26 Mei 2009

Tim Gula Merah Aksi Sosialisasi ke Desa Berekas Daja

Ummul Karimah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Sosialiasi dan Promosi Tim Gula Merah School Climate Challenge Competition British Council

Saat itu, tanggal 22 Mei 2009, saya dan teman-teman Tim Gula Merah menyusuri jalan setapak pelosok menuju desa Berekas Daja untuk melakukan sosialisasi ke ibu-ibu Muslimat NU. Saya mengira anggota Muslimat yang hadir hanya sedikit, tapi sekitar pukul 14.00 WIB, saat saya sampai dan menginjakkan kaki saya di depan Masjid Attarbiyah, tempat Muslimat bekumpul, mata saya terbelalak menatap kurang lebih 200 perempuan yang santai menunggu kedatangan kami. Saya pun tetap melangkah mencoba percaya diri dan tetap tegar. Sejujurnya, hati saya dag dig dug.
Tak selang berapa lama, tim kami dipersilakan duduk, dan pengasuh, yaitu Ny. Zulfa, menyerahkan mik pada kami. Ia menyambut kami dengan senyum lebar. “Selamat datang,” ujarnya pada kami. Maka Mus’idah Amin, guru pembimbing Tim Gula Merah yang ikut mendampingi sosialisasi ke tempat itu menjawab, “Senang sekali bisa hadir di tempat ini,” katanya.
Saat sosialisasi berlangsung, seluruh peserta yang hadir mengangguk-angguk. Sepertinya mereka mulai mencerna keterangan yang disampaikan oleh 2 orang anggota tim secara bergantian. Dan ternyata ini terbukti saat diakui oleh Hj. Maimunah, salah satu hadirin, bahwa ia ingin lebih damai dengan alam. Ia juga mengaku takut saat Mus’idah menyampaikan bahwa banyak desa lain yang mengalami banjir akibat penebangan pohon secara liar tanpa reboisasi. “Saya mendukung tim ini, dan ketika saya hendak mengadakan acara, saya akan menggunakan gula merah sebagai menu utama,” ungkapnya dengan mata berbinar-binar.
Sementara itu, ibu-ibu yang lain juga serempak mengatakan “Ya!” saat ditanya tentang kesiapan mereka melestarikan gula merah pohon siwalan. “Akhirnya…” pungkas Mus’idah bernafas lega.

25 Mei 2009

Jejaring Civitas Kependidikan Peduli Lingkungan

M Mushthafa, fasilitator/pendamping Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council SMA 3 Annuqayah

