08 Juni 2010

OPTIMA-3, Optimalkan Purna Pendidikan Siswa SMA 3 Annuqayah

Ummul Karimah, siswa kelas XII IPA SMA 3 Annuqayah

Bagi siswa kelas akhir tingkat SLTA, mungkin sekaranglah waktunya santai dan berleha-leha. Tapi tidak bagi siswa SMA 3 Annuqayah. Mereka kini disibukkan oleh tanggung jawab yang mulia. Tantangan yang sulit namun memikat.

Setelah melalui proses penggodokan, dari acara pra OPTIMA-3 (Orientasi Pengabdian dan Terapan Intelektual Madaris 3 Annuqayah) selama 3 hari (16-18/04), dan OPTIMA-3 selama 5 hari (20-24/04), siswa kelas akhir SMA 3 Annuqayah akhirnya diresmikan untuk magang di masing-masing unit Madaris 3 Annuqayah (28/04-02/05). Siswa yang berjumlah 57 orang itu dibagi menjadi 5 kelompok untuk ditugaskan di lembaga SMA, MI, MTs, perpustakaan, dan MRC (Madrasah Resources Center).

Selama pelaksanaan OPTIMA-3 ini, para peserta disuguhi berbagai materi. Di antaranya tentang: mencari jaringan (mengembangkan wawasan dalam mencari mitra), menjadi pemimpin yang profesional, perempuan karier, analisa diri, dan masih banyak yang lainnya. Adapun nara sumber dari materi-materi tersebut adalah para dosen yang telah lulus pasca sarjana S2. Hal tersebut sengaja dilakukan panitia agar OPTIMA-3 kali ini benar-benar dapat mengasah kecanggihan intelektual siswa.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya nara sumbernya guru SMA 3 Annuqayah sendiri, sekarang kami persembahkan yang baru. Semoga siswa bisa lebih semangat,” tambah Hamilatun, alumnus siswa SMA 3 Annuqayah yang merupakan ketua panitia dalam acara tersebut.

Selain mengikuti materi pada siang hari, mereka juga disibukkan oleh kegiatan pada malam hari. Yakni mereka mengaji al-Qur’an bersama selepas makmum Maghrib dan Isya’. Usai mengaji mereka harus bersiap-siap mengikuti pengajian kitab kuning yang diisi oleh K.H. Wakid Yusuf, guru bidang studi Nahwu (ilmu yang mempelajari cara baca kitab yang baik) di SMA 3 Annuqayah. Setelah itu barulah mereka bisa berkumpul untuk bercerita tentang suka-duka yang mereka rasa.

Inspirator kegiatan OPTIMA-3, K.H. Ahmad Hazim, menuturkan bahwa acara ini awalnya adalah tuntutan untuk mengkondisikan siswa kelas akhir. Hal ini dirasa sangat perlu untuk direalisasikan dalam sebuah kegiatan, mengingat adanya kecaman dan tudingan dari beberapa guru dan masyarakat sekitar yang mengatakan bahwa biasanya siswa kelas akhir bersifat nakal dan tak bisa diatur. Lebih-lebih saat mereka menunggu kelulusan. Maka untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan, lalu diadakanlah acara OPTIMA-3—tiga kegiatan yang disatukan dalam satu paket ini.

“Awalnya siswa memang bersikap frontal dan tidak mau diatur dalam bentuk apa pun. Tapi setelah acara yang berasal dari kata bakti alumni ini dibungkus dalam serangkaian kegiatan yang menarik, mereka lantas merasa asyik dan ketagihan. Alhamdulillah sudah tiga kali berjalan sejak 2008 lalu,” papar bapak pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Nurul Hikmah yang kini menjabat sebagai guru bidang studi sejarah di SMA 3 Annuqayah ini.

Mereka amat menikmati momen ini. Tak ada protes terlontar dari mulut mereka atau bahkan aksi demo. Mereka lalui hari-hari dan kebersamaan yang hampir usai itu. Tawa, air mata, dan sulaman kisah berwarna juga ikut menyaksikan betapa persahabatan dan persaudaraan begitu melekat dalam jiwa mereka.

