22 April 2008

Menjadi Pemulung di Hari Bumi


Guluk-Guluk—Dalam rangka memperingati hari bumi, 22 April 2008 siswi Madaris III Annuqayah beraksi menjadi pemulung sampah plastik. Aksi ini diorganisasi oleh Green Students (MTs 3 Annuqayah) dan Duta Lingkungan (SMA 3 Annuqayah). Aksi ini diikuti oleh 52 siswi yang terdiri dari 20 anggota Duta Lingkungan, 20 anggota Green Students, dan selebihnya adalah siswi sukarela. Aksi ini memfokuskan pada penanganan sampah plastik karena sampah plastik memang sangat berbahaya.
Sebelum berangkat, para peserta aksi yang dibagi menjadi empat kelompok itu diberi pengarahan oleh ibu Mus’iedah Amin selaku pembina OSIS SMA 3 Annuqayah agar bisa menjaga diri dan nama baik sekolah selama aksi belangsung. “Kalian harus ingat bahwa hari ini kalian akan belajar menjadi pahlawan bumi, jadi jangan sekali-kali melakukan hal yang tidak diinginkan.”
Aksi memulung sampah plastik bertempat di TPA belakang komplek Madaris III sendiri, 2 TPA di 2 komplek Annuqayah Karang Jati dan Latee Utara, dan TPA Annuqayah umum—yang terbesar. Walau terik matahari menyengat, namun semangat para siswa tidak turun 100%. Semangat dan kegembiraan mereka ditampakkan melalui kegesitan mereka memunguti sampah-sampah plastik dengan berkerumunan layaknya pemulung sesungguhnya. Di salah satu TPA, ada yang berteriak karena menemukan bangkai kucing, bangkai tikus dan ulat. “Ini tidak apa-apa, agar kita semua dapat merasakan bagaimana nasib pemulung,” tutur salah satu anggota aksi.
Sampah yang terhimpun lebih dari 50 kantong plastik besar. Setelah ke TPA, para peserta aksi mencuci sampah-sampah plastik yang masih dapat diolah, karena rencananya akan dibuat menjadi barang unik (kerajinan) sesuai dengan rancangan kelompok masing-masing seperti: tas, tempat pensil, jas hujan, rompi, topi, dan lain-lain. Karena itu, seperti dijelaskan oleh Muhammad-Affan, pembimbing Green Students dan Duta Lingkungan, selain memupuk kepedulian siswi untuk memerangi sampah plastik, aksi ini juga bertujuan untuk meningkatkan kreativitas siswi dalam hal desain.
Aksi yang berlangsung di sela-sela pelaksanaan Ujian Nasional SMA ini dimulai dari jam 8 pagi dan berakhir sekitar jam 13.00 WIB. [corn]

18 April 2008

"Orang Kairo" Ngobrol Ayat-Ayat Cinta di Perpus Madaris Sabajarin


Ummul Karimah, siswi kelas XB SMA 3 Annuqayah

Guluk-Guluk—Muhammad Shalahuddin yang akrab dipanggil Ra Mamak putra K.H.A. Warits Ilyas menghadiri perpustakaan Madaris III Annuqayah kemarin (17/04/2008). Dia hadir dalam acara bincang-bincang novel best seller yang berjudul Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman el-Syirazi. Sebelumnya telah dipampang sebuah pengumuman mengenai kedatangan Ra Mamak, tetapi dalam pengumuman itu dirahasiakan siapa bintang tamunya. Apalagi pegumuman itu memercikkan sebuah gosip bahwa bintang tamunya kenal dengan para pemeran dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Pengumuman yang sangat rahasia dan heboh itu menjadikan para siswi Madaris III Annuqayah sangat penasaran dan tidak sabar menanti hari H.

Kehadirannnya pada hari H itu membuat para siswa yang penasaran beramai-ramai untuk menghadiri Perpustakaan Madaris III hingga separuh ruangan perpustakaan terisi penuh oleh para hadirin. Tak hanya siswi Madaris III Annuqayah saja yang hadir melainkan juga siswi dari MTs 1 putri, mahasiswi STIKA dan ibu TU SMA 3 Annuqayah serta pembina OSIS SMA 1 Annuqayah (putra) juga menghadiri acara tersebut.

Dari pertanyaan siswa yang unik-unik dan lugu, Ra Mamak menjawab secara detail dan memuaskan. Sebelum dibuka dialog, ia memberikan pengantar tentang seputar keindahan kota Kairo dan di mana saja letak kelebihan dan kelemahan novel karya kang Abik itu. Sampai-sampai ada siswi yang komentar mengenai pengantar dari Ra Mamak: “Wah hebat! pengantarnya luas, seperti meresensi buku.”

