Tampilkan postingan dengan label Tamu Madaris III Annuqayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tamu Madaris III Annuqayah. Tampilkan semua postingan

30 Maret 2011

Trainer British Council Kunjungi SMA 3 Annuqayah


Pada hari Sabtu, 26 Maret kemarin, komunitas peduli lingkungan SMA 3 Annuqayah dikunjungi oleh Gracia Paramitha, trainer lingkungan British Council Indonesia. Dalam kunjungannya ini, Gracia berdiskusi dengan murid dan guru SMA 3 Annuqayah tentang kegiatan lingkungan di sekolah serta menyampaikan pemaparan tentang isu lingkungan hidup secara umum.

Gracia tiba di SMA 3 Annuqayah pada pukul 10.00 WIB. Setelah diskusi dan pemaparan, Gracia melihat bengkel kerja komunitas peduli lingkungan SMA 3 Annuqayah, baik itu tempat murid-murid membuat kerajinan dari sampah plastik maupun juga tempat percobaan pembuatan pupuk organik.

Sekitar pukul 13.00 WIB, Gracia, yang pernah dinobatkan sebagai Putri Lingkungan Hidup oleh Kementrian Lingkungan Hidup RI dan menjadi delegasi Indonesia untuk United Nations Framework Convention on Climate Change di Copenhagen, Denmark tahun 2009, mengakhiri kunjungannya dan bertolak ke Surabaya.





04 Februari 2011

Binhad Nurrohmat Berkisah di Madaris III Annuqayah


Ummul Karimah, alumnus SMA 3 Annuqayah


“Saya menulis karena lapar.”

Demikian kalimat pembuka yang dilontarkan oleh Binhad Nurrohmat dalam acara yang bertajuk “Satu Jam Bersama Binhad Nurrohmat,” Rabu (02/02), di Perpustakaan Madaris III Annuqayah. Acara tersebut diprakarsai oleh OSIS SMA 3 Annuqayah atas usul K. M. Faizi, Direktur Madaris III Annuqayah. Kebetulan Binhad sehari sebelumnya baru saja mengisi bedah buku di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah.

Binhad dalam acara tersebut tidak banyak berbicara mengenai puisi, tetapi ia lebih banyak bercerita mengenai pengalamannya dalam dunia sastra. Ia bercerita tentang betapa sulitnya hidup dan menulis pada masa dulu. “Dulu, saya menulis pakai kertas dalam bungkus rokok karena benar-benar tidak punya buku. Setelah itu saya ke rental,” ungkapnya lirih.

Dalam ceritanya, Binhad menyorot tentang semangat yang dimiliki orang-orang sukses dengan perjuangan yang melarat di masa dulu. Lalu, ia mencoba membandingkan dengan semangat anak zaman sekarang di tengah fasilitas yang serba memadai. Alhasil seluruh anggota yang berjumlah 40 dan terdiri dari 20 siswa SMA 3, 10 siswa MTs 3, dan 10 siswa MA 1 putri Annuqayah itu tampak sedih mendengar cerita yang begitu mengharukan tersebut. Hal itu tergambar dari heningnya suasana dalam ruangan yang dibangun sekitar tahun 1985-an itu.

Tidak hanya sampai di situ, salah satu aktor dalam film Khalifah tersebut terus mencoba memaparkan pengetahuannya lewat dialog atau tanya-jawab. Hal itu dilakukan karena ia mengatakan lebih suka tanya-jawab ketimbang berbicara panjang lebar.

Para peserta berebut untuk bertanya dan berbagi karya dengan membacakannya untuk Binhad sehingga acara tersebut tampak mengalir dan menyenangkan.

Acara berlangsung mulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pada pukul 10.00 WIB. Acara tersebut sengaja dijadwalkan hanya 1 jam mengingat acara Binhad yang begitu padat. Namun, meski hanya satu jam, siswa merasa puas sebab jawaban yang diberikan begitu mengena dan sangat luas. Salah-satunya diungkapkan oleh Watsiqatul Azizah, siswa XII IPS SMA 3 Annuqayah yang bertanya dalam kesempatan tersebut.