Kebersamaan itu sangat terasa saat mereka bermalam di SMA 3 Annuqayah selama 5 hari dalam acara tersebut. Hingga jadwal yang padat tak menjadi masalah bagi mereka. Bahkan mereka terus memancarkan aura semangat yang menagalir sepanjang hari.

Semangat yang begitu merah itu, salah-satunya dirasakan oleh Siti Nujaimatur Ruqayyah. Dara asal desa Tambuko yang pernah meraih teladan pada tahun 2006 di tingkat MTs ini mengaku tak kan menyia-nyiakan saat-saat terakhir bersama teman-temannya dalam keadaan lemah dan loyo. Ia juga mengaku akan memberikan yang terbaik bagi Madari 3 Annuqayah.

“Saya tak tahu apa yang harus saya berikan untuk lembaga. Saya pun tak punya apa-apa, kecuali pengabdian yang bisa saya terapkan dalam acara OPTIMA-3 ini. Saya akan maksimalkan pengabdian yang hanya sebulan ini untuk memberikan yang terbaik. Kawan, ayo semangat! Semangat!” ungkapnya sambil mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

Acara OPTIMA-3 ini memang dirasa sangat bermanfaat bagi seluruh kalangan Madaris 3 Annuqayah. Baik guru maupun siswa itu sendiri. Selain dapat membantu mengurus Madaris 3, OPTIMA-3 juga dapat membantu alumni mengembangkan intelektual untuk menghadapi dunia baru dan tantangan zaman.

Mencetak kader yang berwawasan luas dan berakhlakul karimah memang merupakan visi-misi lembaga Madaris 3 Annuqayah. Madaris 3 Annuqayah adalah sebuah lembaga yang berada di bawah naungan Annuqayah. Di dalamnya terdiri 3 unit lembaga. Nama lembanganya: MI, MTs, dan SMA.

Jika di lembaga-lembaga pesantren lain ada yang dibaur dengan para santri putra, namun lain halnya dengan lembaga ini yang hanya dikhususkan untuk kaum hawa. Para siswa Madaris 3 Annuqayah ini diasah untuk dapat menjadi kader yang berguna bagi bangsa dan agama.

“Kegiatan OPTIMA-3 ini sangat berpengaruh sekali bagi mental siswa. Jadi jangan sia-siakan kegiatan ini. Mari asah intelektual kalian saat ini. Lalu tuangkan saat kalian telah menjadi manusia yang benar-benar manusia,” saran M. Faizi dengan nada memberi semangat.

Apresisasi juga diberikan oleh H. Mahfud Manaf, selaku Kepala Sekolah di lembaga MI 3 Annuqayah. beliau mengaku bahwa OPTIMA-3 kali ini benar-benar sangat bermanfaat bagi lembaganya. “Kalau ada kelas kosong, mereka bisa ngisi dengan belajar dan bermain bersama anak-anak. Jadi tak ada waktu belajar yang terbuang. Dan saya lihat anak-anak senag dengan para peserta OPTIMA-3 ini,” tuturnya.

Hingga pada akhirnya, akan tiba saatnya air mata berlinang dan menetes dari mata bening para siswa. Lantaran begitu berat hati mereka meninggalkan lembaga tercinta. Namun pada kenyataan yang ada, mau tidak mau mereka harus melangkahkan kaki membawa ribuan kenangan manis yang mereka rajut sedari dulu. Mereka harus meneruskan perjalanan panjang untuk menuju titik sempurna: cita, citra, dan cinta.

Kawan, melajulah! Perahu menantimu di seberang sana.

Bawalah nama Madaris 3 Annuqayah dalam setiap derap langkahmu. Harumkan ia dengan citramu. Lalu kembalilah lagi ke Madaris 3 barang sebentar. Untuk sekedar mewarnai kembali cacatan tercecer di antara rumput-rumput liar halaman sekolah. Atau untuk memberikan seluruh jiwa dan ragamu seutuhnya.


Tulisan ini dimuat di Forum Muda Kompas Jawa Timur, 22 Mei 2010.

