Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

08 September 2008

Kenalkan, Namaku Apa

Cerpen Ummul Corn

Anak yang selalu meneteskan air mata di bawah jembatan ituk, adalah aku. Aku ingin bertemu ayah. Aku ingin mereasakan kasih sayang dari seorang ayah. mungkin aku tidak akan mengalirkan linangan air mata jika aku bersama ayah.
dulu ketika aku berumur empat tahun, ayah dan ibuku bertengkar, kemudian bercerai. itu adalah cerita ibuku yang disampaikan melalui omelannya setiap hari. Ya, walaupun aku mempunyai seorang ibu, tapi rasanya aku yatim piatu.
Ibu kandungku sendiri tidak menyukaiku. Ia selalu mencaci-maki aku. Tapi sahabatku yang selalu mengatakan agar memaklumi ibu, karena dia bilang ibu itu terlalu membenci ayah, sehingga melampiaskan dendamnya padaku. Suatu waktu ibu mengomeliku ketika tepat sahabatku datang ke rumahku.
Hatiku beku, tanpa berkata lagi aku menghampiri Sisi sahabatku yang sedari tadi hanya menyaksikan drama penghinaan yang aku terima. Air mata itu mengalir dari lubuk hatiku yang kemudian tumpah membanjuri halaman rumahku.
Sisi, sahabatku itu memelukku dan ikut menangis. Dalam tangisku aku berkata pelan, pelan sekali sambil tersedu. Aku berani berkata karena ibu telah masuk ke dalam rumah.
Hhh... aku menjadi lega dan bersemangat lagi untuk bersekolah. Memang Sisi adalah sahabat terbaikku. Mulai dari aku kelas TK sampai kelas 3 SMP dia selalu satu kelas denganku. Jika ada tugas kelompok yang kebetulan aku tidak sekelompok dengan Meme, maka kita akan protes pada Bapak guru dan akhirnya Pak guru mengalah. Setiap pagi Sisi selalu menjemputku untuk berangkat sekolah bersama.
Hal itu memang sudah biasa akibat rumah Meme hanya terbatas tiga rumah dan dua ladang dengan rumahku. Sementara aku bersiap-siap Meme menungguku di ruang tamu yang tak begitu mewah itu. Rumah ayah tiriku tidak terlalu miskin dan tidak pula kaya. Sederhana, itulah kata yang pas untuk rumah yang kutumpungi sekarang.
Kami berdua berangkat menggunakan sepeda masing-masing. Tentunya dengan memanggil salah pada kedua orang tuaku. Aku sempat riang, walaupun terbesit luka yang dalam.
Sudah satu minggu aku kabur dari rumah. Tanpa memberi kabar pada Sisi. Aku kabur dari rumah karena aku punya alasan. Ibuu telah benar-benar kelewatan. Ia tidak memberiku makan, menyuruhku mencari ayahku dan perintah terakhirnya adalah makan ke rumah ayah. Aku bingung harus ke mana. Mau mencari ayah aku tidak tahu wajah ayahku seperti apa. Mau menuju rumahnya, apalagi.
Aku mengambil keputusan untuk kembali ke sekolah. Hal yang sangat aku takutkan adalah jika Sisi mencariku ke mana-mana. Aku takut terjadi hal yang tidak-tidak yang mungkin akan menimpa sahabatku itu. Aku melangkah menuju gerbang sekolah. Mataku jelalatan mencari sosok sahabat yang sangat aku rindukan itu. Aku terus mencari dan akhirnya aku melihatnya sedang duduk murung di depan kantor yang menghadap sinar matahari pagi, tepatnya di bawah pohon karet. Cepat-cepat kuhampirinya. Ketika dia sadar kalau aku sudah datang, dia bangkit melemparkan tas dan terisak di pundakku.
Ketika kami saling berpelukan dan saling terisak, aku melihat seorang guru mengintip di balik jendela dan tersenyum ke arah kami. Sepertinya dia meneteskan air mata karena haru.
Sehari setelah keberangkatan Sisi ke pondok, aku sendiri. Seperti orang bingung yang tak menemukan tempat tinggal tetap. Tuhan berilah hamba kekuatan menghadapi cobaan ini.
Perempuan misterius itu memberitahuku bahwa telah lama ayah mencariku ke mana-mana. Dia mengajakku pulang ke rumah ayah, dan bahkan mengajakku tinggal bersamanya.
Kau tahu apa yang terjadi ketika aku mendengar berita ini? Hatiku meledak serasa meletuskan kembang api surga. Entahlah aku masih agak ragu, tentang anak yang dicari perempuan itu.

Madura, 2008

Ummul Corn, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep. Tulisan ini dimuat di Radar Madura, 7 September 2008.

10 Mei 2008

Akukah Malin Kundang itu?

