29 September 2009

Radikalisasi Peran Guru

• Judul buku: Pendidik Karakter di Zaman Keblinger: Mengembangkan Visi Guru sebagai Pelaku Perubahan dan Pendidik Karakter • Penulis: Doni Koesoema A • Penerbit: Grasindo • Cetakan: I, 2009 • Tebal: xvi + 216 halaman

Oleh: M Mushthafa
, Guru SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Mahasiswa Program Master of Applied Ethics (Erasmus Mundus) Utrecht University, Belanda.


Saat sendi bangunan peradaban bangsa terancam berantakan, banyak orang berharap pendidikan dapat menjadi penyelamat. Guru kemudian menjadi aktor kunci untuk menjadi pelaksana misi penyiapan generasi bangsa yang tangguh. Lalu, bagaimana jika guru itu sendiri justru menjadi sumber masalah?
Buku yang ditulis praktisi dan pemerhati pendidikan ini memberi peta persoalan dan tawaran solusi cukup radikal untuk menguatkan kembali peran dan posisi guru. Tentu saja dalam konteks pembangunan peradaban masyarakat yang tengah terbelit dalam krisis yang kompleks dan akut.
Doni Koesoema, penulis buku ini, berupaya mengembangkan dan meradikalkan visi dan peran guru sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter. Hal tersebut perlu, terutama kala profesi keguruan cenderung mudah terjebak dalam perangkap konflik kepentingan, ekonomi, dan kelompok politik tertentu yang dangkal.
Menurut penulis buku ini, guru bisa memainkan peran memperbarui tatanan sosial masyarakat. Caranya dengan memperkaya dan memperkokoh kepribadian siswa serta menanamkan kesadaran kritis. Fungsi transformatif pendidikan dimulai dengan pembentukan dan pendidikan karakter. Proses pengembangan karakter di sekolah dilakukan menyeluruh (integral) antara diskursus dengan praktik dan antara kegiatan kurikuler (akademis) dengan pergaulan sehari-hari.

Zaman ”keblinger”
Berhadapan dengan kutub ideal ini, penulis mencatat sekarang ini kita hidup pada zaman keblinger, sebuah zaman saat dunia lari tunggang langgang dan menciptakan situasi yang membuat guru kehilangan orientasinya.
Otonomi dan kebebasan untuk merumuskan jati diri sebagai guru menjadi sulit sekali untuk dijaga. Sebuah ilustrasi yang sangat bagus digambarkan dalam buku ini. Jangankan untuk menghambat terorisme global, untuk melawan ujian nasional yang merenggut otonomi guru saja mereka tidak mampu. Jangankan berurusan dengan perusahaan multinasional, untuk mengurus uang Bantuan Operasional Sekolah (BOS) saja tidak becus.
Dalam situasi seperti ini, guru sering tidak sadar dengan peran dan visi strategis dan radikal yang mesti mereka miliki. Bagaimana bisa menjadi pelaku perubahan jika untuk mengubah dirinya saja guru masih kesulitan. Ketika sekolah atau otoritas negara berupaya meningkatkan mutu guru melalui sejumlah kegiatan, seperti pelatihan, lokakarya, seminar, atau semacamnya, ternyata semua itu tidak cukup memberi dampak positif. Bahkan, untuk sebuah perubahan mendasar yang menyangkut kemampuan pedagogis maupun penguasaan bahan ajar.
Hal itu menurut penulis buku ini terjadi karena tak ada kerangka kerja jangka panjang yang melatarinya sehingga perubahan radikal yang diharapkan tak kunjung dicapai. Untuk itulah, Doni kemudian merumuskan tujuh strategi untuk membumikan gagasannya yang hendak meradikalkan visi dan peran guru sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter.
Ketujuh strategi itu adalah menjernihkan visi sebagai guru, menumbuhkan semangat peneliti dalam diri guru, membiasakan umpan balik dari para pemangku kepentingan, menumbuhkan kejujuran akademis, mempraktikkan pembelajaran kolaboratif, mengembangkan sekolah sebagai komunitas belajar profesional, dan menumbuhkan kultur demokratis di sekolah.
Ketujuh strategi tersebut memang tidak bersifat teknis karena hal yang ingin dicapai adalah perubahan paradigma. Meski demikian, di beberapa bagian terdapat uraian yang cukup praktis. Misalnya, tentang pentingnya penjernihan visi sebagai guru. Di situ dipaparkan visi yang berfungsi sebagai orientasi dan landasan yang memotivasi guru bertindak, beraktivitas, dan mengembangkan diri. Dia juga menegaskan, visi seseorang sebagai guru juga dapat dilihat dari bagaimana dia memahami tujuan pendidikan, pengajaran, siswa, pengetahuan, dan masyarakat. Dengan kata lain, visi sangat berkaitan dengan sejumlah asumsi dasar yang akan sangat berpengaruh terhadap praktik pendidikan dan pembelajaran di kelas.
Visi guru sebagai pendidik dengan pemahaman seperti ini dipertajam dengan studi kasus pemberitaan di media. Di antaranya tentang aktivitas Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo yang menyatakan kebijakan pendidikan menengah akan diarahkan pada meningkatnya proporsi sekolah menengah kejuruan dibandingkan dengan sekolah menengah atas. Penulis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan reflektif dan menguraikan berbagai implikasi arah kebijakan tersebut dengan cukup panjang lebar.