07 Juni 2010

PSG Ikuti Acara Maulid Hijau

Ummul Karimah dan Siti Nujaimatur Ruqayyah, Siswi XII IPA SMA 3 Annuqayah

GULUK-GULUK—Pada tanggal 14-16 Mei yang lalu, Pemulung Sampah Gaul (PSG) SMA 3 Annuqayah mengikuti acara Maulid Hijau yang dilaksanakan oleh masyarakat di sekitar Ranu Lemongan/Ranu Klakah yang ada di Desa Tegal Randu, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Kegiatan ini sebenarnya merupakan kampanye untuk kegiatan penghijauan. Format kegiatannya berupa penggabungan antara Maulid Nabi, kegiatan pelestarian lingkungan dan seni budaya seperti penghijauan di sekitar Ranu Lemongan, Gunung Lemongan, pagelaran kesenian tradisional, kompetisi perlombaan tradisional serta upacara selamatan desa.

Pemulung Sampah Gaul mengirim tujuh orang delegasi untuk berpartisipasi dalam mengikuti acara yang telah berlangsung sejak tahun 2006 itu. Tujuh orang itu terdiri dari 3 orang dari Tim Sampah Plastik, 2 orang dari Tim Konservasi Pangan Lokal, 1 orang dari Tim Pupuk Organik, dan 1 orang guru pendamping.

“Rupanya mereka ingin memberikan yang terbaik untuk PSG, hingga kurang rasanya jika saya hanya mengacungkan dua jempol untuk menilai semangat mereka,” ungkap Mus’idah, guru pendamping yang hadir dalam acara itu.

Rombongan PSG tiba di Lumajang pada Jum’at dini hari, 14 Mei, pukul 02.00 WIB. Mereka beristirahat, melepas lelah sejenak, di rumah Iklilah, alumnus SMA 3 Annuqayah, yang kebetulan hanya berjarak sekitar 25 km dari lokasi pameran. Rombongan baru mulai beraktivitas pada pagi harinya, mulai dari menghias stan sampai menata dekor dan barang-barang yang akan dipamerkan. Semua bisa cepat terselesaikan dan pastinya tak kalah saing dengan stan yang lain, meski hanya dengan tenaga kerja para kaum hawa.

Selama acara berlangsung, banyak pengetahuan yang mereka peroleh. Di antaranya mengikuti lokakarya pembuatan topeng di stan Mbah Harryadjie Bs, seniman Nusantara, yang bersebelahan dengan stan PSG.

Selain pengetahuan membuat topeng dari sampah organik, ada pula yang berkesempatan mengikuti acara pelatihan yang bertajuk “Menjadi Politikus”. Acara yang masih satu paket dengan acara Maulid Hijau tersebut diikuti oleh Indah Susanti dan Muflihah. Meski pelatihan tersebut tentang politik, mereka mengaku sangat menikmati acara itu. “Ternyata politik itu tak seburuk yang saya kira, tergantung siapa yang memainkannya,” ungkap Indah Susanti, ketua PSG, saat bercerita kepada teman-temannya setelah kembali dari acara pelatihan tersebut.

Ada pula dari mereka yang berkesempatan berkunjung ke rumah Mbah Tjitra, sahabat sekaligus asisten Ir. Soekarno yang masih hidup dan berumur 108 tahun. “Saya merasa diseret kembali pada tahun 1940-an. Bangunan rumahnya yang unik dan penulisan tanggal pembangunan di setiap tembok hanya bisa bikin saya geleng-geleng takjub. Yang paling penting, semangatnya itu lho… Kok masih bisa naik-turun Gunung Lemongan untuk menanam pohon di usinya yang sudah renta,” tutur Ummul Karimah yang kebetulan ikut mendaki Gunung Lemongan untuk berkunjung ke basecamp Laskar Hijau.

Mbah Matruki dan Hutan Buah

Selain Mbah Tjitro, ada pula sosok yang sudah satu tubuh dengan alam. Mbah Matruki, mantan Kepala Desa Tegal Randu, bercerita sekilas tentang Laskar Hijau. Dia menuturkan bahwa Laskar Hijau adalah komunitas yang lahir pada tahun 2006 atas inisiatif K. Abdullah al-Kudus dan didasari atas kepedulian terhadap lingkungan.

Selain mengadakan acara Maulid Hijau ini, mereka juga melakukan penghijauan di Gunung Lemongan setiap hari. “Mereka punya mimpi menjadikan Gunung Lemongan sebagai hutan buah. Bukan untuk kita, tapi untuk anak cucu kita bersama,” tambah penduduk Desa Tegal Randu yang berasal dari Pamekasan ini.