Saat acara tersebut berlangsung Ra Mamak dan sang moderator yang sudah tak asing lagi yaitu Ra Mushthafa sempat bergurau mengenai hitungan percetakan di Indonesia. Hal ini disebabkan Ra Mamak yang masih dua pupunya Ra Mushthafa dan sepupunya Ra Faizi sendiri, tahu bahwa Ra Mushthafa pernah bekerja di Penerbit Bentang Pustaka. Acara ini berlangsung cukup meriah karena Ra Mamak dalam menyampaikannya tidak begitu tegang. Beliau menyampaikan seputar Ayat-Ayat Cinta dengan santai namun serius sehingga acara ini begitu mengalir. Dan para peserta cukup menikmati acara ini.

Ketika pertanyaan terakhir dilontarkan, yaitu mengenai nyata tidaknya kisah dalam novel Ayat-Ayat Cinta, Ra Mamak yang pernah tinggal lama di Kairo itu menjawab, “O… kalau mengenai nyata atau tidaknya novel itu sepenuhnya hanya fiksi, tapi sebagian dari nama-nama tokoh dalam novel ini memang mengambil dari nama-nama teman kang Abik. Seperti Aisyah yang diambil dari nama Neng Aisyah Tidjani putri dari almarhum K.H Tidjani Jauhari Al-Amin Prenduan yang kuliah di Kairo,” tuturnya.

Pertanyaan dari peserta sebenarnya masih banyak. Tapi karena sudah hampir magrib, diskusi pun diakhiri.

