Tampilkan postingan dengan label Perpustakaan - Literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perpustakaan - Literasi. Tampilkan semua postingan

29 April 2016

Hari Buku bersama “Gubuk Cerita”



Zaimatul Ummah, Siswa SMA 3 Annuqayah, XI IPA
 
Guluk-Guluk, 23 April 2016. Bertepatan dengan Peringatan Hari Buku Sedunia, Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah kedatangan seorang tamu. Namanya Ragil Cahya Maulana, seorang pustakawan dari Malang. Ragil adalah pendiri komunitas Gubuk Cerita, yang merupakan perpustakaan berjalan dan lebih aktif dalam upaya menggerakkan semangat dan etos membaca. 

Menurutnya, perpustakaan yang berbentuk ruangan, memiliki keterbatasan dan cenderung lebih berfokus pada hal-hal yang bersifat administratif saja. Sebaliknya, gubuk cerita menginformasikan dan mendatangkan buku-buku yang tersedia kepada media-media sosial. Hal ini, dianggapnya jauh lebih efektif. Itulah beberapa alasan didirikannya komunitas ini.

Adapun format peminjamannya adalah dengan mengantar dan menjemput buku tersebut kepada pembaca secara cuma-cuma. Selain kegiatan pinjam-meminjam, Gubuk Cerita juga mengadakan kegiatan menyampul buku bersama. Tujuannya adalah agar peminjam mampu belajar merawat buku dengan baik.

Di samping itu, komunitas gubuk cerita juga mengadakan pembacaan buku dan diskusi bersama. setelah memilih genre buku yang ingin dibaca, para pembaca kemudian membahasnya secara mendalam dan detail sehingga pembaca tidak hanya mampu menghadirkan isi secara tekstual, namun juga secara kontekstual.

Dari pemaparan Ragil, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan yang baik tak hanya mengelola ruang pustaka yang bersifat formalitas pinjam-meminjam dan penataan buku, namun lebih dari itu, yaitu bagaimana membangun pengembangan dan kemampuan membaca secara efektif. Diskusi yang dimulai bakda ashar dan dihadiri oleh pustakawan dan beberapa orang siswa itu berangkhir pada pukul 17.00.

27 Juni 2014

Membaca yang Menantang dan Ditantang

Lu’luil Maknun, XII IPS 1 SMA 3 Annuqayah

Membaca merupakan sebuah ‘kebutuhan’ yang tentunya tidak lepas dari keseharian kita, baik itu membaca buku, koran, majalah, atau membaca dalam artian yang lebih sederhana seperti membaca slogan di jalan, iklan, dan lain sebagainya. Membaca merupakan suatu pekerjaan yang dapat kita lakukan di mana saja dan kapan saja kita mau, di perpustakaan, di kantor, di jalan, dan lain sebagainya selama media yang mau kita baca itu ada. Namun pada umumnya, tempat yang identik dengan membaca adalah perpustakaan. Karena di perpustakaan seseorang bisa menemukan buku yang ia cari lalu membacanya.

Perpustakaan yang menjadi pusat kegiatan membaca di sekolah jarang sekali yang dapat menantang siswanya untuk gemar dan rajin membaca. Apalagi bagi siswa yang memang tidak memiliki kebiasaan membaca. Oleh sebab itu, perpustakaan di sekolah kebanyakan hanya menjadi sekedar formalitas yang dikunjungi siswa apabila mendapat tugas dari guru.

Lebih dari itu, dalam pengamatan saya selama sekolah SMA, ketika seorang siswa memasuki ruang perpustakaan buku bacaan yang dipilih oleh siswa mayoritas adalah buku-buku ‘berjiwa muda’ yang tentunya mereka sukai untuk dibaca, seperti novel, cerpen, yang berbau cinta, magis, yang bergaya alay sampai lebay. Yang mengherankan adalah bagaimana mereka bisa membaca buku (novel) yang rata-rata endingnya pasti sudah mereka ketahui?