Ke Celleng, sapaan akrab dari Mbah Matruki, awalnya hanyalah penduduk baru yang dianggap aneh oleh masyarakat Desa Tegal Randu karena kebiasaannya menanam pohon setiap hari. Mbah awalnya juga tidak disukai oleh penduduk, namun pada akhirnya setelah Mbah Matruki berhasil menghijaukan sekitar Ranu Klakah, para penduduk menyadari bahwa bumi saat ini telah “berubah sikap” kepada kita. Hal itu dilihat dari kejadian-kejadian bencana alam yang terjadi di seluruh dunia.

Sejak saat itu, pada 2006 lalu, K. Abdullah al-Kudus, salah satu tokoh masyarakat Desa Tegal Randu mengajak para penduduk untuk bersikap ramah dan cinta kepada lingkungan. Dan berdirilah komunitas Laskar Hijau yang kini dipercaya sebagai singa Desa Tegal Randu.

“Semoga siswi SMA 3 Annuqayah juga bisa meniru langkah Mbah Matruki yang telah menyulap Tegal Randu menjadi desa hijau,” kata Mus’idah berharap.

Acara berakhir pada hari Ahad, 16 Mei. Namun anggota PSG tidak mengikuti acara penutupan sampai selesai. Mereka harus bersiap-siap untuk kepulangan ke Sumenep. Tapi kepulangan mereka sedikit tertunda karena sebagian dari mereka ada yang tidak enak badan. Akhirnya rombongan pulang menuju Guluk-Guluk pada Senin, 17 Mei dini hari.

Setibanya di Guluk-Guluk, rombongan yang hadir ke acara Maulid Hijau ini berbagi pengalamannya pada kawan-kawan siswa SMA 3 Annuqayah pada Selasa, 18 Mei.

09 Mei 2010

Sanggar Pelangi MI 3 Annuqayah Praktik Membuat Telur Asin


Muhammad-Affan, Waka Kesiswaan MI 3 Annuqayah

Sabtu sore, 1 Mei 2010, Sanggar Pelangi Madrasah Ibtidaiyah 3 Annuqayah mengadakan kegiatan praktik membuat telur asin. Kegiatan yang dimulai pada pukul 16.00 WIB ini sebenarnya sudah dijadwal beberapa minggu sebelumnya, tapi harus antri terlebih dahulu karena ada beberapa film pendidikan yang belum selesai tayang dan telah dijadwal sebelumnya di Sanggar Pelangi.

Proses pembuatan telur asin sangat sederhana dan gampang. Pertama, abu dicampur air secukupnya. Kemudian masing-masing anak mengambil beberapa genggam abu yang telah dibasahi itu dan dicampur dengan garam secukupnya. Setelah itu, telur kemudian dibungkus plastik dan disimpan selama seminggu.

Mega Eka Suciyanti, tutor kegiatan ini, menyarankan anak-anak membubuhi sendiri takaran garamnya. “Saya sengaja sarankan mereka untuk membubuhi sendiri garamnya. Nanti setelah telur direbus mereka akan tahu kadar asinnya. Di sinilah pembelajarannya buat mereka,” katanya, menjelaskan.

Pada hari Sabtu 8 Mei 2010, anak-anak berkumpul kembali untuk memasak telur asin yang seminggu sebelumnya mereka simpan. Dalam proses akhir ini tampak hadir dua orang fasilitator MI 3 Annuqayah lainnya, Siti Mailah dan Fatimatuzzahrah. Mereka membantu mempersiapkan peralatan untuk memasak.

“Peralatan yang dibutuhkan sederhana, yakni tungku, panci untuk memasak, dan wadah untuk tempat telur,” kata Mailah. “Dan prosesnya sangat sederhana. Tapi jika tidak pernah mencoba langsung mereka tidak akan bisa,” sambung Fatim.

Kegiatan ini dimulai pukul 15.30 WIB dan berakhir pukul 17.00 WIB, diikuti 13 anak-anak MI dari berbagai kelas. “Setelah ini Sanggar Pelangi berencana akan mencoba lagi membuat telur asin tapi tidak menggunakan debu, melainkan dengan air dan garam saja,” kata Mega menutup kegiatan sore itu.