04 April 2008

Sepekan di Kaliandra

Rombongan kami tiba di Kaliandra sekitar jam 9 malam di penghujung hari Minggu. Suasana cukup gelap. Tak banyak lampu penerangan yang menyala di halaman begitu kami masuk di gerbang yang terbuat dari bambu. Saat itu aku masih tak punya bayangan tentang tempat yang akan kami tinggali selama sepekan. Juga orang-orang yang akan bersama kami. Aku tak terlalu memikirkan itu. Perjalanan dari jelang tengah siang tadi agak melelahkan juga. Ditambah dengan udara dingin dan gerimis yang turun sejak dari Surabaya tadi.Kami diantar ke kamar oleh seorang anak yang kira-kira seusia dengan adik bungsuku. Dia membawa payung. Kami melewati jalan menaik berbatu yang tertata rapi. Kanan-kirinya cukup rimbun. Sekilas dari beberapa bangunan yang kami lewati, aku melihat corak bangunan tradisional Jawa dengan penataan yang asri. Akhirnya kami tiba di bangunan yang disebut-sebut oleh salah seorang yang menyambut kami tadi di halaman sebagai “Rumah Anjasmara”.Rumah Anjasmara dapat dikatakan sebagai sebuah pondokan. Sederhana, tapi bersih dan rapi tertata. Bentuknya kubus dan memiliki loteng. Pintu depan tepat ada di tengah. Begitu masuk, kita akan berada di ruang tengah yang tak begitu luas. Ada seperangkat meja kursi yang ditata di bawah tangga yang menaik ke arah loteng. Lurus dengan pintu masuk, berderet 8 kamar mandi yang memenuhi sepanjang satu sisi rumah. Sisi kanan kiri ruang tengah adalah kamar tidur yang kulihat sudah ditempati beberapa orang.Kami dipersilakan naik ke loteng. Tepat di sisi tangga terbawah, tertempel nama-nama peserta yang akan menempati loteng. Kalau tak salah ingat, ada sekitar 15 nama lengkap dengan alamatnya. Setelah melewati tangga terakhir, kami tiba di atas. Ada sekitar lima orang yang sudah di loteng. Di loteng yang berbentuk huruf “U” itu berderet kasur-kasur yang pas untuk satu orang. Rombongan kami memilih di bagian terdekat dengan tangga untuk turun. Sebelum keluar, si anak yang mengantar kami mempersilakan kami untuk makan malam di tempat yang sudah disediakan di dekat dapur. Tapi kami sudah makan tadi di perjalanan. Kami pun menata barang-barang kami, untuk kemudian rebahan.Pagi pertama di Kaliandra. Aku keluar dari rumah sekitar jam setengah enam. Udara masih terasa dingin sekali. Maklum, Kaliandra berada di ketinggian sekitar hampir 900 meter di atas permukaan laut. Cahaya matahari tak cukup memancarkan kehangatan. Sisa gerimis selama masih cukup terasa di rimbun dedaunan. Di luar, aku melihat-lihat keadaan, mencoba mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang tempat yang ditata menghijau ini. Akhirnya aku tiba di sebuah pendopo yang sepertinya akan menjadi tempat utama kegiatan kami selama hampir sepekan. Sebuah pendopo biasa. Ada spanduk panjang terpasang di dalam. Di depannya, halaman yang cukup luas membentang. Ada pohon beringin berdiri kokoh.Sepertinya, halaman pendopo ini akan difungsikan sebagai tempat pameran. Kami pun menyiapkan poster sederhana dan barang-barang lainnya yang akan diikutsertakan di tempat pameran tersebut. Kesibukan kami di pagi pertama selesai saat sarapan sudah disiapkan di ruang makan terbuka yang sederet dengan rumah penginapan kami.Setelah mandi dan sarapan, semua peserta melihat-lihat poster dan berbagai macam barang yang dipamerkan di halaman pendopo. Hampir semua menampilkan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan lingkungan hidup atau isu pemanasan global. Beberapa poster didesain dengan cukup serius.Pembukaan resmi acara pertemuan guru lingkungan internasional ini dimulai agak siang—sekitar jam sepuluh. Selain sambutan-sambutan, kami juga disuguhi penampilan anak-anak Sekolah Ciputra yang membawakan beberapa lagu dan solo biola. Juga ada tarian tradisional Jawa. Prosesi pembukaan diakhiri dengan penyatuan tanah dan air yang dibawa oleh masing-masing tim peserta dari berbagai daerah dan penjuru dunia.Selepas istirahat siang, acara dilanjutkan dengan pembicara utama. Seorang nenek tua yang tampak masih sangat energik. Profesor dari Universitas Negeri Malang bernama lengkap Radyastuti Suwarno. Dia berbicara dengan cukup mengalir, meyakinkan, dan tak membosankan. Namun begitu, hujan di luar yang cukup deras mengguyur cukup mengganggu konsentrasi kami mengikuti pemaparan pakar pendidikan lingkungan ini.Selepas rehat sore, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk diajak berkeliling di komplek Kaliandra. Selama berkeliling hingga matahari terbenam, kami mendapatkan banyak pemandangan indah di pusat pendidikan alam dan budaya yang luasnya 16 hektar ini. Masing-masing kelompok melewati jalur yang berbeda, sesuai dengan arahan pemandu. Kami naik turun bebukitan, beratus kelokan, menyeberangi semacam parit kecil, dan melewati beberapa bangunan dengan berbagai fungsi—rumah tinggal, kolam renang, pendopo, bengkel kerja, tempat pembibitan, kandang peternakan, pengolahan kompos, lumbung, dan sebagainya. Semuanya dalam lingkungan yang perdu menghijau dan penuh nuansa natural. Yang menarik, semua aktivitas dalam komplek Kaliandra ini seperti satu kesatuan yang saling menyokong, seperti sebuah sistem yang begitu menyatu padu.Perjalanan berkeliling Kaliandra tak terasa cukup melelahkan. Udara dingin yang diselingi kabut menahan keringat di tubuh kami yang mungkin berjalan dalam jarak yang sebenarnya cukup jauh. Rehat malam berlangsung cukup singkat. Lalu dilanjutkan dengan sharing harapan dan kekhawatiran untuk kegiatan yang akan berlangsung hingga akhir pekan.Hari kedua seharian diisi dengan presentasi. Dari pagi hingga siang, ada lanjutan presentasi dari pembicara utama, yakni dari Suko Widodo (Unair Surabaya). Selepas siang hingga malam, presentasi dilanjutkan dengan sesi paralel. Aku mengikuti sesi paralel presentasi dari utusan dari Polandia (Antoni Salamon), dan setelah itu dari Portugal (Fatima Matos Almeida).Tim kami dari Annuqayah tampil sore