“Saya dapat mengerti bahwa puisi bukanlah catatan sederhana, melainkan sesuatu yang dapat menggetarkan hati dan menginspirasi pembacanya. Acaranya asyik. Penuh makna,” pungkas santri yang berdomisili di PPA Latee II itu.

06 November 2010

Sharing Kepenulisan Bersama Ahmad Sahidah


Siti Nur Aini, XII IPS SMA 3 Annuqayah

GULUK-GULUK—Pada hari Ahad tanggal 17 Oktober 2010, SMA 3 Annuqayah mengadakan acara sharing seputar kepenulisan bersama Ahmad Sahidah, seorang dosen di Malaysia. Temanya "Kreativitas Berpikir dan Menulis". Kira-kira ada 30 orang siswa yang mengikuti acara tersebut. Di antaranya terdiri dari utusan tiap kelas di SMA 3 Annuqayah dan ada juga utusan dari sekolah lain di Annuqayah.

Acara yang bertempat di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah itu dimulai pada pukul 12.45 WIB, sepulang sekolah.

Meskipun cuaca pada saat itu panas sekali, ditambah lagi sejak dari pagi otak para siswa dipenuhi dengan materi di kelas, tapi acara tetap berlangsung dengan lancar. Sahidah mampu membuat suasana pada saat itu tidak monoton. Ia memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mudah, sehingga para siswa saling berebutan untuk menjawab pertanyaannya itu.

Sahidah adalah alumni Annuqayah. Di Annuqayah, ia menempuh studi di MTs 1 dan MA 1 Annuqayah. Sewaktu Aliyah, ia pernah menjabat sebagai ketua OSIS. Selama di Annuqayah, ia mondok di Latee.

Karena itulah ia sangat antusias sekali untuk memberikan ilmunya dan berbagi pengalaman dengan siswa Annuqayah. Seperti halnya pada kesempatan itu ia memberikan motivasi kepada siswa sepintas tentang dunia kepenulisan agar dalam diri siswa tertanam keinginan untuk menulis.

Menurut Sahidah menulis adalah hal yang mudah asal ada keinginan. Berkat menulislah ia bisa melanjutkan studi dan kini bekerja sebagai dosen di Malaysia.

“Menulis bisa dimulai dengan mengamati hal-hal kecil di sekitar kita. Dengan begitu maka akan timbul pertanyaan dalam benak kita,” tutur alumnus IAIN Sunan Kalijaga dan Universitas Sains Malaysia itu.

Acara berlangsung selama hampir dua jam. Di akhir acara, Sahidah menekankan kepada siswa untuk tidak malu bertanya, karena malu bertanya sesat di jalan.

03 Agustus 2010

Workshop Kepenulisan, Awali Semangat Menulis Siswa


Ruka’iyah, siswa XI IPA SMA 3 Annuqayah

GULUK-GULUK—Kamis (29/07) kemarin, Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah bekerja sama dengan MA 1 Annuqayah Putri dan IAA (Ikatan Alumni Annuqayah) Surabaya mengadakan Workshop Kepenulisan. Fasilitator kegiatan ini adalah Lan Fang, seorang penulis nasional yang telah menerbitkan banyak karya. Di antara karyanya yang cukup populer saat ini berjudul Ciuman di Bawah Hujan.

Acara yang bertempat di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah tersebut dihadiri oleh 15 siswa SMA 3 Annuqayah,10 undangan siswa dari MA 1 Annuqayah Putri dan satu orang guru MA 1 Putri Annuqayah yaitu Nyai Fadilah Hunaini.

Acara tersebut dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pada pukul 11.45 WIB. Workshop Kepenulisan ini dibuka oleh K.M. Faizi, pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Sabajarin.

Acara tersebut berlangsung sangat aktif dan komunikatif. Acara ini berlangsung dengan tidak terlalu formal, dekorasi yang penuh seni dan unik, serta peserta yang dipilih dari tingkat SLTA sederajat. “Peserta sederajat ini memang sengaja dipilih karena saya memang meminta pada Ra Faizi. Takutnya kalau ndak sederajat, bisa-bisa ndak nyambung. Trus saya bakal kerepotan,” ungkap Lan Fang di sela-sela acara.