05 Mei 2010

Sampah untuk Penelitian Sains

Ummul Karimah, siswa XII IPA SMA 3 Annuqayah

GULUK-GULUK—Reputasi jurusan IPA yang cukup disegani di sekolah mestinya dibarengi dengan kreativitas. Hal semacam ini dapat terlihat dalam aktivitas pembelajaran di jurusan IPA SMA 3 Annuqayah.

Senin (3/5) kemarin, tampak kerumunan siswa di depan kelas XI IPA bersama satu orang guru, Syaiful Bahri, sedang melakukan penelitian cara menghasilkan tegangan listrik dengan sampah bahan organik dalam pelajaran fisika. Suasana riuh oleh suara siswa dan suara sesuatu yang sedang diulek.

“Saat ini saya beri mereka pelajaran baru tentang pemanfaatan sampah dan buah-buahan yang mengandung asam untuk menghasilkan tegangan listrik. Kebetulan di sini ada pohon belimbing yang sedang lebat. Jadi mereka memanfaatkan belimbing. Selain itu, mereka saya ajak untuk memulung tembaga dan seng di gudang,” kata Syaiful Bahri.

Lho kok? Ternyata, buah-buahan yang mengandung asam dapat menghasilkan tegangan listrik. Itu dibuktikan oleh siswa XI IPA SMA 3 Annuqayah. Caranya, mereka kumpulkan belimbing busuk yang mereka pungut dari halaman dhalem Ny. Hj. Wardatun, pengasuh PPA Al-Furqan Sabajarin. Kemudian mereka mencari barang rongsokan seperti tembaga, seng, dan dua kabel kawat berukuran setengah meter. Selain itu, mereka juga menggunakan alat bantu volt meter yang berfungsi mengukur tegangan listrik dan satu lampu bermuatan 3 watt.

Setelah barang-barang yang diperlukan terkumpul, lalu mulailah mereka melakukan penelitian. Belimbing yang telah dihaluskan dimasukkan pada dua botol berukuran 600 ml. Mereka celupkan dua kabel kawat pada dua botol tersebut.

Hasilnya, jarum volt meter menunjuk pada angka 6, yakni tenaga yang dihasilkan cukup tinggi. Dengan menggunakan sistem rangkaian seri, lampu menyala sangat terang. Raut wajah siswa kelas XI IPA pun menyala seperti lampu itu. Mereka sangat antusias, karena meski pertama kali mencoba mereka langsung bisa menghasilkan 6 volt.

Iir, Sapaan akrab Siti Muniratul Himmah menjelaskan bahwa semakin lama belimbing halus itu dibiarkan, maka semakin banyak tegangan listrik yang dihasilkan.“Hore berhasil! Senang sekali pelajaran kali ini. Selain bisa tahu tentang sains, saya juga bisa belajar dengan alam,” tambah Iir.

Cholilah, yang juga merupakan salah satu siswa kelas XI IPA, tak tinggal diam dalam mengikuti pelajaran kali ini. Menurutnya pelajaran ini sangat seru dan mengasyikkan. Lebih-lebih saat ia harus memungut belimbing busuk dan mencari barang rongsokan di gudang.

“Pelajaran ini juga membuat kita tersadar bahwa ternyata barang sampah sekalipun juga dapat kita manfaatkan. Kalau nanti lampu padam, saya akan manfaatkan buah-buahan di sekitar untuk menghasilkan tegangan listrik,” komentar Cholilah sekaligus mengungkapkan keinginannya.

04 Mei 2010

Antre Membaca, Siswa Menyemut

MARAK Madaris 3 Annuqayah Menyambut Karya Siswa

Ummul Karimah, XII IPA SMA 3 Annuqayah


MARAK (Mading Raksasa). Dari namanya saja sudah menunjukkan bahwa mading ini bukanlah mading biasa. Mading ini sangat kontras dengan mading "padas" umumnya yang menggunakan bahan sterofoam dan berukuran kecil. Bagaimana mading ini bermula?

Bias warna kedua mading di dua sisi tembok antara Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah dan kelas VI MI 3 Annuqayah terlihat menawan dari kejauhan. Kedua tembok tersebut selalu menjadi perhatian orang-orang yang memasuki kawasan Madaris 3 Annuqayah. Gang yang asalnya tak punya fungsi lebih itu telah berubah menjadi latar berlepotan cat dinding penuh seni.