Memilih bahan bacaan yang monoton, apalagi berupa bahan bacaan yang memiliki—katakanlah—tingkat manfaat yang minim tentu akan menimbulkan beberapa persoalan khususnya terhadap pembaca sendiri. Siswa yang cenderung selalu memilih bahan bacaan yang monoton secara tidak langsung akan membuat perbendaharaan mereka mengenai bacaan-bacaan yang berkualitas sedikit sekali.

Oleh karena itu dalam hal ini siswa perlu dibimbing untuk membaca bahan bacaan yang bermutu yang sekiranya bisa menambah perbendaharaan wawasan intelektual mereka. Misalnya buku-buku fiksi yang memang ditulis oleh pengarang terkenal dan juga terjamin kualitas karya-karyanya.

Pada akhir tahun ajaran 2013/2014, SMA 3 Annuqayah meluncurkan program baru di bidang literasi yang berupaya bukan hanya untuk ‘membimbing’ siswa membaca, tapi juga ‘menantang’ siswa dalam membaca. Di dalam program yang disebut “Tantangan Membaca” buku-buku yang ditawarkan (baca: ditantangkan) kepada siswa bukanlah sembarang buku yang dengan begitu saja ditawarkan kepada siswa, tapi dalam hal ini pihak sekolah masih melakukan verifikasi terhadap buku-buku yang sekiranya cocok, pantas, dan mudah dicerna untuk diberikan kepada siswa sebagai bahan bacaan. Bahkan pihak sekolah bukan hanya melakukan verikasi secara sepihak, melainkan terkadang juga meminta masukan dari orang-orang yang memang paham terhadap dunia bacaan, sehingga dengan begitu kecil sekali kemungkinan dalam program Tangan Membaca ini siswa mendapatkan buku yang kurang layak atau kurang pantas bagi siswa.

Di dalam “Tantangan Membaca”, selain dituntut untuk menyelesaikan lima buku dalam tempo satu bulan, siswa juga ditantang untuk merangkum sekaligus mempresentasikan hasil bacaannya secara terbatas. Dalam hal ini tentunya sudah terlihat sekali apa manfaat dari program Tantangan Membaca, yang selain ditantang untuk membaca ‘cepat’ siswa juga ditantang untuk berani membuat rangkuman dan juga berani untuk mempresentasikan.

Ketika melakukan sesi presentasi siswa akan dites melalui beberapa macam pertanyaan yang terkait dengan buku yang dipresentasikan, sehingga nantinya akan tampak kelihatan apakah siswa benar-benar membaca buku itu atau tidak, apakah siswa benar-benar memahami isi bahan bacaan dalam buku itu atau tidak.

Pertanyaan yang mungkin muncul dibenak pembaca adalah: apakah progam “Tantangan Membaca” ini nantinya tidak akan mengganggu perpustakaan yang memang sudah menjadi pusat bacaan di sekolah? Jawabannya tentu tidak. Pertama, yang perlu kita ingat adalah tujuan utama dalam program “Tantangan Membaca” ini yaitu untuk mengembangkan literasi yang ada di SMA 3 Annuqayah. Kedua, program “Tantangan Membaca” ini tidak akan mengganggu ‘waktu perpus’, karena waktu perpus hanya dibuka pada jam-jam sekolah, sedangkan “Tantangan Membaca” bukunya bisa dibawa ke rumah atau ke pondok masing-masing siswa untuk dibaca.

Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa “Tantangan Membaca” ini merupakan sebuah program yang dapat memancing adrenalin siswa di bidang literasi. Bagi mereka yang tidak terbiasa presentasi tentunya ini merupakan momentum yang memberikan mereka kesempatan untuk belajar bagaimana caranya memberikan penjelasan yang tepat dan baik. Selain itu, merangkum buku tentunya bukanlah hal yang mudah bagi mereka-mereka yang belum terbiasa. Namun rupanya di dalam “Tantangan Membaca” ini siswa harus belajar sekaligus terbiasa dengan kegiatan merangkum.

Selamat mencoba dan selamat ditantang ….!