Adapun siswa yang mengikuti acara tersebut memang telah dipilih sebelumnya. Semua peserta harus menyetorkan karya fiksinya minimal 3 halaman. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah menilai tulisan dari masing-masing peserta. Peserta bertukar karya dan saling ‘membantai’––memberi kritik pada karya teman mereka yang dibaca selama sepuluh menit.

Dalam mengapresiasi cerita tersebut, para siswa, termasuk juga Nyai Fadilah Hunaini, begitu antusias, sehingga membuat suasana menjadi lebih hidup dan penuh dengan gelak tawa.

Setelah acara penyajian materi tersebut usai, acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan oleh PSG (Pemulung Sampah Gaul) SMA 3 Annuqayah kepada Lan Fang. Tas yang diolah dari sampah plastik sebagai kenang-kenangan itu diserahkan oleh Nyai Fadilah Hunaini. Sebagai penutup, semua peserta yang menghadiri acara workshop berpose bersama Lan Fang.

Kemudian terdengar bisik-bisik kecil dari salah seorang peserta acara tersebut. “Bertemu lansung dengan Lan Fang bagaikan sebuah mimpi,” kata Ernawati, salah satu siswa kelas XI IPA SMA 3 Annuqayah.

09 Juni 2010

Robert Kingham Resmikan MRC dan UKS MTs 3 Annuqayah


Siti Nujaimatur Ruqayyah, XII IPA SMA 3 Annuqayah

GULUK-GULUK— Senin (07/06) kemarin, peresmian Madrasah Resources Center (MRC) dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) MTs 3 Annuqayah oleh pihak LAPIS (Learning Asistence Program For Islamic School) INTEGRASI dilaksanakan. Robert Kingham, LAPIS Senior Technical Adviser, dan Alison Atwell, beserta mitra LAPIS dari berbagai lembaga madrasah yang lain turut hadir dalam acara tersebut.

Tepat pukul 11.11 WIB acara dimulai setelah sebelumnya para tamu yang hadir berkeliling ke berbagai unit (Perpustakaan, Kantin, dan tempat lainnya) di lingkungan Madaris 3 Annuqayah. Acara yang bertempat di aula Madaris 3 itu berlangsung formal, dibuka dengan pembacaan basmalah bersama kemudian dilanjut dengan sambutan-sambutan serta peresmian MRC dan UKS oleh Robert Kingham yang ditandai dengan pengguntingan pita.

Namun demikian, penampilan yel-yel dari siswi MTs 3 Annuqayah dan sing a song serta line dancing dari Edelweiss English Club KGCC #005 Madaris 3 Annuqayah telah memeriahkan acara tersebut. Apalagi MC acara juga dikemas dengan dua bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Suguhan makanan acara ini sengaja memilih sajian yang berbahan pangan lokal, seperti: korket, kaleppon, tattabun, dan makanan lokal lainnya. Minumannya pun mengambil dari khazanah Madura yaitu la’ang. Semua ini semakin menambah suasana nyaman bagi para undangan. Hal itu tampak saat mereka berebutan mengambil suguhan itu sebelum acara berlangsung. Tampak mereka memborong makanan itu ke ruang acara untuk dinikmati saat acara berlangsung.

Selain itu, PSG (Pemulung Sampah Gaul), AMC (Astronomi Madaris Club), dan siswi jurusan IPA SMA 3 Annuqayah turut berperan serta dengan mengadakan taman sains, memamerkan berbagai karya mereka. Taman Sains itu bertempat di sebelah utara kantor MTs 3 Annuqayah.

“Sebagai siswi Madaris 3, tentu mereka memang harus berpartisipasi, minimal sebagai ungkapan rasa terima kasih terhadap bantuan LAPIS,” kata Hamilatun, anggota Edelweiss dan alumnus SMA 3 Annuqayah, yang ikut tampil dalam acara tersebut.