Tidak sederhana
Tentu saja upaya mengubah paradigma dan visi mendasar dari profesi keguruan tidaklah sederhana. Bagian awal buku ini menguraikan kompleksitas persoalan yang dihadapi guru di lapangan.
Pada zaman keblinger, misalnya, mistifikasi profesi guru terjadi ketika muncul euforia berlebihan oleh komunitas dalam mengidealkan berfungsinya peranan guru. Di sisi yang lain, beban kerja dan rutinitas di sekolah semakin menyulitkan guru mengembangkan dan mengubah diri.
Saat menguraikan strategi kedua mengenai menumbuhkan semangat peneliti dalam diri guru, penulis tampak sedang berefleksi dengan apa yang tengah dia lakukan selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Dalam kadar tertentu, buku ini sebenarnya semacam refleksi diri setelah terlibat langsung dalam pengelolaan pendidikan di beberapa sekolah. Lebih jauh lagi ketika kemudian ia mendalami pedagogi di Universitas Salesian Roma, Italia, dan Boston College Lynch School of Education, Boston, Amerika Serikat. Dengan kata lain, penulis telah mempraktikkan sekaligus menegaskan dengan memosisikan diri sebagai peneliti, ia tak hanya terlibat dalam praksis peningkatan mutu pendidikan.
Di sisi lain, penulis buku ini juga dapat berbagi makna personal yang berkembang selama ia menjalani dan menghayati aktivitas keguruan dan kependidikan, baik dalam dirinya maupun dengan komunitas (guru) yang lebih luas. Ia mengonstruksi pengalamannya melalui kerja-kerja dokumentasi, pengamatan, analisis, dan refleksi. Selanjutnya ia menciptakan gugus pengetahuan dan ilmu ”baru”.
Buku ini sangat cocok dibaca para guru, pengelola lembaga pendidikan, dan mereka yang peduli terhadap masa depan bangsa ini. Paparan buku ini memberikan peta dan agenda persoalan bersifat mendasar untuk lebih memperkuat peran dan visi guru dalam pembangunan peradaban.
Lebih dari sekadar berbagi makna dan kepedulian, buku ini juga mencatat sejumlah pekerjaan rumah bersama yang bersifat pragmatis maupun praktis, meski pada sisi lain lebih menekankan pada pendekatan dan perspektif yang bersifat individual dalam upaya menjaga makna substantif profesi keguruan yang mulia pada kerangka kerja peradaban.

Tulisan ini dimuat di Harian Kompas, 27 September 2009. Juga bisa diakses di Blog Rindupulang.