Dengan dibalut warna dominan biru laut dan biru langit serta gambar perahu batik cokelat di antara rumput-rumput hijau berbunga, tembok berukuran 6,5 meter tersebut tampak tersulap menjadi hidup, asyik, dan penuh keakraban.

Memang, 3 kali MARAK telah menjalani operasi plastik. Tapi baru kali ini tubuhnya benar-benar dapat memikat hati orang-orang, baik yang berdomisili di lingkungan Madaris 3 sendiri maupun pengunjung yang bertamu atau sekadar singgah dan berlalu di antara rerumput dan kotak-kotak inspirasi yang melekat pada kedua tembok tersebut.

Mading di dua sisi tembok yang diberi nama MARAK tersebut telah diciptakan sekitar 3 tahun yang lalu, tepatnya diresmikan pada tanggal 15 Agustus tahun 2008. Penggagasnya adalah siswa SMA 3 Annuqayah yang lulus pertengahan 2008. Rahmatin namanya.

Munculnya inisiatif penciptaan mading tersebut bermula dari keprihatinan Rahmatin atas semangat menulis dan membaca siswa yang kian hari kian menurun. Lalu ia mengutarakan ide menciptakan mading raksasa tersebut pada Direktur Madaris 3 Annuqayah. Karena dirasa manarik dan dapat memicu kreativitas siswa, akhirnya K M. Faizi memberi izin kepada Rahmatin untuk mewujudkan idenya itu.

Saat bekerja, para siswa yang 100% adalah perempuan disadarkan pada emansipasi. Mereka tak meminta bantuan sedikit pun pada kaum lelaki. Mereka arungi siang dan malam bersama cat-cat yang muncrat pada baju dan menempel pada tangan mereka. “Semua untuk Madaris 3,” ungkap Rahmatin, lirih.

Menurut Ernawati MR, penanggung jawab MARAK saat ini (periode ketiga), dari pengamatan yang dilakukan, pengunjung paling banyak yaitu pada periode ke-1 dan ke-3. Sedangkan pada periode kedua semangat siswa tampak berkurang. Pasalnya, terlalu banyak kotoran kucing yang ada di lokasi MARAK sehingga menyebabkan MARAK sepi pengunjung.

“Saat ini, kami mengusahakan untuk eksis. Saya amat senang dengan semangat yang telah mengalir lagi pada urat-urat siswa. Itu saya lihat saat mereka antre dan menyemut untuk membaca,” tutur Erna.

03 Mei 2010

OPTIMA 3 2010 Yang Penuh Kesan

Nurul Elmi, siswa XII IPA SMA 3 Annuqayah

GULUK-GULUK—Orientasi Pengabdian Terapan Intelektual Madaris 3 atau yang lebih dikenal dengan sebutan OPTIMA 3 sudah berakhir sejak satu minggu yang lalu. Kegiatan yang mulai digagas sejak 2008 lalu atas prakarsa Dewan Direktorat Madaris 3 Annuqayah itu bertujuan untuk memberi pembekalan kepada siswa kelas akhir SMA 3 Annuqayah.

KH Ahmad Hazim, S.Sos, S.Pd sebagai SC dalam kegiatan itu dalam sambutannya mengatakan bahwa OPTIMA tak lain bertujuan untuk meningkatkan sumber daya alumni. Hamilatun, ketua panitia, juga sependapat dengan K Hazim. Dia juga menambahkan bahwa OPTIMA adalah sebuah kesempatan untuk belajar bersama dan menggali potensi diri.

Ummul Karimah, salah satu peserta, juga berkomentar, “OPTIMA itu penting sebagai bekal kita untuk menghadapi dunia luar yang serba penuh tantangan sehingga nantinya kita bisa menjadi generasi bangsa yang dinamis,” ungkapnya saat acara pembukaan.

Jumlah peserta OPTIMA 3 tahun 2010 ini secara keseluruhan 56 orang yang terdiri dari 28 orang dari Program IPA dan 29 dari Program IPS. Setiap peserta dikenakan biaya konstribusi sebesar Rp 65.000,- dan setiap peserta mendapatkan satu tas OPTIMA dan Block note.