harinya. Tak mengira presentasi kami cukup mencuri perhatian para peserta yang kebetulan memilih hadir di sesi kami. Seorang peserta dari Malaysia semalam memang sudah menaruh sedikit rasa takjub karena kami dari sebuah pesantren di Madura mau berbicara tentang lingkungan. Katanya, di Malaysia orang Madura memiliki citra yang kurang baik. Lagipula, pesantren di sana tak lebih dari hanya mengajar mengaji saja. Presentasi kami rupanya telah cukup mengubah citra dan kesan negatif tentang Madura—mungkin juga tentang pesantren.Sesi malam diisi dengan pembicara utama yang tak bisa hadir tadi siang, yakni Richard Bachmann, seorang guru Sekolah Ciputra Surabaya. Dia mengantarkan diskusi pada bagaimana metode menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui pendidikan—yang memang merupakan tajuk besar kegiatan ini.Hari ketiga kami diajak jalan-jalan. Ada enam tempat tujuan yang disediakan panitia. Ke pantai (bakau) di Bangil, pusat industri di Pasuruan, hutan dan sawah (padi) di dekat komplek Kaliandra, sungai di Purwodadi, dan ekosistem urban di Malang. Semua peserta diminta untuk memilih tempat tujuan masing-masing. Aku memilih ikut ke sungai.Setengah sembilan keenam rombongan diberangkatkan. Perjalanan ke Sungai Kaliadem Purwodadi di belakang Kebun Raya ditempuh sekitar satu jam. Begitu tiba, kelompok kami yang terdiri dari delapan orang dibagi menjadi tiga kelompok kecil, dan diminta melakukan survei singkat lokasi. Setelah berkeliling setengah jam, kami berkumpul dan berbagi informasi tentang sungai tersebut. Setelah itu, kami pun diajak kembali ke sungai, melakukan beberapa percobaan sederhana, dan mendiskusikan isu-isu lingkungan yang terkait hingga tiba makan siang. Kami kemudian makan siang sambil melanjutkan diskusi. Kami kembali ke Kaliandra sekitar jam dua siang, ketika hujan mulai turun.Tiba di Kaliandra, ternyata rombongan yang lain masih banyak yang pulang datang. Tiba bersama kami, kelompok hutan dan sawah. Ditunggu-tunggu, kelompok yang lain cukup lama tiba, hingga waktu makan malam siap terhidang. Sesi malam yang mestinya sharing tentang pengalaman di lapangan tertunda. Tiap kelompok malam itu menyiapkan bahan presentasi besok.Hari keempat seharian berupa presentasi hasil studi lapangan dari keenam kelompok. Masing-masing diminta berbagi apa yang sudah didapat, dengan penekanan pada metodologi apa yang mungkin dikembangkan untuk dapat dibawa ke sekolah atau komunitas dalam rangka penguatan kesadaran lingkungan. Sharing seharian telah cukup memberi banyak inspirasi, terutama menyangkut apa yang dapat dilakukan di masing-masing komunitas. Apa yang ada di sekitar kita ternyata dapat dijadikan sebagai titik tolak untuk menyemaikan kesadaran lingkungan. Alam adalah laboratorium besar yang dapat dimanfaatkan untuk banyak hal.Malam harinya adalah penampilan bertajuk “Cultural Night”. Masing-masing daerah diminta menampilkan kesenian tradisional. Dari Papua, Pak Faroka, Pak Sipri, dan Pak Frans tampil dengan koteka dan lagu daerah. Demikian pula dari Jawa, Bali, dan yang lain. Kami dari Madura tak punya cukup persiapan, dan tampil seadanya menyanyikan dua lagu Madura.Hari kelima adalah hari terakhir acara resmi. Setelah sesi foto-foto di pagi hari, masing-masing kelompok diminta untuk menyusun rencana aksi. Sore harinya, rencana tindak lanjut dipajang dan disharing tanpa presentasi langsung, tapi dengan cara berkeliling saling melihat-lihat.Malam harinya adalah malam penutupan. Malam itu kami dijamu makan malam di rumah megah Pak Bagoes, pendiri Yayasan Kaliandra. Jamuan makan malam berlangsung dengan protokoler yang cukup ketat dan resmi. Kami tiba di rumah Pak Bagoes sekitar jam tujuh lewat. Begitu tiba, kami menikmati hidangan makanan ringan, lalu tari topeng diiringi suara gamelan. Makan malam berakhir lewat jam sembilan.Setelah makan malam, acara selanjutnya hiburan. Tapi sebelum penampilan hiburan oleh tim panitia, kami melewati acara yang cukup seru. Semua peserta diminta untuk berjalan di atas arang yang membara sepanjang tiga meter tanpa alas kaki. Saat itu waktu sudah menunjuk sekitar jam sepuluh. Sebagai persiapan, kami bermeditasi sebentar dengan dipandu panitia bernama Anam. Setelah bermeditasi, mental kami disiapkan untuk berjalan di atas arang membara. Ya, semacam latihan. Selain tip teknis saat melintas nanti, yang terpenting mental kami diperkuat dengan kata-kata penyemangat yang harus kami teriakkan keras-keras dan sepenuh hati nanti sebelum melintas arang: “Saya bisa! Saya harus bisa! Saya pasti bisa!” Kami berlatih atau bersimulasi dengan kata-kata itu dua kali.Waktunya pun tiba. Satu per satu peserta berjalan di atas arang membara itu. Tak ada urutan yang ditentukan. Yang siap, langsung saja berangkat. Aku pun akhirnya mengambil giliran. Aku teriakkan kata-kata penyemangat itu sepenuh hati, dan aku pun berjalan di atas arang yang membara itu dengan pasti.Malam semakin larut tanpa terasa. Setelah semua peserta melintas, kami disuguhi hiburan bermacam kesenian tradisional, sambil menikmati jajanan tradisional yang disediakan di pinggir halaman. Semua peserta menikmati semua sajian dengan penuh suka cita. Lewat tengah malam suasana masih penuh semangat. Aku dan beberapa kawan baru menuju Rumah Anjasmara setelah waktu menunjukkan jam satu dini hari lewat.Hari keenam adalah hari terakhir di Kaliandra. Acaranya hanya penutupan resmi yang berlangsung singkat di pagi hari. Dalam acara penutupan juga ada pengumuman singkat dari panitia tentang rencana aksi terbaik yang disusun peserta. Ternyata, rencana aksi terbaik adalah milik tim kami dari Annuqayah.Sekitar setengah sepuluh acara penutupan berakhir. Setelah itu kami berkemas untuk pulang. Mobil jemputan sudah menunggu satu jam sebelumnya. Menjelang jam sebelas siang, rombongan kami pun meluncur turun meninggalkan ketinggian Kaliandra bersama banyak hal yang kami dapatkan selama sepekan.