24 Mei 2014

Tantangan Membaca untuk Siswa Pelosok Desa

Catatan dari Nurul Huda 2 Pakandangan Barat, Bluto, Sumenep


Habibullah Salman, guru SMA 3 Annuqayah, tinggal dan mengajar di Nurul Huda 2, Pakandangan Barat, Bluto, Sumenep

Selesai acara seminar literasi yang diadakan SMA 3 Annuqayah tanggal 24 April lalu, kami pulang setidaknya dengan dua hal penting. Tidak hanya penting tapi juga, bagi kami, terbilang baru. Dua hal tersebut adalah ide tentang Reading Challenge (tantangan membaca) dan sekardus buku yang sesak dengan 90 buku bacaan terbungkus plastik.

Ide dan buku ini bagi saya sangat berarti sekali. Sekardus buku itu adalah harta karun yang begitu mudah kami dapatkan sekaligus begitu kami butuhkan untuk menambah nutrisi perpustakaan kami yang hingga kini hanya berisi 160 buku lawas. Kami sangat berterima kasih kepada SMA 3 Annuqayah yang telah mengadakan acara seminar plus sedekah kardusan buku. Terus terang dengan minimnya dana yang kami miliki, sulit bagi kami untuk beli buku baru—apalagi sampai sekardus. Biasanya, kalau kami harus membeli buku, kami harus pergi ke Kampung Ilmu di Surabaya. Di sana kami bisa meminimalkan bujet dan memaksimalkan aset.

Ide tentang Reading Challenge yang dilontarkan Pak Satria Dharma, narasumber seminar literasi di SMA 3 Annuqayah yang juga ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), sangat menarik minat siswa kami. Mereka sangat antusias untuk mengikuti tantangan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, kami mematok 10 buku habis dibaca dan diulas dalam bentuk tulisan selama sebulan setengah saja. Untuk tingkat Madrasah Ibtidaiyah tidak perlu diulas dalam bentuk tulisan, cukup dengan lisan. Waktunya dari tanggal 1 Mei hingga 15 Juni. Padahal sejak tanggal 2 Juni hingga 15 Juni ada ujian semester plus hari remedi. Praktis selama setengah bulan itu mereka harus fokus pada ujian.

Entah apa yang ada di benak mereka. 12 hari setelah pengumuman, sudah ada 3 anak MI yang telah selesai menuntaskan tantangan. Sementara untuk tingkatan SMP dan MA, masing-masing siswa berhasil membaca dan mengulas tiga hingga empat buku. Subhanallah, padahal ini masih 12 hari. Setiap ulasan yang mereka tulis saya usahakan untuk diketik dan menempelkannya di papan pengumuman. Banyak siswa yang senang tulisannya ditampilkan. Siswa yang ulasannya belum ditampilkan kerap bertanya kapan giliran tulisan mereka bisa tampil juga.

Fenomena ini, bagi kami, sangat mengejutkan. Mereka adalah anak pelosok desa yang baru tahun ini memiliki bahan pustaka tanpa gedung perpustakaan. Buku-buku yang ada sekarang diletakkan di etalase kantin bersebelahan dengan tumpukan kerupuk dan pentol.

Alasan awal mengapa harus ada bahan pustaka di sekolah kami sebenarnya sangat sederhana, yaitu agar anak tetap di sekolah ketika guru tidak masuk. Sebelum ada bahan buku, mereka keluar kelas main petak umpet, kejar-kejaran, sehingga kadang mengganggu kelas lain. Kadang juga mereka diam duduk ngerumpi. Bahkan, karena rumah mereka dekat dengan sekolah, kadang mereka pulang.

Siswa bermain di luar kelas ketika jam masuk kelihatannya kurak enak dipandang. Diputuskanlah untuk membeli buku yang sekiranya menarik minat mereka. Jadi, adanya perpustakaan di sekolah kami tidak lahir dari pandangan ilmiah bahwa perpustakaan adalah jantung sekolah, buku adalah jendela dunia, sekarang zaman informasi dan buku merupakan salah satu syarat menciptakan kemajuan. Bukan itu. Adanya perpustakaan di sekolah kami hanya karena gurunya sering tidak ada.