Pendirian MRC dan UKS di MTs 3 Annuqayah merupakan bagian dari program LAPIS AusAID. Dana yang disalurkan dari LAPIS INTEGRASI di MTs 3 ini telah dikelola untuk mengembangkan berbagai sarana di MTs 3. Di antaranya telah digunakan untuk membangun kantin, taman bunga, MRC, UKS, dan untuk memperbaiki fasilitas lainnya.

MRC yang terletak di sebelah Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah ini awalnya biasa digunakan sebagai ruang kelas. Saat ini ruang itu telah memiliki berbagai fasilitas, seperti 3 unit komputer, 2 unit printer, 1 unit TV, 1 unit DVD player, 1 unit tape recorder, layar proyektor, buku-buku sebagai bahan referensi, serta berbagai layanan lain yang dapat meningkatkan kompetensi guru dan siswa. Selain itu di sana juga ada alat peraga sains dan Matematika. “Pokoknya MRC benar-benar bermanfaat. Saya bisa belajar dengan lebih menyenangkan,” ungkap Ummu Naqiatin, siswi kelas IX A MTs 3 saat dimintai tanggapannya mengenai keberadaan MRC di sekolahnya.

Sedangkan UKS terletak di sebelah selatan kantor MTs 3 bagian putri. Ruangan ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana kesehatan untuk meningkatkan kualitas kesehatan peserta anak didik di sekolah.

M. Faizi, Direktur Madaris 3 Annuqayah, dalam sambutannya mengatakan bahwa Madaris 3 memang telah berupaya untuk memaksimalkan bantuan LAPIS INTEGRASI yang diberikan kepada MTs 3 Annuqayah, agar dapat berfungsi dengan baik. “Tentu saja segala bentuk bantuan diharapkan jangan sampai dinodai,” ucap Kepala Kantor Departemen Agama Sumenep, H. Imron Rasyidi, SH, M.Si, dalam sambutannya.

Lain halnya dengan Robert Kingham. Ia tak mau menyebut pemberian LAPIS ini sebagai bantuan. Ia mengatakan bahwa semuanya hanyalah sebagai bentuk dorongan. MTs 3 Annuqayah ini sudah dianggapnya mampu, hanya saja masih membutuhkan arahan dan dukungan saja. “Jika kita umpamakan dengan menyeberang jembatan. Sekolah ini bukan tak mampu untuk berjalan. Tapi hanya butuh dorongan saja untuk sampai pada tujuan,” tuturnya dalam bahasa Indonesia meski dengan belepotan.

Setelah memberi sambutan, Robert Kingham menandatangani prasasti. Saat itu mulailah tepuk tangan memenuhi ruang aula. Peresmian MRC dan UKS MTs 3 Annuqayah yang ditandai dengan pengguntingan pita pun segera dimulai. Seluruh peserta acara beramai-ramai mengunjungi MRC––tempat pengguntingan pita, untuk menyaksikan peresmian tersebut. Tepuk tangan kembali terdengar, semakin memeriahkan acara yang berakhir pada pukul 12.30 WIB itu.

Acara berakhir. Namun para undangan masih kembali berkumpul untuk mengikuti acara makan bersama di sebelah timur kantor MTs 3 Annuqayah. AMC (Astronomi Madaris Club) pun masih ingin menampilkan aksi mereka dengan meluncurkan roket air buatan mereka. “Kita juga masih ingin membuat para tamu terhibur sebelum mereka pulang,” kata Muniratul Himmah, salah satu anggota AMC (Astronomi Madaris Club) yang tampaknya paling bersemangat di antara yang lain.

21 Juli 2009

Tim Pupuk Organik SMA 3 Annuqayah Masuk 15 Besar Lomba SCC British Council


Anisah, siswi XII IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Riset Tim Pupuk Organik School Climate Challenge Competition British Council

Tidak disangka, tepat pada hari Senin tanggal 13 Juli 2009 salah satu guru pembimbing kami, Tim Pupuk Organik School Climate Challenge (SCC) Competition British Council SMA 3 Annuqayah, yaitu Bapak Mahmudi, S.Sos menerima telepon dari Siswoyo selaku salah seorang tim verifikasi Lomba SCC British Council. Pak Siswoyo memberi kabar bahwa Tim Pupuk Organik SCC SMA 3 Annuqayah masuk 15 besar dari 71 tim proyek SCC yang sudah mengirimkan laporan ke panitia. Kabar tersebut merupakan kabar yang sangat membahagiakan bagi kami, Tim Pupuk Organik, dan juga dua tim SCC SMA 3 lainnya.