OPTIMA kali ini dilaksanakan dengan dua tahap. Tahap pertama adalah Pra-OPTIMA yang dilaksanakan dari hari Jum’at 16 April sampai dengan hari Ahad 18 April. Dan tahap kedua adalah OPTIMA yang dimulai sejak hari Selasa 20 April dan berakhir pada hari Sabtu 24 April lalu. Dalam tahap pertama peserta terlebih dahulu dikenalkan pada latar belakang OPTIMA serta visi dan misi OPTIMA. Kemudian ditahap kedua peserta mulai dikenalkan pada banyak hal, tentang dunia sosial kemasyarakatan, manajemen pendidikan, agama dan lain sebagainya.

OPTIMA kali ini sedikit berbeda dari yang tahun lalu. Kali ini panitia menganjurkan peserta OPTIMA untuk bermalam di tempat yang telah disediakan yaitu di Lab IPA SMA 3 Annuqayah selama empat malam. Semua peserta begitu antusias karena dapat berkumpul lagi seperti pada kegiatan Ramadan vil Madaris bulan puasa lalu. “Aku jadi ingat dengan kenangan RvM,” kata Nurul Ifadhah.

Materi yang disampaikan juga cukup relevan dengan kebutuhan peserta. Pada pagi hari sampai siang diisi dengan materi umum, seperti kepribadian, menggali potensi diri, membangun jaringan, manajemen pendidikan, kepemimpinan, dan sebagainya. Sore harinya kegiatan sowan kepada pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah di lingkungan Sabajarin secara bergiliran yang diisi dengan nasihat-nasihat agama dan doa-doa. Kemudian pada malam harinya paserta diajak untuk mendalami materi agama, seperti meneladani kehidupan Nabi, dan sebagainya. Semua rangkaian kegiatan mulai dari pembukaan, materi, sampai penutup dilaksanakan di Aula Madaris 3 Annuqayah.

Sebelum malam puncak, peserta terlebih dahulu diberi kuisioner untuk melihat sejauh mana hasil yang dicapai. Dari seluruh peserta hampir 50% rata-rata menyukai materi pemimpin profesional dengan narasumber KH Muhammad Husnan A. Nafi’, salah satu pengasuh muda dan dosen STIK Annuqayah. Alasannya bermacam-macam, ada yang karena lucu dan berpenampilan menarik, ada juga yang karena orangnya lincah dan cara penyampaiannya lugas.

Dalam angket itu peserta juga harus memilih siapa di antara peserta yang paling disenangi. Seluruh peserta mengisi kolom itu dengan nama Siti Mailah dan Asna, karena keduanya memang terkenal lincah, lucu, kompak dan memiliki selera humor yang tinggi.

Kegiatan itu ditutup dengan acara pentas seni yang dilaksanakan pada Jum’at malam, 23 April di depan Lab IPA SMA 3 Annuqayah. Acara itu diisi dengan pembacaan Surat Yasin bersama yang dipimpin oleh Nyai Thayyibah, pengasuh PPA Karang Jati, dan penampilan-penampilan serta pengumuman peserta terbaik.

Peserta terbaik Optima secara berurut adalah Siti Nujaimatur Ruqayyah (XII IPA), Ummul Karimah (XII IPA), dan Faizah (XII IPS). Malam itu sekaligus sebagai malam yang paling bersejarah, malam terakhir yang menyisakan tangis perpisahan.

Keesokan harinya Sabtu 24 April sebelum pulang para peserta kembali mengikuti acara pembukaan magang OPTIMA. Acara yang berlangsung sederhana dan ringkas itu mengawali langkah peserta OPTIMA untuk menerapkan apa yang telah didapatkannya sebagai bentuk pengabdian terhadap Madaris 3 Annuqayah tercinta. Dalam acara itu, Sumbulatun, TU SMA 3 Annuqayah, membacakan Surat Keputusan magang OPTIMA dan Mus’idah Amien, Waka Kesiswaan, membacakan tata tertib magang OPTIMA.

Magang OPTIMA dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu di MI 3, MTs 3, SMA 3, MRC, dan Perpustakaan . Magang OPTIMA secara resmi dimulai sejak hari Rabu 28 April sampai tanggal 27 Mei nanti. Di akhir tugas setiap kelompok harus melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan selama magang.