21 Juli 2009

Tim Pupuk Organik SMA 3 Annuqayah Masuk 15 Besar Lomba SCC British Council


Anisah, siswi XII IPA SMA 3 Annuqayah, Koordinator Riset Tim Pupuk Organik School Climate Challenge Competition British Council

Tidak disangka, tepat pada hari Senin tanggal 13 Juli 2009 salah satu guru pembimbing kami, Tim Pupuk Organik School Climate Challenge (SCC) Competition British Council SMA 3 Annuqayah, yaitu Bapak Mahmudi, S.Sos menerima telepon dari Siswoyo selaku salah seorang tim verifikasi Lomba SCC British Council. Pak Siswoyo memberi kabar bahwa Tim Pupuk Organik SCC SMA 3 Annuqayah masuk 15 besar dari 71 tim proyek SCC yang sudah mengirimkan laporan ke panitia. Kabar tersebut merupakan kabar yang sangat membahagiakan bagi kami, Tim Pupuk Organik, dan juga dua tim SCC SMA 3 lainnya.

Menurut informasi yang kami terima, awalnya peserta lomba SCC ini sebanyak 183 tapi yang mengirimkan laporan hanya sebanyak 71 tim. Dari 71 tim tersebut dipilih 15 besar untuk kemudian akan diseleksi lagi menjadi 3 besar lagi sebagai pemenang.

Pada hari Rabu 15 Juli 2009, kami Tim Pupuk Organik kedatangan tamu dari Yayasan Kaliandra Sejati Pasuruan sebagai tim verifikasi lomba SCC ini. Beliau adalah Bapak Siswoyo dan Bapak Mas’ud selaku tim observer SCC. Maksud kedatangan mereka ingin menilai langsung (verifikasi) kegiatan tim kami selama 3 bulan sebelumnya. Apa sesuai dengan laporan yang kami kirimkan, dan bagaimana tindak lanjutnya.

Tepat pada pukul 08.30 WIB kami memulai acara kami dalam bentuk berdialog, yang tempatnya dilaksanakan di Laboratorium IPA SMA 3 Annuqayah. Acara tersebut dihadiri 2 orang tim obsever SCC dan kepala sekolah dari masing-masing lembaga yang ada di lingkungan Madaris 3 Annunqayah sekaligus juga dihadiri oleh dua tim SCC lainnya, yakni Tim Gula Merah dan Tim Sampah Plastik.

Sebagai pembuka, pertama terlebih dahulu kami saling memperkenalkan diri agar saling mengenal satu sama lain dan juga agar dapat memperkuat tali silaturrohim. Selanjutnya, salah satu di antara Tim Pupuk Organik menjelaskan sedikit tentang kegiatan proyek kami. Di antaranya kami menjelaskan mengapa kami memilih limbah pertanian khususnya jerami untuk dijadikan sebagai pupuk organik. Sesudah kami menjelaskan, kedua tim observer SCC tersebut ingin melihat bukti-bukti kegiatan kami dan ingin melihat lahan kami yang akan dijadikan tempat percobaan dari hasil pembuatan pupuk kami.

Tapi sebelum pergi ke lahan tersebut, terlebih dahulu kami mengantarkannya ke tempat pembuatan pupuk kami dan sekaligus menunjukkan hasil dari pembuatan pupuk kami itu. Kami juga memperlihatkan bukti-bukti kegiatan kami ini dalam bentuk foto. Sesudah itu kami mengantarkannya ke lahan kami di lahan milik K.H. Ahmad Hazim, salah seorang guru SMA 3 Annuqayah. Setelah itu, kami juga mengantarkan tim observer ke Green House yang juga akan dijadikan tempat eksprimen hasil dari pupuk kami. Setelah dari Green House, kami semua langsung menuju ke ruang Laboratorium IPA kembali untuk makan-makan bersama. Kebetulan menunya hasil dari buatan Tim Gula Merah yang terdiri dari tattabun dan jubete, sedangkan minumannya terdiri dari la’ang dan poka’—semuanya berbahan gula merah.