Menurut informasi yang kami terima, awalnya peserta lomba SCC ini sebanyak 183 tapi yang mengirimkan laporan hanya sebanyak 71 tim. Dari 71 tim tersebut dipilih 15 besar untuk kemudian akan diseleksi lagi menjadi 3 besar lagi sebagai pemenang.

Pada hari Rabu 15 Juli 2009, kami Tim Pupuk Organik kedatangan tamu dari Yayasan Kaliandra Sejati Pasuruan sebagai tim verifikasi lomba SCC ini. Beliau adalah Bapak Siswoyo dan Bapak Mas’ud selaku tim observer SCC. Maksud kedatangan mereka ingin menilai langsung (verifikasi) kegiatan tim kami selama 3 bulan sebelumnya. Apa sesuai dengan laporan yang kami kirimkan, dan bagaimana tindak lanjutnya.

Tepat pada pukul 08.30 WIB kami memulai acara kami dalam bentuk berdialog, yang tempatnya dilaksanakan di Laboratorium IPA SMA 3 Annuqayah. Acara tersebut dihadiri 2 orang tim obsever SCC dan kepala sekolah dari masing-masing lembaga yang ada di lingkungan Madaris 3 Annunqayah sekaligus juga dihadiri oleh dua tim SCC lainnya, yakni Tim Gula Merah dan Tim Sampah Plastik.

Sebagai pembuka, pertama terlebih dahulu kami saling memperkenalkan diri agar saling mengenal satu sama lain dan juga agar dapat memperkuat tali silaturrohim. Selanjutnya, salah satu di antara Tim Pupuk Organik menjelaskan sedikit tentang kegiatan proyek kami. Di antaranya kami menjelaskan mengapa kami memilih limbah pertanian khususnya jerami untuk dijadikan sebagai pupuk organik. Sesudah kami menjelaskan, kedua tim observer SCC tersebut ingin melihat bukti-bukti kegiatan kami dan ingin melihat lahan kami yang akan dijadikan tempat percobaan dari hasil pembuatan pupuk kami.

Tapi sebelum pergi ke lahan tersebut, terlebih dahulu kami mengantarkannya ke tempat pembuatan pupuk kami dan sekaligus menunjukkan hasil dari pembuatan pupuk kami itu. Kami juga memperlihatkan bukti-bukti kegiatan kami ini dalam bentuk foto. Sesudah itu kami mengantarkannya ke lahan kami di lahan milik K.H. Ahmad Hazim, salah seorang guru SMA 3 Annuqayah. Setelah itu, kami juga mengantarkan tim observer ke Green House yang juga akan dijadikan tempat eksprimen hasil dari pupuk kami. Setelah dari Green House, kami semua langsung menuju ke ruang Laboratorium IPA kembali untuk makan-makan bersama. Kebetulan menunya hasil dari buatan Tim Gula Merah yang terdiri dari tattabun dan jubete, sedangkan minumannya terdiri dari la’ang dan poka’—semuanya berbahan gula merah.

Sekitar pukul 10.00 WIB kami berangkat ke dua daerah untuk melihat langsung hasil tanam para petani yang selama ini memakai pupuk organik. Pertama yang kami kunjungi yaitu ke Desa Bragung dulu. Kebetulan lahan tersebut milik Bapak Mahmudi sendiri selaku pembimbing kami (Tim Pupuk Organik). Selama 2 tahun ini beliau sudah memakai pupuk organik dan ternyata hasilnya lebih bagus dari pada memakai pupuk kimia.

