudah tahu mengenai tim mereka sejak masing-masing kelompok dari lomba proyek School Climate Challenge itu dilaunching. Akan tetapi maksud kegiatan tim kali ini, kata Iir, sapaan akrab Siti Muniratul Himmah, salah satu anggota tim bagian pengembangan produksi, adalah untuk lebih melibatkan siswi dalam butir kegiatan tim proyek.
Dalam sosialisasi ini, tim proyek meminta resep makanan berbahan gula merah kepada seluruh siswa. “Satu resep dari kalian sangat berarti bagi kami, karena itu dapat membantu dalam proyek kami, yakni melestarikan gula merah dan pohon siwalan. Jangan takut rugi, sebab resep menarik dari kalian akan dokumentasikan,” katanya, yang kemudian disambut senyum seluruh siswi yang bersemangat dan bersedia untuk mengumpulkan resep-resep menarik pada keesokan harinya.
Sejak bagian pengembangan produksi melakukan praktik pembuatan jubedhe, Selasa (14/4) lalu, mereka berinisiatif untuk lebih meningkatkan kualitas makanan berbahan gula merah terlebih dahulu. Maka seluruh anggota tim juga sepakat, karena kata mereka, apabila resep makanan dari gula merah semakin banyak dan berkualitas, maka semakin banyak pula orang-orang yang mencari gula merah.
“Dan tentunya pak petani gula merah akan terus merawat pohon siwalannya. Bukankah dengan begitu kita telah membantu memberikan solusi penanganan iklim lokal?” tambah Iir dengan logat bicara menggunakan kalimat tanya retoris.

27 Maret 2009

Manisnya Gula Merah Tak Semanis Nasib Petani Siwalan


Ekatur Rahmah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Riset Data dan Dokumentasi Tim Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council

Brumbung adalah satu kawasan di desa Aeng Panas Pragaan yang banyak ditumbuhi pohon siwalan. Menurut penduduk di sana, setiap penduduk rata-rata memiliki sekitar 20 pohon siwalan, sehingga di kawasan ini banyak sekali pohon siwalan.
Salah satu pemilik pohon siwalan di situ adalah Bapak Halik yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Hayati. Petani siwalan yang berusia lebih lima puluh tahun ini menggeluti pekerjaannya dengan tekun. Dia tidak pernah merasakan bangku pendidikan, karena sejak remaja ia telah menekuni dunia siwalan.
Pada saat musim kemarau ia dapat memgambil nira pada tiga puluh pohon siwalan, tapi saat musim penghujan fungsi pohon siwalan biasanya berkurang sehingga hanya 20 pohon yang bisa dimanfaatkan oleh Bapak Halik. Biasanya Bapak Halik mengambil air nira dua kali sehari. Setelah subuh ia bersiap-siap dengan peralatannya menyusuri jalan setapak menuju pohon siwalan melawan dinginnya pagi demi mengantongi uang Rp.5.000,- hingga Rp.7.000,-. Sementara Bapak Halik berangkat mengambil air nira, di rumah Ibu Halik mengumpulkan kayu untuk bahan bakar pembuatan gula merah sambil menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
Dari keluarga Pak Halik, kami tim gula merah banyak memperoleh informasi seputar umur pohon siwalan, peralatan yang digunakan untuk mengambil air nira, serta proses pembuatan gula merah dari air nira sampai jadi gula merah.
Adapun peralatan untuk mengambil air nira antara lain: timba yang terbuat dari daun lontar untuk tempat air nira, laro (kulit pohon kesambi) yang digunakan untuk meningkatkan kualitas, alat pengapit terbuat dari kayu yang digunakan ketika proses pengapitan. Selain pengenalan alat-alat, Pak Halik memberi tahu kami bahwa sebelum air nira diambil, harus melalui proses ekaremo (pengapitan) setiap tiga hari sampai satu minggu baru setelah itu air nira dapat diambil.
Pak Halik yang malang, meskipun sudah melalui kerja keras yang melelahkan, ternyata hasil dari penjualan gula merahnya tak mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya, sehingga terkadang dengan terpaksa ia menjual pohon siwalannya untuk menambah penghasilan.
Dengan air nira di tangan Pak Halik kembali ke rumah. Saat itu jam menunjukkan pukul 09.00 pagi. Ibu Halik yang sudah menyiapkan kayu bakar sebelumnya langsung menuang air nira yang diperoleh Pak Halik pada kuali besar yang biasa digunakan untuk memasak gula merah.
Ketika rombongan tim kami sampai di kediaman pak Halik, kami disambut hangat oleh keluarga pak Halik dengan jamuan khas petani siwalan yaitu air nira hangat. Setelah kami mengobrol sebentar dengan Pak Halik dan juragan gula yang sering memborong gula merah keluarga Pak Halik, kami pun memulai wawancara.
Dari hasil wawancara dengan Pak Halik, diperoleh informasi bahwa dalam sehari Pak Halik dapat memperolah sekitar tiga kilogram gula. Karena gula merah tergantung pada seberapa banyak hasil nira yang didapat, maka sebenarnya sulit dipastikan seberapa banyak gula yang didapat per hari.
Saat kami menanyakan alasan penebangan pohon siwalan, ia menjawab, “Sebenarnya kami tidak mau menebang pohon siwalan di sekitar sini, tapi karena desakan ekonomi, kami terpaksa melakukan penebangan.”
“Setelah petani melakukan penebangan, apakah ada penanaman kembali dari pihak petani, Pak?” tanya Ibu Mus’idah yang mendampingi kami saat itu. “Kalau penanaman kembali belum ada, karena mayoritas pohon siwalan itu tumbuh dari buah yang jatuh, lalu menjadi bibit baru. Kami sendiri jarang melakukan penanaman kembali, karena terlalu sibuk, sedangkan remaja-remaja sekitar sini sudah mulai tidak peduli dengan pohon siwalan, yah… namanya juga anak muda,” jawabnya.
Usai wawancara dengan Pak Halik, kami melihat Ibu Halik membuat gula merah. Sesekali kami membantu. Saat proses pembuatan gula merah, ada salah satu anggota tim nyeletuk, “Buat gula merah itu susah ya? Mending ntar aku yang bantu makan aja deh.” Kami pun sontak tertawa, setelah dua jam kemudian akhirnya gula merah pun jadi.
Bersama Ibu Halik kami memperoleh banyak pengalaman, dari betapa susahnya membuat gula merah dan dan pahitnya kehidupan petani siwalan.