Sekitar pukul 10.00 WIB kami berangkat ke dua daerah untuk melihat langsung hasil tanam para petani yang selama ini memakai pupuk organik. Pertama yang kami kunjungi yaitu ke Desa Bragung dulu. Kebetulan lahan tersebut milik Bapak Mahmudi sendiri selaku pembimbing kami (Tim Pupuk Organik). Selama 2 tahun ini beliau sudah memakai pupuk organik dan ternyata hasilnya lebih bagus dari pada memakai pupuk kimia.

Selanjutnya kami langsung menuju ke Desa Berekas Deje yang bertempat di dhelemnya K.H. Masyhuda, salah seorang guru SMA 3 Annuqayah. Kebetualan di sana yang selama ini memakai pupuk organik adalah Nyi. Zulfa, putri dari beliau sendiri. Setelah sampai di sana, kami masih duduk sebentar untuk menghilangkan rasa lelah kami. Kemudian kami diajak oleh beliau untuk melihat langsung hasil tanam beliau yang selama ini memakai pupuk organik dan setelah dilihat langsung ternyata hasilnya lebih bagus dari pada yang memakai pupuk kimia. Tapi sebelum beliau memakai pupuk organik, beliau memakai pupuk kimia dengan menggunakan lahan yang lain hanya untuk sebagai perbandingan, lebih bagus yang mana antara memakai pupuk kimia dengan memakai pupk organik. Dan setelah dilihat langsung ternyata hasilnya lebih bagus yang memakai pupuk organik dibandingkan dengan memakai pupuk kimia.

Kunjungan kami ke dua tempat itu bersama tim observer SCC berakhir sekitar pukul 14.00 WIB. Kami langsung kembali ke sekolah. Setelah sampai di sekolah, ternyata tim observer SCC langsung minta izin kepada kami untuk pulang, karena mereka masih ada tugas lain yang harus diselesaikan.

09 Juli 2009

Building Environmental Awareness

Locating in the midst of rural but transitional society to modern way of life, SMA 3 Annuqayah (Guluk-Guluk, Sumenep, East Java, Indonesia) tries to promote ecofriendly lifestyle by disseminating information and awareness concerning to the hazard of plastic rubbish among schools and communities.


Unmanaged waste and landfills

Annuqayah Islamic Boarding, religious educational institution established on 1887, is now growing up in a rural community in Madura Island. More than six thousand students enroll on various educational activities every day.

Unfortunately, waste and landfill management didn’t become a priority agenda in this boarding. Landfills spread out unpleasent odor among residence of people. Sometimes, people burn the waste, and the smoke was very irritating.

Based on this fact, SMA 3 Annuqayah tries to appeal awareness of the people so that they will take a concrete contribution to manage their waste and give a simple, consistent, and integrative responses to the climate challenge.


Plastic waste reduced

Initiating by some students and teachers, SMA 3 Annuqayah held socialization in several school communities and people association around Sumenep district and also had collected plastic rubbish from landfill near the school as a campaign against plastic rubbish.

The campaign had succeed decreasing plastic rubbish around school and people’s neighbourhood by reuse the rubbish to be creative accessories, like school bag, pencil case, etc. The production of these handicraft was just as a medium to arise people’s awareness about the hazard of plastic rubbish. The school had received good support from school communities and people to reduce increasing volume of plastic rubbish by collecting the rubbish and give it to our team to be reused.

Over the coming times we expect that in Annuqayah:

• Waste and landfill will be well-managed
• Efficient use of plastic so that the increasing waste of it will be reduced
• Institutions at Annuqayah apply ecofriendly policies
• People have good awareness to conduct with nature


Creating bags using plastic waste

06 Juli 2009

Tim SCC dan Klub Astronomi Hadir di Stan Madaris 3 Annuqayah dalam Haflatul Imtihan Madrasah Annuqayah 1-4 Juli 2009

Pengunjung stan Madaris 3 Annuqayah di HIMA 2009 sedang melihat-lihat foto dan arsip-arsip berbagai unit kegiatan. Tampak pengunjung sedang berbincang dengan Ekatur Rahmah dan Sulhatus Sayyidah (siswi SMA 3 Annuqayah).