Karena itulah kami tidak memilih dan memilah buku yang boleh dibaca dan tidak. Yang penting buku itu menarik dan murah, kami beli. Kami juga tidak berharap akan lahir kutu buku sebagaimana kami tidak merancang bahwa mereka akan membaca secara permanen, dalam arti bahwa baik ada guru atau tidak mereka tetap membaca buku.

Bahwa mereka bisa membawa buku ke rumah dan membacanya di waktu luang yang mereka miliki, itu di luar bayangan kami semula. Tetapi apa yang mereka lakukan sekarang sungguh melebihi kesederhanaan harapan kami dan melampaui yang bisa kami bayangkan.

Setiap hari, tantangan membaca ini mengubah rutinitas kehidupan mereka. Nyaris setiap siswa yang masuk kelas tidak hanya membawa buku pelajaran tanpa diselipkan buku bacaan yang mereka pinjam di perpustakaan. Ketika jam istirahat, ada suasana berbeda. Beberapa siswa terlihat khusuk membaca buku di emperan sekolah. Jikalau mereka bermain, di samping mereka ada buku.

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya bikin saya haru. Dia membawa buku yang diselipkan di tas ibunya yang hendak melayat. Keponakan saya masih kelas 3 MI. Ketika tulisan ini dibuat dia sudah membaca 9 dari 10 buku yang dilombakan.

Bagi saya, sekali lagi, hal demikian benar-benar luar biasa. Ini tidak hanya dilihat dari lompatan daya baca mereka yang quantum; dari siswa yang jarang baca langsung doyan baca 10 buku dalam jangka sesingkat itu, namun juga dari ketebalan buku yang "terpaksa” kami sediakan. Kami bilang  "terpaksa" karena ketebalan bukunya bagi pembaca pemula terasa berat, terutama tingkat SMP dan Madrasah Aliyah. Kisaran bukunya adalah 150 halaman hingga 370 halaman. Kami terpaksa menyediakan buku setebal itu karena itulah buku yang ada dan baru (yang 90 persen pemberian Diva Press via SMA 3 Annuqayah). Sekitar ada 16 judul dengan 42 eksemplar.

Itu masih mending, untuk tingkat MI kami hanya punya 9 judul buku dengan 9 eksemplar. Jadi kurang satu. Terpaksa kami mengambil satu buku lawas yang kemungkinan besar sudah mereka baca, untuk menggenapi 10.

Bagi mereka yang berhasil menyelesaikan tantangan ini, kami berjanji untuk memberikan sertifikat, medali, dan juga buku. Ketika kami ditanya tentang buku apa yang akan diberikan, apakah buku tulis atau buku bacaan, kami hanya bilang, "Lihat saja nanti." Kami menduga mereka sangat berharap diberi buku bacaan karena nilainya yang lebih istimewa daripada buku tulis yang sudah biasa mereka punya. Tapi kami juga harus melihat bujet yang sebenarnya sangat tipis sehingga kami belum memastikan buku yang akan kami berikan sebagai hadiah buat mereka.

Kami juga bilang kepada mereka bahwa membaca buku pasti bikin orang pintar walaupun mereka tidak sekolah atau sekolah di mana pun saja. Sekolah belum tentu bikin pintar, terutama jika gurunya sering tidak masuk—apalagi jika mereka tidak pernah baca buku. Alangkah hebatnya jika ada anak yang bersekolah dan rajin baca buku. Mereka akan jadi manusia luar biasa.

Kami yakin, tantangan membaca ini adalah langkah awal yang patut kami syukuri, meskipun memang tidak semua siswa senang bersemangat membaca buku, walaupun hanya sebagian yang senang baca buku. Ini langkah awal yang tidak menutup kemungkinan akan jadi wabah literasi yang menulari siswa lain. Sebagian saja dari mereka yang rajin baca buku sudah cukup membuat kami bahagia.