Selanjutnya kami langsung menuju ke Desa Berekas Deje yang bertempat di dhelemnya K.H. Masyhuda, salah seorang guru SMA 3 Annuqayah. Kebetualan di sana yang selama ini memakai pupuk organik adalah Nyi. Zulfa, putri dari beliau sendiri. Setelah sampai di sana, kami masih duduk sebentar untuk menghilangkan rasa lelah kami. Kemudian kami diajak oleh beliau untuk melihat langsung hasil tanam beliau yang selama ini memakai pupuk organik dan setelah dilihat langsung ternyata hasilnya lebih bagus dari pada yang memakai pupuk kimia. Tapi sebelum beliau memakai pupuk organik, beliau memakai pupuk kimia dengan menggunakan lahan yang lain hanya untuk sebagai perbandingan, lebih bagus yang mana antara memakai pupuk kimia dengan memakai pupk organik. Dan setelah dilihat langsung ternyata hasilnya lebih bagus yang memakai pupuk organik dibandingkan dengan memakai pupuk kimia.

Kunjungan kami ke dua tempat itu bersama tim observer SCC berakhir sekitar pukul 14.00 WIB. Kami langsung kembali ke sekolah. Setelah sampai di sekolah, ternyata tim observer SCC langsung minta izin kepada kami untuk pulang, karena mereka masih ada tugas lain yang harus diselesaikan.

29 Juni 2009

Madaris 3 Annuqayah Adakan Soft-Launching Klub Astronomi


Fandrik Hs Putra, Kontributor Blog Annuqayah

GULUK-GULUK—Madaris 3 Annuqayah memperkenalkan sebuah komunitas baru di lingkungannya, yaitu klub astronomi. Klub Astronomi ini diluncurkan pada Ahad malam (28/6) kemarin. Lahirnya klub tersebut diharapkan bisa memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada para siswi Madaris 3 Annuqayah mengenai alam semesta dan juga bisa melengkapi kegiatan Duta Lingkungan di SMA 3 Annuqayah pada khususnya, dan bermanfaat untuk Annuqayah pada umumnya.
“Jika sekarang Madaris 3 sudah mempunyai klub pencinta alam yang orientasinya pada lingkungan, kali ini kami meluncurkan klub yang akan menjelajah langit (Klub Astronomi),” ungkap M Mushthafa, guru SMA 3 Annuqayah saat mengantarkan acara pada malam itu.
Soft-launching Klub Astronomi tersebut ditempatkan di aula Madaris 3 Annuqayah yang diikuti oleh sekitar 60 lebih undangan, antara lain guru Madaris 3 Annuqayah, perwakilan guru Madrasah Annuqayah yang lain dari MI sampai SLTA, dan madrasah-madrasah sekitar Annuqayah (Guluk-Guluk, Ganding, Pragaan).
Sebagai penyaji pada kesempatan itu adalah Hendro Setyanto, Direktur Mobile Observatory Indonesia yang juga aktif di Observatorium Bosscha Bandung. Kehadiran Mas Hendro—begitu sapaan akrabnya—di Annuqayah adalah yang kedua kalinya.