Hari Kamis (21/5) kemarin, sekolah tempat saya mengajar kedatangan rombongan tamu dari dua sekolah di Pamekasan berlatar pesantren. Rombongan itu terdiri dari sebelas murid dan tiga orang guru.
Kunjungan ini bermula dari sebuah pertemuan tak disengaja di sebuah acara di Bangkalan akhir bulan lalu. Saat itu, saya bersama beberapa rekan sedang menghadiri acara Sosialisasi Program Ekopesantren yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI. Di acara itu saya bertemu dengan seorang teman lama yang sekarang mengajar di sebuah sekolah di Pamekasan. Teman saya tertarik melihat tas yang saya gunakan saat itu: tas yang dibuat dari sampah plastik karya kreatif murid-murid saya di sekolah. Setelah bercerita singkat tentang riwayat dan asal-usul tas itu, teman saya menyatakan ketertarikannya untuk berkunjung ke sekolah saya membawa murid-muridnya untuk berbagi cerita tentang pengalaman bergiat di aktivitas peduli lingkungan.
Acara kunjungan kemarin berlangsung selama sekitar lebih dari tiga jam. Saat rombongan datang, saya masih sedang dalam perjalanan dari Karduluk. Mereka memang tiba lebih awal dari jadwal yang dijanjikan. Sambil menunggu kedatangan saya, rombongan melihat-lihat markas Tim Proyek Lomba School Climate Challenge (SCC) SMA 3 Annuqayah di sekolah. Secara khusus mereka melihat hasil kreasi tas yang dibuat anak-anak dari sampah plastik. Karena salah satu sekolah dari rombongan tersebut adalah SMK yang juga belajar tata busana alias jahit-menjahit, perbincangan tampak begitu nyambung. Saat mereka sedang asyik berbincang dengan Tim Sampah Plastik SCC pada khususnya, saya tiba di sekolah.
Saya langsung menuju ke teman saya yang ternyata menjabat sebagai Waka Kesiswaan di sekolahnya. Saya sempat terkejut karena teman saya yang kenal saat masih kuliah di Jogja itu ternyata membawa rekan guru lainnya yang ternyata adalah kakak angkatan saya saat Aliyah dulu. Dan ternyata teman saya ini menjabat Waka Kurikulum di sekolah yang sama. Jadilah pertemuan itu semakin hangat dengan cerita-cerita lama.
Setelah rombongan melihat-lihat markas sambil mendokumentasikan melalui kamera, mereka kemudian istirahat sejenak untuk shalat Zhuhur. Baru setelah itu acara sharing dilakukan dengan bertempat di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah.
Acara sharing berlangsung tanpa seremoni yang ketat. Setelah saya memberi pengantar singkat, saya langsung mempersilakan ketua rombongan tamu untuk memberikan kata sambutan. Ali Wasik, teman saya yang menjadi ketua rombongan itu secara ringkas memaparkan latar belakang dan tujuan kunjungan tersebut. Setelah itu, saya kemudian memaparkan secara kronologis berbagai kegiatan peduli lingkungan di sekolah saya, SMA 3 Annuqayah, dengan cukup panjang lebar, termasuk tiga Tim Proyek SCC.
Pemaparan saya dilanjutkan dengan dialog di antara semua yang hadir. Rombongan kemudian menanyakan berbagai detail kegiatan peduli lingkungan kami di sekolah. Tentu saja yang menanggapi tak hanya saya. Empat guru pendamping Tim Proyek SCC selain saya juga hadir di situ. Mereka adalah Ustadz Mahmudi, Syaiful Bahri, serta Ustadzah Mus’idah dan Bekti Utami. Hadir pula Waka Kurikulum sekolah saya, Ustadz Nasiruddin. Demikian juga, seluruh murid anggota tim juga hadir dan membagikan cerita mereka setelah sekitar tiga bulan ini bergiat di aktivitas mereka masing-masing.
Dialog berlangsung selama hampir dua jam. Sambil berdialog, kami menikmati sajian masakan tradisional kreasi murid-murid dari Tim Gula Merah SCC. Hari itu mereka memasak tiga jenis makanan berbahan gula merah: jhemblèng, bhug-ghebug, dan klepon. Rombongan pun akhirnya meninggalkan sekolah kami saat waktu Asar mulai masuk.
Selain kesempatan untuk membagikan pengalaman bergerak di kegiatan peduli lingkungan, saya melihat bahwa kegiatan semacam ini dapat menjadi cikal-bakal bagi terbentuknya jaringan civitas kependidikan peduli lingkungan. Dengan berjejaring, guru-guru dan murid-murid dapat saling berbagi pengalaman, saling mendukung, dan bekerja bersama dengan proyek mereka masing-masing.
Pikiran semacam ini memang sering muncul di benak saya terutama saat mendampingi anak-anak bersosialisasi ke sekolah atau komunitas lain di seantero Sumenep. Saya yakin, kebutuhan akan berjejaring suatu saat akan menjadi sangat penting, agar gerakan yang dilakukan dapat lebih kuat dan berdaya.
Tentu saja jejaring ini mensyaratkan adanya penguatan di masing-masing komunitas. Akan tetapi, dengan beberapa titik komunitas yang relatif sudah cukup kuat, jejaring dapat membantu menyemangati satu komunitas yang masih belum stabil kekuatannya. Apalagi, pengalaman di lapangan tentu akan menghadirkan nuansa permasalahan dan lika-liku yang berbeda. Dengan berjejaring, kesinambungan dan keberlanjutan kegiatan peduli lingkungan di satu komunitas akan mungkin untuk terus didukung oleh simpul jaringan yang dibuat. Tentu saja, sebagai sebuah gerakan, syarat utama yang diperlukan adalah konsistensi.
Menguatkan pendidikan lingkungan di sekolah dari perspektif yang lain sebenarnya juga berarti membawa kurikulum sekolah ke arah yang lebih kontekstual , membumi, dan mengakar dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat tempat murid itu berasal. Di tengah iklim pendidikan formal yang terkesan textbook dan kaku, sungguh kegiatan peduli lingkungan dengan impian akan jaringannya yang kuat akan tampak sebagai sesuatu yang sangat menarik untuk terus ditekuni.