Kami, setelah melihat semangat baca mereka, tidak lagi melihat adanya bahan pustaka dengan tujuan sederhana. Visi kami sudah lebih tinggi lagi. Kami berencana akan membukukan ulasan buku yang telah mereka buat. Mereka senang mendengar rencana kami tersebut. Meminjam bahasa Pak Dardiri, salah satu narasumber dalam seminar literasi  di SMA 3 Annuqayah, lewat buku kami hendak merawat mimpi-mimpi siswa kami yang tentu sama tingginya dengan siswa yang bersekolah di kota.

Biarlah mereka sekarang tinggal di pelosok desa. Kami yakin dengan buku yang sering mereka baca, pikiran mereka akan menjelajahi dunia bersama mimpi tinggi mereka yang semakin lama mendekati kenyataan. Kami lihat mimpi mereka sudah bermekaran. Kuncup bunganya terlihat indah sejak mereka memupuknya dengan buku-buku.


16 Mei 2014

Siswa SMA 3 Annuqayah Ditantang Membaca




Jamilatur Rohma, XI IPS 2 SMA 3 Annuqayah

Guluk-Guluk—Semangat membaca dan menulis di kalangan siswa semakin memprihatinkan. Siswa yang membaca buku-buku berkualitas pun semakin berkurang, baik karena kurang tersedianya buku-buku berkualitas atau karena dalam diri siswa memang tidak tertanam kesadaran akan pentingnya kebiasaan membaca.

Untuk menjawab persoalan tersebut, SMA 3 Annuqayah membuat sebuah program yang bertujuan membumikan semangat literasi siswa. Program tersebut dinamai “Tantangan Membaca”.

Tantangan membaca yang resmi diumumkan pada tanggal 10 Mei lalu merupakan lanjutan rencana dan aksi nyata sekolah setelah mengadakan Seminar Literasi yang bertajuk “Memajukan Kehidupan Bangsa Dengan Jejaring Literasi di Sekolah” yang dilaksanakan pada hari Kamis, 24 April 2014.

Dalam program Tantangan Membaca ini siswa ditantang untuk membaca minimal 5 buku dan membuat ulasan atau rangkuman dari buku yang telah dibaca dalam rentang waktu 10 Mei-10 Juni 2014. Sedangkan bahan bacaannya adalah buku-buku yang telah disediakan di perpustakaan kelas. Buku-buku itu merupakan buku yang telah dipilih oleh sekolah untuk menjadi bahan bacaan siswa.

Sebelum program ini diluncurkan, siswa menyambut baik adanya program perpustakaan dalam kelas dengan sangat antusias. Dengan program ini, sekolah menempatkan lemari kecil berisi buku-buku terpilih di tiap kelas. Perpustakaan dalam kelas ini menjadi obat bagi kemalasan siswa untuk membaca buku.

“Bagus sekali, selama ini saya jarang ke perpustakaan Madaris karena malas  masih harus jalan panas-panas, dan walaupun ada jam kosong takut ada tugas dari guru dan saya tidak mendengarnya karena asyik di perpus,” kata Siti Romlah, siswa kelas XI IPA.

Dalam program Tantangan Membaca, siswa yang tuntas membaca dan menulis minimal 5 buku akan mendapatkan penghargaan dari sekolah berupa sertifikat. Siswa yang siap mempresentasikan hasil bacaannya pada tanggal 12-19 Juni akan mendapatkan buku gratis dari sekolah.

Program ini disambut sangat baik oleh semua siswa bukan hanya karena akan mendapatkan buku dan sertifikat, tapi ketuntasan membaca minimal 5 buku ini akan menjadi poin untuk pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dan akan dipertimbangkan untuk pelajaran yang terkait dengan tema buku yang dibaca.

“Menurut saya, dengan adanya Tantangan Membaca ini, siswa bisa semakin rajin membaca. Selain itu bisa membuat siswa belajar menulis, dan nantinya juga bisa dapat buku gratis dari sekolah dan juga dapat mempengaruhi nilai raport,” komentar Mabrurotul Hasanah, siswi kelas XII IPS 2.