25 Maret 2009

Siswa SMA 3 Annuqayah Belajar Lapangan tentang Gula Merah dan Jubedhe


Ummul Karimah, siswa XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Sosialiasi dan Promosi Tim Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council

GULUK-GULUK—Tim Gula Merah Pohon Siwalan SMA 3 Annuqayah untuk Lomba School Climate Challenge British Council melakukan riset data tentang kemelut pangan gula merah ke bumi Cecce’ Laok Pragaan Sumenep Selasa (24/03) kemarin. Sejatinya tim yang berjumlah 5 siswa dan 2 guru itu berangkat dengan persiapan yang minim, tetapi karena sudah tertunda beberapa kali maka akhirnya mereka berangkat juga.

“Kalau ditunda-tunda terus maka ke belakang kita akan sulit mendapatkan waktu. Bukan mudah mendapatkan nira untuk praktik membuat gula merah, apalagi saat hujan masih sering turut seperti saat ini,” kata Syaiful Bahri, guru pembimbing tim tersebut. Menurut Syaiful, tanpa persiapan pun yang sempurna pun mereka tetap akan bisa melakukan riset di lapangan.

Memang dua hari sebelumnya tim riset telah mengadakan pertemuan. Namun karena mereka belum tahu pasti kapan akan berangkat terjun ke lapangan maka mereka hanya menyiapkan pelajaran untuk penguatan kapasitas saja. Ekatur Rahmah, salah satu anggota tim, mengatakan bahwa ia dengan timnya hanya mengkliping data dan merancang jadwal secara terperinci. Baginya ini merupakan tantangan yang harus ia terjang dengan sukses. “Kami pasti bisa,” tambahnya.

Rombongan berangkat sekitar pukul 10.00 WIB dari sekolah. Dalam waktu setengah jam mereka sampai di tempat tujuan. Mereka disambut dengan senyum lebar oleh Halik, petani gula merah yang menjadi tempat riset kali ini. Kemudian kami disambut dengan nira hangat yang mengusir dahaga.

Alhamdulillah interview berlangsung sukses. Pak Halik dan anaknya yang bernama Hayati itu begitu semangat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh 2 anggota tim bagian riset data dan dokumentasi. “Mon ghi’ badah se ta’ jelas dhulih tanyaagi, Bhing! Ma’le pas tontas (kalau masih ada yang tak jelas, cepat tanyakan Nak! Agar tuntas),” kata pak Halik dengan logat bumi Cecce’-nya yang khas.

Setelah acara interview selesai, Pak Halik mempraktikkan secara detail cara mengambil nira sampai proses pengolahan selesai. Bahkan ia juga memperkenalkan seluruh nama alat-alat untuk menghasilkan nira.

Ada satu pertanyaan yang membuat semua haru. Yaitu mengenai proses penjualan di pasar. Bila Bu Hayati menjual gula merahnya di pasar, maka harganya berkisar antara Rp 3.500,- atau kadang bila mujur Rp 7.500,-. Namun yang mujur itu jarang mereka peroleh. Belum lagi ketika para pembeli melontarkan tawarannya. Mus’idah, guru pembimbing tim, mengatakan bahwa yang demikian itu membuatnya prihatin. “Bila dibandingkan dengan nilai kerja Bu Hayati sungguh tidak sesuai dengan nilai nominal yang diperoleh,” Mus’idah menambahkan. Tim berpamitan, Bu Hayati mempersilakan kepada mereka untuk membawa gula merah yang mereka buat sendiri saat praktik.

Acara berlangsung tak hanya di situ. Kemudian tim melanjutkan perjalanan yang kedua yaitu ke Desa Karduluk untuk mempelajari cara membuat jubedhe—makanan ringan berbahan gula merah. Hanya sebentar saja tim telah bisa mempraktikkan cara membuat “kurma madura” itu. Jadi acara yang kedua ini tidak berlangsung lama. “Kok hanya sebentar, Nak,” Bu Zainab selaku juragan jubedhe menunjukkan raut wajah yang seakan-akan masih ingin berlama-lama dengan Tim Gula Merah. Namun karena tim masih mempunyai agenda lain, jadi mereka melanjutkan perjalanan pulang. Rombongan tim tiba di Sabajarin pada pukul 14.00 WIB.