M Mushthafa, guru SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, mengikuti Environmental Teachers’ International Convention (ETIC) 2008 di Pasuruan.

Sumber: http://rindupulang.blogspot.com/2008/04/sepekan-di-kaliandra.html

14 Maret 2008

Keadaan Bumi yang Mulai tak Terkontrol

Judul buku : Bumi Makin Panas Banjir Makin Meluas
Penulis : Prof. Dr. Hadi S. Ali Kodra dan Drs. Syaukani HR, MM
Penerbit : Nuansa, Bandung
Cetakan : Pertama, Agustus 2004
Tebal : 244 halaman

Nasi tanpa lauk, selera makan akan menurun, karena salah satu menu makan kita ada yang kurang. Sama halnya bumi ini, bumi yang sudah mulai kehilangan “lauk pauk” atau jati diri sebagai bumi yang kaya akan sumber daya alam yang sejuk. Bumi kita sudah kehilangan jati diri sebagai bumi yang sejuk dan tentram. Keadaan bumi kita bukan lagi menjadi bumi yang menunjukkan sosok bumi yang sempurna. Alam kita yang sudah mulai mengalami kerusakan, dan kita belum menyadari sepenuhnya akan dampak kerusakan tersebut. Sikap ketidak pedulian kita terhadap hal tersebut sudah menunjukkan kita telah merusak dan membiarkan bumi kita, khususnya Indonesia menjadi tak terkendali dan tak terkontrol.
Di tengah carut marutnya ekonomi Indonesia, hutan kini jadi korban paling mengerikan. Penebangan liar, penyelundupan kayu, pencurian log, kebakaran pengrusakan hutan di era reformasi makin menjadi-jadi. Suara media massa, LSM, dan masyarakat yang menangisi kehancuran hutan Indonesia nyaris tak didengar pemerintah. Baru setelah CGI (Consultative Group of Indonesia) mengancam akan menghentikan bantuan dolarnya, pemerintah kelabakan. Saat ini, CGI masih menunda komitmen bantuannya untuk indonesia senilai 400 juta $ AS karena persoalan hutan Indonesia. CGI menuduh Indonesia tidak serius mengatasi kerusakan hutannya. Padahal hutan Indonesia telah dianggap sebagai “paru-paru” raksasa yang bisa menyerap melimpahnya gas karbon dioksida di udara. Makin banyak gas ini di udara, iklim bumi pun makin panas.
“Lauk pauk” bumi kita sudah hilang. Sungai , hutan dan laut sudah tak menjadi lauk pauk yang asli yang lezat dan sudah tak pantas untuk dijadikan bahan pelengkap. kondisi bumi saat ini sudah disulap menjadi sesuatu yang sudah tercampur ini-itu, bahan pengawet sudah merasuk.
Hutan sudah tidak menjadi hutan, akan tetapi ia menjadi bahan tambang manusia tanpa memikirkan dampak negatifnya. Tinggal nebang dan dibiarkan begitu saja tanpa melakukan reboisasi bahkan di hutan-hutan besar misalnya di Sulawesi dan Kalimantan sering terjadi penebangan liar dan dijual secara ilegal ke negara tetangga yakni Malaysia.
Jika kita terbang di atas pulau Kalimantan, akan terlihat permukaan pulau itu botak-botak. Liukan kali-kali di tengah kehijaun pulau terbesar di Indonesia itu sudah terlihat muram, tidak lagi menampakkan keindahan yang alami. Dari udara, memang masih terlihat. Tapi warna airnya tampak kecoklatan, bahkan ada yang abu-abu. Sementara disana-sini, terlihat permukaan tanah yang kecoklatan.
Paru-paru Kalimantan yang menghisap gas asam arang dan mengeluarkan gas asam sudah tercabik. Kebakaran yang tiap tahun terus menimpa hutan tropis Kalimantan menjadikan paru-paru Borneo itu rusak berat, bagai penderita TBC yang kronis. Tragisnya, rintihan sakit sang Kalimantan tak didengar orang. Begitupun dengan sungai Mahakam yang menjadi saksi bisu, betapa kejamnya pengusaha HPH dalam merusak alam Kalimantan yang dulu terkenal sebagai zamrud Katulistiwa itu.
Kini manusia yang tak bertanggung jawab terhadap lingkungan tersebut telah membuat suatu kerusakan yang menelan banyak korban.
Kebakaran pasar tanah abang yang berlangsung lebih 24 jam sejak Rabu hingga Kamis (19-20/2/2003), merupakan kebakaran terbesar di Asia Tenggara hingga membuat regu pemadam kebakaran tak berdaya. Jakarta barangkali merupakan kota paling aneh di dunia: musim hujan, banjir, dan kebakaran sekaligus terjadi dalam periode bersamaan.
Kenapa semua ini terjadi? Konsep ruang (lanskap) pembangunan di wilayah DKIlah penyebabnya. Sebagai contoh, di tanah seluas 1,2 hektar di pasar tanah abang di bangun lebih 2.000 kios. Secara logika, mampukah lahan seluas itu menampung kios yang benar-benar memenuhi sarat kesehatan, kebersihan, pencegahan bahaya dengan konsep early warning system, dan kebakaran? Nyaris tak mungkin.(hlm. 53)
Hutan alam, khususnya hutan tropis merupakan paru-paru bumi. Hutan menghirup gas karbon dioksida dan menghembuskan gas oksigen untuk dihirup manusia. Dengan lestarinya hutan, keberlangsunga hidup makhluk terjamin dan kadar gas karbon dioksida di udara yang menaikkan suhu atmosfer bumi ikut terkendali. Karena itu kita perlu melestarikan hutan kita dan menghentikan kerusakan hutan yang sekarang sudah mencapai 2,5 juta hektar pertahun. Jika kondisi ini dibiarkan, dalam 20 tahun lagi Indonesia akan menjadi negeri gundul. Kita bisa membayangkan, seandainya hutan tropis musnah,maka apa yang akan terjadi kelak dimuka bumi. Hutan tropis merupakan tempat kehidupan lebih 70% jenis spesies yang ada di bumi.
Buku ini menyorot berbagai hal dibalik kerusakan hutan dengan bahasa populer yang mudah dipahami masyarakat umum sangat langka. Tak banyak buku yang mencoba menyajikan persoalan deforestasi dengan pandangan multidimensi, khas gaya bahasa artikel di koran, dan buku ini merupakan bunga rampai artikel-artikel lepas di media massa untuk kemudian dihimpun untuk merenungkan nasib bangsa kita bila hutan telah tiada. Uniknya buku ini memuat informasi-informasi tentang suatu kejadian seputar lingkungan dan sebab-sebabnya, jadi dengan buku ini seakan-akan kita berada di tempat kejadian tersebut karena bukan hanya kabar-kabar tentang lingkungan yang baru terjadi, Namun, kejadian yang sudah dulu, tertulis dibuku ini. Tulisan ini sungguh rugi jika kita lewatkan untuk dibaca.