Dikutip dari: http://rindupulang.blogspot.com/2009/05/jejaring-civitas-kependidikan-peduli.html

24 Mei 2009

Sosialisasi Tim Sampah Plastik ke Muslimat NU Barakas Daja Guluk-Guluk Sumenep


Siti Nujaimatur Ruqayyah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Data & Dokumentasi Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council

Jum'at (22/5) kemarin, program sosialisasi proyek Tim Sampah Plastik School Climate Challenge (SCC) SMA 3 Annuqayah kembali terlaksana. Sosialisasi ke Muslimat NU Barakas Daja Guluk-Guluk Sumenep ini kami laksanakan bersama tim proyek yang lain, yakni Tim Gula Merah dan Tim Pupuk Organik yang juga memiliki tujuan serupa.
Sesampainya di sana, kami tidak langsung memulai kegiatan kami. Sambil menunggu pengajian yang biasa mereka laksanakan selesai, kami disilakan duduk untuk menikmati hidangan yang disajikan.
Acara sosialisasi kemarin berlangsung sekitar dua jam. Setelah Ustadzah Mus'idah, pendamping Tim Gula Merah memperkenalkan diri kami dan menjelaskan maksud kedatangan kami, barulah kemudian acara dimulai.
Tim proyek kami mendapat giliran pertama untuk berbicara. Kebetulan saya sendiri yang ditunjuk untuk presentasi. Seperti biasa, saya memberikan informasi tentang bahaya sampah plastik dan dampak yang ditimbulkan kepada para hadirin. Acara ini dimaksudkan agar masyarakat bisa membentuk sikap peduli terhadap bahaya sampah plastik, sehingga dapat menyadari dan mengurangi penambahan sampah plastik. Namun sebelumnya saya diminta untuk menjelaskan isu global warming dan mengaitkan hal tersebut dengan berbagai bencana yang terjadi saat ini. Tampaknya masyarakat sangat antusias dengan solusi yang kami berikan, yakni memanfaatkan sampah plastik menjadi kriya yang bernilai guna.
Karena masyarakat di sana mayoritas ibu-ibu, mereka berniat akan membuat plastik untuk anak-anak mereka yang tahun depan akan masuk sekolah. Tapi sayang sekali saat itu kami tidak membawa bahan produksi yang lengkap sehingga kami tidak dapat mendampingi mereka belajar bersama membuat tas plastik. Setelah tim proyek saya selesai, kemudian dilanjutkan dengan tim proyek selanjutnya.
Acara berjalan dengan lancar. Sebelumnya saya sempat cemas begitu melihat peserta yang kurang lebih 200 orang, karena bukan hanya masyarakat, para santri Pesantren Atarbiyah pun turut hadir dalam acara tersebut. Saya merasa sosialisasi ini sangat memuaskan, entah apa karena ini merupakan sosialisasi terakhir dalam kegiatan SCC. Saya sangat lancar dalam presentasi. Apalagi melihat mimik masyarakat yang begitu serius menyimak sosialisasi ini. Perasaan canggung karena harus turun langsung kepada masyarakat yang sedikit tidaknya harus memakai bahasa Madura yang baik tidak saya rasakan. Semuanya lepas. Rupanya acara ini juga melatih saya untuk bersosialisasi dengan masyarakat secara langsung.