Cerpen Ummul Corn (XB SMA 3 Annuqayah)


Sedalam hati menggali kasih, sejauh kaki mengejar sayang, sepekat mata memandang asa, tetapi semua tak pernah kuraih. Hanya sia-sia kudapat. Selalu.
Ketika hujan turun, parit yang keringpun akan mengalirkan air. Begitu pula denganku ketika sadar bahwa aku sudah dewasa, tetapi tak pernah aku mandiri. Hujan yang biasa turun dari langit kini menjadi berubah turun dari sudut mataku.
Perih rasanya hati ini ketika memandangi bapak membawa cangkul bersamaan dengan terbitnya matahari, yang biasanya kalau orang kaya duduk santai dengan meminum secangkir kopi hangat. Hati ini bertambah pilu ketika memandangi ibu membawa rantang yang berisi nasi dan lauk pauk untuk bapak di sawah. Dan lebih parah ketika aku sadar bahwa mereka melakukan semua ini hanyalah untukku.
Aku hanya bisa tertawa riang dengan menghabiskan uang orang tuaku. Bisa melanjutkan sekolah SMA dengan teman tanpa memiliki rasa prihatin sedikitpun. Kenapa aku baru sadar sekarang? Kenapa tidak dari dulu?
Walau aku sadar, tapi apa yang harus aku lakukan. Aku tak lebih dari seorang Malin Kundang yang terdapat dalam legenda. Kejadian ini mengingatkanku pada suatu cerita. Dan dongeng ini memang benar adanya. Beginilah kisahnya :
Dulu aku pernah berbincang-bincang dengan bapak selepas pulang dari sawah. Ketika sinar matahari lurus berada di tengah. Aku memberanikan diri membuka percakapan walau dengan rasa tersipu.
“Kalau aku sukses nanti bapak mau minta apa?” tidak sempat bapak menjawab, ibu sudah datang dengan membawa secangkir teh dan mengeluarkan sifat humorisnya.
“Siapa yang mau sukses ndok?” tanya ibu dengan senyum yang membuatku tambah semangat.
“Ya Luluk, bu. Kalau bapakkan sudah terlambat sekolahnya.” Jawabku dengan polos.
“Ayo Pak dijawab pertanyaan putrinya. Saya ke dalam dulu. Maaf mengganggu.” Sambung ibu yang kemudian ditelan pintu.
“ Kalau bapak pengen dibelikan sarung baru, karena sarung bapak sudah kusam semua.”
“O… tenag saja, Pak! Jangankan sarung baru, sarung yang paling mahalpun akan aku belikan.” Jawabku meniru gaya orang sombong.
Kami berdua tertawa terbahak-bahak. Meski kami miskin ternyata bisa juga kami bahagia. Dan kebahagiaan ini akan terus kukenang. Ketika suasana reda dari gelak tawa. Aku pamit ke dapur pada bapak untuk menanyakan keinginan ibu jika aku sukses nanti. Bapak hanya menggeleng dan tersenyum. Sesampainya di dapur aku langsung ajukan pertanyaan yang persis dengan yang kuajukan pada bapak.
“Kalau aku sukses nanti ibu mau minta apa?” Ibu hanya menebarkan senyumnya. Dan aku tahu senyum itu begitu indah di masa mudanya. Ibuku cantik. Pantas saja bapak mau sama ibu.
“Kalau ibu punya satu keinginan yang harus kamu kabulkan.”
“Apa, bu?” tanyaku makin penasaran.
“Ibu hanya ingin anak Ibu benar-benar rajin belajar agar nanti benar-benar meraih cita-cita yang kamu inginkan.” Begitulah sifat ibu yang tak pernah menjawab dengan jujur ketika kutanya dengan sebenar-benarnya. Ibu dan bapak bagaikan 1 kapur lain warna.
Suatu pagi aku melihat ibu sedang sholat Subuh. Aku sangat terkejut ketika melihat mukenah ibu yang penuh dengan tambalan kain lain. Aku meletakkan tanganku di dada.
Bagai kendaraan tak perlu sopir. Air mataku berlinang. Kenapa ibu tidak jujur kepadaku? Jika memang ini adanya aku harus berhasil meraih cita-citaku. Ibu harus kubelikan mukenah baru.
Begitulah kisahku. Kisah anak kampung miskin, hanya bisa menepuk dada menahan rasa sakit yang selalu datang. Mencabik hatiku.
Sekarang adalah nyata. Aku benar-benar dewasa dan harus menepati janjiku dulu. Janjiku sejak kelas 5 SD. Yang terus-menerus kuingat.
Aku harus sadar bahwa selama ini aku hidup dengan hasil jerih payah orang tuaku. Mereka berdua dengan susah payah menabung hasil panen untuk keperluan pokok dan biaya sekolahku. Sedang aku hanya bisa bahagia dengan penderitaan kedua orangtuaku sendiri. Hari ini juga tepat jam 09.00 aku membeli koran dari uang saku pemberian kedua orang tuaku setiap hari yang kutabung. Kucoba menjadi pedagang kliping koran. Setelah kliping yang kubuat selesai, aku membuat pengumuman :