Mel@ncoli$

13 Maret 2008

Peri Penolong Madaris 3


Tak ada kesulitan bagi kami ketika ingin mengetahui cerita unik dari beliau. Hanya dengan beberapa langkah kami sudah sampai di rumahnya. Hal itu disebabkan dekatnya sekolah kami dengan rumah beliau.

Orang-orang, khususnya di sekolah Madaris 3 Annuqayah yang telah dia layani. Pantas saja waktu itu dia sedang melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Dzuhur. Itulah waktu yang kami pilih. Waktu yang tidak tepat untuk dijadikan sasaran. Namun waktu kami dan waktu beliau tak bisa dipadukan, disebabkan sebuah profesi yang berbeda. Kami pulang tanpa ada rasa kecewa sedikitpun. Kami mengerti akan profesinya sebagai penjual makanan yang harus melayani konsumen dengan baik. Akhirnya kami putuskan untuk berbincang-bincang lebih dengannya di sekolah saja. Keesokan hari, kami mulai perbincangan itu untuk mengetahui seluk-beluk riwayat hidupnya. Sosok yang tak pernah pantang menyerah dalam menghadapi dunia yang semakin kejam ini. Krisis ekonomi, yach itulah masalahnya. Tak ada seorangpun yang dapat memungkiri bahwa tak ada masalah dalam permasalahan ekonomi, baik itu santri, guru, petani, maupun siswa. Siapapun orangnya entah itu seorang presiden, pasti merasakan kesulitan dalam permasalahan ekonomi, khususnya pendapatan sehari-hari untuk menopang hidupnya. Mungkin yang menjadi perbedaan adalah penghasilannya saja. Sosok inilah yang harus kita contoh, sosok yang tetap bertahan dari zaman dulu sampai saat ini dan tetap setia untuk menekuni profesinya sebagai penjual makanan. Menyerah, tak ada dalam kamus hidupnya. Usaha, usaha, dan usaha, pantang mundur, itulah prinsipnya. Nyi Sa’diyah adalah sosok penjual makanan yang tetap setia menjadi obat kenyamanan lambung, demi lancarnya kelangsungan hidup siswi Madaris 3 Annuqayah, bahkan seluruh kompleks Annuqayah. Siapa yang tak kenal sosok Nyi Sa’diyah. Dia sudah belasan tahun mengabdikan diri untuk menjual makanan di Madaris 3 Annuqayah, selain hobinya yang suka memasak, Ia juga ingin menopang hidupnya sebagai penjual makanan. Dunia pertanian juga ia geluti, namun tak sepenuhnya.