23 Mei 2009

Sosialisasi Pupuk Organik di Fatayat NU Ganding

Anisah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Riset Tim Pupuk Organik School Climate Challenge Competition British Council

Pada hari Kamis (21/5) kemarin, kami Tim Pupuk Organik bersosialisasi ke Fatayat NU Ganding, tepatnya di Desa Langgar Asem. Kebetulan ketua Fatayat NU Ganding tersebut juga adalah guru di Madaris 3 Annuqayah, yaitu Ny. Khodijah. Sebenarnya bukan hanya tim kami yang bersosialisasi ke tempat itu, tapi juga dari tim SCC yang lain yaitu dari Tim Sampah Plastik dan Tim Gula Merah. Kami bersosialisasi ke tempat tersebut dengan didampingi 3 guru pendamping, dan siswanya berjumlah 8 orang.
Sore hari sekitar pukul 15.00 WIB kami berangkat dari sekolah. Keberangkatan kami sangat terburu-buru karena kami masih ada tamu dari SMK dan MA Al-Mujtama’ Pamekasan. Rombongan tamu tersebut tidak bisa ditinggal karena tujuan mereka ke sekolah kami ingin belajar juga tentang kegiatan peduli lingkungan yang kami laksanakan. Setelah sampai di Ganding, ternyata acara rutin mereka sudah selesai tapi mereka tetap sabar menunggu kami dan kami disambut dengan sangat hormat dibarengi dengan senyuman yang sangat berharga bagi kami. Kemudian setelah kami dipersilakan duduk, kami langsung memulai acara kami dan yang membuka acara tersebut adalah Ibu Mus’idah selaku Waka Kesiswaan sekaligus pembimbing dari Tim Gula Merah.
Setelah panjang lebar Ibu Mus’idah menjelaskan tujuan kami, beliau sedikit memaparkan tentang pemanasan global dan setelah itu dilanjutkan oleh teman kami dari Tim Sampah Plastik yang kemudian disusul presentasi Tim Gula Merah.
Setelah itu kami mendapat giliran presentasi. Tim kami menjelaskan tentang bahayanya memakai pupuk kimia dan manfaatnya memakai pupuk organik. Sebelum kami selesai menjelaskan, para hadirin langsung tanggap karena yang kami jelaskan itu menerangkan kehidupan petani yang selama ini memakai pupuk kimia.
Kami juga menjelaskan tentang KCl (Kalium Clorida) yang mana dengan memakai KCl yang dari pabrik itu dapat memberi efek negatif pada tanaman. Sebagai ganti KCl, kami mengemukakan resep lain, yakni memakai serabut kelapa. Serabut kelapa tersebut direndam dalam air selama 4 hari 4 malam sampai air tersebut berwarna kecokelatan. Setelah itu air tersebut boleh digunakan.
Sebenarnya kami tidak bermaksud untuk menghentikan masyarakat untuk memakai pupuk kimia tapi bagaimana caranya untuk mengurangi pemakaian pupuk kimia dan memanfaatkan limbah pertanian yang ada di lingkungan desa untuk difungsikan sebagai penggembur tanaman.

Sosialisasi Bahaya Sampah Plastik di Fatayat NU Ganding


Sulhatus Sayyidah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Desain Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council