Para santri/siswi pengunjung stan sedang antre beramai-ramai untuk menyaksikan bulan dan bintang dengan teropong Klub Astronomi Madaris 3 Annuqayah.


Siti Nujaimatur Ruqayyah presentasi tentang bahaya sampah plastik. Di bagian latar, diputar video kegiatan Tim Sampah Plastik SCC SMA 3 Annuqayah.


Salah seorang pengunjung stan tampak sedang antusias mengamati contoh hasil pupuk organik hasil produksi Tim Pupuk Organik proyek SCC SMA 3 Annuqayah.


Tim Gula Merah presentasi tentang konservasi gula merah dan gula siwalan serta produk makanan tradisional berbahan gula merah. Pada sesi ini Tim Gula Merah juga berbagi resep membuat "tattabun" dengan para pengunjung stan. Tattabun yang dibuat ludes terjual tak lebih dari 30 menit!

29 Juni 2009

Madaris 3 Annuqayah Adakan Soft-Launching Klub Astronomi


Fandrik Hs Putra, Kontributor Blog Annuqayah

GULUK-GULUK—Madaris 3 Annuqayah memperkenalkan sebuah komunitas baru di lingkungannya, yaitu klub astronomi. Klub Astronomi ini diluncurkan pada Ahad malam (28/6) kemarin. Lahirnya klub tersebut diharapkan bisa memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada para siswi Madaris 3 Annuqayah mengenai alam semesta dan juga bisa melengkapi kegiatan Duta Lingkungan di SMA 3 Annuqayah pada khususnya, dan bermanfaat untuk Annuqayah pada umumnya.
“Jika sekarang Madaris 3 sudah mempunyai klub pencinta alam yang orientasinya pada lingkungan, kali ini kami meluncurkan klub yang akan menjelajah langit (Klub Astronomi),” ungkap M Mushthafa, guru SMA 3 Annuqayah saat mengantarkan acara pada malam itu.
Soft-launching Klub Astronomi tersebut ditempatkan di aula Madaris 3 Annuqayah yang diikuti oleh sekitar 60 lebih undangan, antara lain guru Madaris 3 Annuqayah, perwakilan guru Madrasah Annuqayah yang lain dari MI sampai SLTA, dan madrasah-madrasah sekitar Annuqayah (Guluk-Guluk, Ganding, Pragaan).
Sebagai penyaji pada kesempatan itu adalah Hendro Setyanto, Direktur Mobile Observatory Indonesia yang juga aktif di Observatorium Bosscha Bandung. Kehadiran Mas Hendro—begitu sapaan akrabnya—di Annuqayah adalah yang kedua kalinya.
“Saya dari Lamongan langsung ke sini. Maunya sampai di Surabaya saya akan lewat di jembatan Suramadu, tapi jalannya ditutup, terpaksa naik kapal dan itu menyita waktu yang banyak. Makanya saya datang terlambat,” jelasnya ketika acara baru dimulai pada pukul 20.38 WIB.
Pada kesempatan itu, Mas Hendro mengajak para undangan yang hadir bersama-sama mengelilingi jagad raya dengan menggunakan simulasi video yang ditampilkan melalui LCD proyektor. Ia menjelaskan banyak hal tentang astronomi, seperti tentang proses perbedaan pergantian siang dan malam di berbagai belahan bumi.
“Kita enak berada di garis khatulistiwa. Perbedaan siang dan malam relatif sama. Coba bandingkan di negara yang lebih dekat dengan daerah kutub; siang bisa lebih lama dari pada malam. Kalau kita berpuasa di sana, berbuka puasa itu sekaligus makan sahur, malamnya lebih sedikit,” tuturnya.
“Seperti yang diungkapkan oleh K.H. Hasyim Muzadi ketika beliau berada di Rusia, fiqih khatulistiwa tidak bisa diterapkan di sana. Waktu di sana tidak sama dengan yang ada di Indonesia. Nah! Bagaimana jika menentukan waktu shalat kalau mengacu pada fiqih khatulistiwa?” ungkapnya lagi.
Kemudian Mas Hendro lebih jauh lagi mengenalkan beberapa bagian dari astronomi, seperti astronomi dan astrologi, meteor dan mitos pengkabulan doa, serta komponen-kompunen yang membentuk antariksa secara umum dengan merujuk kepada ayat al-Qur’an, yang kesemuanya menimbulkan decak kagum atas kebesaran dan keagungan Sang Maha Pencipta. “Tata surya kita ini adalah sebagian kecil dari tata surya lain yang ada di angkasa,” tandasnya.
Setelah penyajian dan dialog selesai pada sekitar pukul 22.00 WIB, para undangan diajak langsung melihat bintang yang bertaburan di langit dengan menggunakan teropong Sky Watcher milik Klub Astronomi Madaris 3 Annuqayah. Di halaman SMA 3 Annuqayah itu, para undangan diajak bergantian melihat bintang-bintang di angkasa, berbagai rasi, termasuk planet Jupiter, sambil dijelaskan oleh Mas Hendro.
Meski Klub Astronomi itu sudah dibentuk, menurut K M Faizi, M.Hum, klub tersebut masih belum punya nama, dan penanggung jawab serta keanggotaannya juga masih belum jelas.
”Namanya masih belum resmi, ini hanya soft-launching saja dan penanggung jawabnya masih belum definitif, tapi kami sudah mengantongi pilihan nama klub ini, yaitu Andromeda. Penanggung jawabnya sudah diusulkan juga. Ada Bapak Naufan (MTs 3 Annuqayah), Bapak Saiful Bahri, Bapak Mahmudi, dan Ibu Bekti Utami (SMA 3 Annuqayah),” ungkap Direktur Madaris 3 Annuqayah itu. Menurut Kiai Faizi, peluncuran resminya mungkin akan dilaksanakan di awal tahun pelajaran nanti.