Bu’ Sa’, begitulah panggilan sehari-harinya. Kira-kira pada tahun 1970 dia mulai menekuni profesinya. Pertama, ia mulai menjual “manisan gula” yang ia bawa kesekolahnya. Karena tuntutan orang tua untuk dinikahkan, pendidikannya berhenti sampai kelas 3 MI saja. Dari situlah dia langsung mengembangkan jualannya itu dengan lebih baik. Mulai dari manisan gula, ke makanan yang lebih membutuhkan tenaga untuk mengolahnya. Rujak(ketupat campur kacang ulek) dan makanan lainnya.

Akhirnya sampai sekarang makanan itu tetap menjadi jualan khas beliau. Jadi, jika siswa bilang “yuk beli rujak” maka jangan ditanya lagi mereka akan kemana, pasti mereka berbondong-bondong menuju kekantin bu’ sa’. Dan sekarang dia mulai “meracek” sendiri makanan-makanan yang mungkin sudah kita kenal di luar kepala yaitu campur, ketupat kuah, rujak dan lain-lain. Penghasilan setiap harinya yang ia perolah dinamis, kadang memuaskan hati, kadang membuat hatinya bertanya “ sengko’ tak ngerteh jha’ arapah? Apah keng nak- kanak apasah yeh..”, sambil mengulek sambel rujak ketika kami tanya tentang kebingungannya terhadap penghasilannya yang selalu berubah. Namun ia tetap bersyukur karena telah diberikan pekerjaan seperti ini “bhang tembhang sengko tak alakoh bing” jawabnya penuh semangat dengan senyum mengembang dari bibir sayunya yang menunjukkan beliau adalah sosok gadis cantik ketika masa mudanya, namun sekarang kecantikannya itu sudah termakan usia.

Tempat ia menjualpun sebelumnya sempat berpindah-pindah, pertama ia menjual di bara’ laok(Kawasan Madaris 1 sekarang) katanya, ketika itu masih lembaga MI saja tak ada MA, Mts dan STIKA seperti sekarang ini. Perawakannya yang menunjukkan usia yang sudah tua tak dapat mencegah profesi uniknya ini untuk berjualan di Madaris 3 Annuqayah. Dia harus mempersiapkan semuanya, sehari sebelum berjualan, dan dia tidak hanya berjualan di Madaris 3 ini saja, ia juga menyebarkan gorengan-gorengannya ketoko-toko atau warung lain, sebagai tambahan penghasilan.

Wanita yang tidak mempunyai seorang anakpun ini, merasa sangat santai sekali menekuni profesi yang sekarang ia geluti. Seperti tak ada beban. Namun sebagai sunnatullah, yang paling mengesankan baginya ketika dia harus bangun pagi untuk mempersiapkan jualannya.

Anak-anak sedikit kesal terhadap sikapnya yang agak pelit, terutama terhadap sambal ulegnya, pasti ketika anak-anak akan minta sambel ulegnya, kalimat yang akan terlontar dari beliau “duh... ja’ nya’ bennya’ cabbih larang nak”. Memang ketika pernyataanya sesuai dengan fakta, anak-anak akan memakluminya, namun ketika beliau dianggap mengarang, maka tidak segan-segan mereka mengambil sambel uleg sebanyak mungkin. Akan tetapi Siswa juga tidak akan dapat memungkiri akan jasanya yang begitu besar. “Tanpa beliau, proses belajar akan amburadul, soalnya laper sich”, kata Rara dan I2m siswi kelas XI SMA 3 Annuqayah ketika ditanya tentang jasa nyi Sa’diyah. Masalah enaknya masakan bu’sa’ jangan ditanya, semua siswi suka pada masakannya, namun bukan berarti makanannya setiap hari laku terjual, disebabkan uang saku siswa yang rata-rata status ekonomi murid Madaris 3 Annuqayah kelas menengah kebawah, kalaupun ada yang lebih, paling hanya sedikit. Dan biasanya, persaingan perdagangan yang terjadi di Madaris 3, karena tidak hanya beliau yang berjualan, Mbak Tin itulah panggilan anak-anak terhadap penjual makanan yang sedikit banyak menyaingi Bu’ Sa’.

Sekitar pukul setengah tujuh dia sudah mulai mengantarkan jualannya kesekolah kami, namun dia tidak mengantarkan sendiri, dia menyuruh tetangga dekatnya, Nyi Rahma untuk mengantarkan jualannya. Dengan begitu Bu’ Sa’diyah menjadi sedikit ringan dalam hal angkut mengangkut jualannya ke sekolah. Namun ketika sudah pulang dia tetap harus mengangkut jualannya sendiri karena Nyi Rahma juga masih punya pekerjaan yang juga harus diselesaikan sebagai petani.

Sebuah profesi yang unik dan mengesankan… dan kalimat unik terakhir kami dapatkan “ ja’ kal nakal se ajereh ma’le ta’enga’ sengko’ areya, ja’ dus thodhus mon alakoa. Apah se ekakanah mon ta’ alako.” sebuah kalimat yang menggerakkan hati.