“Saya dari Lamongan langsung ke sini. Maunya sampai di Surabaya saya akan lewat di jembatan Suramadu, tapi jalannya ditutup, terpaksa naik kapal dan itu menyita waktu yang banyak. Makanya saya datang terlambat,” jelasnya ketika acara baru dimulai pada pukul 20.38 WIB.
Pada kesempatan itu, Mas Hendro mengajak para undangan yang hadir bersama-sama mengelilingi jagad raya dengan menggunakan simulasi video yang ditampilkan melalui LCD proyektor. Ia menjelaskan banyak hal tentang astronomi, seperti tentang proses perbedaan pergantian siang dan malam di berbagai belahan bumi.
“Kita enak berada di garis khatulistiwa. Perbedaan siang dan malam relatif sama. Coba bandingkan di negara yang lebih dekat dengan daerah kutub; siang bisa lebih lama dari pada malam. Kalau kita berpuasa di sana, berbuka puasa itu sekaligus makan sahur, malamnya lebih sedikit,” tuturnya.
“Seperti yang diungkapkan oleh K.H. Hasyim Muzadi ketika beliau berada di Rusia, fiqih khatulistiwa tidak bisa diterapkan di sana. Waktu di sana tidak sama dengan yang ada di Indonesia. Nah! Bagaimana jika menentukan waktu shalat kalau mengacu pada fiqih khatulistiwa?” ungkapnya lagi.
Kemudian Mas Hendro lebih jauh lagi mengenalkan beberapa bagian dari astronomi, seperti astronomi dan astrologi, meteor dan mitos pengkabulan doa, serta komponen-kompunen yang membentuk antariksa secara umum dengan merujuk kepada ayat al-Qur’an, yang kesemuanya menimbulkan decak kagum atas kebesaran dan keagungan Sang Maha Pencipta. “Tata surya kita ini adalah sebagian kecil dari tata surya lain yang ada di angkasa,” tandasnya.
Setelah penyajian dan dialog selesai pada sekitar pukul 22.00 WIB, para undangan diajak langsung melihat bintang yang bertaburan di langit dengan menggunakan teropong Sky Watcher milik Klub Astronomi Madaris 3 Annuqayah. Di halaman SMA 3 Annuqayah itu, para undangan diajak bergantian melihat bintang-bintang di angkasa, berbagai rasi, termasuk planet Jupiter, sambil dijelaskan oleh Mas Hendro.
Meski Klub Astronomi itu sudah dibentuk, menurut K M Faizi, M.Hum, klub tersebut masih belum punya nama, dan penanggung jawab serta keanggotaannya juga masih belum jelas.
”Namanya masih belum resmi, ini hanya soft-launching saja dan penanggung jawabnya masih belum definitif, tapi kami sudah mengantongi pilihan nama klub ini, yaitu Andromeda. Penanggung jawabnya sudah diusulkan juga. Ada Bapak Naufan (MTs 3 Annuqayah), Bapak Saiful Bahri, Bapak Mahmudi, dan Ibu Bekti Utami (SMA 3 Annuqayah),” ungkap Direktur Madaris 3 Annuqayah itu. Menurut Kiai Faizi, peluncuran resminya mungkin akan dilaksanakan di awal tahun pelajaran nanti.