Program in sangat membantu untuk menanamkan cinta buku di kalangan siswa SMA 3 Annuqayah. Para siswa selalu tampak membaca aatau paling tidak membawa buku bacaan dalam setiap jam istirahat atau setiap ada jam kosong.




30 April 2014

Dunia Literasi dan Proses Kreatif



Juwairiyah, S.Pd.I, penulis, guru SMA 3 Annuqayah


Terkadang saya merasa beruntung terlahir, menjalani masa belia pada saat teknologi informasi belum sepesat sekarang. Sebab, tak menjamin rasanya jika terlahir sebagai generasi sekarang, menjalani masa kecil dan masa remaja di tengah gempuran teknologi informasi yang sungguh menggoda para generasi untuk menghabiskan waktunya sebanyak mungkin dengan berselancar di dunia maya dan menikmati permainan yang tidak mencerdaskan diri.

Tanpa bermaksud mengkambinghitamkan teknologi, gairah membaca dan menulis saat ini memang harus berhadapan langsung dengan pengaruh internet yang menyiapkan aneka menu secara instan; apapun yang kita butuhkan, positif maupun negatif.

Sejak kecil, kegiatan membaca buku merupakan hal yang sangat mengasyikkan bagi saya. Apalagi membaca buku cerita petualangan. Padahal saat itu persediaan buku yang dapat dinikmati amat terbatas. Selain perpustakaan sekolah yang bisa dikatakan tidak ada, belum ada toko buku atau kios yang menyediakan bacaan.

Saya memburu bacaan dengan cara meminjam tetangga yang usianya jauh di atas saya. Saya pun membaca semua bacaan mulai dari koran, majalah dewasa, majalah remaja, majalah anak-anak, novel-novel remaja dan dewasa; pada saat saya belum tamat MI. Kebiasaan itu berlanjut hingga MTs dan MA dengan menu bacaan yang semakin beragam, baik dengan membeli atau meminjam pada guru yang suka mmbeli bacaan. Seingat saya, saya membaca roman legendaris karya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, pada saat saya masih kelas IV MI, dengan meminjam pada paman saya, tanpa perduli saya kebingungan dengan bahasanya yang nyastra.

Pada saat yang sama, kebiasaan menulis buku harian dan korespondensi menggiring saya untuk menyukai dunia menulis. Terhitung sejak kelas V MI saya menulis buku harian hingga saat ini. Dan sejak kelas III MTs mulai menulis puisi, artikel dan cerpen, meski masih mentah.

Diam-diam saya rasakan, bahwa dunia literasi memberikan pencerahan dan kenikmatan tersendiri, jauh melebihi hiburan apapun. Karena dunia literasi membuat saya tidak terputus hubungan dengan ilmu pengetahuan, pada saat saya sudah menyelesaikan pendidikan. Saya pun percaya, bahwa adalah hal yang mustahil memisahkan dunia menulis dari dunia membaca. Keduanya adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi.

Kebiasaan membaca dan menulis tidak dapat diciptakan secara instan. Semuanya membutuhkan waktu dan kesungguhan serta ketekunan. Sebab manfaat dunia literasi ini bersifat jangka panjang. Karena itulah, jika dihubungkan dengan dunia pendidikan (baca: sekolah), maka siswa akan memiliki kebiasaan membaca dan menulis jika melihat lingkungannya mendukung ke arah itu. Bukan sekedar tersedianya bacaan yang memadai, akan tetapi semangat literasi ini perlu ditularkan dari guru-guru di sekolah.

Tanpa bermaksud mengatakan bahwa setiap guru harus jadi penulis, saya ingin mengatakan bahwa setiap guru perlu menjadi seorang pembaca, agar dapat menulari lingkungan dan anak didiknya. Sebab, membaca banyak buku, utamanya buku sastra, akan menguatkan kepribadian seseorang, mengalihkan seseorang dari kebiasaan menikmati hiburan negatif dan menjadi muara tempat menyalurkan energi besar kaum muda. Wallahu A’lam.