Saat itu hari Kamis (21/5). Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Ibu-Ibu Fatayat NU Langgar Asem Ganding melaksanakan acara rutin tahlil bersama.
Sore itu, 8 anggota tim lomba SCC SMA 3 Annuqayah (saya, Nujaimah, Ummul, Eka, Anis, Mailah, Khoyyimah, Yuliatin), Ibu Mus’idah (pembimbing tim Gula Merah) dan Ibu Bekti Utami (pembimbing tim Pupuk Jerami) berkunjung ke Langgar Asem Ganding Sumenep. Di teras Masjid Langgar Asem, Ibu Khadijah (ketua perkumpulan ibu-ibu Fatayat NU) beserta anggota lainnya menyambut kedatangan kami dengan senyum.
Begitu acara tahlil bersama usai, sosialisasi bahaya sampah plastik dimulai. Siti Nujaimah (salah satu anggota tim sampah) memulai sosialisasinya dengan mengenalkan apa itu pemanasan global, penyebab, dampak, serta solusi untuk menanggulanginya agar keadaan tak bertambah parah. ”Bumi telah rusak, bahkan bencana alam kerap kali bertamu ke negara kita. Berpuluh-puluh makhluk hidup menjadi korban dalam tragedi itu,” ungkapnya. Ibu-ibu fatayat mendengarkan penuturan Nujaimah dengan seksama.
Setelah berbicara tentang pemanasan global, ia melanjutkan tentang dampak sampah plastik. Setiap hari kita menghasilkan sampah, sebagian dari sampah-sampah itu adalah sampah anorganik, yang untuk memproduksinya membutuhkan bahan-bahan yang harus menguras kekayaan alam. Di antaranya, menebang pohon-pohon yang ada di hutan dan menguras minyak bumi. Tapi setelah kita gunakan, plastik akan menjadi sampah yang proses penguraiannya membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun.
Kemudian Nujaimah mempromosikan langkah-langkah sederhana dalam mengurangi terciptanya sampah plastik yang semakin membludak, serta memperlihatkan tas yang telah berhasil kami buat. Akan tetapi mereka tidak terlalu antusias pada langkah yang kami usulkan karena mayoritas pesertanya adalah petani. Respons mereka tidak seperti yang kami harapkan. Meski demikian, kami berharap tambahan informasi tentang bahaya sampah plastik untuk mereka dapat menggugah kepedulian mereka untuk mengurangi penambahan jumlah sampah plastik pada khususnya.
Setelah Tim Sampah Plastik presentasi, selanjutnya tiba giliran Tim Pupuk Jerami dan Tim Gula Merah. Sebelum Maghrib, presentasi kami selesai dan kami meninggalkan Ganding untuk kembali ke sekolah yang berjarak sekitar empat kilometer.

20 Mei 2009

Anggota Tim Sampah Plastik Mengikuti Kegiatan Pelatihan Menulis


Siti Nujaimatur Ruqayyah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Data & Dokumentasi Tim Sampah Plastik School Climate Challenge Competition British Council

Dua anggota Tim Sampah Plastik School Climate Challenge (SCC) SMA 3 Annuqayah (yakni saya dan Sulhatus Sayyidah) mengikuti kegiatan pelatihan menulis yang dilaksanakan oleh BPM-PPA (Biro Pengabdian Masyarakat Pondok Pesantren Annuqayah). Kegiatan ini diikuti oleh 25 orang peserta yang terdiri dari staf BPM-PPA, mitra dampingan, dan undangan khusus. Namun peserta yang hadir saat itu kurang lebih 17 orang.
Acara ini dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Acara pertama berlangsung pada hari Ahad (10/5) bertempat di Aula Madaris 3 Annuqayah. Pada pelatihan yang dimulai pukul 13.30 WIB ini kami dibimbing untuk memiliki kemampuan menulis feature sehingga dapat menuangkan pengalaman kami di kegiatan peduli lingkungan dalam tulisan yang baik.
Saya sangat menyukai acara ini. Abrari Al-Zael dari Radar Madura Biro Sumenep yang menjadi fasilitator acara tersebut sangat telaten membimbing kami. Dengan sabar dan terperinci beliau menjelaskan bagaimana cara menulis feature yang baik.
Kegiatan ini akan sangat membantu saya, karena di proyek saya sebenarnya ada kegiatan menulis berupa catatan tentang kegiatan di proyek kami yang nantinya akan digandakan menjadi buku sederhana. Nantinya buku ini akan membantu tersebarnya pengetahuan, informasi, kesadaran, dan sikap peduli terhadap lingkungan khususnya, berkaitan dengan sampah plastik terhadap masyarakat secara luas.
Kami mendapat kesempatan untuk mempraktikkan apa yang didapat dalam kegiatan ini dengan menuliskan kegiatan di proyek kami masing-masing dalam bentuk feature. Kami diberi waktu selama 1 minggu, dan tulisan kami itu kemudian akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
Ahad berikutnya, yakni tanggal 17 Mei, Abrari membahas tulisan-tulisan kami dan memberi catatan kritis agar bisa menulis lebih baik lagi.