Tulisan ini dikutip dari Blog Annuqayah.

09 Juni 2009

Abidah el-Khalieqy di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah

Diskusi dengan Abidah el-Khalieqy (penulis novel Perempuan Berkalung Sorban) di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah pada hari Senin, 31 Mei 2009


K. M. Faizi, M. Hum, memberi pengantar sebelum diskusi dengan Abidah el-Khalieqy


Penyerahan kenang-kenangan dari Pemulung Sampah Gaul (PSG) SMA 3 Annuqayah untuk Abidah el-Khalieqy

10 Januari 2009

SAI Support Sekolah Berbasis Lingkungan

Radar Madura, Sabtu, 10 Januari 2009

SUMENEP-Said Abdullah Institute (SAI) memberi dukungan moral terhadap SBL (sekolah berbasis lingkungan). Salah satunya ke SMA 3 Madaris Annuqayah, Guluk-Guluk, yang dianggap peduli lingkungan dan limbah.
Berdasarkan data, SMA 3 Annuqayah ini memberi kompetensi pembelajaran tambahan terhadap peserta didiknya. Yakni, sekolah mewajibkan siswa memiliki tanaman asuh di sekolahnya. Setiap siswa bertanggung jawab atas hidup matinya pohon yang ditanam.
Selain itu, siswa menjadi "pemulung" sampah nonorganik. Sampah itu kemudian diolah menjadi souvenir. Seperti, tas, vas bunga, miniatur meja-kursi makan, hiasan dinding, dan lainnya.
Pembina SAI MH Said Abdullah menilai, SMA 3 Annuqayah enak ditiru dan perlu. Sekolah ini memiliki nilai plus. Yakni, sekolah ikut menyelamatkan bumi dengan cara menanam tanaman di lingkungan sekolahnya yang memberikan hawa sejuk di sekolah.
Selain itu, sekolah mendidik siswanya untuk bertanggung jawab. Minimal, mereka memulai yang bermanfaat bagi ekosistem dan lingkungan sekitarnya.
Manfaat lainnya, kata Said, sekolah mendidik siswanya kreatif. Buktinya, siswa tidak malu menjadi "pemulung" dan mengolahnya kembali menjadi benda yang bermanfaat. Karena itu, anggota DPR RI ini memberikan apresiasi. Sebab, di zaman ini banyak orang enggan berbuat hal-hal kecil yang manfaatnya besar.
Apalagi, jika sekolah membangun jaringan untuk pemasaran karya siswanya. "Saya respek dengan sekolah yang inovatif dan kreatif," kata Said usai tukar cinderamata dari sekolah ke SAI dan sebaliknya.
Sebelumnya, penanggung jawab SMA 3 Annuqayah, Musthafa, mengaku mengikutkan siswanya ke berbagai pelatihan. Baik di tingkat regional maupun nasional.
Buah dari keseriusan ini, SBL di SMA 3 Annuqayah mengikuti berbagai kegiatan. Bahkan, dalam bulan ini ikut dalam lomba sekolah berwawasan lingkungan yang digelar British Council. "Jika menang, mungkin kami menjadi duta SBL yang harus terbang ke luar negeri," kata lulusan filsafat UGM ini optimistis.
Usai tukar cinderamata, rombongan SAI yang terdiri atas MH Said Abdullah (pembina), Yanuar Herwanto, Habib Amak, Habib Bidin, KH Muhadjir (fungsionaris), Didik Prasetiono (mantan KPU Jatim), Bambang Prayogi, dan Hunain Santoso (pendukung SAI) membezuk pengasuh Ponpes Annuqayah, KH Mahfud Husaini dan KH Hamidi Hasan yang sedang sakit. Acara diakhiri dengan salat Jumat di masjid ponpes. (abe/advertorial)

URL: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=56569

11 Juni 2008

Madura Channel Meliput Kegiatan PSG


Oleh Zulhatus Sayyidah

Selasa, 10 Juni 2008 kemarin, kami komunitas Pemulung Sampah Gaul (PSG) Madaris III Annuqayah kedatangan tamu dari salah satu stasiun televisi swasta, Madura Channel. Kedatangannya ke sekolah kami bertujuan untuk meliput hasil kerajinan sampah plastik yang kami buat selama ini, yang kira-kira telah mencapai lebih dari 20 buah kerajinan. Wartawan dari Madura Channel itu menanyakan tentang latar belakang serta tujuan dari diadakannya PSG dan tentang aktivitas utama PSG, yakni membuat kerajinan dari sampah plastik. Wartawan Madura Channel itu mewawancarai salah satu anggota PSG yang dilanjutkan dengan pengambilan gambar hasil kerajinan sampah plastik.
Berita yang meliput kegiatan PSG ini kemudian ditayangkan di Madura Channel sore harinya, tepatnya jam empat sore. Anak-anak PSG nonton bareng di kantor MTs 3 Annuqayah Sabajarin. Ternyata setelah berita itu ditayangkan, ada salah satu teman guru kami yang antusias dan ingin belajar bagaimana cara membuat kerajinan dari sampah plastik. Teman guru kami itu mengatakan bahwa Muslimat NU Sumber Payung Ganding tertarik untuk belajar. Sebenarnya kami siap untuk mengajari mereka yang ingin tahu bagaimana cara membuat kerajinan dari plastik. Dengan semakin banyaknya orang yang membuat kerajinan dari sampah plastik, maka tentunya sampah plastik yang ada di lingkungan sekitar akan berkurang, dan itu berarti bisa menyelamatkan bumi dari ancaman bahaya sampah plastik yang kian bertambah.
Akan tertapi, berhubung kami akan menghadapi ujian semester dan harus belajar dengan giat, maka kami harus menunda rencana tersebut. Karena selain harus ikut menyelamatkan bumi, kami sebagai siswa juga harus belajar dengan giat agar nantinya bisa berguna untuk diri sendiri, orang lain, bangsa dan negara. Tapi kami berjanji, setelah ujian selesai, kami siap datang berbagi pengalaman kami membuat kerajinan dari sampah plastik.

Zulhatus Sayyidah, siswi X A SMA 3 Annuqayah, anggota Pemulung Sampah Gaul (PSG).