“Bagi teman-teman yang mau beli kliping cerpen edisi bulan Desember silakan hubungi “Luluk” kelas X SMA”

Kalimat tahmid itu selalu mendampingi gumam hatiku. Kliping yang kubuat laku tanpa sisa. Uang yang kuperoleh Rp. 30.000,-. Lumayan dari mulanya Rp.10.000,- menjadi Rp.30.000,-. Aku akan segera berangkat ke pasar memberi kejutan kepada bapak dan ibu.
Sampai di pasar aku mendatangi pedagang baju di pinggir jalan. Lalu terjadilah tawar menawar antara aku dan si pedagang.
“Sarung yang itu berapa harganya?”
“Kalau yang ini mahal. Karena motifnya tidak norak dan kainnya lembut. Harganya Rp. 50.000.”
“Wah mahal sekali. Uangku tidak cukup membelinya, karena uangku hanya Rp. 30.000,-.”
“Kalau begitu ayo cari yang lain dan tawarlah!” rayu si pembeli.
“Kalau yang ini berapa?” tunjukku sambil meraba.
“O, yang ini agak lebih murah sedikit karena cara pakainya licin dan motifnya bergaris lebar. Jadi harganya Rp. 40.000.” jawab si pedagang sambil menggaruk kepala.
“ Wah masih juga belum cukup.” Gerutuku penuh harap akan diberi kortingan.
“ Kalau begitu bisa ditawar.”
“Maaf, Pak! Aku tidak tahu bagaimana cara menawar, jadi harga pasnya berapa?”
“ Wah adek ini benar-benar lugu. Kalau begitu ambillah sarung ini dengan harga Rp. 25.000.”
“Baiklah. Tolong dibungkus Pak.”
Aku segera menyerahkan uang itu dan si pedagang mengembalikan Rp. 5.000.
“Terima kasih neng. Lain kali ke sini lagi ya.”
“ Sama-sama, Pak. Insya Allah.”
Aku jadi teringat ibu. Dengan uang yang kupegang ini tedak mungkin aku bisa membeli mukenah. Biarlah besok saja, kalau aku sudah bisa mengumpulkan uang lagi. Uang Rp. 5.000 ku, akan ku tabung dulu sebagai tambahan agar besok dapat membeli mukenah yang mahal dan bagus.
Dengan tersenyum aku pulang. Dalam hatiku selalu bergumam pasti bapak senang dengan sarung baru ini. Bagus dan harganya tidak terlalu murah. Semoga bapak benar-benar senang.
Tepat pada jam 15.30 aku sampai di rumah. Aku segera panggil salam dan menghampiri bapak yang duduk muram di kursi teras depan. Sedang di sini banyak orang. Kufikir sekarang ada acara ajian yang aku sendiri tidak diberi tahu oleh ibu karena pulang sore. Ah ibu, aku jadi kangen ibu.
“Pak, ini sarung yang kujanjikan dulu. Aku ke dapur dulu ya, Pak. Soalnya mau bantu-bantu masak untuk acara ajian ini. Kok aku tidak diberi tahu kalau hari ini ada ajian.”
Aku jadi heran ketika bapak memegang tanganku dan menangis seolah-olah bapak tidak bahagia dengan sarung yang kuberikan.
“Kenapa bapak menangis. Apa sarung yang kuberi kurang bagus. Kalau begitu besok akan kubelikan lagi. Sekarang izinkan aku menghampiri ibu di dapur.
Bapak melepaskan tanganku. Ketika itu aku segera masuk. Kenapa hatiku menjadi begitu beku ketika melihat banyak orang mengelilingi mayat dengan ditutupi sarung batik. Mataku terbelalak memancarkan kunang-kunang tangis. Aku melihat semua orang yang ada di ruangan ini. Dan ternyata dugaanku benar. Tak ada ibu di sini. Aku langsung mengeluarkan suara histeris campur tangis dan dengan terpekik.
“Di mana ibu sekarang? Jawab!”
“…”
“Apa perempuan yang tertutup sarung batik itu ibu?” suaraku agak diperhalus karena aku sadar semua orang yang ada di sini juga lara. Apalagi bapak. Aku tidak ingin Bapak semakin duka dengan keadaan ini.
Ternyata benar. Mereka mengangguk kemudian tertunduk. Tanganku dan kakiku menjadi kaku. Bibirku dingin. Sedang parit yang dulu mengalir, kini menjadi semakin banjir.
Sebagai anak yang sudah cukup dewasa, aku merasa malu untuk meratapi nasib ibu di depan banyak orang. Bukan aku tak rela melepas ibu kepangkuan-Nya, tetapi sebuah mukenah saja aku tak dapat membelikan semasa hidupnya. Inilah yang membuatku sakit hati dan merasa akulah generasi Malin Kundang itu.

Dikutip dari Majalah Teratai, No 2/Mei 2008, diterbitkan oleh OSIS SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.