Tulisan ini dikutip dari Blog Annuqayah.

28 Juni 2009

MI 3 Annuqayah Menggelar Lepas Pisah


Muhammad-Affan, Waka Kesiswaan MI 3 Annuqayah, Guru SMA 3 Annuqayah

Pada hari sabtu, 27 Juni 2009, MI 3 Annuqayah menggelar lepas pisah. Acara ini dilaksanakan di Aula Madaris III dan dihadiri oleh para guru MI, undangan perwakilan masing-masing lembaga satuan pendidikan di lingkungan Madaris III Annuqayah, serta seluruh siswi MI 3 Annuqayah.
Dalam sambutannya, Kepala Sekolah MI 3 Annuqayah, Bapak H. Mahfud Manaf, A.Ma, menyayangkan beberapa siswi yang kurang aktif terutama dalam kegiatan ekstra di MI 3 Annuqayah. “Tahun ini MI 3 Annuqayah memiliki banyak kegiatan ekstra, seperti Sanggar Pelangi, Kursus Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Matematika, dan lain-lain. Tapi kenapa koq masih ada yang tidak ikut ya…” katanya, dengan nada bertanya. “Padahal, semua kegiatan ini dilaksanakan secara gratis, tanpa uang pendaftaran, khusus untuk anak-anakku MI 3 Annuqayah. Tapi saya memaklumi. Mungkin mereka terbentur dengan kegiatan pondok. Tahun depan MI 3 Annuqayah akan mengatur jadwal, sehingga siswi-siswi MI 3 Annuqayah, khususnya yang kelas VI, bisa mengikuti kegiatan ekstra dengan maksimal,” lanjutnya.
Zahratun Ni’am, atau yang biasa dipanggil Zaza, sekaligus yang dipercaya untuk menjadi ketua panitia lepas pisah saat ini, merasa sangat menikmati dengan acara Lepas Pisah MI tahun ini. “Acara lepas pisah tahun ini asyik. Kami dan teman-teman didampingi mbak-mbak panitia bekerja sendiri untuk menyiapkan acara ini. Mulai dari pengetikan surat, konsumsi, persiapan ruangan, sampai menghubungi narasumber,” katanya.
Acara lepas pisah ditutup dengan rangkaian penampilan siswi-siswi MI 3 Annuqayah.