Rahmatin (XI A SMA 3 ANNUQAYAH)


12 Maret 2008

Bagaimana Cara Menjelaskan?

Bagaimana Caranya Saya Menjelaskan ?
Bapak konsultan yang saya hormati. Ada yang ingin saya tanyakan namun ini adalah hal yang sudah biasa kita dengar, akan tetapi bagi saya ini adalah suatu hal yang sangat berarti.
Dulu ketika saya kelas 2 SMP pernah menjalin hubungan dengan seorang cowok sebut saja dia “Andre”. Dia sangat setia, pengertian dan sangat menyayangi saya bahkan kami berjanji untuk saling setia dan tidak akan pernah pindah kelain hati. Hubungan kami berlanjut selama tiga tahun lebih. Namun selain saya punya kekasih, saya juga punya sahabat yang selalu siap menerima keluh kesahku, dan ternyata tanpa saya sadari dia menaruh hati padaku.
Dan kesalahan terbesar yang dia lakukan adalah dia mengungkapkan isi hatinya ketika hubungan saya sangat baik dengan kekasihku. Dengan tindakan konyol dia (sahabatku) telah merusak hubunganku dengan Andre. Akhirnya Andre selalu cemburu dan mengira bahwa saya ada hubungan dengan sahabatku. Padahal saya sudah berkali kali menjelaskan pada Andre bahwa saya tidak pernah punya hubungan khusus dengan dia, kecuali hanya sebatas sahabat nggak lebih. Sekarang yang ingin saya tanyakan :
1. Apa yang harus aku lakukan ??
2. Bagaimana agar dia percaya akan hubunganku dengan sahabatku yang hanya sebatas teman biasa??

Lina Nafazatin Naila (XI A SMA 3 Annuqayah)


Lina yang baik, sebelum saya menjawab pertanyaan Lina, kalau boleh saya ingatkan, menjalin hubungan seperti itu seharusnya Lina pertimbangkan dengan baik dari berbagai segi, terutama dari segi agama. Jangan sampai masuk lebih jauh lagi agar tidak menyesal dikemudian hari. Mengenai pertanyaan Lina,
Pertama, yang harus Lina lakukan, dengan menjelaskan kedua belah pihak(kekasih dan sahabat) dengan mempertemukan keduanya, agar tidak ada kecemburuan bagi kekasih Lina dan kekecewaan bagi sahabat Lina. Kalau sahabat Lina memang hanya menganggap sahabat.
Kedua, kalau memang penjelasan yang dibarengi mempertemukan keduanya masih kurang cukup bagi kekasih Lina, maka Lina harus pilih salah satunya. Jika kekasih yang lebih diutamakan, Lina harus menjauhi sahabat Lina, meskipun dalam waktu-waktu tertentu, sehingga kekasih Lina mengetahui kalau Lina tidak punya hati pada sahabat Lina, kecuali sekedar teman biasa.

Nggak Mau Berusaha

Assalamualaikum Wr. Wb
Bapak konsultan yang saya hormati, aku punya sedikit masalah dengan temen-temenku. Kenapa ya… temen-temenku selalu saja minta jawaban(nyontek)? ga mo ngasi ga enak, jangan jangan saya dibilang pelit, Nggak punya rasa toleranlah dan masih banyak celoteh-celotehan lain yang kurang enak didengar telinga. Padahal nyontek itu ga baikkan? Bahkan itu nggak usah ditanya, selain membuat kita malas belajar, kita (yang ngasi contekan) akan rugi. Karena kita yang pontang panting belajar kesana kemari eh, dianya asyik nyalin jawaban dengan tampang ga bersalah gitu (bukannya sok lho…!!) mohon solusinyanya. Dan apa yang harus saya lakukan? Agar mereka nggak salah paham pada penolakan yang saya lakukan?!
Terimakasih atas jawabanya.
Wassalamualaikum Wr. Wb

Zieva (XI B SMA 3 Annuqayah)


Zieva yang pintar, sikap anda baik, tapi kebaikan tidak harus terjerumus dalam keburukan, seperti yang Zieva paparkan. Yang harus Zieva lakukan mengenai hal yang diatas;
Pertama, berikan penjalasan pada teman Zieva, bahwa perbuatan itu kurang baik dan dapat merugikan diri sendiri.
Kedua, ajaklah belajar bersama agar mereka faham dan mengerti. Sehingga jika ada ujian, teman Zieva tidak nyotek lagi. Mungkin sebab dari menyonteknya teman Zieva karena dia tidak tahu dan tidak ada teman belajar. InsyaAllah hal itu tidak akan terjadi lagi.
Semoga saran singkat ini tidak membuat Zieva mengeluh dan capek karena harus mengurus teman Zieva untuk belajar bersama. Zieva harus ingat, dengan begitu Zieva sudah menanam benih-benih yang baik dan suatu saat Zieva akan menemukan kebaikan.