Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan

23 April 2009

Kejadian Lucu Saat UN di SMA 3 Annuqayah

Khazinah, siswi XII IPS SMA 3 Annuqayah

Sejak pertama kali dimulainya UN (Ujian Nasional ) di SMA 3 Annuqayah, alhamdulilah tak ada halangan sedikit pun. Semuanya berjalan mulus-mulus saja. Semua ruangan tampak hening saat UN berlangsung. Tak ada bisikan suara sedikit pun. Yng ada hanya gesekan potlot 2B beradu dengan kertas Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN).
Namun keheningan tersebut pada Rabu pagi kemarin (22/4) sempat terpecah. Ruangan yang berada di ujung timur, yakni ruangan XXIV, yang aslinya adalah kelas XI IPS, sejak dulu memang sudah banyak mendapat masalah, entah itu kepulan asap dan bau kotoran sapi. Namun hal itu tidak lagi sejak ditutupnya ventilasi udara di dinding utara kelas XI IPS yang memang berdempetan dengan kandang sapi milik tetangga.
Rabu pagi kemarin saat itu seperti biasa suasana hening. Semua siswa lagi asyik mengarsir lembar jawaban. Tiba-tiba dari sebelah utara ruangan XXIV itu bunyi sapi yang begitu nyaring terdengar seketika. Kontan saat itu juga anak-anak di ruangan itu tertawa.
Apalagi pengawas ujian yang kebetulan menjaga berkata “Arapaah roah can sapeh (Apa sih kata sapi itu),” ujarnya dengan logat madura yang kental. Lagi-lagi anak anak di ruangan itu tertawa. “Sudah sudah jangan berisik. Kerjakan biar cepat selesai,” kata pengawas yang lain meredakan tawa anak-anak. Dan suasana pun kembali tenang. Namun bunyi sapi lagi-lagi terdengar. Tapi anak-anak tak lagi menggubris bunyi sapi itu. Semua kembali menekuri lembar soal dan mengarsir LJUN.

16 April 2007

Hikmah Di Balik Paccak

Sudah menjadi kebiasaan santri, tak memiliki sandal. Ya, begitulah…, seperti halnya aku sekarang ini(kehilangan sandal). Celingak-celinguk mencari sandal dibawah teras pondokku. Mungkin masih ada, meski berbeda warna atau bahkan bentuk. Kembali aku mencarinya, kini lebih teliti lagi. Aku berjalan mengitari pondok. “Hhhh!” cape dech. Tapi kini, betapa terkejutnya aku ketika melihat sepasang benda dengan bentuk terbalik yang hampir tertelan tanah karna lama tak dijamah pemiliknya. Syukur, ternyata tuhan masih memberiku kesempatan untuk ngaji Al-Quran di Dhalemnya nyai tuan.
Kebetulan sekarang di pondokku ada acara. Acara apa aku juga nggak tau, entahlah. Secepat mungkin aku melangkah, takut tak kebagian ngaji(entar kena dhukani lagi kayak kemaren karena nggak ngaji). Disekitarku banyak anak baru yang tak kukenal. Easy goinglah. Tak tek tok, suara PACCAK mengalun indah ditelinga. Sungguh, aku benar-benar merasa seperti santri tulen jika memakai aksesoris seperti ini, dengan sarung plus pecak yang rada-rada tipis. Kini jalanku agak kuperlambat sedikit, sepertinya ada yang aneh di sekitarku? Ada sedikit keganjalan. Aku menunduk dengan lirikan setajam mungkin. Subhanallah. Aku terkejut bukan main. Orang-orang disekitarku berdiri tegak layaknya tiang bendera. Aku dihormat. Apakah karena kostum yang kupakai? Haruskah Pecak identik dengan seorang nyai atau kyai?aku membatin. Ah, jangan-jangan hanya pikiranku saja. Aku menoleh kebelakang untuk memastikan apakah ada nyai atau kyai di belakangku. Nggak ada. Gila, Mereka benar-benar menghormatku. Geli juga. Jadi GR.
Eh, tunggu dulu, mereka menghormatku karena tampang nyai atau hanya Pecak plus sarung yang kupakai?(jadi rada-rada mirip nyai gitu!). Kembali kumempercepat langkahku, dan makin menundukkan kepala, bukan karena malu ataupun salting karna diliatin, tapi catet.., untuk memperkuat praduga mereka. He…., maaf. Gilanya lagi, ketika aku ngomong ketemenku kalo aku dihormat layaknya seorang nyai, e…mereka malah memperkuat keyakinan mereka, dengan mengatakan “Neng, kapan rabu?” tanyanya sembari membuka sandal dari kejauhan. Akupun merespon “kemaren” tawaku meledak. Asli, kini pondokku jadi pentas teater. Anak dhalempun ikutan acting ngajak aku makan ”neng udah waktunya makan katanya mbah nyai” dengan muka tak bersalah akupun menjawab “nggak, males ah!”, “Lho, entar neng sakit. Lagian saya yang akan didhukani kalo neng nggak mau makan” rengeknya. Aku sudah nggak tahan untuk mengakhiri sandiwara ini. Aku segera kembali kepondok, dengan perut mules menahan tawa. Emang enak dikerjain!? Eh, ada kabar baru lho!!! sekarang anak pondokku punya sandal semua, so, ga harus ada korban selanjutnya, he…

Kejora (XII A SMA 3 Annuqayah)